
NB: Seperti biasa, koreksi jika ada Typo, ya...🥰
❤️❤️❤️
Hari berganti hari, semua berjalan seperti biasanya. Dua minggu setelah menyatakan niatannya menikahi Anisa, sejak saat itu juga hubungan antara Louis dan Betrand sedikit lebih kaku. Betrand tak sehangat biasanya. Obrolan dan kedekatan keduanya kini seolah sedikit berjarak. Laki laki itu sepertinya kecewa dengan keputusan yang Louis ambil.
Namun, sebagai keluarga sekaligus rekan kerja, Betrand cukup profesional. Ia tak pernah sekalipun menceritakan tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Louis pada orang lain, termasuk ayah dan ibunya. Satu satunya yang menjadi tempat curhat laki laki itu hanya Rhea, kekasihnya. Kekecewaannya ia pendam sendiri, dan cukup ia lampiaskan dengan sedikit mengacuhkan Louis.
Namun rupanya, diacuhkan oleh Betrand juga tak memiliki pengaruh yang berarti bagi Louis. Laki-laki itu terus melangkah ke depan. Bahkan semakin hari, hubungan antara ia dan Anisa justru semakin dekat saja. Ia tak peduli dengan pandangan miring sepupunya itu. Ia yakin, seiring berjalannya waktu, Betrand pasti akan mengerti. Dan kelak, di saat anak dalam kandungan Anisa sudah lahir dan ia membawa wanita itu menemui keluarganya, keluarga besarnya pasti juga akan dengan lapang dada mau menerima Anisa.
Ya, ia yakin atas itu. Mungkin Betrand hanya butuh waktu untuk mengerti semuanya.
Siang ini, di sebuah bangunan tinggi bertuliskan Davis Corp. Di ruangan pribadi milik sang pewaris. Laki laki itu nampak terburu buru membereskan laptopnya. Siang ini, ia ada janji dengan Anisa untuk pergi ke dokter kandungan. Ia sudah membuat janji dengan dokter Eddy, untuk memeriksakan janin dalam perut Anisa yang kini sudah menginjak usia empat bulan.
Meja kerja Louis sudah bersih. Sembari memegang ponsel di tangan, laki laki itu bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan menuju pintu ruangan itu.
"Iya, ini aku udah OTW. Kamu tungguin ya, paling li........Tasya?"
Louis menghentikan langkah kakinya. Perbincangannya melalui sambungan telepon dengan Anisa pun ikut terhenti manakala ia hampir saja menabrak seorang wanita yang rupanya sudah berdiri di balik pintu kala ia membuka benda itu.
Ya, itu Natasya!
Ia datang ke kantor Louis siang ini dengan membawakan makan siang untuk laki laki itu. Louis diam. Ia tiba tiba menghentikan pembicaraannya dengan Anisa. Membuat wanita hamil di seberang sana pun mulai memanggil manggil nama Louis.
"Louis? Kamu nggak apa apa?" tanya Anisa dari seberang sana. Membuat pria itupun seketika terperanjat dari lamunan sesaatnya.
"Oh, iya. Nis, bentar, ya. Nanti kita sambung lagi. Kamu siap siap aja dulu. Nggak nyampe lima menit aku pasti udah sampai," ucap Louis.
"Ya udah, nggak usah buru buru. Hati hati bawa mobilnya. Jangan ngebut," jawab Anisa lagi melalui sambungan telepon.
Louis tersenyum sangat manis. Sebuah senyuman berbeda yang dapat dilihat langsung oleh Tasya yang kini berdiri tepat di hadapan Louis.
"Iya. Kamu siap siap dulu, ya. Tungguin, bentar lagi aku sampai. Assalamualaikum,"
"Wa Alaikum Salam," jawab Anisa.
Sambungan telepon pun terputus. Louis memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Natasya menatap paras tampan itu.
__ADS_1
"Telfon dari siapa, Kak?" tanya Tasya.
Louis terdiam, menatap ke arah Natasya yang nampak menatapnya dengan sorot mata penuh selidik.
"Oh, temen!" jawab Louis sedikit berbohong. Namun sepertinya Natasya kurang begitu percaya. Wanita itu masih menatap Louis dengan penuh selidik seolah tak puas dengan jawaban pria idolanya itu.
"Oh, akrab banget ya, Kak. Ngomongnya manis banget," ucap Natasya terdengar sedikit sedih. Louis memang seorang pria yang manis dan lembut. Tapi cara penyampaian dan gaya bicaranya dengan seseorang yang baru saja ia telfon itu terdengar berbeda. Siapa sebenarnya yang lawan bicara Louis itu, pikir Natasya.
"Em, oh ya, Tasya. Kamu ada perlu apa datang kesini?" tanya Louis.
Tasya nampak menunduk. Semangatnya tiba tiba menurun. Ia bahkan mulai memasang wajah tak bersahabat. Sepertinya ia cemburu dengan seseorang yang Louis telfon tadi. Entah itu laki laki atau perempuan. Tapi cara bicara dan mimik wajah Louis membuat Tasya merasa bahwa seseorang itu memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Louis.
