(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
064


__ADS_3

Malam menjelang di sebuah rumah megah kediaman keluarga besar Davis.


Louis turun dari mobilnya yang kini nampak terparkir di halaman luas rumah milik keluarga Davis. Sembari memainkan ponselnya, mengetikkan pesan balasan untuk wanita yang kini tengah menunggunya di rumah, Louis mengayunkan kakinya memasuki rumah mewah yang sudah beberapa hari ia tinggalkan.


"Iya. Maaf ya, hari ini pulang agak telat. Baik baik di rumah sama Bik Susi ya, cantik," tulis Louis.


"Iya, nggak apa apa," jawab Anisa.


"Pulang mau dibawain apa?" tulis Louis lagi.


"Em... apa, ya?" jawab Anisa seolah tengah berfikir.


"Hayo, apa?" tanya Louis lagi.


"Apel aja, deh. Apelku habis," jawab Anisa.


"Apel aja?" tanya Louis.


"Iya,"


"Ada lagi?" tanya Louis.


"Nggak ada. Yang penting kamu cepet pulang aja," balas Anisa membuat Louis kini nampak mengulum senyum salting. Ia bahkan tidak sadar bahwa kini ia sudah berada di ruang tamu rumah megah itu.


"Kangen, ya?" tanya Louis.


Anisa tak langsung menjawab. Louis kemudian mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa panjang di sana. Ia melipat salah satu kakinya di atas kaki yang lain sembari melonggarkan dasi yang kini melingkar di lehernya.


Ting...


1pesan masuk dari Anisa. Louis buru-buru membukanya.


"🀸🀸🀸"


Louis mengernyitkan dahinya.


"Malah koprol" tulis Louis.

__ADS_1


"🀭😁" jawab Anisa dengan emoticon.


"Apasih? Ya udahlah, PAP muka dulu boleh kali, ya," tulis Louis.


"Buat apa?" tanya Anisa.


"Biar semangat," jawab Louis.


"Apasih?" tulis Anisa.


"Udah, buruan! Yang cantik. Tapi nggak usah lama lama," jawab Louis.


Anisa tak langsung menjawab. Membuat Louis pun harus sedikit sabar menunggu. Lalu...


Ting...


1pesan masuk...


Sebuah foto wanita cantik masuk ke dalam ponsel pintar itu.



"Masya Allah 😍..." tulisnya.


Laki laki itu sibuk dengan ponselnya sambil terus tersenyum senyum tak jelas. Hingga,


"Louis." Suara itu berhasil menyita perhatian Louis. Laki laki itu mendongak. Menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya disana, seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun nampak tersenyum sembari berjalan mendekat ke arahnya.


"Tante Martha," ucap Louis.


"Kamu udah datang, Sayang?" tanya Martha.


Louis hanya tersenyum.


"Ya udah. Kita ke meja makan, yuk. Yang lain sudah menunggu di sana," ucap Martha.


Louis tersenyum. "Aku mau lihat Kakek di kamar dulu, Tante," ucap pria itu.

__ADS_1


"Oh, ya udah. Kamu ke kamar aja dulu. Tante sama yang lain tunggu di meja makan, ya," ucap Martha. Louis mengangguk. Wanita berpenampilan anggun itu kemudian berjalan menuju meja makan. Sedangkan Louis kini nampak melepaskan jas yang membungkus tubuh tegapnya. Ia kemudian meletakkannya di pinggiran sofa dan meninggalkannya menuju lantai dua untuk menemui sang kakek.


Kurang lebih lima belas menit kemudian, Louis turun dari lantai dua setelah menemui kakeknya. Pria dewasa itu kemudian berjalan menuju meja makan. Dilihatnya disana seluruh anggota keluarga Davis sudah berada di sana. Ada Steve, Martha, Betrand, juga seorang pria berparas sembilan puluh persen mirip dengannya, Luke! Laki laki itu nampak duduk dengan santai. Pria yang baru saja keluar dari penjara itu kini nampak menyunggingkan senyuman manis pada Louis, namun laki laki itu membalasnya dengan sikap acuh.


