
Di dalam sebuah taksi yang ditumpangi Bik Susi, wanita paruh baya itu nampak diam melamun menatap lurus ke luar jendela. Dengan ponsel milik Anisa yang tak sengaja masih terbawa olehnya, Bik Susi nampak diam, pikirannya melayang layang mengingat masa lalu keluarganya.
Ya, wanita itu bernama Susi. Kini ia telah menginjak usia lima puluh tahun ( jika salah koreksi ya, jujur author lupa sama umurnya🤭😝)
Susi adalah anak sulung dari dua bersaudara. Dulu, ia memiliki seorang adik perempuan, namanya Silvia, yang sudah meninggal sejak dua puluh tahun yang lalu.
Susi pernah menikah, namun kemudian ia menjanda hingga saat ini semenjak sang suami meninggal dalam sebuah kecelakaan bersama iparnya yang tak lain adalah suami dari Silvia, sekaligus ayah dari sang keponakan yang saat ini ia rawat, Elang.
Bik Susi adalah janda tanpa anak. Ia ditinggal mati sang suami saat usia pernikahan mereka baru menginjak usia satu minggu. Semenjak kepergian sang suami, Bik Susi lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dan bekerja. Ia tak begitu peduli dengan pasangan hidup. Berbeda dengan adiknya, Silvia. Wanita yang kini tengah tiada itu memutuskan untuk menikah lagi secara siri dengan seorang pria setelah empat tahun menjanda. Kala itu, usia Elang masih empat tahun.
Laki laki yang menikahi Silvia itu adalah seorang muslim, seorang perantau dari daerah. Silvia yang non muslim kemudian memutuskan untuk berpindah keyakinan demi bisa menikah dengan laki laki pujaannya yang diketahui bernama Herman itu.
Singkat cerita, keduanya menikah. Sebuah pernikahan sederhana yang hanya dihadiri keluarga dan segelintir sahabat dari Silvia, lantaran pria bernama Herman itu mengaku bahwa ia sebatang kara.
Keduanya kemudian menikah secara Islam. Selang satu bulan pernikahan, Silvia di diagnosa mengandung seorang bayi. Kehidupan pernikahan keduanya pun semakin berwarna. Herman juga begitu menyayangi Elang sebagai anak sambungnya. Hingga pada suatu ketika, saat kandungan Silvia semakin membesar, sebuah kejadian yang cukup naas terjadi. Silvia yang tengah hamil besar mengalami kecelakaan saat hendak mengantar Elang pergi ke sekolah. Luka benturan yang cukup parah mengharuskan Silvia untuk mempercepat proses persalinannya. Operasi Caesar pun dilakukan saat janin dalam kandungan wanita itu belum genap sembilan bulan.
Tak berhenti sampai disitu, kebahagiaan sepasang pengantin itu akhirnya kandas kala Tuhan menghendaki untuk mengambil nyawa Silvia. Wanita itu meninggal saat melahirkan bayi perempuan yang belum diberi nama itu. Alih alih menyusui, melihat wajah putrinya pun ia tak sempat.
Silvia tewas, dua bocah kehilangan ibunya, Susi kehilangan adiknya, dan Herman kehilangan istri tercintanya.
Bayi wanita yang Susi ketahui diberi nama Adiba itu kemudian dirawat oleh Herman. Herman yang hanya seorang perantau tanpa sanak saudara di kota itupun akhirnya memilih untuk membawa Adiba pulang ke kampung halamannya. Sebenarnya ia sempat ingin menitipkan Adiba pada Bik Susi, namun kondisi ekonomi yang sulit dan status Bik Susi yang kala itu hanya seorang janda, dirasa tak memungkinkan untuk merawat dua bocah sekaligus. Akhirnya Herman memutuskan untuk membawa Adiba bersamanya, dan Elang bersama Bik Susi.
Sejak saat itu, Bik Susi sudah tak lagi mengetahui kabar tentang keponakan dan iparnya itu. Mereka hilang kontak. Bagaimana dan seperti apa kondisi mereka saat ini, Bik Susi sama sekali tidak tahu.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya, saat Anisa menunjukkan foto dirinya dengan sang ayah beberapa waktu lalu, hati Bik Susi pun bergetar. Laki-laki itu adalah Herman, iparnya. Ia masih sangat hafal wajah laki-laki itu. Hal itupun membuat Bik Susi merasa syok. Jika Herman adalah ayah kandung Anisa, itu artinya Anisa adalah keponakannya. Anisa adalah adik kandung Elang. Anisa adalah Adiba.
