
Siang menjelang, di sebuah bangunan tinggi bertuliskan Davis Corp. Aktivitas perkantoran berjalan seperti biasanya. Hilir mudik para karyawan terlihat di bangunan tinggi yang berada di pusat kota itu.
Beberapa petinggi perusahaan nampak keluar dari ruang meeting setelah melakukan pertemuan yang dipimpin oleh sang pemimpin perusahaan, Louis Edgar Davis.
Louis ditemani Betrand yang masih tetap profesional sebagai partner kerja itu nampak keluar dari ruangan yang cukup luas itu.
"Next?" tanya Louis pada Betrand yang berada di belakangnya itu sembari mengayunkan kakinya menuju ruangannya.
"Makan siang klien jam satu nanti," ucap Betrand menjawab seperlunya.
Ya, beginilah mereka sekarang, lebih irit bicara dan hanya bertemu seperlunya. Sesuatu yang sudah terjadi sejak Louis memutuskan untuk keluar dari rumah dan memilih tinggal di apartemennya.
Kedua pria seumuran itu terus berjalan menuju ruangan Louis. Hingga tiba tiba,
"Baby!" sapa seorang wanita yang berhasil membuat Louis dan Betrand menoleh. Dilihatnya di sana, Rhea dengan rambut panjang terurai nampak tersenyum, setengah berlari mendekati Betrand yang kini nampak tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
Wanita itu lantas menghamburkan pelukannya pada sang kekasih. Tak lupa sebuah kecupan singkat mendarat di bibir laki laki berjambang lebat itu.
"Kamu disini?" tanya Betrand.
Rhea mengangguk. "Kangen. Pengen makan siang berdua sama kamu!" ucap wanita itu manja.
Betrand tersenyum manis. "Sebenarnya aku mau makan siang nanti sih, sekalian ketemu klien," ucap laki laki itu membuat Rhea pun sedikit kecewa dibuatnya.
"Tapi nggak apa apa. Aku temenin kamu dulu. Kita makan diluar?" tanya Betrand. Rhea mengangguk dengan antusias.
Rhea menoleh ke arah Louis, laki laki itu nampak menatap malas ke arah Rhea. Semenjak ia mengetahui bahwa Rhea dan Tasya diam-diam menemui Anisa di apartemennya, sejak saat itu pula ia seolah tak mau berbicara dengan dua wanita itu. Ia bahkan memblokir nomor ponsel keduanya. Ia malas sekaligus kesal terhadap dua manusia yang seolah terlalu ikut campur masalah pribadinya tersebut. Padahal mereka bukan siapa-siapa dalam keluarga Davis. Hal itu seolah membuat Louis muak pada kedua wanita itu. Dan makin muak lagi mana kala Betrand seolah bersikap acuh atas kesalahan kekasihnya. Ia abai, dan terkesan tak peduli dengan kelancangan yang sudah Rhea buat.
Louis kemudian melengos. Ia berjalan meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam ruangannya.
Betrand mendekat.
__ADS_1
"Sepupu kamu gitu banget ya, sama aku. Keliatan banget nggak sukanya!" ucap Rhea dengan mimik wajah kesal.
Betrand menghela nafas panjang. Ia kemudian merangkul pundak wanita kesayangannya itu lalu mengecup keningnya.
"Udah, nggak usah dipikirin. Dia lagi tersesat!" ucap pria itu membuat Rhea terkekeh.
"Udah, yuk. Cabut!" kata Betrand. Rhea mengangguk. Keduanya pun lantas berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara itu di tempat terpisah. Di dalam ruangan Louis. Laki laki itu nampak mendudukkan tubuhnya di atas kursi kerjanya sembari melonggarkan dasi yang melingkar di leher kokoh itu. Pria itu kemudian merogoh saku jas nya. Mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam sana dan membukanya. Ia lantas menuju aplikasi yang terhubung langsung dengan kamera CCTV apartemen mewah miliknya. Ia penasaran, sedang apa kekasih hatinya itu sekarang.
Louis masuk ke dalam aplikasi tersebut. Mengecek satu persatu rekaman CCTV hunian mewahnya itu. Hingga tiba tiba...
Degghh....
"Nisa!!"
__ADS_1
...----------------...