(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
076


__ADS_3

Pagi menjelang, di sebuah kamar rawat inap rumah sakit besar itu.


Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Seorang laki-laki berbadan atletis tempat sibuk dengan ibadahnya di atas sebuah sajadah berwarna merah yang tergelar di rantai ruangan rawat inap itu. Laki laki itu terlihat begitu khusyuk. Menyembah Sang Pencipta sembari memanjatkan doa untuk wanita yang masih terlelap di atas ranjang pasien itu.


Tak jauh dari tempat pria itu beribadah, seorang laki laki berambut gondrong nampak merebahkan tubuhnya di sofa panjang ruangan itu. Dengan satu tangan mengusap usap kalung salib miliknya, pria itu nampak asyik menatap layar ponselnya. Menatap foto keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak laki lakinya. Sebuah foto yang sejak dulu ia jadikan wallpaper ponselnya. Ya, itu adalah foto keluarga kecilnya dulu sebelum tercerai berai. Foto lama yang berada di rumahnya yang ia jepret ulang menggunakan kamera ponsel miliknya.


Pikiran Elang sejak tadi melayang layang tak karuan. Cerita fakta yang budhenya ucapkan siang tadi mengenai hubungan dirinya dan Anisa berhasil menguasai otaknya. Paras Anisa memang sangat mirip dengan foto wanita dalam ponselnya itu. Foto laki laki dalam ponsel Anisa juga sangat mirip dengan foto ayah tirinya.


Semua bukti mengarah ke benar. Louis juga mengatakan bahwa nama Anisa memanglah Adiba Anisa. Ia lahir dua puluh tahun lalu, di hari dan tanggal yang sama dengan adik Elang yang terpisah. Louis juga mengatakan jika selama dua puluh tahun Anisa tinggal dengan ibu tiri yang begitu membencinya. Anisa adalah anak dari hasil perselingkuhan, katanya.


Jika itu benar, maka itu artinya, selama menikah dengan Silvia, Herman sudah berbohong. Ia sudah punya istri di kampung. Dan dari hasil kebohongannya itulah, terlahir Anisa, gadis tak berdosa yang sepanjang hidupnya hanya disia-siakan oleh ibu tirinya.


Elang merasa sesak. Hidupnya dan Anisa sama sama susah. Berangkat dari keluarga dengan ekonomi lemah dan serba kekurangan. Namun ia jauh lebih beruntung. Meskipun tanpa orang tua dan hidup serba pas-pasan, tapi ia punya Bik Susi yang sayang padanya. Tak seperti Anisa yang di cap buruk karena terlahir dari sebuah hubungan gelap.


Elang menghela nafas panjang. Ia pikir adiknya itu sudah bahagia selama ini. Hidup berkecukupan dan tak kekurangan. Sampai sampai ia lupa dengan saudara tirinya disini. Namun rupanya ia salah. Nasib Anisa tak lebih baik darinya.


Elang menatap nanar foto dalam ponsel itu. Satu tangannya mengusap usap salib di ujung kalungnya, sedangkan satu tangan lain mengusap usap layar ponsel miliknya.


"Buk, Elang sudah ketemu adek. Elang janji akan menjaga dia dengan baik," batin laki laki itu berucap.


Daagh...


Elang terhenyak. Suara benturan ringan dua buah benda terdengar di sana. Elang menoleh ke arah ranjang. Dilihatnya tangan ramping itu nampak terulur ke arah nakas. Anisa rupanya sudah sadar. Ia berniat mengambil air putih dalam gelas itu namun tangannya tak sampai. Ia hanya mampu menyentuh ponsel di samping gelas hingga membuat kedua benda itu pun berbenturan.


Elang buru buru bangkit dari sofanya sembari memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celananya. Laki laki itu kemudian berjalan mendekati Anisa yang terlihat masih lemah.


"Nis," ucap Elang.


Anisa diam menatap Elang.

__ADS_1


"Lo udah bangun?" tanyanya.


Anisa tak menjawab. Ia hanya tersenyum simpul sambil memejamkan matanya dan mengangguk lemah.


"Mau duduk?" tanya Elang.


Anisa mengangguk lagi.


"Gue bantu!" jawab Elang sembari bergerak, membimbing Anisa untuk duduk bersandar di ranjang pasien itu.


"Makasih, Mas," ucap wanita hamil itu lirih.


Elang nampak tersenyum. "Mau ambil apa tadi?" tanyanya lagi.


"Minum," ucap Anisa.


Laki laki itu kemudian dengan sigap meraih gelas berisi air putih itu. Ia hendak membantu Anisa untuk minum, namun Anisa menolak.


Elang tersenyum. Anisa menenggak air itu beberapa teguk.


Selesai. Elang meletakkan kembali gelas tersebut di atas nakas. Laki-laki itu kemudian menarik kursi di samping ranjang lalu mendudukkan tubuhnya di sana. Anisa menoleh ke arah lantai, tepat dimana Louis kini tengah bersujud di atas sajadahnya.


"Itu Louis," ucap Elang.


Anisa tersenyum. "Saya tahu. Itu salah satu pembeda dia dengan saudaranya," ucap Anisa.


Elang tak menjawab. Ia menatap dalam wajah cantik itu.


"Ada yang sakit? Kalau ada, gue panggilin dokter," ucap Elang.

__ADS_1


Anisa menggelengkan kepalanya. "Nggak ada kok, Mas. Makasih, udah datang nyelametin saya tadi siang," ucap Anisa lemah.


Elang tersenyum. "Sama sama," ucap laki laki itu.


Louis selesai dengan ibadahnya. Laki laki itu bangkit sembari menyambar sajadah itu lalu berjalan mendekati Anisa.


"Nis," ucap Louis.


Anisa dan Elang menoleh. Wanita itu nampak tersenyum.


"Kamu udah bangun, Sayang? Ada yang sakit" tanya laki laki itu sembari membelai rambut panjang wanita hamil tersebut.


Anisa tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya samar.


"Aku baik baik aja," ucapnya.


Louis meraih punggung tangan wanita itu, mengusap usap nya lembut lalu menciumnya.


"Saya khawatir sama kamu, Nis. Saya khawatir terjadi sesuatu sama calon istri dan anak saya," ucap Louis.


Anisa memalingkan wajahnya. Ia terkekeh meskipun lemah.


"Beneran," ucapnya.


"Iya... Makasih udah perhatian sama aku," ucap wanita itu.


Louis tersenyum. Ia kembali mengecup punggung tangan itu. Elang yang menyaksikan adegan itu hanya tersenyum samar. Sepasang manusia ini memang saling mencintai. Jika Louis benar benar serius ingin menikahi Anisa, maka ia bersumpah, akan menjadi manusia terdepan yang akan membuka jalan untuk memuluskan niatan Louis itu. Anggap saja ini sebagai wujud rasa sayang dan cintanya pada sang adik yang baru ia temukan. Ia berjanji, akan melakukan apapun untuk membuat Anisa bahagia.


__ADS_1


...----------------...


__ADS_2