(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
047


__ADS_3

................


Ceklek....


Pintu kamar terbuka dengan cukup kasar. Louis menghentikan langkah kakinya. Dilihatnya di sana, Betrand muncul dari balik pintu dengan mimik wajah tak bersahabat. Namun sepertinya Louis tak begitu menyadarinya. Pria kembaran Luke itu kemudian tersenyum hangat ke arah pria yang beberapa hari terakhir ini terasa sedikit menjauh darinya itu.


"Bro, gue baru aja mau tu..........."


Buughh!!!


"Aasshh!" Louis terkejut. Ia terpelanting jatuh ke lantai kamar tidurnya manakala Betrand tanpa aba-aba menghantam wajah pria itu dengan cukup keras. Louis meringis. Ia bangkit sembari memegangi ujung bibirnya yang mengeluarkan darah.


"Anj*nk lu ya..!!" Bentak Betrand murka. Matanya melotot. Dadanya naik turun. Emosi menguasai jiwa laki-laki yang sebentar lagi akan segera melangsungkan pernikahan dengan sang kekasih itu.


Betrand kembali bergerak. Ia kembali berusaha melayangkan pukulannya pada sang sepupu, namun dengan segera Louis pun mengelak. Ia mendorong tubuh Betrand dengan wajah yang mulai terlihat kesal.


Tak ada angin tak ada hujan, pagi-pagi Betrand menghampirinya kemudian menghantamnya tanpa alasan. Siapa yang tak kesal?!


"Lu kenapa, sih? Lu gila, ya?!" tanya Louis.


"Elu yang gila!! Sinting lu, ya! Apa yang udah lu lakuin ama adik lu sendiri?!!" tanya Betrand sembari mendorong tubuh Louis. Membuat laki laki itu makin tak paham dibuatnya.


Louis mengernyitkan keningnya. Apa yang ia lakukan pada adiknya katanya? Luke? Memangnya Luke kenapa?


"Lo ngomong apa, sih? Gue nggak ngerti!" ucap Louis.

__ADS_1


"Masih pura pura bego' lu, ya?!"


"Ya makanya lu ngomong, tolol! Bilang! Apa?! Bukan datang datang marah marah kayak gini! Setan, lu!" jawab Louis kini mulai emosi. Tak selamanya Louis diam. Ada kalanya iapun menjadi buas saat ia merasa terusik.


Betrand makin menajamkan pandangannya. Martha, Steve, dan Rhea yang rupanya juga datang ke rumah itu pagi ini pun masuk ke dalam kamar Louis kala mendengar keributan antara dua cucu Tuan James itu.


Rhea dengan segera menahan tubuh sang kekasih yang hendak kembali menyerang Louis. Sedangkan Martha kini memegangi tubuh Louis yang ikut menegang dikuasai amarah. Sedangkan Steve yang sudah rapi hendak berangkat ke kantor itu kini berdiri di tengah-tengah, melerai pertikaian antara dua pemuda anggota keluarga Davis itu.


"Stop! Udah! Kenapa malah kalian yang ribut?!" ucap Steve dengan suara cukup tinggi dan tegas.


"Anak Om udah gila!" ucap Louis ngotot.


"Elu yang bangs*t, anj*nk!" bentak Betrand muak.


"Lu udah gila! Maksud lo apa ngelaporin Luke ke polisi? Sampai-sampai polisi datang menggerebek barnya dan menangkap Luke. Bukannya lu udah janji ama gue kalau lu cuma akan menggunakan bukti bukti yang gue kasih buat ngancam dia agar pulang?! Kenapa lo malah ngelaporin adik lo sendiri ke polisi, anj*nk?! Gila lo, ya?! Lo mau Kakek lo kena serangan jantung? Lo mau keluarga ini hancur?! Buat apa lo jeblosin adik lo sendiri ke penjara? Biar dia nggak ngusik hubungan lo ama Anisa?! Biar lo bisa nikahin perempuan kampung itu?! Iya?! emang udah gila lo, ya?! Otak lu udah dicuci sama perempuan itu!!" bentak Betrand dengan emosi yang seolah sudah berada di ubun ubun.


Louis tak menjawab. Dadanya masih naik turun namun keterkejutan kini justru menyerangnya. Luke ditahan? Bar nya di gerebek polisi? Benarkah? Kapan? Ia bahkan tak tahu jika Luke sudah berada di negara ini!


