(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
059


__ADS_3

Kembali ke apartemen mewah itu.


Wanita paruh baya itu nampak menyisir rambut sang nona yang kini diam sembari menggenggam secangkir teh hangat di tangannya.


Apartemen itu sudah kembali sunyi. Pecahan vas bunga itu juga sudah tak nampak lagi. Wanita paruh baya itu sudah membersihkan semuanya. Kini kedua wanita itu berada di dalam apartemen, sedangkan Elang kini tengah berjaga di depan pintu, memastikan tidak ada manusia manusia sampah yang mengusik Anisa lagi.


Bik Susi selesai dengan aktifitasnya.


"Non, mau makan?" tanya Bik Susi. Anisa yang sejak tadi hanya diam itu lantas menoleh sambil tersenyum.


"Saya masih kenyang, Bik. Bibik kalau mau bersih bersih, bersih bersih aja. Saya nggak apa apa, kok," ucap Anisa yang seolah sudah paham tentang kekhawatiran Bik Susi.


Anisa diam sejenak. "Bik," ucap wanita itu kemudian.


"Saya, Non," jawab Bik Susi.


"Tolong jangan laporkan apa yang terjadi barusan ke Louis, ya," ucap Anisa.


"Lho, kenapa, Non? Tuan harus tahu soal ini!" ucap Bik Susi.


"Jangan, Bik. Saya takut membuat dia semakin jauh dari keluarganya. Cukup ini menjadi rahasia kita ya Bik," ucap Anisa.


"Tapi, Non...."


"Nggak apa apa, Bik. Lagian saya juga baik baik aja, kok," ucap Anisa.


"Itu untuk hari ini. Gimana dengan hari hari berikutnya? Kita nggak tahu, Non, ada berapa orang yang nggak suka dengan Nona ataupun Tuan. Tuan harus tahu, setidaknya Tuan pasti akan melakukan langkah terbaik untuk melindungi Nona," ucap Bik Susi.


Anisa menggelengkan kepalanya. Sungguh, ia tak mau membuat kegaduhan dalam keluarga Louis.


"Nggak usah, Bik. Saya nggak apa apa, kok," ucap Anisa.


Bik Susi hanya bisa menghela nafas panjang.


"Ya sudah kalau begitu. Terserah Nona saja. Kalau begitu Bibik ke dapur dulu ya, Non. Nanti kalau Nona butuh sesuatu, panggil Bibik aja," ucap Bik Susi.

__ADS_1


Anisa mengangguk. "Iya, Bik," jawabnya.


Bik Susi pun berlalu pergi meninggalkan Anisa seorang diri di ruang tamu apartemen mewah itu. Wanita paruh baya itu nampak berjalan menuju dapur. Diam diam, Bik Susi menoleh ke arah Anisa yang nampak melamun. Wanita dengan rambut yang sebagian mulai memutih itu kemudian setengah berjinjit menuju dapur. Dengan segera ia merogoh saku seragam pelayannya. Meraih sebuah ponsel disana, menuju aplikasi WhatsApp, dan mulai menghubungi seseorang dari sana.


Tuutt... Tuutt... Tuutt...


"Halo. Ada apa, Bik?" ucap seorang pria dari seberang sana.


"Halo, Tuan......."


****************


Sementara itu di tempat terpisah. Di sebuah mobil mewah yang masih terparkir di basemen apartemen itu.


"Baby...!! Lihat! Tangan aku berdarah!!" ucap Rhea mengadu. Ia menangis menunjukkan telapak tangannya yang berdarah serta wajahnya yang basah karena semburan air dari Elang itu pada sang kekasih melalui sambungan vidio.


"Kamu kenapa, Babe? Muka kamu kenapa basah kuyup gitu?" tanya Betrand dari seberang sana.


"Baby, aku tuh tadi dari apartemennya Louis. Aku penasaran, pengen tahu yang namanya Anisa itu seperti apa. Dan ternyata, pas aku sampai, kamu tahu, aku mergokin dia sama cowok di apartemennya Louis. Dan itu bukan Louis! Itu orang lain!" ucap Rhea begitu jauh dari kenyataan. Tasya yang berada di samping Rhea pun nampak melongo. Ia menegakkan posisi duduknya yang semula bersandar di sandaran kursi samping kemudi itu. Tangannya tergerak menarik pelan gaun hitam Rhea, namun wanita itu dengan cepat menampik tangan Tasya seolah meminta wanita berhijab itu untuk diam. Tentu saja, pergerakan tangan kedua wanita itu tak terlihat oleh mata Betrand yang hanya berbincang dengan kekasihnya melalui sambungan vidio.


"Kamu serius, Baby?" tanya Betrand.


