(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
033


__ADS_3

19:30


Di sebuah taman kota yang tak begitu ramai, di atas rerumputan hijau tepat di bawah lampu taman yang menyala. Sepasang pria wanita itu nampak asyik duduk bersila, saling berhadap hadapan. Tawa cekikikan terdengar dari bibir keduanya. Satu tangan Anisa nampak memegang sebuah burger yang sudah tidak utuh lagi. Sedangkan satu tangan lainnya nampak asyik melakukan suit dengan pria yang kini nampak memegang satu pouch bedak bayi di tangannya.


Ya, Louis dan Anisa sedang melakukan permainan sekarang. Siapa yang menang suit permainan, ia berhak untuk memakan satu gigitan burger di tangan Anisa. Sedangkan yang kalah, maka ia harus di hukum dengan diolesi bedak putih itu di wajahnya.


Louis dan Anisa tergelak lagi. Kondisi wajah keduanya sama sama acak-acakan, putih di beberapa bagian. Alih alih marah atau malu, keduanya justru tertawa terpingkal-pingkal di bawah sorot lampu taman kota itu. Membuat beberapa orang yang lewat di sana pun ikut terkekeh melihat aksi dua manusia yang sebenarnya sudah sama-sama dewasa itu.


"Aduh, capek! Udah, perutku sakit!" ucap Anisa yang seolah sudah lelah tertawa itu.


"Sekali lagi! Buruan!" ucap Louis dengan bibir yang sejak tadi tak henti mengulum senyum dan tawa.


Anisa menurut. Ia kembali mengangkat tangannya ke belakang punggung. Keduanya kemudian mengayunkan tangan masing-masing dan memulai suit mereka.


Seeett...


"Menang!!" sorak Louis girang seolah baru saja memenangkan lotre. Dengan segera, pria dengan wajah cemong itu menggerakkan tiga jari tangannya mengeruk bedak dalam pouch itu, lalu dengan bahagia dan tanpa belas kasihan ia mengusapkan bedak itu ke wajah Anisa. Membuat wajah manis yang sudah cemong itu berubah menjadi putih bak seorang badut.


Louis tertawa terbahak bahak melihat wajah Anisa. Wanita hamil itu nampak membuang nafas kasar melalui mulutnya yang justru membuatnya semakin terlihat lucu di mata Louis. Laki laki itu kemudian meraih burger di tangan Anisa lalu melahapnya hingga habis. Louis masih belum bisa berhenti tertawa. Anisa nampak mendengus kesal. Ia kemudian menggerakkan tangannya mengeruk bedak dalam pouch itu dan berusaha menyerang wajah Louis dengan bubuk putih itu. Laki laki itu berusaha mengelak. Keduanya tergelak. Perang bedak terjadi. Bubuk putih itu bertebaran kemana mana, mengenai wajah, tubuh hingga pakaian mereka yang sama sama berwarna hitam.


Buughh...


Louis menjatuhkan tubuhnya di atas rumput hijau itu. Wajahnya putih. Ketampanannya hilang malam itu. Ia tiduran terlentang di atas rumput dengan sorot mata menatap lurus ke langit malam. Sisa sisa tawanya masih terdengar. Ia seolah benar-benar bisa melepaskan semua penatnya dengan Anisa malam ini. Tawanya begitu lepas. Sesuatu yang sudah sangat jarang ia rasakan kala bersama orang-orang di sekitarnya.


Louis menoleh ke arah Anisa yang duduk bersila di samping tubuhnya. Wanita itu nampak mengusap bubuk putih di wajahnya dengan menggunakan selembar tisu.


"Nggak usah di hapus! Udah cantik itu!" ucap Louis meledek.

__ADS_1


Anisa menoleh. "Kamu kalau ketawa kok jadi kayak joker, sih?" ucapnya kemudian yang berhasil memantik tawa lepas dari Louis. Entah untuk yang ke berapa kalinya di malam ini. Anisa ikut tertawa mendengar tawa girang Louis.


"Udah, ah! Hapus itu bedaknya! Malu dilihatin orang!" ucap Anisa lagi sembari menyodorkan selembar tisu bersih untuk Louis. Laki laki itu kembali duduk. Diraihnya tisu di tangan Anisa dan menggunakannya untuk membersihkan wajahnya yang penuh bedak itu.


Setelah selesai,


"Udah yuk, pulang!" ajak Anisa.


"Jam berapa sekarang?" tanya Louis sambil terus mengusap usap wajahnya menggunakan selembar tisu di tangannya.


Anisa meraih lengan Louis, menatap jam tangan mahal yang melingkar di sana lantaran ia tak punya jam tangan dan ia juga tak tahu sudah jam berapa sekarang.


"Hampir jam delapan," ucap Anisa.


Louis tersenyum. "Lapar nggak?" tanya Louis.


