(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
101


__ADS_3

Daaaghh......


Laki laki itu menendang tempat sampah yang berada di samping pintu IGD dengan cukup keras. Ia meninju dinding ruangan itu. Seolah ingin menyalurkan rass muak, lelah, dan frustasi yang kini ia rasakan. Sepupunya hampir gila di apartemennya, kakeknya di rawat di ICU, dan kini, saudara lembarnya terkapar di ruang IGD akibat sebuah kecelakaan fatal yang dialaminya siang tadi.


Tolong... Louis lelah! Lelah sekali! Gini amat nasibnya. Seolah ia tak pernah bisa tidur dengan tenang sepanjang hidupnya. Sejak kecil beban berat terpangku di pundaknya. Menjelang dewasa ia menanggung beban akibat ulah kembarannya. Dan kini, disaat Tuhan seolah kembali mengujinya, bukan hanya ia, tapi seluruh keluarganya. Tiga anggota keluarga Davis tengah dalam kondisi tidak baik baik saja. Betrand depresi, Tuan James terkena serangan jantung, dan Luke kritis! Belum lagi kini media mulai ramai membahas mengenai Louis yang kecelakaan dengan seorang perempuan yang diduga adalah Rhea, calon istri sepupunya sendiri yang diketahui baru saja batal melangsungkan pernikahan.


Ya, desas desus sontak bermunculan. Kabar burung berseliweran. Berbagai spekulasi liar pun mulai terdengar. Hampir semua media memberitakan hal tersebut. Kedatangan dua orang masyarakat awam ke kantor Davis Corp siang tadi sukses membuat geger seluruh karyawan. Tak banyak yang tahu tentang silsilah keluarga Davis yang rupanya memilik satu anggota keluarga bernama Luke. Berita salah itu kemudian dengan cepat menyebar. Semua media baik online maupun elektronik mulai mengabarkan tentang kecelakaan fatal yang dialami pemimpin Davis Corp, Louis Edgar Davis dan Rhea.


Lagi lagi, Louis kena getahnya. Masalah... masalah... dan masalah, seolah tak henti menerpa seorang Louis. Laki laki itu benar-benar jengah. Ingin rasanya ia lari dari kehidupannya kini barang sebentar saja. Ia tak kuat. Ia tak sanggup. Ia butuh ketenangan!


Daaaghh....


Louis kembali mengayunkan kakinya menendang kursi tunggu yang kini nampak diduduki Tuan Steve. Membuat pria paruh baya itupun terjingkat dibuatnya. Begitu juga ayah dan ibu Rhea yang juga berada di tempat itu. Sepasang suami istri yang tadi sempat ngamuk ngamuk dan menyalahkan keluarga Davis itupun nampak terjingkat kaget dibuatnya.


"Louis! Tenangkan diri kamu!" ucap Steve.


Louis tak menjawab. Sorot matanya nanar. Terlihat lelah dan letih. Laki laki itu kembali mengayunkan kakinya, menendang pot bunga yang berada di sana untuk meluapkan emosinya.


"Apa kau tidak bisa diam anak muda? Semua ini terjadi juga karena ulah saudara kembarmu! Jika dia tidak menggoda putriku, maka semuanya tidak akan menjadi seperti ini!" ucap Tuan Jonathan, ayah Rhea.


Louis yang sedang dalam mode tidak ramah itupun nampak menatap tajam pria paruh baya itu.


"Lalu bagaimana dengan putri anda? Bukankah jika ia tidak dengan mudahnya tergoda dan menyerahkan tubuhnya pada adik saya, semua juga tidak akan jadi seperti ini?! Perselingkuhan itu terjadi antara dua orang, Tuan. Yang dilakukan secara sadar dan atas dasar mau sama mau! Andai putri anda tidak segatal itu, maka semuanya akan baik baik saja. Betrand tidak akan depresi, anda tidak perlu menelfon kakek saya hingga berujung serangan jantung, dan adik saya tidak akan mungkin sampai di rawat di rumah sakit ini karena kecelakaan bersama putri anda...! Semua ini gara gara putri anda dan anda!!!!!!" bentak Louis di akhir kalimatnya. Sungguh, Louis benar benar tengah berada di puncak emosinya. Tuan Steve yang sejak tadi duduk pun nampak bangkit.


"Louis, sabar, Nak!" ucap Steve.


