
Di sebuah bangunan tinggi bertuliskan Davis Corp. Mobil mewah itu berhenti tepat di depan gedung tinggi milik keluarga konglomerat itu. Laki laki tampan dengan penampilan yang lebih casual itu nampak menoleh ke arah sang calon istri yang duduk di di jok belakang sambil memangku baby Gerhana.
Ya, mereka baru pulang dari rumah sakit. Kini Louis mengajak Anisa, baby Gerhana, serta nenek Ranti yang setia mendampingi sang cucu itu untuk mampir ke gedung utama perusahaan Davis Corp guna menemui sejumlah wartawan yang sengaja Louis undang untuk mendengarkan pernyataan terbuka darinya.
"Turun, yuk!" ajak Louis.
Anisa diam sejenak. Tak bisa dipungkiri. Ia benar-benar gugup sekarang. Wanita desa yang hamil di luar nikah itu akan dikenalkan ke publik sebagai calon istri seorang pria mapan dengan segala pesona yang melekat di dirinya, Louis Edgar Davis.
Bagaimana reaksi orang orang nantinya? Bagaimana penilaian orang orang. Apakah ia akan dibully nantinya? Selama ini, saat masyarakat luas belum mengetahui tentang sosok Anisa di belakang Louis saja, wanita itu sudah mendapatkan penolakan dari orang orang di sekitar Louis. Apalagi sekarang? Semua media meliput acara konferensi pers ini. Seluruh masyarakat di negeri ini juga akan mendengar pernyataan Louis nantinya. Anisa benar benar takut. Ia merasa rendah sekarang. Ia takut dianggap tak pantas untuk mendampingi laki laki mapan itu.
Louis yang tak mendapatkan respon dari Anisa itu kemudian menggerakkan tangannya. Ia meraih punggung tangan wanita itu lalu meremasnya lembut.
"Jangan takut. Ada aku!" ucapnya.
Anisa diam menatap pria yang kini tersenyum manis itu. Wanita itu kemudian menoleh ke arah sang nenek. Nenek Ranti nampak mengangguk, seolah meyakinkan sang cucu bahwa semua akan baik-baik saja. Anisa menarik nafas panjang. Ia kemudian mengangguk. Wanita itu pun lantas turun bersama Louis. Laki laki itu nampak meraih punggung tangan Anisa lagi. Menggenggamnya dengan erat lalu menggandengnya untuk sama sama masuk ke dalam bangunan tinggi bertingkat itu.
Louis mengayunkan kakinya dengan penuh percaya diri. Menggandeng tangan Anisa yang kini nampak menunduk. Beberapa pasang mata karyawan pun sontak tertuju pada sepasang pria wanita itu.
"Selamat pagi, Tuan!" sapa beberapa karyawan Davis Corp disana. Louis tak menjawab. Ia terus mengayunkan kakinya menuju sebuah ruangan di dalam bangunan itu yang akan menjadi tempat terselenggaranya konferensi pers. Sepertinya semua awak media sudah menunggu di sana.
Anisa makin deg-degan.
"Jadi benar, Tuan Louis nggak kecelakaan?"
"Terus, wanita itu siapa? Kayak pernah lihat!"
"Itu pacarnya?"
"Bukannya itu perempuan yang dulu pernah nampar Tuan Louis? Yang dulu itu. Inget nggak?"
"Cantik, ya!"
__ADS_1
"Agak kampungan dikit sih!"
Dan banyak lagi suara suara liar yang berhasil tertangkap telinga Anisa. Wanita itu makin panas dingin dibuatnya. Ia menggerakkan satu tangannya yang bebas meremas hem panjangnya di bagian dada. Sedangkan Louis, laki laki itu lebih memilih untuk mendadak buta dan tuli. Ia terus melangkah dengan pasti menuju ruangan konferensi pers disana.
Tak berselang lama, keduanya sampai di depan sebuah ruangan tertutup tempat dimana para awak media sudah menunggu keduanya. Louis disambut beberapa orang kepercayaannya yang sudah menunggu di depan pintu ruangan itu.
"Selamat siang, Tuan, Nona!" ucap si orang kepercayaan berpakaian rapi yang sebenarnya juga belum mengenal siapa Anisa itu. Beberapa pria itu nampak mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan yang disambut oleh Louis dan Anisa.
"Para awak media sudah menunggu di dalam, Tuan!" ucap salah seorang laki laki disana.
Louis mengangkat dagunya. Ia nampak menarik nafas panjang. Laki laki itu kemudian menoleh ke arah Anisa. Terasa betul oleh Louis, tangan Anisa mulai berkeringat. Sepertinya wanita itu benar benar gugup.
"Siap, Sayang?" tanya Louis.
