
Pagi menjelang, saat jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Suara berisik dari markas para pemuda kampung itu sudah tak terdengar lagi. Semalaman ia hampir tak bisa tidur lantaran para anak anak berandalan itu sepertinya sedang pesta miras semalam. Suaranya berisik. Mereka bernyanyi sepanjang malam, membuat Anisa sedikit terganggu tidurnya akibat suara gaduh itu.
Wanita muslim berperut buncit yang sudah bangun sejak sebelum subuh itu nampak keluar dari kamarnya yang tak seberapa luas itu. Membuka pintu kamarnya yang selalu ia kunci dari dalam, sesuai arahan Elang. Ia berniat untuk menjalankan aktivitasnya hari ini. Namun,
"Astaghfirullah haladzim!!" Pekik Anisa kala melihat tiga pemuda nampak tergeletak di lantai rumah sederhana itu. Ya, itu Elang dan kawan kawannya. Mereka teler setelah semalaman menenggak alkohol di markas besar mereka yang letaknya bersebelahan dengan rumah Bik Susi. Pintu rumah bahkan masih terbuka. Beberapa botol miras nampak tergeletak disana. Elang dan Anjas terkapar di lantai, sedangkan Dito nampak tengkurap di atas sofa ruang tamu itu.
Anisa berjalan perlahan agar tak membangunkan mereka. Wanita itu kemudian keluar dari rumah itu. Ia melongok ke arah markas. Beberapa orang juga nampak tergeletak disana. Entah tidur atau pingsan, ia tak tahu.
Anisa menghela nafas panjang. Wanita itu memilih untuk kembali masuk ke dalam rumah itu. Ketika melewati ruang tamu, dilihatnya disana Bik Susi nampak sudah rapi. Hari ini adalah hari Minggu. Seperti biasa, ia akan beribadah ke gereja dulu sebelum mulai ke apartemen Louis untuk bekerja.
"Budhe, udah mau berangkat?" tanya Anisa.
Bik Susi tersenyum. "Iya, Nak. Kamu kalau lapar makan dulu, gih. Budhe udah masak itu. Nanti kalau kamu butuh apa apa, kamu minta tolong aja sama anak anak tongkrongan itu. Mereka pasti akan dengan suka rela bantu kamu," ucap Bik Susi.
Anisa tersenyum. "Iya, Budhe," jawabnya.
Bik Susi kemudian mendekati Elang yang masih tak bergerak di lantai keramik itu. Ia pun mulai membangunkan pemuda itu untuk mengajaknya pergi beribadah di hari Minggu. Walaupun kelakuan Elang belum sepenuhnya benar. Masih suka minum minum dan sebagainya, tapi Bik Susi selalu berusaha untuk mengajarkan pada laki laki itu tentang ibadah dan agamanya. Setidaknya Elang punya pegangan dan ada rasa takut pada yang mereka sembah.
...****************...
Sementara itu, beberapa jam kemudian di sebuah bangunan tinggi bertuliskan Davis Corp. Pria tampan itu baru saja tiba di perusahaan yang kini di pimpinannya. Dengan langkah tegap dan pasti, pria itu berjalan menuju ruangannya yang berada di lantai atas itu diikuti Betrand di belakangnya. Ya, keduanya masih sangat profesional dalam bekerja meskipun jarak bertegur sapa.
Lift yang membawa mereka berhenti di lantai tempat dimana ruangan Louis berada. Laki laki berparas kebarat baratan itu kemudian keluar dari kotak besar itu, berniat menuju ruangannya untuk mulai bekerja. Namun tiba tiba...
"Kak Louis!"
Suara itu berhasil membuat Louis dan Betrand menoleh. Dilihatnya disana, seorang wanita cantik berhijab putih nampak berjalan mendekat ke arah dua pria yang baru saja tiba itu.
Itu Natasya. Wanita itu datang ke kantor Louis setelah cukup lama diacuhkan oleh laki-laki tampan itu. Louis diam. Ia menghela nafas panjang sembari menatap tenang ke arah Natasya.
Natasya mendekat. "Kak," ucapnya pada Louis. Laki-laki itu tak menjawab. Fokus matanya tertuju pada sebuah tas bekal yang berada di tangan Natasya. Sepertinya wanita itu membawakan makanan lagi untuk Louis.
"Pagi, Kak!" sapa Natasya.
Louis diam sejenak. Ia kemudian mengangguk sembari tersenyum samar. "Pagi," jawabnya.
"Kak, aku bawain makanan buat Kakak. Aku datang kesini juga mau minta maaf sama Kakak. Aku..........."
