(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
067


__ADS_3

Louis menatap wajah wanita dalam pelukannya sambil terus mengusap usap lembut pucuk kepala wanita hamil itu. Sorot matanya lembut, penuh kasih sayang, seolah ingin menggambarkan betapa ia sangat mencintai wanita yang kini berada dalam dekapannya itu. Louis memberanikan diri untuk bicara yang sebenarnya. Tentang dirinya, tentang Louis, Luke, dan semua yang ia sembunyikan pada Anisa selama ini.


Kisah ini berawal dari niatan Louis membersihkan nama Luke di mata Anisa. Memberikan citra baik tentang laki-laki perampas kehormatan wanita itu agar kelak ia bisa menikahkan kedua manusia itu dan mengajarkan Luke arti tanggung jawab.


Namun seiring berjalannya waktu, Louis justru terjebak dalam rencananya sendiri. Kepolosan dan kebaikan hati wanita itu justru berhasil menyentuh hatinya yang sangat jarang merasakan jatuh cinta. Ia mencintai Anisa seiring berjalannya waktu. Ia menginginkan untuk lebih dekat dengan wanita itu hingga tertanam dalam dirinya untuk memiliki Anisa seutuhnya. Kelembutan dan kebaikan wanita malang itu justru membuatnya enggan untuk mendekatkan Anisa dengan pria dengan segudang cap buruk yang melekat dalam dirinya, Luke Edgar Davis.


Louis menatap dalam wanita itu.


"Ini tentang Luke dan Louis," ucap pria itu sambil membelai wajah Anisa.


"Nama Saya Louis Edgar Davis. Saya adalah anak dan cucu pertama dari keluarga Davis. Saya adalah seorang pewaris yang sejak remaja ditunjuk untuk menjadi pewaris perusahaan besar milik keluarga saya. Kehidupan saya, ya seperti ini. Setiap hari berkutat dengan bisnis dan bisnis keluarga." ucap Louis memulai pembicaraannya. Ia berucap dengan sangat lembut. Seolah tak ingin Anisa yang kini berada dalam dekapannya itu salah paham mengenai apa yang hendak ia sampaikan.


Louis tak lepas mengusap usap lembut pipi itu.


"Saya memiliki seorang adik. Sifatnya bisa dibilang cukup jauh berbeda dengan saya. Dia lumayan bandel di waktu kecil. Nakal, nggak bisa diatur, dan sering membuat ulah. Membuat dia pernah hampir dikeluarkan dari sekolah dulu saat baru awal awal masuk sekolah dasar. Membuat orang tua kami terpaksa harus menempuh jalur homeschooling untuk dia demi menjaga perangainya terhadap orang orang sekitar."


"Kami lahir hanya berselang lima menit. Saya lebih awal. Paras kami sembilan puluh persen memiliki kemiripan, bahkan hingga saat ini. Kami kembar identik. Dia adik saya. Namanya Luke Edgar Davis, laki laki yang sudah menyentuh kamu tanpa izin beberapa bulan lalu."


Deeghh...


Anisa mematung mendengarnya. Ia melotot. Wanita itu bergerak menegakkan posisi tubuhnya. Menatap laki laki di hadapannya itu dengan sorot mata penuh tanya. Sedangkan Louis nampak diam. Perasaannya makin tak karuan. Ia takut Anisa salah paham.

__ADS_1


"Dengarkan saya dulu, Nis," ucap laki laki itu sambil kembali berusaha menyentuh punggung tangan Anisa, namun wanita itu perlahan menarik kembali tangannya dengan mata mengembun.


"Nis, saya minta maaf. Saya nggak bermaksud membohongi kamu. Tolong dengarkan sampai saya selesai dengan penjelasan saya," ucap Louis.


Anisa tak menjawab.


"Saya minta maaf kalau selama ini saya nggak jujur sama kamu. Saat pertama kali kamu datang ke kantor saya, awalnya saya meragukan cerita yang kamu beberkan. Jujur, kamu bukan orang pertama yang datang pada saya dan mengaku sebagai korban dari adik saya. Luke terlalu sering menggunakan nama saya, perusahaan keluarga saya, dan wajah saya, untuk menipu banyak wanita. Kamu bukan orang pertama yang mengaku hamil anak Luke. Itulah kenapa saya menyodorkan beberapa persyaratan sama kamu waktu itu."


"Awalnya saya berfikir, saya ingin melihat kebenaran cerita kamu dengan cara test DNA hingga anak kamu lahir. Saya ingin memastikan bahwa ucapan kamu itu bukan ucapan bohong. Saya ingin memastikan bahwa kamu benar benar sedang mengandung anak Luke. Niatnya, suatu saat nanti saya ingin menikahkan kamu dengan Luke. Saya ingin membantu kamu untuk mendapatkan keadilan yang kamu cari cari. Saya ingin membantu kamu sekaligus mengajarkan Luke tentang apa itu tanggung jawab. Itulah sebabnya saya selalu berusaha menjaga kamu dan anak kamu. Karena saya ingin kalian tetap sehat dan selamat, agar saya bisa menyatukan kalian dengan adik saya nantinya. Karena saya yakin, kamu adalah wanita baik yang tepat untuk membimbing adik saya," ucap Louis.


