(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
097


__ADS_3

Laki laki tampan itu berlari menyusuri lorong rumah sakit. Raut wajahnya nampak khawatir. Sebuah panggilan telepon baru saja ia terima dari Tuan Steve. Laki-laki ayah kandung Betrand itu mengabarkan tentang kondisi terkini Tuan James. Laki-laki itu dikabarkan masuk rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari orang tua Rhea yang rupanya menghubungi laki laki renta itu melalui pengasuh sang tuan besar.


Ya, orang tua Rhea sepertinya ikut turun tangan. Rhea diduga mulai depresi akibat serentetan kejadian yang menimpanya beberapa hari terakhir ini. Mulai dari rencana pernikahan yang batal, hingga tersebarnya foto-foto tak senonoh wanita dengan karir mentereng itu.


Batinnya terpukul. Kini Rhea lebih sering mengamuk, melamun, dan lebih banyak mengurung diri di kamarnya. Membuat kedua orang tuanya kini bingung harus berbuat apa.


Menghubungi Betrand tidak bisa. Laki-laki itu seolah hilang bak ditelan bumi. Menghubungi Martha dan Steve juga tidak ada hasil. Sepasang suami istri itu seolah perlahan mulai menjauhi keluarga berpendidikan yang dulu begitu mereka elu elukan itu.


Oleh sebab itu, kini kedua orang tua Rhea pun berusaha menghubungi Tuan James. Laki laki yang paling di hormati di keluarga Davis. Mereka berusaha untuk meminta pertanggungjawaban dari keluarga besar konglomerat itu. Orang tua Rhea beranggapan, bahwa semua yang terjadi pada putrinya adalah karena ulah kedua cucu keluarga Davis. Mereka sudah membuat mental Rhea hancur hingga seperti saat ini. Rhea butuh pertanggungjawaban.


Hal itupun tentu membuat Tuan James kaget. Ia tak tahu menahu tentang semua masalah yang terjadi antara Rhea, Luke, dan Betrand. Tak ada satu orang pun dari keluarganya yang menceritakan mengenai masalah itu. Tuan James yang sudah renta pun seketika terkena serangan jantung yang memang sudah lama menggerogotinya. Kini, laki laki itu telah dibawa ke rumah sakit yang sama dengan tempat dimana Anisa dirawat. Louis yang kebetulan sedang berada di rumah sakit itupun tak berfikir lama. Ia segera menyusul sang kakek menuju ruang IGD, tempat dimana pria tua itu kini tengah mendapatkan pertolongan.



"Om!" ucap Louis saat sudah sampai di depan ruang IGD. Tuan Steve dan Nyonya Martha sudah berada di sana. Keduanya terlihat sendu. Raut wajah khawatir juga terlihat dari sepasang suami istri itu.


"Louis!" ucap Tuan Steve.


"Kakek gimana? Kenapa Kakek bisa tahu soal ini, Om?" tanya Louis.


"Papanya Rhea menceritakan semuanya sama Kakek kamu. Ini juga kecerobohan pengasuhnya Kakek! Bisa bisanya dia ngizinin papanya Rhea buat bicara sama Kakek kamu. Om langsung pecat dia pagi ini! Benar benar nggak bisa diandalkan!" ucap Tuan Steve tak habis pikir.


"Terus sekarang kondisi Kakek gimana?" tanya Louis.


Tuan Steve menggelengkan kepalanya. "Dokter masih berusaha, Nak," ucapnya kemudian.


Louis memejamkan matanya. Ia benar-benar khawatir dengan kondisi sang kakek. Ia tak mau kalau sampai terjadi sesuatu dengan pria yang sudah merawat dan menyayanginya sejak kecil itu.

__ADS_1


"Perempuan itu benar benar nggak tahu malu. Dia sudah membohongi Betrand, dan sekarang seenaknya dia minta tanggung jawab sampai sampai membuat Kakek masuk rumah sakit! Benar benar nggak tahu diri!" ucap Martha menggerutu.


"Memangnya pertanggungjawaban apa yang mereka mau?" tanya Louis.


