(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
109


__ADS_3

Hari berganti hari. Waktu pun berputar dengan sangat cepat. Kesibukan yang tak henti menguras pikiran, emosi, dan kesabaran terus Louis hadapi.


Perlahan tapi pasti, badai ujian keluarga Davis pelan pelan mulai bisa teratasi. Setelah sempat di rawat di rumah sakit beberapa waktu lalu, kini Tuan James sudah diizinkan untuk kembali ke rumah. Kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya setelah mendapatkan penanganan medis dari tim dokter.


Sedangkan untuk Luke, laki-laki itu hingga saat ini masih berada di rumah sakit. Meskipun sudah sadar dari koma nya beberapa waktu lalu, namun tim dokter hingga saat ini belum mengizinkannya untuk pulang ke rumah. Laki-laki itu juga seolah tak memiliki semangat untuk hidup lagi. Tiap hari ia hanya melamun. Sekalinya berucap, ia hanya memaki-maki perawat dan orang-orang di sekitarnya. Emosinya tak terkontrol. Ia tidak suka dengan keadaan yang sekarang yang hanya memiliki satu kaki. Ia juga meminta Louis untuk membawanya ke luar negeri untuk berobat. Ia tak suka berada di rumah sakit ini. Ia mau kembali seperti sedia kala.


Louis yang terus didesak itu hanya menjawabnya dengan kata 'iya'. Namun sepertinya Louis belum memilikinya niat untuk membawa Luke berobat ke luar negeri sana. Masih banyak hal yang harus ia urus. Lagi pun siapa yang tak malas jika diperintahkan seseorang dengan cara dibentak dan dimaki maki begitu. Buntung aja ngeselin apalagi kalau normal🤭🤪.


Biarkan saja dulu. Biar sekalian Luke sedikit banyak melek. Belajar dari kesalahannya. Siapa tahu ada sedikit kesadaran dari laki laki yang dikenal brengs*k itu.


Beda Luke, beda juga dengan Rhea dan Betrand. Rhea sama sekali tidak menunjukkan reaksi menuju kesembuhan. Kian hari kondisinya justru semakin menurun. Ia belum sadar dari kritisnya. Ia terus tergeletak di atas ranjang pasien bahkan hingga saat ini. Entahlah, mungkin Tuhan masih ingin bermain main dengan nyawa wanita itu.

__ADS_1


Berbeda dengan Rhea, Betrand kini perlahan mulai menyongsong hidup yang baru. Setelah sempat pergi tanpa pamit hingga menimbulkan kecemasan beberapa hari yang lalu, kini Betrand sudah berada di tempat tinggal barunya demi mencari ketenangan.


Ya, Louis menuruti keinginan sepupunya itu untuk pergi menjauh dari kota tersebut. Louis membawa Betrand ke sebuah kota kecil di negara itu. Memasukkannya ke dalam sebuah pondok pesantren yang jauh dari hingar bingar kehidupan perkotaan. Laki laki itu seolah ingin membantu Betrand agar bisa segera bangkit. Ia juga berupaya sedikit mendekatkan sepupunya itu pada Sang Pencipta dengan cara ini. Ya, semoga sedikit banyak ada perubahan dalam diri Betrand.


Berbeda dengan Luke, Rhea, dan Betrand yang masih harus berjuang menghadapi masa masa sulit mereka. Kebahagiaan kini justru tengah menaungi hati Louis dan Anisa. Waktu berjalan begitu cepat. Peristiwa demi peristiwa terjadi di sekitar mereka seolah menjadi ujian kesabaran dan kemantapan hati sepasang anak manusia yang saling mencintai berawal dari sebuah kesalah pahaman itu.


Sudah lebih dari empat puluh hari pasca kelahiran baby Gerhana. Masa nifas sudah selesai. Restu sudah di dapat dari kedua keluarga, baik keluarga Louis maupun keluarga Anisa. Kini Louis sudah sangat siap untuk mempersunting wanita kesayangannya itu.


Besok adalah hari yang akan menjadi saksi terselenggaranya acara sakral itu. Rumah Bik Susi yang akan menjadi tempat dilangsungkannya ijab qobul yang rencananya hanya akan diselenggarakan secara sederhana itu. Mengingat keluarga Davis barusaja diterpa banyak badai prahara. Louis tak mau ada acara apapun selain ijab qobul besok. Yang penting, hubungannya dan Anisa sah di mata hukum negara dan agama. Anisa dan Gerhana mendapatkan kejelasan status. Dan mereka terhindar dari berbagai macam fitnah.


Siang ini, di teras rumah sederhana milik Bik Susi. Anisa kembali menyentuh tombol telepon di layar ponselnya. Mencoba menghubungi nomor seorang wanita yang sangat ia kenal, Ratna, ibu tirinya. Namun sayang, lagi lagi, wanita itu tidak menjawab telepon darinya. Pesannya juga tidak dibalas. Membuat Anisa hanya bisa menghela nafas panjang karenanya.

__ADS_1


Sudah berkali-kali ia mencoba menghubungi dan mengirimkan pesan untuk wanita itu. Namun sama sekali tak ada respon dari ibu tirinya itu. Sebagai seorang anak yang pernah dibesarkan meskipun tanpa kasih sayang di rumah milik Ratna, Anisa memiliki niatan baik untuk mengabari sang ibu tiri perihal rencana pernikahannya dengan Louis yang akan digelar besok. Namun sayang, sepertinya niatan baik itu tidak disambut dengan baik pula oleh wanita paruh baya itu. Semua pesan dan panggilan dari Anisa diabaikan seolah wanita itu. Ia seolah tidak peduli dengan nasib anak tirinya itu.


"Gimana?" tanya Louis yang nampak menggendong baby Gerhana yang kepanasan. Bocah itu hanya mengenakan baju tanpa lengan dan popok saja sekarang.


Anisa mendongak ke arah calon suaminya. Lalu menggelengkan kepalanya. Louis tersenyum. Ia mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi rotan di samping wanita cantik yang nampak sedih itu.


"Ya udah. Nggak usah di telfon lagi. Kirim pesan aja. Bilang aja niatan baik kamu tentang pernikahan kita. Dibaca terserah, nggak juga nggak apa apa. Yang penting kamu udah bilang. Jangan mengemis perhatian dari orang yang buta akan kasih sayang dari kamu," ucap Louis. "Dah, tulis aja!"


Anisa menghela nafas panjang. Ia kemudian mengangguk. Baby Gerhana yang berada di gendongan sang ayah kini nampak menggeliat sambil memainkan air liurnya. Bocah yang kian hari terlihat makin berisi itu nampak memasukkan jari jarinya ke dalam mulut.


Louis tersenyum. Ia menciumi bayi tampan itu berkali kali.

__ADS_1


"Panas, ya? Sabar, ya. Besok kita pulang ke apartemen kita. Kita tinggal bertiga sama Mama..." ucap pria itu sambil menimang nimang bayi yang sebenarnya adalah keponakannya sendiri itu.


...----------------...


__ADS_2