(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
118


__ADS_3

Deeghh....


Anisa terdiam di tempat. Jantungnya seolah berhenti berdetak untuk beberapa saat. Botol susu berukuran kecil yang berada di tangannya itu jatuh. Tangannya mendadak lemah, seolah kehilangan tenaganya kala melihat pemandangan yang kini berada di hadapannya.


Dilihatnya di sana, seorang laki-laki berkaki satu nampak duduk di atas kursi roda. Berhadapan langsung dengan stroller tempat dimana baby Gerhana berada. Tangan pria itu nampak terulur ke arah sang bayi. Bocah tampan itu terdengar sesekali terkekeh memainkan jari telunjuk laki laki itu seolah menemukan mainan terbaik di dunia. Ya, padahal hanya sebuah jari telunjuk.


Anisa meremas kemeja di bagian dadanya. Itu Luke! Adik kandung Louis. Laki laki yang dulu pernah menjamahnya secara paksa hingga terlahir lah Gerhana. Ya, dia ayah kandung bocah itu. Laki laki yang kini hanya memiliki satu kaki itu nampak bermain dengan putranya. Tanpa mengeluarkan suara. Tanpa melakukan pergerakan apapun, Luke sudah bisa menenangkan bocah yang sejak tadi menangis itu. Bayi itu terdengar terkekeh. Hilang tangisannya. Seolah begitu bahagia bertemu laki laki, ayah kandung yang berwajah nyaris sama dengan Papanya.


Gerhana terkekeh lagi. Ia berusaha memasukkan jari telunjuk itu ke dalam mulutnya. Luke tersenyum samar. Ia menggelengkan kepalanya seolah melarang bocah itu untuk melakukan hal tersebut. Gerhana terlihat bahagia. Ia menggerak gerakkan tangannya sambil memainkan air liurnya. Luke lagi lagi tersenyum samar. Tangannya kini bahkan nampak mengusap usap pipi chubby itu. Membuat Anisa yang berdiri tak jauh dari mereka pun nampak menatap nanar sepasang ayah dan anak itu.

__ADS_1


Ya, walau bagaimanapun mereka adalah sepasang ayah dan anak. Gerhana adalah darah daging Luke. Anisa tak bisa mengelak dari hal itu. Sebej*t dan sebrengs*k apapun laki laki itu, ia tetap ayah dari Gerhana. Mungkin keduanya memiliki ikatan batin yang kuat. Makanya sejak tadi Gerhana rewel, dan bisa berhenti menangis setelah ayahnya mendekati dirinya.


Luke masih asyik dengan putranya. Hal itu rupanya juga disaksikan oleh Louis yang berdiri di ujung tangga lantai dua itu. Ia yang semula mendengar tangisan Gerhana itu buru buru keluar dari kamar sang kakek. Namun saat hendak turun ke lantai dasar, ia justru melihat pemandangan yang tak biasa. Luke berada di samping Gerhana. Menatap penuh makna ke arah bocah kecil yang kini nampak tertawa bahagia setelah menangis itu.


"Kapan dia keluar dari rumah sakit?" Tanya Louis pada seorang pelayan yang berada di belakangnya.


"Kemarin malam, Tuan," jawab pelayan yang kini di tugaskan merawat Kakek James, menggantikan pelayan lama yang dipecat oleh Tuan Steve.


Luke yang sejak tadi nampak tersenyum samar ke arah Gerhana itu kemudian menoleh, kala mendengar langkah kaki Louis yang kian mendekat. Senyuman itu perlahan hilang. Laki laki dengan satu kaki itu kemudian menoleh ke arah Anisa yang rupanya sejak tadi berdiri menatapnya tak jauh dari sana. Luke diam. Ia kemudian melepaskan jari telunjuknya dari genggaman sang putra. Laki laki itu kemudian menggerakkan kursi rodanya, hendak pergi meninggalkan tempat itu. Disaat itu juga, baby Gerhana kembali menangis. Ia menatap ke arah pria yang kini mulai menjauh darinya itu, seolah tak mau ditinggal pergi.

__ADS_1


"Luke, lu mau kemana?" tanya Louis. Sedangkan Anisa sama sekali tak mendekat. Ia masih diam mematung di tempatnya.


Luke menghentikan laju kursi rodanya sejenak. Ia tak menjawab. Hanya diam, lalu kembali memutar kursi roda itu dan berlalu pergi menjauh dari Louis dan keluarga kecilnya. Entah apa yang laki laki itu rasakan saat ini.


"Luke, lu mau kemana? Namanya Gerhana. Dia anak lo!" ucap Louis lagi.


Luke tak menjawab. Ia masuk ke dalam kamarnya tanpa berucap sepatah katapun. Sorot matanya datar namun seolah menyimpan kepedihan. Laki laki itu kemudian menutup pintu kamarnya. Mengabaikan tangisan Gerhana yang makin keras terdengar. Hatinya bergetar. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Mendengar tangisan bocah itu jiwanya seolah tergugah untuk mendekat, namun saat Louis datang, ia seolah sungkan. Itu anak Louis. Anak yang sudah pasti akan besar dan tumbuh di tengah tengah keluarga yang bahagia. Karena ia tahu betul, betapa Louis sangat mencintai Anisa dan putranya. Luke memilih untuk pergi dan masuk ke dalam kamar. Entahlah, ia seolah merasa tidak berhak dan tidak layak berdekatan dengan bocah itu.


Apakah kerasnya hati pria itu mulai tersentuh oleh tangan mungil dan tangisan Gerhana? Entahlah.....

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2