Louis tak menjawab. Ia nampak menggelengkan kepalanya samar sembari menatap nanar ke arah Betrand.


"Mau ngomong apa lo? Mau ngelak gimana?! Cinta ya cinta, suka ya suka, tapi jangan tolol! Jangan ngorbanin keluarga lo sendiri cuma demi perempuan yang nggak jelas asal usulnya itu!" ucap Betrand masih belum puas memaki maki sang sepupu.


Louis menggelengkan kepalanya samar. "Gue nggak pernah ngelaporin Luke ke polisi!" ucap pria itu membantah.


Betrand berdecih.

__ADS_1


"Gue bahkan nggak tahu posisi terakhir Luke dimana! Bisa bisanya lo nuduh gue kayak gitu!" ucap Louis.


"Terus siapa kalau bukan lo? LO YANG PUNYA BUKTINYA!" ucap Betrand ngegas di akhir kalimatnya.


"TAPI YANG BERMASALAH DENGAN BAJING*N ITU BUKAN CUMA GUE!!" bentak Louis tak kalah ngegas, bahkan lebih keras dari Betrand. Ia berucap lantang penuh emosi hingga menampilkan urat dilehernya. Wajahnya memerah. Ia tak suka difitnah begini.


Martha sekuat tenaga menahan sang keponakan yamg berada di puncak emosinya. Nafas itu memburu. Louis yang tenang hilang berubah menjadi Louis yang garang.


"Louis, udah, nak. Atur emosi kamu, Sayang!" ucap Martha mencoba menenangkan sang sepupu. Louis tak menjawab. Ia menatap tajam ke arah Betrand nyang masih menegang.


"Semuak muaknya gue dengan saudara gue, gue nggak akan menjerumuskan dia ke dalam penderitaan. Gue udah pernah bilang sama lo, gue nggak peduli sama dia. Gue nggak peduli tentang apapun yang dia perbuat di luar sana. Gue akan menanggung perbuatan dia untuk kali ini. Udah! Selesai! Gue nggak pernah punya niat sedikitpun untuk menjatuhkan dia, jatuhin dia, nyingkirin dia, atau apapun seperti yang lo sebut tadi!" ucap Louis dengan sorot mata tajam, gigi mengetat, suara pelan, namun terdengar penuh kemarahan. "Dan satu lagi, nggak ada satu orang pun yang pernah mencuci otak gue. Berhenti jelek jelekin orang, karena lo juga nggak lebih baik dari orang yang lo sebutkan itu!" lanjut Louis dengan berani membuat Betrand pun kembali bereaksi. Ia bergerak maju hendak menghajar Louis. Kakak kandung Luke itupun tanpa gentar ikut bergerak maju seolah siap untuk kembali melakukan duel. Namun beruntung, Rhea dan Martha dengan cepat menahan pergerakan dua pemuda itu. Begitu pula dengan Steve yang masih berdiri sebagai penengah di antara dua pria itu.


"Sudah! Cukup! Ini bukan saatnya untuk kalian berkelahi. Kalau seperti ini, Kakek kalian yang sekarang tidak tahu tentang masalah ini, bisa bisa jadi tahu karena keributan yang kalian buat!" ucap Steve.


"Sudah, sekarang kalian tenangkan pikiran kalian. Papa tunggu kalian sepuluh menit lagi di ruang tengah. Kita selesaikan masalah ini bersama sama!" ucap Steve menengahi. Kedua pria itu masih saling pandang dengan sorot mata tajam nan membunuh.


"Rhea, bawa Betrand keluar!" ucap Steve.


Rhea mengangguk. "Iya, Om," jawabnya. Wanita itu pun lantas menarik tubuh sang kekasih, dan mengajaknya keluar dari kamar itu.


Sedangkan di dalam kamar. Louis nampak memejamkan matanya. Martha mengusap usap dada sang keponakan seolah ingin membantu menenangkan pemuda itu.


Louis berkali mengucap istighfar. Menarik nafas panjang dan membuangnya guna menetralkan ekspresinya. Sungguh, ia benar benar lepas kontrol barusan. Ia seolah menunjuk sisi lain dari seorang Louis yang tenang, yang tidak banyak orang ketahui.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2