Anisa menoleh. "Aku takut," ucapnya.
"Semua akan baik baik aja. Kan ada aku," jawab Louis.
Anisa memejamkan matanya. Menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya dari mulut. Wanita itu kemudian mengangguk, mencoba memberanikan diri.
Louis tersenyum.
Salah seorang pria disana mengangguk. Laki laki itu kemudian membuka pintu ruangan tersebut. Louis dan Anisa pun maju dua langkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Suasana ruangan yang semula tenang pun berubah menjadi riuh. Sorot mata dan kamera sontak tertuju pada Anisa dan Louis. Laki laki itu terlihat sangat tenang. Sedangkan Anisa yang tak pernah berada di posisi seperti ini sebelumnya itupun kini kembali menunduk. Ia kembali didera kegugupan yang luar biasa. Ia takut. Keringat dingin keluar dari tubuhnya. Louis mendekatkan wajahnya pada sang kekasih.
"Jangan nunduk, Sayang! Angkat kepalamu! Ada aku disini. Kamu adalah calon Nyonya Davis. Jangan takut. Berdiri yang tegak. Tatap mereka semua. Tunjukkan kecantikan kamu yang berhasil membuat aku tunduk!" bisik Louis memberikan semangat.
Anisa memejamkan matanya lagi.
"Ayo! Aku pengen mereka semua melihat kecantikan kamu! Angkat kepalanya! Jangan takut! Kamu calon pendamping Louis Edgar Davis. Tatap mereka semua! Percaya diri, Sayang!" tambah Louis.
Anisa menarik nafas panjang. Lalu..
Seett...
Wanita itu mengangkat kepalanya. Dadanya masih naik turun, namun sekuat tenaga ia mencoba mengatur nafasnya agar terlihat lebih tenang.
__ADS_1
Louis mengulum senyum tipis melihat reaksi Anisa.
"Senyum," ucap pria itu kemudian tanpa melepaskan pandangannya dari wajah wanita itu. Anisa perlahan mulai mengerakkan bibirnya, menarik kedua ujungnya ke atas hingga menampilkan senyuman manis meskipun samar samar.
"Cantik!" ucap Louis memuji dengan suara pelan. Anisa tak menjawab. Ia masih berusaha mengatasi kegugupannya.
Louis kemudian mengajak Anisa untuk duduk di kursi yang sudah disediakan. Wanita itu menggerakkan bola matanya menatap puluhan kamera yang kini terarah padanya tanpa melepaskan senyuman samarnya yang manis.
"Baik, bisa kita mulai, teman teman?" tanya seorang pria yang juga merupakan orang kepercayaan Louis di kantor ini. Orang yang dipercaya oleh pria itu untuk mengumpulkan wartawan dan menyediakan tempat untuk konferensi pers nya siang ini.
Dan, pertemuan antara Louis dan para awak media pun berlangsung. Acara dimulai dengan kata kata sambutan dari pihak penyelenggara guna menjelaskan maksud dan tujuan di selenggarakannya acara pada siang hari ini.
Setelahnya, waktu bicara kemudian diserahkan pada Louis selaku pria yang berinisiatif menyelenggarakan acara pada siang itu. Laki laki itu kemudian mulai buka suara. Ia mulai menjelaskan semua tentang dirinya, keluarganya, kembarannya, dan semuanya. Tentang ia yang punya kembaran yang selama ini tak terendus khalayak ramai. Tentang dirinya yang merupak pewaris yang memiliki saudara kembar dengan sejuta kasus dan skandal yang menghiasi kehidupannya. Tengah ia yang terperangkap di tengah tengah pertikaian antara Rhea, Luke, Betrand. Semua Louis ungkapkan dengan gamblang dan tanpa ada yang ditutup tutupi.
Ia menjelaskan pada media, bahwa laki-laki yang mengalami kecelakaan kemarin itu bukanlah dirinya, melainkan kembarannya, yakni Luke Edgar Davis.
Laki-laki itu juga membenarkan jika Betrand memang gagal melangsungkan pernikahan dengan Rhea karena suatu hal. Ketika ditanya, masalah apa itu, Louis hanya menjawab, untuk menanyakan tentang hal itu, silahkan tanya pada yang bersangkutan. Kerena itu bukan ranahnya.
Tujuannya membuat konferensi pers ini adalah untuk menegaskan kepada semua media, bahwa saat ini Louis sebaik-baik saja. Dia tidak pernah mengalami kecelakaan dengan siapapun. Jika ada pemberitaan tentang dirinya mengenai kecelakaan dengan Rhea, itu adalah bohong. Laki laki itu juga memperlihatkan beberapa foto dirinya dengan Luke yang memiliki wajah sembilan puluh lima persen mirip. Ia juga memperlihatkan foto terakhir ketika Luke masih berada di ruang IGD. Semua ia tunjukkan pada khalayak sebagai bukti bahwa ucapannya bukanlah ucapan bohong.