"Tapi, seiring berjalannya waktu. Seiring dengan seringnya kita saling bertemu dan bersama, saya justru mulai jatuh cinta sama kamu. Kebaikan hati kamu, ketaatan kamu pada Tuhan, kelembutan hati kamu, kepolosan dan kesederhanaan kamu, semua berhasil menyentuh hati saya. Hingga akhirnya saya berfikir, saya mau kamu. Saya jatuh cinta sama kamu. Dan saya bertekad, saya ingin memiliki kamu serta membahagiakan kamu dan calon anak kamu."


Anisa tak bereaksi.


"Nis, saya benar benar minta maaf. Seperti yang selalu saya bilang sama kamu, saya cuma mau kamu. Tolong jangan marah sama saya. Saya melakukan semua ini demi kamu. Maaf, saya egois, tapi melihat kamu yang seperti ini berdampingan dengan Luke, saya nggak bisa. Luke bahkan sempat tidak mau mengakui perbuatannya sama kamu. Dia sibuk dengan dunianya sendiri. Apa mungkin saya akan bisa melepaskan kamu untuk laki laki yang belum tentu bisa membahagiakan kamu? Saya harap kamu ngerti, Nis. Saya sayang sama kamu," ucap pria itu.


Anisa menunduk. Ia tak berucap sepatah kata pun. Ia terkejut. Rupanya selama ini ia dekat dengan orang asing. Bukan dengan pria yang harusnya bertanggung jawab atas kehamilannya. Ia meremas ujung dasternya. Berbagai perasaan kini berkecamuk dalam dirinya. Jadi selama ini ia dibohongi? Laki laki itu mengaku sebagai seorang pria yang seolah olah menyesal atas segala dosa dan kekhilafannya, tapi pada kenyataannya ia hanyalah seorang pria asing yang ingin menutupi jati diri saudaranya sendiri.


Louis menggerakkan tangannya, meraih punggung tangan yang sempat menolak untuk ia sentuh itu.


"Nis, sekarang saya ingin membawa kamu pergi dari tempat ini. Luke baru saja keluar dari penjara. Dan dia sedang mencari kamu."

__ADS_1


"Nis, maaf. Jangan marah sama saya. Saya nggak mau kehilangan kamu. Kita pergi dari sini dulu, ya. Kita cari tempat yang aman sampai anak kita lahir. Sampai saya bisa menikahi kamu," ucap Louis memohon.


Anisa menatap nanar wajah tampan itu. Ia lantas memejamkan matanya. Sebagai seorang wanita yang jauh jauh datang dari kampung hanya untuk mencari pertanggungjawaban laki laki yang telah menghamilinya, kini ia merasa dibohongi. Ia merasa di permainkan. Ia bingung. Beberapa menit yang lalu sebelum Louis mengungkapkan kebenaran yang selama ini di tutup tutupinya, ia memandang Louis sebagai pria yang bisa ia percaya. Yang bisa ia banggakan dan ia andalkan.


Tapi kini setelah ia mengetahui semuanya, Anisa jadi berfikir, mana yang benar? Siapa yang benar? Siapa yang baik dan siapa yang buruk? Atau, adakah satu saja dari dua saudara kembar itu yang baik hatinya?


Jika memang yang selama ini bersamanya itu adalah Louis, berarti ia belum mengenal Luke sepenuhnya. Ia hanya mendengar tentang Luke dari mulut Louis yang rupanya sudah berbohong padanya selama ini.


Lalu apakah sekarang ucapan laki laki itu bisa dipercaya?


Anisa memejamkan matanya. Ia butuh menenangkan diri sekarang. Ia pusing.


"Nis, kamu kenapa diem aja?" tanya Louis.


Anisa mengembun. "Saya butuh waktu untuk sendiri," ucapnya lirih.


"Tapi...." Belum selesai Louis berucap, wanita itu sudah bangkit. Anisa berjalan cepat menuju kamarnya. Mengabaikan Louis yang mengikutinya dari belakang sambil terus memanggil manggil namanya.


Anisa masuk ke dalam kamar itu. Mengunci pintunya lalu merosot di balik kusen itu.


Mulutnya terus berucap istighfar. Sedangkan Louis yang kini berada di depan pintu yang tertutup itu nampak menghela nafas panjang. Ia tahu, Anisa pasti syok. Wanita itu butuh waktu untuk menenangkan diri. Semoga setelah ini, semua akan baik baik saja.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2