"Em, Tasya," Louis memotong ucapan Natasya. Ia berucap sembari mengangkat tangannya, seolah meminta wanita itu untuk menghentikan ucapannya sejenak.
"Kita ngobrol di dalam aja!" ucap Louis kemudian.
Natasya menganggukkan kepalanya. "Oh, oke..." jawabnya kemudian. Wanita itu lantas mengikuti langkah kaki Louis, masuk ke dalam ruangan milik pria tampan tersebut.
__ADS_1
Sesampainya di dalam ruangan itu, Louis mempersilahkan Natasya untuk duduk di sebuah sofa panjang di sana. Louis lantas melepas satu kancing jasnya, lalu duduk dengan tetap menjaga jarak di sofa yang sama dengan Natasya.
"Ada apa, Tasya?" tanya Louis.
Natasya diam sejenak. "Em, ini, aku bawa makanan buat Kakak," ucapnya sembari menyodorkan tas bekal di tangannya itu pada Louis. Laki-laki itu tersenyum seperlunya, lalu menerimanya.
"Makasih, ya," ucapnya.
Tasya tersenyum sambil menunduk. Diam-diam ia mencuri pandang ke arah laki-laki tampan itu. Membuat Louis pun memiringkan kepalanya.
"Katanya tadi mau bicara? Bicara apa?" tanyanya.
Tasya menunduk. Ia nampak meremas jari jari tangannya.
"Kakak masih marah sama aku gara gara aku nyamperin pacar Kakak waktu itu?" tanya Tasya.
Louis diam.
"Kak," ucap wanita itu lirih. Sorot matanya berubah sendu, menatap sedih ke arah Louis. Laki laki itu masih tak bergeming.
"Aku suka sama Kakak," ucap wanita itu dengan mata mengembun. Louis tak bergerak. Ia sudah tahu itu bahkan sebelum Tasya mengungkapkannya.
Setitik air mata Tasya luruh. "Apa aku udah nggak ada kesempatan untuk dapetin Kakak?" tanyanya.
"Aku yang lebih dulu deket sama Kakak."
"Tasya, cukup!" ucap Louis tegas.
"Aku sayang sama Kakak!" ucap Tasya menangis.
"Saya tahu!"
"Tapi kenapa Kakak nggak pernah lihat itu?! Bukankah perempuan yang taat adalah kriteria Kakak? Tapi kenapa Kakak justru memilih perempuan yang kotor dibandingkan aku!" ucap gadis itu dengan suara yang mulai meninggi.
"Tasya, cukup!!" ucap Louis makin tegas.
"Dia nggak pantes buat Kakak!!" tambah wanita itu makin histeris.
"Kakak mau apa dari aku? Aku akan lakuin! Atau Kakak mau aku buka jilbab demi Kakak? Atau aku harus ngasih semuanya dulu ke Kakak? Biar aku sama seperti Anisa? Aku bisa, kok!!" ucap Natasya yang kemudian buru buru menggerakkan tangannya hendak membuka kain penutup kepalanya itu.
Louis melotot. Ia terkejut dengan ulah Natasya. Dengan cepat ia meringsut mendekati gadis itu. Ia meraih tangan Natasya, lalu menahan pergerakan wanita itu.
"Tasya, cukup! Jangan gila kamu!! Kamu kenapa jadi gini sih?!" ucap Louis tak habis pikir.
"Aku mau buktiin sama Kakak....." ucap Tasya ngegas sambil menangis.
__ADS_1
"Bukan dengan seperti ini!!!" ucap Louis dengan suara tak kalah tinggi.
Tasya menangis. Mungkin gadis itu bukan hanya jatuh cinta pada Louis. Tapi ia juga terobsesi pada pria itu. Harapannya untuk bisa bersanding dengan pria itu sangat tinggi. Dukungan keluarga, serta faktor lainnya begitu berpihak padanya. Membuat jalannya untuk memiliki Louis sebenarnya sangat terbuka lebar.
Tapi kenapa ia tetap saja gagal. Justru Anisa yang tiba tiba datang bisa meraih hati Louis dengan gampangnya.
Apa bagusnya wanita itu? Apa istimewanya wanita itu? Apa keunggulannya dibanding Natasya, hingga Louis seolah begitu tergila gila padanya?
Sungguh, Natasya frustasi!
Louis menggenggam erat tangan gadis yang kini menangis sesenggukan itu. Ia seolah memberikan waktu pada Natasya untuk menenangkan dirinya. Berdamai dengan keadaan yang rupanya tak berpihak pada wanita itu.
