(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
032


__ADS_3

Di dapur rumah mewah itu. Anisa nampak mengusap keringatnya. Ia cukup lelah dengan pekerjaannya hari ini yang seolah tak ada habisnya sejak pagi hingga malam hari.


"Nis," ucap Almeer yang tiba tiba mendekat. Wanita hamil itu lantas menoleh.


"Iya, Kak," jawab Anisa.


"Kamu istirahat aja. Aku takut kamu kelelahan. Kamu duduk aja dulu, biar gantian diawasin sama yang lain," ucap Almeer sedikit khawatir dengan kondisi ibu hamil itu.


"Tapi, Kak..."


"Udah, nggak apa apa. Kerjanya nggak usah ngoyo. Kamu udah kerja dari pagi. Kamu juga harus merhatiin kondisi janin dalam kandungan kamu. Aku nggak mau dia kenapa kenapa karena kamunya kecapean," ucap Almeer


Anisa tersenyum. "Iya, Kak. Makasih, ya," jawab Anisa. Almeer hanya tersenyum. Ia kemudian pergi meninggalkan Anisa di dapur itu sendirian.


Wanita hamil itu lantas meraih sebuah gelas kaca disana, lalu mengisinya dengan air putih dalam galon yang disediakan oleh pemilik rumah. Diteguknya segelas air itu hingga tandas guna menghilangkan dahaganya.


Selesai, gelas kosong itu di letakkan di samping dispenser. Wanita cantik dengan rambut dikepang itu kemudian berbalik badan, berniat untuk beristirahat di kursi meja makan rumah besar itu. Namun tiba-tiba...


Deeghh...


Anisa terjingkat kaget sembari mengucap istighfar. Seorang pria tampan nampak berdiri di belakangnya entah sejak kapan. Laki-laki dengan setelan tuksedo berwarna hitam itu nampak tersenyum manis ke arahnya dengan kedua lengan yang berada di belakang punggung kokohnya.


"Louis?!" tanya Anisa kaget.


"Hai!" sapa Louis manis.


"Kamu ngapain disini?" tanya wanita itu masih terlihat kaget. Ia melongok menatap ke sekelilingnya. Tak ada manusia lain di ruangan itu.


Louis tersenyum sangat manis. "Saya tamu undangan disini," ucapnya.


Anisa diam. Ia tidak begitu kaget mendengar hal itu. Louis kan memang orang kaya. Pengusaha pula. Sekelas dengan si pemilik acara yang memang konglomerat itu. Sudah pasti ia sangat sering terlibat dalam acara acara mewah semacam ini.


Anisa nampak diam menatap wajah tampan di hadapannya itu. Kehidupannya dengan Louis memang bak bumi dan langit.

__ADS_1


Huufftt...


Louis meniup wajah itu lembut. Membuat Anisa pun tersadar dari lamunannya.


"Jangan ngelamun!" ucap Louis.


Anisa tersenyum samar. "Terus, kamu ngapain malah di sini? Bukannya gabung sama yang lain!" ucap Anisa kemudian.


Louis tersenyum samar. "Saya bosan di sana. Nggak ada yang menarik!" ucapnya.


"Di sini juga nggak ada yang menarik!" ucap Anisa.


Louis diam sejenak tanpa melepaskan pandangnya dari paras ayu yang nampak lelah di hadapannya itu.


"Ada," jawabnya.


Anisa menyipitkan matanya. Ia lantas menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seolah mencari cari sesuatu yang mungkin menarik di mata Louis. Tapi ia tak menemukannya.


Laki laki itu tersenyum samar.


Louis tak menjawab pertanyaan ibu hamil itu. Ia hanya mengangkat satu sudut bibirnya. Wanita itu terlihat sangat lucu. Anisa seolah berhasil membuat mood Louis yang sejak tadi kurang bagus itu menjadi bersemangat kembali.


"Pergi, yuk!" ucap pria itu kemudian.


Anisa mengernyitkan dahinya.


"Pergi?" tanyanya. Louis mengangguk.


"Kan saya lagi kerja! Acaranya juga belum selesai. Lilinnya belum ditiup!" ucap Anisa.