"Em, aku ke sini mau anterin makan siang buat Kakak. Sekalian sebenarnya aku pengen minta bantuan Kakak. Nanti sore aku mau ke pesta ulang tahun temen aku. Aku pengen minta bantuan Kakak buat nemenin aku. Soalnya aku nggak ada pasangannya," ucap Natasya.
Louis membuka mulutnya. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah sembari menggaruk garuk pelipisnya.
"Aduh, gimana, ya..." ucap Louis ragu.
"Kakak nggak bisa, ya? Ada janji sama yang Kakak telfon tadi?" tanya Tasya.
Louis tersenyum. "Iya, saya udah terlanjur janji sama dia. Saya minta maaf, ya. Lain kali kalau saya bisa, pasti saya usahakan buat nemenin kamu," ucap Louis.
"Ada lagi? Maaf, tapi saya udah di tungguin," ucap Louis.
Tasya menarik nafas panjang, lalu mencoba tersenyum meskipun masih terlihat kaku.
"Nggak ada, Kak. Ini, makan siangnya. Jangan lupa dimakan, ya," ucap Tasya.
Louis hanya tersenyum sembari menerima tas bekal yang Tasya sodorkan padanya. "Makasih, ya," jawabnya.
Tasya hanya mengangguk.
"Ya udah, kalau gitu saya pergi dulu. Assalamualaikum," ucap Louis.
"Wa Alaikum Salam,"
Laki laki itu lantas berlalu pergi dengan sebuah tas bekal di tangannya. Tasya hanya diam, menatap punggung kokoh yang kian menjauh dari pandangan matanya itu sembari menghela nafas panjang. Louis pun masuk ke dalam lift. Meninggalkan lantai itu menuju lobby dan pergi menemui Anisa.
__ADS_1
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah. Di sebuah bandar udara bertaraf internasional,
Pria dewasa dengan jambang tak terlalu lebat itu nampak berdiri di depan sebuah pintu kedatangan penumpang yang berada di area bandara besar itu. Bola matanya terus bergerak gerak, mencari cari sosok wanita cantik yang siang ini dijadwalkan tiba setelah melakukan perjalanan panjang dari negeri orang.
Sudah hampir lima belas menit ia berdiri di sana, hingga,
Betrand tersenyum lebar. Seorang wanita cantik dengan dress hitam selutut nampak melambaikan tangannya tinggi tinggi. Senyumannya mengembang. Wanita dengan koper berwarna hitam itu terlihat sumringah. Ia kemudian setengah berlari sembari menarik koper itu. Betrand yang menyadari kedatangan sang kekasih pun dengan segera berlari kecil menghampiri Rhea. Kerinduannya sudah di ubun ubun walaupun sebenarnya belum ada satu bulan mereka berpisah.
"Baby...!!" ucap Rhea girang sembari melepaskan pegangannya pada koper itu. Ia setengah melompat. Memeluk erat kekasih yang sudah ia pacari sejak masih belajar di bangku SMA itu. Betrand mendekap erat tubuh ramping itu. Senyumannya mengembang. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher yang tertutup rambut panjang itu. Menghirup aroma tubuh wanita yang teramat sangat ia sayangi itu.
"I miss you!!" ucap Rhea manja. Betrand tak menjawab. Ia hanya terkekeh mendengar ucapan itu. Betrand melepaskan pelukannya. Ia menangkup wajah cantik itu kemudian mengecup kening, pipi, mata, ujung hidung, hingga bibir wanita itu singkat.
Rhea terkekeh mendapati perlakuan Betrand.
"Aku jauh lebih kangen sama kamu!" ucap laki laki itu.
"Nggak bisa! Aku yang paling kangen sama kamu!" ucap wanita itu seolah tak mau kalah. Rhea berucap sembari mengerucutkan bibirnya, membuat laki laki itupun makin gemas karenanya. Betrand tergelak. Ia kembali menghujani kening Rhea dengan kecupan kecupan singkatnya. Keduanya kemudian kembali berpelukan guna menyalurkan kerinduan masing masing.
"Udah, yuk. Aku laper, baby!" rengek Rhea lagi begitu manja sembari melepaskan pelukannya.
"Lapar?" tanya Betrand.
Rhea mengangguk. Betrand tersenyum. Ditangkupnya pagi wajah itu dengan gemas.
"Mau makan apa?" tanya Betrand.
"Apa aja yang penting enak!" jawab wanita itu.
Betrand tersenyum manis. "Ya udah, kita pergi, ya!" jawab laki laki itu kemudian.
Rhea mengangguk. Betrand mengambil alih koper Rhea. Wanita itu lantas menggandeng tangan kiri kekasihnya. Keduanya pun lantas mengayunkan kaki masing masing, berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut. Diam diam, Rhea menoleh ke belakang, menatap ke arah seorang pria tampan berkacamata hitam yang nampak berdiri santai menatap sepasang kekasih itu sembari menikmati permen karet di mulutnya.
__ADS_1
Pria itu, Luke, nampak menyeringai ke arah Rhea. Ia kemudian melepeh permen karetnya, kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut dengan santainya.
...----------------...