Cukup lama keduanya berada dalam posisi itu. Setelah Tasya lebih tenang, Louis kemudian mencoba berbicara baik baik dengannya.
"Cukup, Sya. Cukup," ucap Louis dengan suara pelan.
"Tolong jangan seperti ini. Jangan menjadi bagian dari golongan para wanita yang rela merendahkan harga dirinya sendiri demi sebuah pengakuan!"
"Saya menghormati kamu sebagai seorang wanita muslimah yang taat. Sebagai wanita istimewa dengan hijab yang menyempurnakan penampilan kamu. Saya tahu kamu anak yang baik. Tolong, jangan buat saya kecewa dengan penilaian saya ini," ucap laki laki itu begitu pelan. Tasya hanya sesenggukan. Laki laki inilah yang ia mau, Tuhan!
"Tasya, saya minta maaf jika saya sudah membuat kamu kecewa. Saya minta maaf atas kebodohan dan keegoisan saya yang lebih memilih untuk mencari kebahagiaan saya sendiri."
"Tasya, bukankah perasaan tidak bisa dipaksakan. Saya menyayangi kamu tidak lebih dari sebatas teman dan adik. Maaf, saya tidak bisa memberikan yang lebih untuk kamu,"
Tasya menangis lagi. Lelehan air matanya makin deras mengalir. Ia mendongak, menatap paras tampan itu.
"Dan Kakak lebih memilih wanita yang berasal dari keluarga kafir itu? Dari keluarga kelas rendah itu? Dibanding aku? Apa yang Kakak lihat dari dia?!" tanya Tasya.
"Kesederhanaannya." ucap Louis yakin. "Sifatnya. Apa adanya dia. Rasa toleransinya. Pemaafnya. Sifatnya yang rendah hati, jauh dari kata sombong. Dan masih banyak lagi!" ucap Louis.
"Maaf, tapi bagi saya semua agama itu baik. Kita beriman pada Tuhan dengan cara dan keyakinan kita yang berbeda beda. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Semua agama mengajarkan kebaikan. Yang buruk adalah ketika seorang yang mengaku sebagai umat beragama, tapi dengan angkuhnya merendahkan sesamanya, merasa dirinya lebih tinggi dari yang lainnya, dan tertanam dalam dirinya bahwa ia jauh lebih baik dari yang lainnya!" ucap Louis.
"Saya tidak suka orang yang seperti itu, Sya!"
Tasya tak menjawab. Louis melepaskan genggaman tangannya atas Natasya. Ia merapikan hijab wanita itu yang nampak sedikit berantakan itu.
”Saya mengenal kamu sebagai wanita yang suci. Saya mengenal kamu sebagai wanita yang taat. Kamu adalah wanita yang mahal. Dan saya percaya itu. Saya minta maaf jika saya sudah membuat kamu kecewa. Tetap jaga marwah dan mahkotamu untuk calon imammu nantinya, Sya. Saya yakin, kamu akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari saya. Saya hargai segala usaha dan perasaan kamu pada saya selama ini. Maaf, jika saya tidak bisa membalasnya. Saya hanya manusia biasa. Saya tidak bisa mengatur perasaan saya dan kamu. Rasa sayang saya pada Anisa itu Tuhan yang menanamkan. Begitu juga dengan perasaan kamu pada saya."
"Jika perasaan itu hanya bisa menyakiti hatimu, maka berdoalah, semoga Tuhan segera menghapuskannya, atau melabuhkannya pada pria lain yang tepat untuk kamu," ucap Louis.
"Sekali lagi saya minta maaf, Sya. Saya harap kamu bisa mengerti. Dan semoga kita tetap bisa berkawan baik setelah ini," pungkas Louis.
Tasya menunduk. Ia malu. Ia sedih. Ia kecewa. Perasaan yang ia simpan bertahun-tahun kini harus berujung kekecewaan. Louis memilih wanita lain. Tasya kalah dari perempuan pendatang baru yang datang tanpa permisi.
Sungguh, sangat sakit mencintai tanpa memiliki. Ia tak tahu, bagaimana ia setelah ini. Laki laki sempurna itu rupanya terlalu jauh dari jangkauannya. Ia tak tergapai oleh tangan Natasya meskipun wanita itu sudah memiliki segalanya.
__ADS_1
Ya, lagi lagi takdir Tuhan dan perasaan mengalahkan segalanya. Menjauhkan yang terlihat dekat, dan mendekatkan yang nampak tak mungkin tergapai. Semua sudah berdasarkan kehendak alam.