(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
068


__ADS_3

Pagi menjelang kala waktu sudah memasuki sepertiga malam. Laki laki tampan berbadan atletis itu keluar dari kamar tidurnya dengan tubuh yang terlihat sudah segar setelah terkena air mandi.


Louis melongok ke arah jam dinding yang tergantung di salah satu sudut dinding hunian mewah itu. Dilihatnya disana jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Laki laki itu lantas mengedarkan pandangannya menyapu ke segala penjuru ruangan apartemennya. Tempat itu masih sepi. Bik Susi belum datang. Anisa sepertinya juga belum keluar dari kamarnya. Padahal biasanya jam segini suara lembut itu sudah mengalun merdu membangunkan tidurnya. Tapi kenapa sekarang belum ada? Apa mungkin Anisa belum bangun?


Louis menghela nafas panjang. Laki-laki itu kemudian berjalan mendekati pintu kamar Anisa.


Tok... Tok... Tok....


"Nis," ucap laki laki itu lembut.


Tak ada sahutan.


"Nis, kamu belum bangun? Udah pagi loh ini," ucap Louis.


Pintu diketuk lagi.


Tok... Tok... Tok....


"Nisa," ucapnya.


Masih tak ada sahutan. Laki laki itu menghela nafas panjang. Ia kembali mengetuk pintu itu dengan sabar.


"Nis, kamu udah bangun belum?" tanya Louis lagi. "Nisa,"


Tetap tak ada sahutan. Apa mungkin Anisa masih marah padanya? Pikir pria itu.


Louis kembali mengetuk pintu itu.


"Nis, kamu udah bangun belum, sih? Kalau udah bangun minimal jawab lah, Nis. Seenggaknya saya tahu kalau kamu baik baik aja," ucap Louis. Lagi lagi tak ada sahutan.


Louis terus memanggil manggil nama Anisa sembari berusaha membuka pintu tersebut meskipun ia tahu Anisa pasti menguncinya dari dalam.


"Nisa, kamu marah sama saya?" tanya Louis. Tapi masih tak ada sahutan, hingga...


Ceklek...


Pintu kamar terbuka. Anisa muncul dari balik pintu dengan mukena yang sudah membungkus tubuh ramping berperut buncitnya. Wanita itu nampak menunduk. Wajahnya terlihat tak seceria biasanya.


Louis menghela nafas panjang.


"Kamu udah bangun?" tanyanya.


Anisa mengangguk.


"Ya udah, keluar, yuk. Jamaah," ucap laki laki itu.


Anisa menggelengkan kepalanya.


"Saya di kamar aja," ucap wanita itu.

__ADS_1


Louis diam sejenak. Ia kembali menghela nafas panjang. Ditatapnya wanita yang kini nampak menunduk itu dengan lembut.


"Kamu marah sama saya?" tanya Louis.


Anisa diam sejenak. Lalu menggelengkan kepalanya.


"Terus kenapa nggak mau sholat bareng? Biasanya kita kan selalu ngelakuinnya berdua," ucap Louis.


Anisa tak mengangkat kepalanya. "Saya lagi pengen sholat sendirian aja," ucap Anisa.


Louis menghela nafas panjang lagi.


"Saya tahu kamu mungkin kecewa sama saya. Kalau kamu masih butuh waktu sendiri, ya udah nggak apa apa. Saya akan coba ngerti." Louis tersenyum simpul. "Masuk, gih. Lanjutin ibadah kamu. Saya juga mau ke kamar."


Anisa mengangkat wajahnya sejenak. Menatap paras tampan itu sebentar, lalu menunduk.


"Maaf," ucap Anisa.


Louis tersenyum. "Nggak apa apa," jawabnya.


Anisa kemudian mundur selangkah. Ia lantas menutup pintu kamar itu. Meninggalkan Louis yang masih berdiri di depan pintu.


Louis menghela nafas panjang. Ia paham, Anisa mungkin masih butuh waktu untuk bisa menerima semua ini. Ini pasti cukup mengejutkan bagi wanita itu. Anisa yang terlanjur nyaman dengan Louis kini harus tertampar kenyataan bahwa rupanya pria yang mulai ia kagumi itu hanyalah orang lain. Louis bukan Luke. Mereka ada dua orang yang berbeda. Meskipun Louis dan Anisa sudah cukup lama dekat, namun dengan terungkapnya kenyataan yang selama ini Louis tutup tutupi, tentu saja hal ini membuat Anisa seolah kembali mempertanyakan, sosok seperti apa Louis dan Luke ini? Drama macam apa yang kini tengah terjadi diantara Luke, Louis, dan Anisa? Benarkah Louis adalah pria baik hati seperti yang ia kenal selama ini? Atau ia hanya sebatas laki-laki yang suka mempermainkan perempuan sama seperti luke. Jika Louis adalah laki-laki baik kenapa ia berbohong selama ini? Anisa si gadis desa yang datang ke kota hanya demi sebuah keadilan itu benar benar dibuat bingung oleh dua pria kembar itu.




Sementara itu di tempat terpisah.


Di sebuah hotel berbintang lima yang berada di kota itu. Seorang wanita anggun nampak duduk di depan cermin besar disana. Merapikan baju dan penampilannya. Memoles wajahnya dengan make up agar terlihat segar dan cantik.



Ya, itu Rhea. Kekasih Betrand.


Kamar hotel mewah itu nampak berantakan. Beberapa kain koyak berceceran di sana. Sepasang pakaian dalam wanita dalam kondisi basah berlendir juga teronggok mengenaskan di atas lantai kamar hotel itu, berbaur dengan kaos serta celana milik pria yang kini nampak menatapnya angkuh dari atas ranjang kusut itu.