"Rhea depresi. Dia sempat mau bunuh diri kemarin katanya. Dan sekarang dia juga hamil. Entah anak siapa!" ucap Martha. "Padahal dia sudah tertangkap basah berselingkuh dengan Luke, dan dengan tidak tahu malunya Dia meminta pertanggungjawaban dari Betrand!" tambahnya.


"Louis, coba kamu hubungi adik kamu! Dimana dia sekarang? Apa sama sekali nggak ada kabar?" tanya Steve.


Luke menggelengkan kepalanya. "Nomornya udah nggak aktif, Om," ucapnya.


"Astaga!!" ucap Steve sambil mengusap wajah hingga kepala bagian belakangnya.


Martha menoleh ke arah sang keponakan. "Betrand gimana, Louis? Apa dia baik baik aja sekarang?" tanyanya.


"Dia udah lebih baik dari sebelumnya, Tante. Dia lebih bisa tenang sekarang, meskipun belum mau keluar kamar," ucap Louis.


"Betrand itu nggak gila, Pa!" ucap Nyonya Martha.


"Bukan gitu, Ma. Maksudnya untuk mempercepat pemulihan Betrand. Jiwanya pasti terguncang. Papa takut kalau semakin lama dibiarin akan berdampak buruk untuk dia!" ucap Steve.


Louis menghela nafas panjang mendengar perdebatan sepasang suami istri itu.


"Om, Tante, mungkin untuk sementara lebih baik kita fokus ke Kakek dulu. Om sama Tante kalau mau jenguk Betrand, dia ada di apartemen aku. Ada ART aku yang jagain dia disana. Om sama Tante kalau mau jenguk bisa kesana. Tapi jangan ajak ngobrol yang nggak perlu dulu sih, kalau menurut aku," ucap Louis.


"Keluarga ini sekarang lagi banyak masalah, lebih baik kita selesaikan dulu satu persatu dengan pelan pelan. Aku mau jagain Kakek dulu. Om sama Tante kalau mau jenguk Betrand duluan nggak apa apa. Perlu atau nggak nya psikiater, kita lihat kondisinya Betrand ke depan aja, ya. Kita lihat perkembangan dia nanti," ucap Louis tenang.


Steve dan Martha tak menjawab. Sungguh, masalah kini seolah tak henti hentinya menerpa keluarga ini. Membuat ketiga manusia itu pun pusing karenanya.

__ADS_1


...**********...


Sementara itu di tempat terpisah.


Di sebuah hotel yang menjadi tempat persembunyian Luke Edgar Davis. Laki laki dengan luka lebam di sekujur tubuhnya itu nampak berjalan keluar dari bangunan tinggi itu. Ia lapar. Ia butuh makan.


Ya, memang beberapa hari terakhir Luke sengaja menginap di hotel itu. Ia tahu. Kini ia tengah menjadi orang yang paling dicari oleh dua keluarga konglomerat di kota ini. Ia malas ribet. Ia malas untuk di tanya ini itu. Lebih baik ia sembunyi. Biarkan saja Louis dan keluarganya yang menyelesaikan semua masalah yang lagi lagi terjadi akibat ulahnya itu. Toh biasanya juga begitu.


Luke melajukan kendaraan roda empat nya keluar dari area hotel. Dia menuju sebuah restoran mahal di sana kemudian mulai memesan makanan untuk dibawa pulang ke hotel. Luke masih enggan untuk makan di luar. Ia tak mau jika sampai ada salah satu anggota keluarga Davis ataupun Rhea yang menemukan keberadaannya.


Tak butuh waktu lama untuk pria itu memesan makanan. Laki laki yang sebenarnya berparas sangat tampan itu kemudian keluar dari restoran itu setelah mendapatkan makanan yang ia mau. Ia kemudian kembali ke dalam mobilnya. Memposisikan tubuhnya di kursi kemudi kemudian menutup pintu di sampingnya. Mesin pun mulai dinyalakan. Laki-laki itu berniat melajukan kendaraan tersebut untuk kembali ke hotel. Namun tiba-tiba..


Kleeekk....


Pintu mobil di bagian depan sebelah kiri terbuka. Membuat Luke pun reflek menoleh ke arah pintu tersebut.


"Elu..??!!!"


.


.


.


.


Bersambung lagi 😁

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2