Laki laki itu juga mengatakan, untuk tidak memberitakan hal yang tidak tidak. Mengkait kaitkan namanya dengan batalnya pernikahan Betrand dan Rhea. Lagi lagi, ia mengatakan, ia tak ada hubungannya dengan hal itu. Ia tak memiliki kedekatan apapun dengan Rhea. Ia bahkan juga menyebutkan bahwa tidak terlalu mengenal wanita itu.
Di akhir konferensi tersebut, laki-laki itu menyatakan bahwa kini ia sudah memiliki seorang calon istri. Tak lain dan tak bukan, adalah wanita yang sejak tadi berada di sampingnya. Anisa namanya. Laki-laki itu dengan bangga memperkenalkan wanita cantik di sampingnya yang sejak tadi hanya diam itu. Louis tidak menutupi tentang silsilah keluarga Anisa. Ia menjelaskan siapa sosok wanita kesayangannya dengan penuh rasa bangga.
Hanya satu yang tak ia jelaskan, yakni tentang awal mula pertemuannya dengan wanita itu dan masa lalu Anisa yang merupakan korban pemerkosaan yang dilakukan oleh saudara kembarnya sendiri. Louis memilih menutupi hal itu dari media untuk menjaga nama baik Anisa. Yang terpenting baginya adalah semua orang tahu ia punya kembaran, ia tidak terlibat dalam batalnya pernikahan Rhea dan Betrand, dan ia sudah punya calon istri. Sudah! Selebihnya, itu bukan urusannya! Ia tidak menyinggung perselingkuhan antara Luke dan Rhea. Biarkan itu menjadi rahasia keluarga yang tak perlu banyak orang ketahui. Kalaupun suatu saat khalayak ramai mengetahui hal tersebut, ya...itu sudah bukan urusan Louis lagi. Yang penting baginya saat ini adalah nama baiknya terjaga. Sudah! Cukup! Selebihnya itu bukan urusan dia! Dia tidak peduli dan tidak mau tahu!
Konferensi pers berjalan dengan sangat lancar. Beberapa media bahkan menyiarkan acara ini secara live dan dapat langsung disaksikan oleh para pemirsanya di rumah. Konferensi pers ini cukup menyita perhatian banyak orang. Tak terkecuali keluarga besar Rhea dan keluarga Davis. Juga seorang wanita berhijab yang kini duduk diam di depan televisi bersama ayah dan ibunya.
Ya, itu Natasya. Wanita itu nampak menunduk. Selesai sudah harapannya. Pupus! Besarnya cinta yang ia pupuk sejak lama harus terkubur mulai detik ini. Laki laki itu sudah menyatakan siapa wanita pilihannya. Dan pilihan itu jatuh pada Anisa. Wanita yang belum lama Louis kenal namun sudah berhasil menyentuh hati pria dengan sejuta pesona itu.
Natasya yang sudah mengidolakan laki-laki itu sejak lama dinyatakan kalah. Ia gugur. Ia tak mampu menjamah hati seorang Louis Edgar Davis. Setitik air mata menetes di pipinya. Sakit, tapi bisa apa ia? Perasaan dan takdir Tuhan tidak bisa dipaksakan.
Lain hal nya dengan Natasya, rasa haru justru kini menerpa hati Bik Susi. Pria yang kini tengah berada di ruang televisi apartemen Louis itu nampak menitikkan air mata haru melihat sepasang manusia yang saling mencintai itu kini berada di layar televisi. Dengan lantang dan bangganya Louis memperkenalkan Anisa. Laki-laki itu seolah mematahkan argumen banyak orang yang memandang sebelah mata hubungannya dengan wanita cantik itu. Louis yakin seyakin-yakinnya atas pilihannya. Cintanya begitu kuat. Ia tidak peduli dengan latar belakang sosial dan masa lalu wanita itu.
Tanpa Bik Susi sadari, tak jauh dari tempatnya berada. Tepatnya di sebuah kamar tamu yang tak tertutup rapat pintunya. Pria dengan kumis dan jambang yang mulai melebat serta tubuh yang makin terlihat kurus itu nampak diam, ikut mendengarkan konferensi pers yang terdengar dengan sangat jelas dari kamar tamu itu.
__ADS_1
Betrand diam. Mendengarkan kata demi kata yang Louis ucapkan itu dengan sorot mata datar menatap lurus ke depan. Ia tak bergerak. Juga tak berucap. Entah, apa yang ia pikirkan saat ini.
...----------------...