Laki laki tersebut, Luke Edgar Davis, nampak mengangkat satu sudut bibirnya. Ia menyingkap selimut yang menutupi tubuh polosnya, kemudian bangkit dari posisinya. Ia berjalan mendekati wanita yang baru saja menghabiskan malam dengannya itu tanpa mengenakan sehelai kain pun.


Rhea yang menyadari pergerakan Luke itu kemudian bangkit, berbalik badan dan hendak pergi dari tempat itu. Namun belum sempat ia melakukannya, Luke sudah menggerakkan tangannya, bertumpu pada meja rias itu. Membuat tubuh ramping itu kini terkungkung pada tubuh tegap tanpa busana itu.


"Mau kemana?" tanya Louis lembut namun terdengar menyebalkan di telinga Rhea.


Wanita itu menatap tajam ke arah pria yang sejak kemarin memaksa bertemu dengannya itu. Bukan hanya memaksa, tapi juga mengancam. Membuat Rhea pun tak bisa berbuat apa apa selain menuruti kemauan laki laki itu.


"Gue mau pulang!" ucap Rhea judes.

__ADS_1


"Usshh...! Galak banget!" ucap Luke sembari mencoba memainkan rambut wanita itu, namun Rhea menampik tangan tersebut.


Luke terkekeh.


"Cukup, ya! Ini untuk yang terakhir kalinya kita ketemu. Jangan ganggu gue lagi. Gue udah mau nikah!" ucap Rhea tanpa kelembutan.


Luke tersenyum menyebalkan.


"Bagus, dong. Berarti habis ini kita serumah, kan? Kita bisa lebih leluasa ketemu. Bolehlah sekali-sekali gue ikut main bareng lo dan sepupu gue yang tolol itu," ucap Luke tanpa dosa. Membuat Rhea pun makin kesal dibuatnya. Ia menggerakkan tangannya mendorong dada tegap tanpa busana itu.


"Anj*nk lu, ya! Jangan sembarangan kalau ngomong!" ucap Rhea yang justru ditertawakan oleh Luke.


"Gue udah mau nikah, Luke. Sesuai dengan kesepakatan kita diawal hubungan ini, hubungan kita akan berakhir setelah gue menikah dengan Betrand. Lo inget kan, hubungan kita itu cuma rahasia, dan akan berhenti setelah gue menikah dengan Betrand!" ucap Rhea menggebu.


"Tapi sayangnya gue nggak mau!" ucap Luke membuat Rhea melotot.


"Gue mau melanjutkan hubungan ini, di depan ataupun di belakang Betrand. Dan gue nggak akan berhenti buat nyari lo sampai kapanpun. Karena gue udah terlanjur nikmat ama lo!" ucap Luke.


Rhea nyengir. Ia geli sekaligus muak mendengar ucapan pria itu.


"Sinting lo!" ucap Rhea sembari memukuli dada bidang pria itu.


Luke mencengkeram satu lengan ramping Rhea. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah cantik wanita itu sembari menatapnya tajam.


"Lu nggak punya pilihan, Sayang. Gue selalu bisa mendapatkan apapun yang gue mau. Sekarang lo pilih, lo mau nurutin semua kemauan gue, atau gue yang izin langsung ke pacar lo itu tiap kali gue butuh lo?" tanya Luke dengan sorot mata mengerikan.


Rhea menggelengkan kepalanya samar. "Lu jangan gila, Luke! Kenapa lo selalu gangguin gue. Kenapa lo nggak gangguin kembaran lo yang sekarang lagi enak enakan sama perempuan bekasan Lo itu?! Dia yang udah jeblosin lo ke penjara demi bisa nikahin perempuan kampung itu!" ucap Rhea menggebu di akhir kalimatnya.


Luke mengangkat satu sudut bibirnya. "Bahkan sampai saat ini gue masih yakin lo adalah dalang di balik penangkapan gue. Louis itu tolol. Sedangkan lo adalah ular. Jadi menurut lo, siapa yang lebih berbahaya?" tanya Luke tenang namun mengerikan.


Rhea makin murka. Ia mencoba menghempaskan tangannya dari genggaman tangan Luke, namun kekuatannya seolah tak seberapa dibandingkan kekuatan Luke.


Laki laki itu tertawa. Ia meraih satu lagi lengan Rhea yang bebas. Ia mendekatkan wajahnya pada ceruk leher wanita itu. Membuat Rhea pun berontak namun sia sia.


"Lo mau ngapain?! Lepasin gue!!!" pekik Rhea sembari mencoba berontak. Luke tak peduli. Ia makin memaksa mendekatkan wajahnya pada leher wanita itu. Laki laki itu kemudian menyesap salah satu sudut leher jenjang itu. Rhea mendesis. Sebuah noda merah terbentuk dengan sangat jelas di sana.


Luke melepaskan tangan Rhea. Ia mundur, mengusap area sekitar mulutnya sembari menatap nakal ke arah Rhea yang terlihat murka. Laki laki itu kemudian menggerakkan tangannya, mencoba menyentuh noda merah hasil karyanya itu dengan senyuman penuh kepuasan, namun Rhea menampik tangannya.


"Punya gue!" ucapnya bangga.


Rhea menatap penuh benci ke arah Luke. Ia benar-benar muak dengan laki-laki bajing*n itu.


"Anj*nk lo!" ucap wanita itu mengumpat.


Luke terkekeh. Ia berbalik badan. Berlalu pergi menuju kamar mandi sambil bersiul ria. Sedangkan Rhea kini nampak berbalik badan. Menatap ke arah cermin yang menampilkan pantulan dirinya dengan noda merah di lehernya.


Rhea mengumpat. Bagaimana caranya ia menyembunyikan noda itu. Akan sangat berbahaya jika sampai Betrand melihatnya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2