"Serius! Mana mungkin aku bohong. Cowoknya kayak preman gitu. Gondrong, berandalan banget! Aku di dorong. Tangan aku luka. Muka aku disembur air. Sakit...!!" ucap Rhea sembari menangis di hadapan kamera.


Betrand tak menjawab. Ia terlihat kaget dan bingung sekaligus iba pada Rhea. Sedangkan Rhea terus menangis seolah ingin menggambarkan betapa ia sangat sakit hati dan terluka oleh perbuatan Anisa dan laki laki yang katanya bersama Anisa di apartemen Louis itu.


"Aku khawatir sama Louis, Baby. Khawatir sama keluarga kalian. Wanita itu bukan wanita baik-baik. Dia pasti cuma mau ngambil harta kalian doang. Dia itu bohong. Muka polos doang tapi hatinya busuk. Aku lihat pakai mata kepala aku sendiri, dia berduaan sama cowok. Bukannya kamu pernah bilang kalau dia disini nggak punya keluarga. Terus siapa cowok itu coba? Kalian harus hati-hati, Sayang. Wanita itu bahaya!!" ucap Rhea seolah begitu khawatir dengan keluarga besar kekasihnya itu.


Tasya yang mendengar ucapan Rhea itu nampak menggelengkan kepalanya. Ia memang mencintai Louis. Ia menginginkan Louis. Ia tak suka dengan Anisa. Tapi tidak dengan memfitnah wanita itu juga, bukan? Mana fitnahnya kejam banget pula. Ini tidak seperti yang Tasya bayangkan.


Wanita berhijab itu nampak diam. Ia terkejut dengan aksi Rhea. Jika seperti ini, bukankah ini sebuah kejahatan. Mereka jahat pada Anisa yang tengah hamil. Padahal wanita itu tidak melakukan apa apa tadi. Ini kan adu domba? Bisa saja setelah ini hubungan Betrand dan Louis akan renggang karena ucapan bohong dari Rhea.


Sungguh, mulut wanita memang mengandung tipu daya yang luar biasa!


Rhea terus menangis. Sedangkan Betrand yang berada di seberang sana nampak mulai memasang mimik wajah bengis tanpa senyuman.

__ADS_1


"Ya udah, Sayang. Kamu tenang, ya. Nanti aku akan coba bicara sama Louis," ucap Betrand.


"Tapi kamu jangan marah marah. Aku nggak mau kamu berantem terus. Dia itu masih sepupu kamu, Sayang. Yang salah itu perempuan itu. Louis juga cuma korban disini!" ucap Rhea.


"Iya, Sayang. Kamu jangan khawatir. Semua akan baik baik saja. Aku sama Papa juga lagi berusaha buat ngeluarin Luke dari penjara. Biar dia bisa secepatnya bebas dan bisa nikahin perempuan itu," ucap Betrand.


Rhea mengangguk sambil mengusap lelehan air matanya.


"Ya udah, kamu sekarang pulang, ya. Maaf, aku nggak bisa jemput. Aku lagi di kantor sekarang," ucap Betrand.


"Iya, Baby. Nggak apa apa. Aku pulang sendiri aja," jawab Rhea sambil lagi lagi mengusap lelehan air matanya.


"Oke. Kamu hati hati ya, Sayang. Love you," ucap Betrand.


"Love you," jawab Rhea.


Sambungan telepon pun terputus. Wanita itu pun menggerakkan tangannya, mengusap lelehan air mata di pipinya dengan gerakan manja.


"Kak!" ucap Tasya.


Rhea menoleh. "Apa sih, Tasya?" tanya Rhea.


"Kak, bukannya yang Kakak bilang barusan itu bohong, ya? Anisa kan nggak kayak gitu tadi!" ucap Natasya.


"Emang enggak!" ucap Rhea santai.


"Terus? Kenapa Kakak bohong?" tanya Tasya.


Rhea tersenyum. "Ya ampun, Tasya. Jangan polos polos banget, dong. Sesekali kita juga perlu bermain drama, Sayang. Louis itu lagi dibutakan matanya sama perempuan kampung itu. Kamu lihat sendiri, kan. Dia lagi hamil. Anaknya Luke. Tapi dia minta pertanggung jawaban dari Louis. Apa itu nggak jahat namanya?!"


"Dia itu cuma masang muka sok polos di depan banyak orang. Aslinya mah juga sama aja kayak perempuan murahan!" ucap Rhea makin memanas manasi Tasya.


"Udah lah, kamu jangan khawatir. Aku tuh ngelakuin ini semua demi kamu. Cuma kamu perempuan yang cocok jadi pendamping Louis. Bukan wanita itu! Kita sama sama buka mata Louis, ya," ucap Rhea.


Tasya tak menjawab. Ia hanya tersenyum. Hatinya bimbang. Apakah untuk mendapatkan seorang laki laki ia harus rela melakukan apa saja? Termasuk menyakiti sesamanya?

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2