"Kan udah makan burger," jawab Anisa. "Pulang aja, yuk. Takut kemalaman. Saya nggak enak sama Kak Almeer dan Tante Salma," ucap Anisa.


Keduanya pun lantas masuk ke dalam mobil Louis. Louis memposisikan tubuhnya di kursi kemudi sedangkan Anisa di sampingnya.


"Oh ya, Nis. Besok saya ke kostan kamu sepulang dari kantor, ya. Kamu siapin barang barang kamu dulu. Saya akan minta izin dulu sama ibu kost kamu. Biar gimanapun juga kan selama ini dia dan adiknya itu yang selalu jagain kamu," ucap Louis yang sudah mantap dengan rencananya untuk membawa Anisa pulang ke apartemennya.


Anisa terdiam. Ia menoleh ke arah laki laki di sampingnya itu.


"Louis..." ucap Anisa.


Louis menoleh. "Ya," jawabnya.

__ADS_1


"Apa kita akan tinggal berdua di sana?" tanya Anisa terlihat khawatir.


Louis diam sejenak menatap wajah cantik itu. Ia lantas terkekeh.


"Kamu jangan khawatir. Kita nggak akan tinggal bersama. Saya akan tinggal di rumah saya sendiri. Saya hanya akan sering mengunjungi kamu seperti biasa. Cuma bedanya, di apartemen saya, privasi kamu lebih terjaga. Jadi jika suatu saat perut kamu sudah mulai membesar, tidak akan ada orang yang mempertanyakan tentang hal itu."


"Nantinya, setiap pagi akan ada pembantu yang datang ke apartemen. Dia akan datang jam tujuh pagi dan pulang jam lima sore. Dia adalah ART panggilan yang sudah bekerja di apartemen saya sejak beberapa tahun terakhir. Dia akan membantu bersih-bersih di sana dan menyiapkan semua kebutuhan kamu. Jadi kamu nggak akan terlalu kesepian nantinya," ucap Louis.


Anisa hanya diam. Wanita itu nampak tersenyum samar.


Louis menatap dalam wajah ayu itu. "Saya hanya berusaha memberikan yang terbaik buat kamu. Maaf, jika sampai sekarang saya belum bisa menikahi kamu. Saya janji, jika anak ini sudah lahir, saya pasti akan menjadikan kamu istri saya," ucap laki laki itu yakin.


Anisa tersenyum, lalu mengangguk.


"Kita pulang, ya?" ucap Louis kemudian dengan sangat lembut. Anisa mengangguk. Mobil mewah itu lantas melesat pergi meninggalkan tempat tersebut.


Lima belas menit berselang, mobil hitam itu berhenti tepat di depan sebuah jalan kecil menuju rumah kost Anisa. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Suasana gang sekitar tempat kost itu masih cukup ramai lantaran tempat kost itu memang terletak di pemukiman padat penduduk.


Louis mematikan mesin mobilnya. Tangannya bergerak hendak melepaskan sitbelt yang melingkar di tubuhnya.


"Sampai! Kamu langsung tid.........." Louis menghentikan pergerakannya. Dilihatnya di sana Anisa nampak tertidur pulas dengan kedua lengan dilipat di bawah dadanya. Matanya terpejam. Dengkuran halus terdengar dari mulut mungilnya. Mungkin wanita itu kelelahan.


Louis menghela nafas panjang. Ia memiringkan tubuhnya menatap wajah cantik yang nampak terlelap itu. Seutas senyum terbentuk dari bibir pria itu. Wajah cantik yang tenang itu terlihat sangat indah. Sesosok wanita desa yang unik, baik hati, ramah, sabar, kuat, manis, dan ceria. Segala kepolosan dan kesederhanaannya justru membawa kedamaian dan kenyamanan bagi laki laki itu.


Louis menggerakkan tangannya menyingkap beberapa helai rambut Anisa yang menutupi wajah cantik itu.


"Indah sekali ciptaanMu, Tuhan!" ucapnya tanpa sadar.

__ADS_1


"Maafkan saya. Saya belum bisa jujur pada wanita istimewa ini. Saya hanya berusaha memberikan jalan terbaik untuk dia juga untuk adik saya. Bantu saya, Tuhan. Beri saya kemampuan untuk menyatukan mereka. Kuatkan hati wanita ini, curahkan kebahagiaan untuknya, serta lembutkan hati saudara kembar saya untuk menerima wanita di hadapan saya ini sebagai pendampingnya. Permudahkan lah niatan saya ini," pinta Louis dalam gelapnya malam. Namun tanpa ia sadari, jari jari tangannya nampak bermain main di wajah itu. Ia mengusap usap lembut pipi mulus itu. Hatinya damai. Matanya seolah begitu nyaman menatap wanita di hadapannya. Ia tak sadar, ada rasa lain yang perlahan mulai tumbuh antara ia dan wanita yang katanya ingin ia jodohkan dengan adik kandungnya itu.


...----------------...


__ADS_2