
03:00 dini hari...
"fabiayyi ala irobbikuma tukadziban..."
Suara itu mengalun merdu di tengah tengah rintik hujan yang perlahan mulai mereda. Lantunan ayat ayat suci Alquran menggema dari dalam kamar kost milik Anisa sejak lima belas menit terakhir. Sesuatu yang dapat didengar dengan samar samar oleh telinga tajam Louis Edgar Davis yang masih meringkuk di atas kursi panjang teras rumah kost itu.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Sejak tadi mata lelaki itu belum juga sanggup terpejam. Hawa dingin semakin kuat. Hujan belum juga reda. Dan Betrand sang asisten belum juga bisa dihubungi. Entah nasib sial atau hoki bagi Louis. Ia terjebak di teras kamar kost milik Anisa sepanjang malam. Beruntung, wanita hamil itu cukup perhatian. Ia memberikan makanan dan minuman hangat serta boneka dan selimut untuk menemani malam Louis yang dingin.
Louis yang tak bisa tidur itu lantas bangkit. Ia berjalan jalan, mengayunkan kakinya mengitari teras itu sembari menggerak gerakkan tangannya seolah berolah raga mencari kehangatan.
Tiba tiba,
Ceklek...
Pintu kamar kost itu terbuka. Wanita dengan mukena putih itu muncul lagi dari balik pintu kamar itu, membuat Louis pun menoleh ke arahnya.
Laki laki itu tersenyum. "Ada apa?" tanyanya.
"Kamu nggak tidur semalaman?" tanya Anisa. Louis diam sejenak, lalu tersenyum ke arah wanita yang sepertinya juga tak tidur semalaman itu.
"Kamu kayaknya juga nggak tidur?" ucap Louis seolah bertanya balik.
Anisa menunduk. "Nggak bisa tidur!" ucapnya kemudian.
Louis terkekeh. Ia berjalan mendekati Anisa lalu kembali mendudukkan tubuhnya di atas kursi kayu panjang itu.
"Apa keberadaan saya mengganggu kamu?" tanyanya.
Anisa tak langsung menjawab. Ia nampak menunduk. "Di luar terlalu dingin," ucapnya.
Louis tak menjawab. Ia hanya tersenyum sembari mengarahkan pandangannya lurus ke depan. Laki laki itu lantas menghela nafas panjang.
"Nis," ucapnya.
"Ya," jawab Anisa yang berdiri di depan pintu.
"Apa tetangga dan ibu kost kamu tahu kalau kamu hamil?" tanya Louis.
Anisa diam sejenak. Louis menoleh,
"Cuma tante Salma dan Kak Almeer yang tahu," ucap wanita itu.
"Kak Almeer?" tanya Louis.
"Laki laki yang beberapa hari lalu sempat ketemu waktu kamu nganterin saya beli buah," ucap Anisa.
__ADS_1
Louis mengangkat dagunya. "Ooo..." jawabnya sembari manggut-manggut.
Suasana hening sejenak.
"Nis," ucap Louis.
"Ya," jawab Anisa lagi.
"Saya khawatir kalau kamu jadi bahan gunjingan orang orang saat perut kamu sudah mulai membesar nanti. Saya takut kamu di bully," ucap Louis.
Anisa diam sejenak. Sepasang anak manusia itu nampak saling pandang. Memang benar apa yang Louis katakan. Beberapa bulan lagi perut Anisa pasti akan membuncit. Sedangkan selama ini ia selalu mengatakan pada orang orang bahwa ia disini adalah sebagai pekerja, meskipun ia tak pernah menjabarkan dimana tempatnya bekerja itu.
"Nisa," ucap Louis.
Anisa diam, menatap lekat paras tampan itu.
"Kamu mau nggak tinggal di apartemen saya?" tanya Louis menawarkan diri.
"Saya punya satu unit apartemen yang jarang saya tempati. Di sana tempatnya lebih layak. Privasi kamu juga lebih terjaga. Dan pastinya saya bisa lebih leluasa memantau kamu disana."
"Bukan apa apa, saya cuma nggak mau kamu stress di sini jika suatu saat tetangga tetangga kost kamu mengetahui tentang kehamilan kamu. Sedangkan status kamu belum menikah. Saya takut itu akan mempengaruhi kesehatan janin kamu," ucap Louis mencoba memberi pengertian pada Anisa.
Anisa diam.
"Saya nggak punya maksud lain. Anggap saja ini adalah bagian dari tanggung jawab saya sama kamu," ucap pria itu lagi.
Louis tersenyum. "Iya, terserah kamu aja. Se siapnya kamu aja," ucap pria itu kemudian.
Anisa mengangguk. Louis tersenyum begitu manis. Ia kemudian mengangkat kakinya, mengubah posisinya bersila di atas kursi panjang teras itu menghadap ke arah Anisa.
