(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
028


__ADS_3

Siang menjelang, di sebuah bangunan tinggi bertuliskan Davis Corp. Laki laki tampan itu nampak berjalan memasuki lobby perusahaan dengan sedikit terburu buru. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, dan kini ia baru tiba di kantornya setelah mengantarkan Anisa pergi ke dokter kandungan.


Berbagai pekerjaan sudah menunggunya. Berbagai agenda rapat dan pertemuan juga sudah berada di depan mata. Laki laki itu sudah pasti akan sangat sibuk hari ini.


Ting....


Lift yang membawa Louis berhenti tepat di lantai delapan, tempat dimana ruangan milik pria itu berada. Dengan segera, saudara kandung Luke itu mengayunkan kakinya keluar dari kotak besi tersebut dan berjalan menuju ruang kerjanya. Tiba tiba...


"Louis!" Suara itu berhasil membuat Louis menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya di sana, Betrand sang asisten yang sejak kemarin tak pulang ke rumah itu nampak berjalan mendekati atasan sekaligus sepupunya itu.


Louis diam. Sorot matanya tertuju pada salah satu sudut leher Betrand yang terekspos jelas. Dimana beberapa bercak merah keunguan terlihat sangat jelas disana. Seolah menjadi saksi bisu perihal apa yang telah terjadi pada pria tampan yang baru saja mengabiskan waktu bersama kekasihnya kemarin itu.


Louis mengalihkan perhatian pada wajah Betrand. "Apa?" tanyanya.


"Lo dari mana aja?" tanya Betrand.


Louis menghela nafas. "Gue abis nemenin Anisa cek kandungan."


Betrand menghela nafas panjang. "Masih tentang Anisa, ya?"


"Apalagi..." jawab Louis santai.


"Whatever lah, lupain! Sebenarnya tadi gue mau ngasih tahu ama lo, dari tadi lo tuh ditungguin Mama, tahu nggak!" ucap Betrand.


"Tante Martha?" tanya Louis.


"Iya, dia datang ke sini sama Natasya. Tapi mereka sekarang lagi keluar. Nungguin lo lama banget soalnya!" ucap Betrand.


Louis nampak kurang nyaman.


"Mau ngapain? Lu nggak tahu gue hari ini sibuk banget?" tanya Louis.


"Ck! Kan ada gue! Lu tenang aja, gue bisa handle semuanya. Yang penting lu temuin dulu Tasya nya. Kasihan dia dari kemarin nyariin lu mulu nggak pernah ketemu!" ucap Betrand.


Louis menghela nafas. "Serah lu deh! Lu atur aja, gue banyak kerjaan!" ucap Louis pasrah. Ia kemudian memilih untuk meninggalkan Betrand dan segera masuk ke dalam ruangannya untuk mulai bekerja.


Louis berjalan menuju meja kerjanya sembari melepas satu kancing jasnya dan melonggarkan dasinya. Laki laki bertubuh atletis bak binaragawan itu lantas mendudukan tubuhnya di kursi kerja itu sembari membuang nafas kasar. Entah darimana ia akan memulai pekerjaannya hari ini.


Louis membuka laptopnya. Ia memulai aktifitas perkantorannya. Melupakan sejenak mengenai setumpuk masalah pribadinya di luar kantor. Tentang Anisa, Luke, dan lainnya. Ia menjelma menjadi Louis Edgar Davis si pewaris muda yang super sibuk.


Kurang lebih setengah jam waktu berjalan, kala Louis sedang asyik asyiknya menatap layar laptop di hadapannya, tiba tiba...


Ceklek...

__ADS_1


Pintu ruang kerjanya terbuka tanpa diketuk.


Louis mengangkat kepalanya menatap ke arah pintu. Dilihatnya disana, kepala Betrand muncul dari balik pintu, membuat Louis pun nampak mengernyitkan dahinya.


"Bos...!" ucap Betrand sembari menggerakkan kepala seolah tengah memberikan suatu kode. Louis tak paham. Ia nampak mengernyitkan dahinya. Betrand menarik kepalanya. Dua orang wanita beda usia kemudian muncul dari belakang asisten Louis itu. Membuat Louis pun kini paham akan kode yang Betrand berikan.


Ya, Martha dan Natasya datang kembali ke kantornya.


"Selamat siang, Sayang!" sapa Martha pada keponakan tersayangnya itu.


Louis tersenyum, ia lantas bangkit dari posisi duduknya. "Siang, Tante!" jawabnya. Keduanya pun lantas berpelukan untuk beberapa saat.


"Duh, kamu itu, susah banget ditemuinya. Tante dari pagi loh disini nungguin kamu. Kamunya nggak dateng dateng!" ucap Martha.


Louis hanya tersenyum.


"Oh ya, Tante kesini tadi sama Tasya. Dia pengen ketemu kamu dari kemarin," ucap Martha yang kemudian menoleh ke arah gadis muda berhijab di belakangnya.



Ya, namanya Natasya. Biasa dipanggil Tasya. Dia adalah cucu dari rekan kerja Tuan James, kakek Louis dan Luke. Kedua keluarga itu memang cukup dekat, baik sebagai relasi bisnis ataupun dalam hal kekeluargaan.


