
Hari berganti. Saat pagi menjelang, di sebuah apartemen kediaman Louis dan Anisa.
Louis keluar dari kamar tamu itu. Ia sudah nampak rapi. Setelah berfikir dan merenung beberapa hari, akhirnya hari ini Louis memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Ia akan kembali ke kediaman keluarga besarnya guna menengok kondisi sang kakek yang selama beberapa hari ini hanya ia hubungi melalui sambungan vidio.
Ya, Louis rindu dengan kakeknya. Laki laki itu memutuskan untuk pulang sejenak ke kediamannya. Entah nantinya menetap atau tidak. Ia sudah nyaman tinggal di apartemen dengan Anisa, tapi keduanya belum memiliki ikatan apapun. Meskipun tidak pernah terjadi hal yang macam macam antara mereka berdua, namun Louis seolah takut jika bisikan setan tiba tiba datang menggodanya.
Louis menatap ke arah Anisa yang sibuk menyiapkan beberapa roti untuk sarapan. Laki laki itu tersenyum, ia lantas berjalan mendekati Anisa yang kini nampak berdiri sembari menenggak segelas susu khusus ibu hamil miliknya.
"Udah mau berangkat?" tanya Anisa pada pria yang terlihat gagah itu.
Louis mengangguk. Ia mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi di meja makan itu.
"Sarapan dulu, aku udah siapin," ucap Anisa sembari menyodorkan sepotong roti di atas piring itu.
"Makasih," ucap Louis. Anisa hanya tersenyum.
"Nis," ucap pria itu lagi sembari memotong rotinya.
"Ya," jawab Anisa.
"Maaf, ya. Untuk saat ini saya belum bisa ngajak kamu ke rumah saya. Kita harus menunggu waktu yang tepat untuk itu," ucap Louis.
Anisa tersenyum. "Nggak apa apa. Aku ngerti, kok. Perbaiki dulu hubungan kamu sama keluarga kamu," ucap Anisa.
Louis nampak tersenyum.
"Dah, dilanjut makannya. Ntar kalau kesiangan keburu macet."
__ADS_1
Laki laki itu tersenyum lagi sembari mengangguk. Ia kemudian mulai menyantap santap paginya itu bersama sama dengan wanita pujaannya.
Tak lama, keduanya pun selesai dengan santap pagi mereka. Louis mengusap area sekitar bibirnya menggunakan sapu tangan disana. Laki laki itu kemudian bangkit. Ia lantas berjongkok di samping Anisa yang masih berada di kursinya.
Tangan kekar itu tergerak. Disentuhnya perut yang kian hari kian membuncit itu sembari mengusap usapnya lembut.
"Nak, Papa pergi dulu, ya. Baik baik di rumah sama Mama. Jangan nakal. Jagain Mama kamu!" ucap Louis sembari mengusap usap lembut perut yang kian hari kian membuncit di usia kandungannya yang sudah hampir memasuki usia enam bulan tersebut.
Anisa tersenyum. "Iya, Papa. Papa juga hati hati ya. Jangan ngebut bawa mobilnya. Jangan marah marah kalau udah sampai rumah. Dan jangan lupa kabarin kalau udah sampai," ucap Anisa.
Louis mendongak. "Pasti!" jawabnya. Laki laki itu kemudian mengecup lembut perut berbalut daster merah muda tersebut. Ia kemudian bangkit. Tangannya tergerak mengusap lembut pucuk kepala wanitanya.
"Saya pulang dulu, ya. Tadi saya udah telfon Bik Susi. Dia masih di jalan. Paling bentar lagi sampai," ucap Louis.
Anisa tersenyum sambil mengangguk.
"Iya. Hati hati di jalan," jawab Anisa.
"Iya, Sayang..." jawab Louis.
"Iiihhh...." ucap Anisa sedikit terkejut mendengar jawaban Louis.
Laki laki itu terkekeh. Anisa nampak tersipu malu. Louis mengacak acak lembut pucuk kepala itu.
"Dah, ah. Duluan. Assalamualaikum,"
"Wa Alaikum Salam," jawab Anisa.
__ADS_1
Laki laki itupun lantas berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut. Meninggalkan Anisa yang kini berada di apartemen itu seorang diri.
Wanita itu mulai membereskan peralatan makan kotor di atas meja itu. Membawanya menuju wastafel lalu mencucinya. Tiba tiba....
Ting... Tong...
Bel apartemen berbunyi. Anisa menghentikan pergerakannya. Louis kembali lagi? Atau Bik Susi? Pikir Anisa.
Wanita hamil itu kemudian mematikan kran wastafelnya. Ia berjalan menuju pintu apartemen yang terus berbunyi belnya itu. Anisa meraih gagang pintu tersebut, kemudian membukanya.
Ceklek....
.
.
.
"Hai, Anisa...!"
.
.
Bersambung 🤭😁
...----------------...
__ADS_1