"Saya sudah cukup sabar selama ini, Tuan. Apa anda tahu, betapa tidak terpujinya hati putri anda? Apakah anda tahu bahwa putri anda diam-diam pernah datang ke apartemen saya dan melabrak calon istri saya. Mengata ngatainya dengan kata kata yang tidak pantas! Apakah anda tahu akan hal itu? Saya diam dari dulu, karena saya malas melihat keributan. Tapi hari ini, anda berucap seolah keluarga anda adalah keluarga yang paling suci yang paling tersakiti. Kalau harus ada yang marah, harusnya saya yang marah! Gara-gara putri anda, keluarga saya rusak! Dua anggota keluarga saya masuk rumah sakit, dan satu lagi hampir gila! Karena siapa? KARENA PUTRI KESAYANGAN ANDA! BUTA ANDA?!!!" bentak Louis habis kesabaran. Iya berucap dengan lantang hingga menampakkan urat lehernya. Tuan Jonathan dan istri hanya diam.


Louis menatap nyalang ke arah sepasang suami istri itu. Tangannya terangkat, menunjuk ke arah pria paruh baya berkacamata itu.


"Dengar baik baik, Tuan. Langkah anda menghubungi kakek saya itu sudah saya anggap lancang. Bukankah Om saya sudah pernah mengatakan pada anda. Akan ada pertemuan antara kedua keluarga besar nantinya. Pertemuan yang akan melibatkan Betrand, Luke, dan Rhea, untuk mencari titik tengah atas masalah yang mereka buat. Lalu kenapa anda tidak sabar sampai harus menelfon kakek saya?!"


"Apa anda tidak tahu, kami bersusah payah menutupi masalah ini dari beliau. Dan anda, dengan lancangnya menghubungi kakek saya sehingga dia terkena serangan jantung sekarang!"


Mata Louis makin menajam. "Kalau sampai terjadi sesuatu dengan kakek saya, maka saya tidak akan tinggal diam!" pungkasnya.


Tuan Jonathan tak menjawab. Ia hanya diam, tak mampu membalas ucapan laki-laki itu. Memang benar apa yang Louis katakan. Semua berawal dari Rhea dan Luke. Tidak ada yang benar di antara keduanya. Jika hubungan terlarang itu tidak terjadi, maka semua juga tidak akan menjadi seperti ini.


Louis kembali menatap nanar ke arah pintu IGD. Ia kemudian merosot, mendudukan tubuhnya di lantai dingin rumah sakit itu. Laki-laki itu memejamkan matanya dengan kepala yang bersandar di dinding. Dokter masih bekerja di dalam sana. Belum ada hasil yang pasti mengenai kondisi dua korban kecelakaan tragis itu. Padahal ini sudah mulai malam, tapi dokter tak kunjung keluar dari ruangan itu.


Louis tak bisa duduk dengan tenang. Laki laki itu bangkit lagi. Ia mondar mandir lagi. Belum tenang pikirannya mengkhawatirkan kondisi sang kakek yang belum bangun hingga kini. Sekarang Luke menambah lagi beban pikirannya. Seperti apapun perangai Luke, ia tetaplah adik kandung Louis. Mereka adalah saudara, dan selamanya akan tetap seperti itu.


Louis kembali mengayunkan kakinya. Mondar mandir kesana kemari dengan wajah gusar. Hingga ...


Seeett....

__ADS_1


Sebuah tangan ramping tiba tiba meraih lengan kekarnya. Laki laki itu menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh.


Dilihatnya disana, seorang wanita yang nampak duduk di kursi roda sudah berada di belakangnya entah sejak kapan. Itu Anisa...!


"Nis!" ucapnya.


Wanita yang baru saja melahirkan seorang bayi itu nampak tersenyum.


Louis menatap ke belakang Anisa. Dilihatnya disana, Elang berdiri sambil membawa sebuah kursi roda. Sepertinya laki laki itu yang mengantar Anisa ke tempat ini.


"Sorry. Dia ngeyel mau ketemu sama lo," ucap Elang.


Louis menoleh ke arah sang wanita.


"Ngapain disini? Gerhana sama siapa?" tanya Louis.


"Ada Nenek sama Budhe, kok. Aku khawatir sama kamu. Kamu dari tadi teriak teriak terus. Kedengaran sampai kamar aku," ucap wanita itu. Louis yang semula berapi api kini terlihat sedikit melunak. Laki laki itu nampak tersenyum.


"Bercanda," ucapnya sambil menyentuh pucuk hidung Anisa.


Anisa terkekeh. Louis menoleh ke arah Anisa.


"Anisa biar ama gue aja. Entar gue antar balik ke kamarnya," ucap Louis.


"Oh, oke kalau gitu," jawab Elang. Pria gondrong itu kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut setelah sempat melirik sekilas ke arah kedua orang tua Rhea juga Steve yang berada di sana.


Hening sejenak. Steve diam diam melirik ke arah Anisa.


"Gimana yang di dalam?" tanya wanita itu kemudian.