Louis menoleh kearah gadis yang kurang dari satu minggu lagi akan berusia dua puluh tahun itu. Laki laki itu nampak tersenyum manis, khas seorang Louis.


Natasya dengan sebuah paper bag ditangan itu nampak menunduk dengan wajah tersipu malu. "Alhamdulillah, baik, Kak," jawab gadis muda berparas manis tersebut.


Martha tersenyum kearah pria wanita muda itu. Ia yang memang berkawan baik dengan orang tua Tasya itu lantas menetralkan ekspresinya. Mungkin ia harus pergi meninggalkan kedua sejoli itu berdua. Agar mereka memiliki ruang untuk berbincang satu sama lain.


Ya, sepertinya wanita paruh baya itu memiliki niatan untuk menyatukan dua sejoli itu. Toh Louis juga belum punya pasangan. Terlebih lagi, Natasya memang sudah sejak lama mengaku mengagumi sosok Louis, si pria dewasa yang nyaris sempurna baik dari segi paras maupun perangainya.


Martha tersenyum. "Ya sudah, kalian kan lama nggak ketemu. Gimana kalau kalian ngobrol ngobrol dulu berdua. Sekalian tadi Tasya beliin kamu makanan. Kan udah masuk jam makan siang. Kamu makan dulu, kerjanya dilanjut nanti!" ucap Martha pada Louis dan Natasya.


Laki laki itu hanya menghela nafas panjang. Sebenarnya ia ingin menolak lantaran pekerjaannya masih terlalu menumpuk. Tapi ia tak enak pada Martha. Juga pada Natasya. Mengingat sepertinya sudah dari kemarin gadis itu mencoba menemuinya, tapi selalu gagal karena Louis yang terlalu sibuk dengan Anisa.


Laki laki itu kemudian tersenyum lalu mengangguk. Martha lantas berlalu pergi, keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Louis bersama dengan Natasya. Louis mempersilahkan gadis manis itu untuk duduk di salah satu kursi di depan meja kerjanya, sedangkan ia kembali mendudukan tubuhnya di kursinya sendiri. Laki laki itu kemudian kembali fokus pada laptopnya.


Natasya diam. Alih alih diajak ngobrol, wanita itu justru seperti diacuhkan oleh Louis. Laki laki itu justru asyik dengan pekerjaannya.


Natasya melipat kedua belah bibinya ke dalam mulut, lalu melongok menatap ke arah jam tangannya. Ini sudah jam makan siang!


Natasya menatap ke arah Louis,


"Kak," ucap Natasya.

__ADS_1


Louis tak menjawab. Mungkin bahkan tak mendengar saking seriusnya dengan layar laptop itu.


"Kak Louis," ucap Natasya lagi.


Masih tak dijawab. Natasya menghela nafas pelan. Ia lantas menegakkan posisi duduknya. Wanita itu memberanikan diri untuk menyentuh lengan Louis yang berada di atas meja itu.


"Kak..." ucap Tasya sembari menyentuh lengan kekar berbalut jas hitam mahal tersebut. Louis yang masih fokus dengan laptopnya pun terjingkat. Secara spontan ia menarik lengannya menjauh, membuat Tasya pun ikut menarik tangannya menjauh dari sana.


"Maaf!" ucap Tasya.


Louis diam sejenak. "Ada apa, Tasya?" tanya Louis.


"Tadi aku panggil Kakak dari tadi, tapi Kakak diem aja, nggak jawab," ucap Natasya.


"Oh, maaf. Saya terlalu fokus sama kerjaan," ucap Louis kemudian sembari tersenyum.


Natasya tersenyum lembut.


"Jangan capek capek, Kak. Lagian ini udah jam makan siang. Apa Kakak nggak lapar? Aku tadi beliin makan siang buat Kakak," ucap Natasya.


Louis diam. Sungguh, sebenarnya ia sedang tak ingin di ganggu sekarang. Tapi lagi lagi ia harus menghargai niat baik gadis di hadapannya ini.


Louis tersenyum manis. "Ya udah, saya makan," ucap laki laki itu kemudian. Natasya nampak berbinar.


"Ya udah, kita pindah ke sana yuk, Kak. Biar meja kerja Kakak nggak kotor," ucap Natasya.


Louis tersenyum, lalu mengangguk. Keduanya pun lantas bangkit dari posisi duduk masing masing. Mereka berjalan menuju satu set sofa yang berada di dalam ruang kerja laki laki tampan itu.


Natasya mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa panjang di sana dan mulai mengeluarkan sebuah box berisi makanan yang ia beli dari sebuah resto ternama di kota itu. Sedangkan Louis kini nampak duduk di samping gadis cantik itu. Tiba tiba...


Ting...


Ponsel Louis berbunyi. Pertanda ada satu pesan masuk ke dalam benda pipih nya itu. Louis merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel itu dari dalam sana lalu membukanya.


Sebuah pesan masuk dari Anisa.


"Happy lunch!" tulis wanita itu.


Senyuman manis tanpa sadar terbentuk dari bibir pria itu. Laki laki itupun kemudian mengetikkan pesan balasan untuk wanita hamil itu.


"Happy lunch, bumil 😚"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2