(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
113


__ADS_3

Lantunan doa doa di atas pusara terpanjat dengan khidmat. Para pelayat yang mengantar kepergian Rhea ke peristirahatan terakhirnya nampak mengelilingi makam baru dengan bunga bunga yang masih segar itu.


Sang wanita cantik yang berhasil merusak mental Betrand dan menjadikan Luke pria cacat itu kini telah kembali ke pangkuan Sang Maha Pencipta. Rhea berpulang dengan segala skandal dan huru hara yang ia ciptakan. Belum sempat ia meminta maaf pada semua orang yang telah disakitinya. Belum sempat ia menjelaskan perihal apa yang sebenarnya terjadi antara ia, Luke, dan Betrand. Tuhan sudah keburu memintanya kembali dalam keadaan yang menyedihkan. Ia pergi setelah kehilangan bayi yang entah dari benih siapa. Ia meninggal karena kecelakaan saat ia berusaha melukai pria yang pernah menjamahnya di luar pernikahan. Dan ia meninggal kala jiwanya tengah terguncang akibat pupusnya mimpi indah yang telah ia rajut bersama Betrand.


Menyedihkan. Sangat memprihatinkan. Ia meninggal saat laki laki yang setengah mati mencintainya kini tengah berjuang melawan sakit hati dan traumanya. Ia meninggal disaat laki laki yang menjadi kekasih gelapnya kini mengumpat hebat di rumah sakit akibat cacat yang kini dialaminya.


Adakah maaf dari dua pria itu untuk jasad wanita yang kini pasrah tertimbun tanah itu? Entahlah...


Semoga Tuhan yang Maha Pengampun memberikan pengampunan untuk wanita yang mungkin hina itu.


Lantunan doa doa selesai dipanjatkan. Para pelayat satu demi satu pergi meninggalkan tempat itu. Louis masih diam berdiri di samping makam. Tepat di belakang sepasang suami istri yang kini nampak pilu menangisi kepergian putri semata wayang mereka. Louis adalah satu satunya anggota keluarga Davis yang datang ke pemakaman Rhea. Tak ada yang lain. Martha dan Steve pun enggan datang ke acara itu. Sepertinya sepasang suami istri itu juga masih sakit hati dengan ulah mantan calon menantu mereka tersebut.


"Tuan Jonathan." Suara itu berhasil membuat kedua orang tua Rhea itu menghentikan tangisan mereka sesaat. Keduanya menoleh. Laki laki paruh baya yang dulu sempat berdebat dengan Louis di rumah sakit itu nampak bangkit dari posisinya. Ia mendekati laki laki tampan itu. Sedangkan sang istri kini nampak kembali melanjutkan tangisannya.


"Louis..." ucap Tuan Jonathan sambil menjabat tangan pria muda itu.


"Saya turut berduka cita atas meninggalnya putri Tuan," ucap Louis.


Tuan Jonathan menghela nafas panjang. Pria itu nampak mengangguk.


"Terima kasih, Nak. Saya juga meminta maaf atas nama Rhea. Saya meminta maaf atas semua kegaduhan yang sudah diperbuat oleh putri saya semasa hidupnya. Mohon dibukakan pintu maaf yang selebar-lebarnya untuk almarhumah," ucap Tuan Jonathan dengan wajah penuh kesedihan.

__ADS_1


Louis tersenyum simpul lalu mengangguk.


"Saya sudah maafkan putri Tuan atas nama keluarga saya," ucap Louis.


Tuan Jonathan mengangguk. Kedua pria beda usia itu lantas berpelukan. Louis menggerakkan tangannya mengusap-ngusap punggung pria paruh baya itu seolah memberikan semangat dan dukungan pada ayah kandung Rhea tersebut.


Pria itu kemudian berpamitan. Louis bergegas pergi dari tempat itu. Meninggalkan sepasang suami istri yang masih larut dalam duka yang mereka alami. Suami Anisa itu kemudian bergegas menuju mobilnya. Ia melesatkan kendaraan roda empat itu menuju rumah sakit tempat sang adik dirawat untuk menjenguk ayah kandung baby Gerhana.


Sekitar lima belas menit perjalanan, mobil mewah itu sampai di rumah sakit tempat dimana Luke dirawat. Louis segera menuju kamar rawat inap sang kembaran yang berada di lantai atas.


Ceklek...


Pintu kamar terbuka. Louis mendekati ranjang. Dilihatnya disana Luke nampak duduk bersandar si sandaran ranjang rumah sakit dengan sorot mata menatap lurus ke depan.


"Udah makan?" tanya Louis yang kini nampak berdiri di samping ranjang sang saudara kembar.


Luke tak menjawab.


"Lo harus banyak makan biar bisa cepet pulang," ucap Louis.


"Gue bukan bayi yang bisa lo hibur dengan ucapan seperti itu!" jawab Luke ketus.

__ADS_1


Louis tersenyum.


"Gue bukan mau menghibur lo. Gue cuma bilang apa adanya. Itupun kalau lo masih punya niat untuk sembuh dan pulang," ucap Louis.


"Gue mau kaki gue balik!" ucap Luke.


Louis terdiam. Ia menghela nafas panjang.


"Gue bukan Tuhan yang bisa nyiptain satu kaki dalam hitungan detik!"


"Lu bisa bawa gue ke luar negeri, anj*nk!" bentak Luke.


"Untuk apa? Untuk nyembuhin lo dan mendukung kebej*tan yang akan lo lakukan setelah sembuh?" tanya Louis.


Luke diam.


"Gue bisa aja bawa lo ke luar negeri hari ini juga. Tapi sayangnya gue nggak mau. Kalau lo mau sembuh, berubah! Tobat! Biar gue nggak sia sia ngeluarin banyak duit buat pengobatan lo!" ucap Louis tegas.


"Sorry, bukannya mau hina lo. Tapi harusnya lo inget, sekarang lo nggak bisa apa apa tanpa gue. Kalau lo mau gue nurutin kemauan lo, maka lo juga harus mau ngikutin semua ucapan gue!"


Luke tak menjawab. Ia nampak memalingkan wajahnya. Memang benar apa yang Louis katakan. Apa yang bisa ia lakukan tanpa Louis sekarang? Ia cacat. Ia tak bisa melakukan apa apa.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2