"Dia bisa niup lilinnya sendiri!" ucap Louis enteng. Anisa terkekeh. Terlihat makin manis di mata Louis. Membuat laki laki itu kini kembali tersenyum samar menatap paras yang semakin sayang untuk diabaikan itu.


"Maksudnya bukan gitu! Kan acaranya belum selesai. Kamu kan diundang kesini buat lihat dia niup lilin!" ucap wanita itu tanpa bisa menyembunyikan senyumannya mendengar ucapan lucu dari Louis.

__ADS_1


Laki laki itu tak menjawab.


"Lagian kan saya juga masih kerja! Nggak enak sama yang lain!" ucap Anisa.


"Bukannya tadi bos kamu nyuruh kamu istirahat?" tanya Louis.


"Tapi ya nggak pergi sebelum acara selesai juga!" ucap Anisa.


Louis tersenyum. "Dia akan meminta kamu pergi dari sini secepatnya!" ucap laki laki itu dengan santainya tanpa melepaskan senyumannya. Hal itupun membuat Anisa menyipitkan matanya, seolah tak paham dengan maksud ucapan pria di hadapannya itu.


Louis lantas berbalik badan. Ia pergi meninggalkan tempat tersebut dan mendekati Almeer selaku bos katering itu. Keduanya lantas terlibat perbincangan singkat yang tak dapat didengar oleh Anisa. Almeer nampak mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penuturan dari Louis yang entah apa itu.


Tak lama, Almeer dan Louis berjalan mendekati Anisa yang masih diam di tempatnya.


"Nis, udah, kamu pulang aja sama Tuan Louis. Tapi nanti sampai rumah langsung istirahat, ya!" ucap Almeer. Anisa menoleh ke arah Almeer dan Louis bergantian. Louis nampak mengangkat satu sudut bibirnya. Anisa bingung. Memangnya apa yang sudah Louis katakan pada Almeer, kok tiba tiba adik Salma itu memintanya pulang dengan Louis? Pikir Anisa.


Anisa nampak membuka mulutnya hendak menjawab ucapan Almeer, namun Louis buru buru menimpali ucapannya.


"Nggak apa apa, Nis. Mas Almeer udah ngizinin, kok!" ucap Louis.


Anisa masih bingung. Tapi ya sudah lah. Toh sebenarnya ia juga sudah sangat lelah. Kondisi fisiknya sebagai wanita yang tengah berbadan dua memang membuatnya tak bisa seaktif biasanya.


Anisa pun akhirnya menurut. Ia pamit pulang terlebih dahulu pada Almeer dan teman temannya. Toh tamu undangan sudah datang semua dan persediaan ketering juga masih cukup.


Anisa pun berjalan bersama Louis keluar dari rumah megah itu.


Di tengah tengah perjalanan,


"Kamu tadi ngomong apa sama Kak Almeer?" tanya Anisa.


Louis menoleh sambil tersenyum. "Kamu cukup tahu hasilnya. Prosesnya, serahkan sama saya!" jawab Louis. Anisa hanya diam sambil terus mengikuti langkah kaki Louis menuju halaman rumah megah itu, tempat dimana mobil mewah milik Louis terparkir disana.


Laki laki itu kemudian mengajak Anisa masuk ke dalam mobil mewahnya. Louis duduk di kursi kemudi sedangkan Anisa di sampingnya. Louis melepaskan jas hitamnya. Hingga menyisakan kemeja serta rompi hitam yang menutupi tubuh tegap nan kekar miliknya. Laki laki itu kemudian menggerakkan tangannya, menutupi tubuh ramping berbalut seragam ketering itu dengan jas mahal di tangannya. Membuat Anisa pun menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Biar nggak dingin," ucap laki laki itu. Anisa terdiam. Manis sekali perlakuan pria itu. Membuat Anisa sedikit terpesona dengan pria yang terlihat tampan baik paras maupun hatinya itu. Anisa mengulum senyum. Louis mulai menyalakan mesin mobilnya. Ia pun lantas membawa wanita hamil itu melesat pergi meninggalkan tersebut.


...----------------...


__ADS_2