(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
115


__ADS_3

Malam semakin larut. Di atas ranjang besar kamar luas itu. Sepasang suami istri itu nampak masih asyik menghabiskan waktu berdua mereka dengan bercanda dan berbincang santai. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Louis yang hanya bertelanjang dada kini nampak nyaman membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan paha Anisa sebagai bantalnya. Laki laki itu sejak tadi tak henti berceloteh. Bercerita kesana kemari. Menceritakan apapun termasuk hal hal receh yang sangat tidak penting. Wanita dengan daster hitam itu juga menanggapi obrolan suaminya dengan antusias sembari memijat mijat kepala laki laki itu. Sesekali ia juga balik bercerita, lalu ditanggapi dengan menyenangkan pula oleh suaminya.


Ya, hanya sebuah kegiatan sederhana. Namun rupanya hal itu berhasil membuat rasa penat dan lelah dalam diri Louis berkurang, bahkan hilang. Tidak ada kata sepi jika ia sudah bersama wanita itu. Selalu ada saja candaan dan kegiatan yang mereka lakukan. Walaupun sederhana namun selalu menyenangkan dan tidak pernah membosankan.


"Udah malam. Tidur, yuk. Besok pagi kan harus nganterin Nenek ke terminal," ucap Anisa sambil merapikan rambut sang suami setelah selesai memijat kepala itu.


"Jam berapa berangkatnya?" tanya Louis.


"Jadwalnya sih jam sepuluh," jawab Anisa.


Louis mengangguk. Ia kemudian mengubah posisi tubuhnya yang semula tidur terlentang kini menjadi miring. Wajahnya menghadap perut Anisa. Sedikit mendusel di sana, membuat Anisa terkekeh merasakan geli akibat pergerakan kepala sang suami. Satu tangan Lou tergerak merengkuh pinggang wanita itu.


"Geli ih! Jangan gitu!" ucap Anisa.


Louis terkekeh. Ia mendongak.


"Besok jalan jalan, yuk. Bertiga!" ucap Louis.


"Kemana?" tanya Anisa.


"Yang deket deket aja. Kamu kan nggak pernah jalan jalan, Sayang. Mungkin kamu mau belanja, atau apa," ucap Louis.

__ADS_1


"Katanya mau ke rumah Kakek?" tanya Anisa sambil membelai wajah Louis.


"Kan bisa sore. Kalau kemaleman bisa nginep sehari. Gampang, kan?" ucap Louis.


Laki laki itu kemudian bangkit. Duduk bersila di hadapan Anisa dan membimbing kedua kaki Anisa untuk naik ke atas pahanya. Ia kemudian merengkuh tubuh ramping itu agar duduk di pangkuannya.


Anisa menurut. Ia naik ke pangkuan suaminya dengan posisi kaki mengapit pinggang berotot milik Louis. Wanita itu kemudian mengalungkan kedua lengannya ke leher pria tampan itu.


"Yang penting kita harus jalan jalan besok. Aku mau matiin hp seharian biar nggak ada yang gangguin waktu kita!" ucap Louis.


Anisa tersenyum. "Terserah kamu aja," jawabnya.


"Nurut banget!" ucap Louis sambil mencolek pinggang istrinya.


"Yuk!" ucap Louis.


"Ngapain?" tanya Anisa.


"Aku mau bersihin bekas rumahnya Gerhana. Kemarin belum bersih. Harus disemprot lagi," ucap Louis.


Anisa tertawa. "Pakai kran, dong?"

__ADS_1


"Iya. Kan kemarin kamu udah lihat kran nya. Kenceng kan semburannya?" ucap Louis.


Anisa tergelak lagi. Ia malu sendiri mendengarnya.


"Malah ketawa, lagi. Ditanya juga. Iya, kan?" tanya Louis.


"He'eh." Anisa mengangguk sambil mengusap lelehan air matanya yang menetes karena tawa.


"Ya udah, ayok!" ajak Louis lagi.


"Ya udah, buruan! Keburu pagi," ucap Anisa.


"Ya udah, turun. Keluarin dong dari gudangnya," ucap Louis.


"Ya kamulah yang keluarin. Kan punya kamu. Aku kan cuma bantuin megangin doang," jawab Anisa.


Louis tergelak. Anisa makin terpingkal-pingkal.


"Oh iya! ya udah, yuk!" jawab laki laki itu sambil memeluk tubuh ramping di pangkuannya dan menjatuhkannya ke atas ranjang.


Malam pun berlanjut. Dilewati dengan penuh kehangatan oleh sepasang suami istri yang masih baru itu.

__ADS_1




__ADS_2