"Nah, itu Louis datang. Sini, Sayang!" ucap Martha sembari menepuk nepuk kursi di sampingnya. Seolah meminta sang keponakan yang baru tiba itu untuk duduk di sana. Louis pun menurut. Ia mendudukkan tubuhnya di samping Martha, berhadapan langsung dengan Luke yang berada tepat di depannya, hanya terpisah sebuah meja makan berbentuk persegi panjang di sana.


Sepasang saudara kandung itu nampak saling pandang. Luke nampak tersenyum, sedangkan Louis nampak menatap tajam ke arah sang kembaran. Sesuatu yang dapat ditangkap dengan jelas oleh Betrand yang berada di samping Luke.


Makan malam pun dimulai. Martha menyendokkan beberapa makanan ke dalam piring kedua keponakannya. Wanita itu memang menjadi yang paling antusias. Ia suka memanjakan kedua keponakannya. Terutama Louis.


"Tante seneng deh kalau kita bisa ngumpul bareng kayak gini. Lengkap!" ucap Martha sambil mendudukkan tubuhnya setelah selesai melayani kedua keponakannya. Steve tersenyum. Sedangkan tiga pemuda seumuran yang sepertinya sedang kurang akur satu sama lain itu hanya diam sembari mulai menyendok makanan di dalam piring masing masing.


"Iya. Sering sering ya kita ngadain acara kayak gini. Sekarang kan Luke udah bebas," ucap Steve.


Luke hanya tersenyum. Sedangkan Louis nampak melirik sekilas ke arah sang kembaran yang sepertinya lebih banyak tersenyum malam ini.


"Om udah susah susah loh bantuin kamu bebas. Jangan ngecewain Om ya, Luke. Berhenti dengan kebiasaan buruk kamu. Om, Betrand, dan Louis akan ajak kamu untuk bergabung dengan perusahaan kita kalau kamu mau. Sekarang ini kan kamu belum ada kerjaan!" ucap Steve membuat Betrand dan Louis pun menoleh. Keduanya cukup terkejut mendengar ucapan Steve itu.


"Pa..!" ucap Betrand pelan namun tersirat makna seolah kurang setuju dengan ucapan sang ayah. Sedangkan Louis hanya diam. Ia masih sibuk menikmati makanan enak yang justru terasa hambar di lidahnya itu. Ia tidak tertarik dengan obrolan membosankan ini. Ia kadung kecewa dengan keluarganya. Toh pendapatnya juga tak pernah didengar. Kebebasan Luke misalnya. Ia sempat menolak untuk membantu membebaskan saudara kembarnya itu. Ia menginginkan Luke untuk tetap berada di penjara agar ia bisa belajar. Namun nyatanya sang paman dan Betrand justru diam-diam membantu membebaskan laki-laki itu. Hal itu sudah sangat cukup untuk membuat Louis kecewa. Ia tak peduli lagi dengan keluarganya. Makan malam ini hanya sebagai formalitas. Ia tak peduli dengan obrolan di dalamnya.


"Nggak apa apa, Betrand. Luke kan sedang dalam proses membenahi diri. Kita juga perlu membimbingnya. Toh dia juga masih anggota keluarga kita. Luke sudah berjanji akan menjadi pribadi yang lebih baik. Iya kan, Luke?" tanya Steve.


Luke tersenyum.


"Iya, Om. Makasih sudah percaya sama aku. Tapi sebenarnya sebelum aku mulai kembali bekerja, aku masih pengen menemui seseorang. Aku pengen minta maaf atas semua dosa dosa aku sama dia," ucap Luke.


"Oh ya? Siapa?"


Luke diam sejenak. Betrand, Steve, dan Martha nampak menunggu jawaban dari Luke. Sedangkan Louis tampak sangat acuh. Lalu...


.


.


.


"Anisa. Aku ingin menikahinya!"

__ADS_1


Degghh....


...----------------...


__ADS_2