Bik Susi nampak menitikkan air matanya. Anisa pernah mengatakan pada dirinya bahwa ia adalah seorang anak dari hasil perselingkuhan ayahnya. Ia tinggal bersama nenek dan ibu tirinya yang begitu benci padanya.
Hati Bik Susi makin teriris. Jika benar begitu, berarti selama ini Herman telah berbohong padanya. Ia membohongi adiknya yang kini telah tiada. Silvia adalah istri kedua dari Herman. Rupanya laki-laki itu sudah memiliki istri yang mandul di kampung halamannya. Begitukah?
Bik Susi menggenggam tanda salib di dadanya. Ia tak henti menitikkan air matanya sejak tadi mengingat drama keluarga yang sudah lama terkubur itu.
Ia harus menanyakan ini pada Anisa nanti. Ia harus mengorek kisah masa lalu keluarga Anisa. Dan tentunya ia juga harus mengatakan ini pada Elang. Pemuda itu harus tahu semuanya.
Bik Susi masih sibuk dengan pemikirannya. Hingga tiba tiba...
Drrtt... Drrtt... Drrtt...
Bik Susi terjingkat kaget. Ponsel di tangannya bergetar. Itu ponsel milik Anisa yang tak sengaja terbawa olehnya. Bik Susi gelagapan. Terlihat di layar ponsel itu, sebuah panggilan WhatsApp masuk dari Louis. Bik Susi bingung. Mau diangkat atau tidak. Sebagai seorang pembantu, ia merasa tak pantas untuk menjawab panggilan dari sang Tuan untuk Anisa.
"Ha, halo, Tuan," ucap Bik Susi sembari mengusap lelehan air matanya.
"Halo! Bibik dimana?!" tanya Louis dari seberang sana dengan suara yang terdengar memburu.
"Saya masih di jalan, Tuan. Ini agak macet. Kan udah masuk jam makan siang. Maaf," ucap Bik Susi.
"Bibik kemana? Anisa sama siapa sekarang?!!" tanya laki laki itu.
__ADS_1
Bik Susi terdiam.
"Loh, kan sama Tuan tadi?" tanya Bik Susi bingung. Louis terdengar mengucap istighfar di tengah kekalutannya. Ia yang kini berada di dalam sebuah mobil yang juga tengah terjebak macet itu nampak menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi.
"Bik, itu bukan saya! Saya lagi kena macet sekarang. Itu kembaran saya! Anisa sedang dalam bahaya sekarang!!!" ucap Louis frustasi. Ia bahkan terdengar menangis.
Bik Susi terkejut. Iya reflek menegakkan posisi duduknya yang sejak tadi bersandar di sandaran jok belakang taksi itu "Ya Tuhan, Tuan! Ini gimana?!! Saya udah jauh!!" ucapnya.
Louis memejamkan matanya. Ia memukuli kemudinya sendiri guna menyalurkan kekesalan serta kekhawatirannya. Ia menangis, ia marah, ia benar benar kacau.
"Tuan, gimana?!" tanya Bik Susi lagi ikut menangis.
Louis memejamkan matanya sejenak sembari menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kemudinya. Ia berfikir dengan sangat keras. Lalu...
"Bik!!" ucap Louis kala menemukan secercah ide di otaknya.
"Iya, Tuan!" jawab Bik Susi.
"Saya minta tolong, hubungi Elang! Suruh dia datang ke apartemen saya sekarang juga, bantuin Anisa!!" ucap Louis yang kemudian dengan segera turun dari kendaraannya. Ia tak peduli dengan mobilnya yang kini berhenti di tengah jalan raya yang padat. Ia berlari mencari tukang ojek yang bisa ia sewa untuk mengantarnya menuju ke apartemen lebih cepat. Laki-laki itu berlari tunggang langgang di tengah jalan yang padat itu. Mengabaikan suara klakson kendaraan lain yang sebagian terdengar diwarnai umpatan dari si empunya kendaraan.
"Baik, Tuan! Saya akan hubungi Elang!" ucap Bik Susi.
"Sekarang ya, Bik. Saya akan nyusul kesana secepatnya!" ucap Louis.
__ADS_1
"Baik, Tuan!" jawab Bik Susi. Sambungan telepon terputus. Wanita paruh baya itu kemudian menghubungi sang keponakan untuk segera membantu Anisa di apartemennya. Sedangkan Louis, laki-laki itu nampak berlari kesana kemari bak orang gila. Mencari pangkalan ojek terdekat untuk bisa secepatnya mendapatkan tumpangan. Ia benar-benar frustasi. Ia harus secepatnya sampai ke apartemen itu sebelum Luke melakukan hal yang macam macam pada wanita yang kini tengah hamil besar itu.
...----------------...