"Oh ya, makasih ya, udah minjemin saya selimut sama boneka. Seenggaknya saya nggak terlalu kedinginan malam ini," ucap Louis.
Anisa tersenyum. "Saya nggak sejahat itu biarin kamu membeku di sini," ucapnya.
Louis terkekeh.
"Kamu suka boneka? Saya lihat story WhatsApp kamu kemarin," ucap Louis mengajak wanita itu berbincang sembari menunggu pagi. Toh keduanya sama sama tak bisa tidur.
Anisa pun menjawab pertanyaan pertanyaan Louis. Kian lama obrolan itu kian hangat. Keduanya larut dalam kebersamaan meskipun dengan jarak yang tak begitu berdekatan. Louis diatas kursi panjangnya, sedangkan Anisa kini nampak bersandar di kusen pintu itu masih dengan mukena yang melekat di badannya.
Obrolan keduanya mengalir begitu saja. Membahas ini itu, kesana kemari, dengan santai dan sesekali diselingi tawa ringan. Louis berhasil mencairkan suasana. Membuat Anisa seolah mulai merasa nyaman berbagi cerita dengan pria yang sebenarnya bukanlah perenggut mahkotanya itu.
Hingga....
"Allahu Akbar.... Allahu Akbar....."
__ADS_1
Kumandang adzan subuh menggema. Tak terasa sudah sudah cukup lama kedua anak manusia itu saling bercerita di teras kamar kost tersebut.
"Udah adzan," ucap Anisa.
"Alhamdulillah," jawab Louis. Anisa menegakkan posisi duduknya.
"Nis," ucap Louis.
"Ya," jawab Anisa.
"Aku boleh numpang sholat di rumah kamu, nggak?" tanya Louis.
Anisa terdiam. Ia tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan demikian dari laki laki pemerk*sa itu.
Anisa tersenyum samar, lalu mengangguk. Rasanya kurang pantas jika ia menghalangi atau melarang seseorang untuk beribadah di rumahnya.
Louis bangkit. "Sekalian numpang mandi boleh, nggak? Udah kebiasaan mandi sebelum Subuh soalnya," ucap laki laki itu lagi.
Anisa tersenyum, lalu mengangguk. "Silahkan," jawabnya.
Louis tersenyum dengan manisnya. "Makasih, ya," jawabnya.
Anisa mengangguk. Ia lantas menggeser posisi tubuhnya, seolah memberi jalan untuk laki laki itu masuk ke dalam kamar kostnya.
Louis masuk ke dalam kamar itu. Sedangkan Anisa kini nampak mendekati kursi panjang di sana. Meraih selimut, boneka, piring, serta gelas kotor yang berada di sana. Wanita itu kemudian membawanya masuk ke dalam kamar. Meletakkan selimut dan bonekanya di atas kasur dan membawa piring serta gelasnya ke dalam dapur kecil yang berada di samping kamar mandi. Suara gemericik air terdengar di sana. Pertanda Louis kini sedang membersihkan tubuh tegapnya di dalam kamar mandi yang tak begitu luas tersebut.
Anisa mendekati sebuah keranjang di samping kasur. Sebuah keranjang baju berwarna hijau yang berisi pakaian pakaiannya yang tak seberapa itu. Anisa menarik satu kaos hitam dari sana. Sebuah kaos yang merupakan kaos milik Louis yang sempat ia cuci beberapa waktu lalu lantaran terkena tumpahan kopi. Selain itu, ia juga mengambil sebuah sajadah dari sana.
Tak berselang lama, Louis keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya mengenakan celana panjangnya. Anisa yang masih berjongkok di depan keranjang baju itupun lantas menundukkan pandangannya. Diletakkannya kaos hitam serta sajadah itu di atas kasur.
"Baju ganti sama sajadahnya kalau mau sekalian sholat," ucap Anisa. Louis dengan handuk putih terkalung di leher itu nampak tersenyum. Di dekatinya kasur itu, lalu meraih kaos hitam yang tergeletak di sana dan mengenakannya.
"Thank you!" ucapnya.
"Baju kotornya taruh aja di situ. Nanti saya cuciin lagi," ucap Anisa.
Louis hanya tersenyum. Ia kemudian meraih sajadahnya.
"Sholat bareng, yuk!" ajak Louis.
Anisa mendongak. Laki laki itu nampak mengangkat kedua alisnya singkat. Anisa menunduk sambil tersipu malu. Ia kemudian mengangguk. Keduanya pun lantas berjalan menuju ruang tamu. Menggelar sajadah mereka di atas sebuah tikar bersih di sana dan mulai mendirikan ibadah subuh bersama sama.
__ADS_1
...----------------...