Louis tak langsung menjawab. Ia nampak menunduk lalu menggelengkan kepalanya lemas.


"Masalah aku nambah lagi, Nis. Seolah nggak ada hentinya," ucap pria itu kemudian. Suaranya lemah. Tak seperti sebelumnya yang begitu menggebu gebu.


Anisa tersenyum lagi. Ia menggerakkan tangannya menggenggam telapak tangan besar Louis.


"Aku cuma bisa bilang sabar. Aku yakin kamu bisa. Tuhan tahu seberapa kuat kamu. Bukankah banyak yang bilang semakin tebal iman seseorang maka akan semakin besar pula ujiannya? Kamu orang terpilih, Sayang. Tuhan percaya kamu orang yang kuat," ucap wanita itu lembut.


Louis tak menjawab. Ia hanya tersenyum. Setitik air mata tanpa sadar lolos dari pelupuk matanya.


Anisa menatap dalam wajah itu.


"Udah masuk Isya. Kamu udah sholat?" tanya wanita itu kemudian.


Louis diam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Anisa tersenyum. "Mau aku temenin? Tapi aku nunggu di luar mushola aja," ucap wanita itu.


"Kamu punya bayi, Sayang. Jangan ditinggal jauh jauh," ucap Louis.


"Gerhana tahu kalau Papanya lagi butuh Mamanya. Aku udah pamitan tadi. Dia ngangguk ngangguk!" jawab Anisa. Louis terkekeh di tengah dukanya. Anisa nampak tersenyum lucu.


Louis menggerakkan tangannya menyentuh pipi wanita itu.


"Ya udah, temenin aku bentar, ya. Tapi abis itu aku anterin kamu balik ke kamar!" ucap Louis.


Anisa mengangguk. Louis kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat itu sambil mendorong kursi roda Anisa setelah berpamitan dengan Steve.


Sepanjang perjalanan, wanita itu nampak terus mengajak Louis berbincang, seolah ingin mencoba menghibur laki laki itu.


Tak berselang lama, keduanya pun sampai di sebuah mushola yang masih berada di dalam bangunan rumah sakit itu.


"Dah, kamu sholat! Aku tungguin disini!" ucap Anisa.


Louis diam. Anisa mendongak menatap sang kekasih yang berdiri di belakangnya.


"Kok malah bengong?" tanya wanita itu. Louis menatap Anisa. Laki laki itu kemudian bergerak, berdiri di depan kursi roda kemudian berjongkok tepat di hadapan wanita itu.


Louis meraih tangan ramping kekasihnya. Ia menatap dalam wanita yang terlihat cantik meskipun tanpa polesan make up itu.


"Nis, tiba tiba aku kepikiran sesuatu," ucap Louis.


Anisa diam.


"Apa?" ucapnya kemudian.


"Aku besok mau ngadain konferensi pers. Aku pengen menjelaskan sama media tentang desas-desus yang sekarang bergulir di masyarakat," ucap Louis.


"Seperti yang kamu bilang dulu. Aku mau berhenti untuk menanggung semua masalah yang Luke buat. Aku ingin mengatakan pada semua orang melalui media, tentang aku, Luke, Rhea, Betrand, serta masalah mereka. Aku ingin membersihkan namaku. Aku nggak mau gosip yang tidak jelas itu semakin liar dan menjadi kabar bohong di luar sana," ucap Louis.


Anisa tersenyum, lalu mengangguk seolah setuju dengan apa yang Louis katakan.


"Tapi bukan cuma itu aja," lanjutnya.


Louis menggenggam erat punggung tangan ramping itu. "Aku juga ingin memperkenalkan kamu sebagai istri aku. Aku ingin memperkenalkan kamu pada semua orang. Aku ingin memperlihatkan wanita cantik yang sudah berhasil mengisi hatiku dan menjadi tempat yang paling nyaman untuk aku bersandar dan mencurahkan semua isi hati aku," ucap Louis.


Anisa diam mematung.


"Kamu mau?" tanya Louis. "Besok kita hadapi wartawan sama sama."


Anisa membuka mulutnya samar. "Kamu serius?" tanyanya.

__ADS_1


Louis mengangguk. "Serius! Kita akan mulai babak baru hubungan kita. Mau, ya?" tanyanya.


Anisa tersenyum, matanya nampak mengembun. Ia kemudian mengangguk. Louis tersenyum. Laki laki itu kemudian bergerak memeluk wanita di atas kursi roda itu. Louis bertekad untuk selangkah lebih maju. Ia ingin akan mulai terbuka pada media. Tentang keluarganya, kembarannya, serta tentang Anisa.


__ADS_2