(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
062


__ADS_3

Hari berganti.


Di sebuah meja makan yang berada di apartemen mewah milik sepasang pria wanita yang belum memiliki ikatan pernikahan itu, Louis dan Anisa nampak menikmati santap pagi mereka bersama-sama.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Louis yang hari ini kembali bekerja di perusahaan milik keluarga besarnya nampak sudah rapi dengan setelan jas lengkapnya. Paras tampannya semakin terlihat gagah dan berwibawa dengan pakaian yang kini ia kenakan.


Sedangkan disampingnya, Anisa nampak cantik dengan penampilannya yang sederhana. Perutnya yang buncit dengan tubuh yang sedikit lebih berisi membuat wanita itu terlihat semakin menggemaskan di mata Louis yang seolah sudah benar benar terpikat dengan pesona Anisa yang sederhana itu.


Louis selesai dengan dengan santap paginya. Ia menenggak segelas jus jeruk di atas meja itu lalu membersihkan area sekitar mulutnya menggunakan selembar tissue yang berada di atas meja.


Laki laki itu kemudian bangkit. Ia mendekati Anisa yang masih duduk di sebuah kursi di sana, kemudian berjongkok di samping wanita yang tengah berbadan dua itu. Louis menggerakkan tangannya, mengusap usap lembut perut yang kian hari terlihat semakin membuncit itu.


"Sayang, Papa berangkat dulu, ya. Kamu baik baik di rumah sama Mama. Jangan nakal!" ucap Louis. Anisa hanya tersenyum. Laki laki itu kemudian bangkit dari posisi duduknya. Tangannya tergerak mengusap lembut pucuk kepala Anisa.


"Saya berangkat ya, Nis. Kamu hati hati di rumah. Ingat pesan saya, jangan keluar tanpa saya. Dan jangan sembarangan bukain pintu," ucap Louis.


Anisa mengangguk. "Iya. Kamu juga hati hati, ya. Jangan ngebut bawa mobilnya," ucap Anisa.


Louis tersenyum. Ia nampak mengangguk. Laki laki itu kemudian bangkit. Kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat itu setelah berpamitan dengan wanita kesayangannya.


Sang pewaris keluarga Davis pun melenggang pergi meninggalkan apartemen mewahnya. Dengan tampilan rapi dan penuh wibawa, ia melesat menuju bangunan tinggi yang sudah beberapa hari ia tinggal itu dengan menggunakan tunggangan mewahnya.


Ia meletakkan egonya. Mencoba kembali berdamai dengan keadaan dan kekolotan keluarga besarnya demi menjalankan kewajiban yang sudah terlanjur dibebankan padanya.


Ya, ia akan kembali bekerja hari ini. Kembali berkutat dengan seabrek pekerjaan. Bekerja sama membangun bisnis keluarga bersama sepupu dan pamannya. Louis mencoba sekali lagi bersabar. Karena bagaimanapun Betrand dan Steve adalah keluarganya.


Seperti kata Anisa tempo hari. Wanita itu tak mau hubungan antara Louis dan keluarga besarnya menjadi renggang hanya karena dirinya. Sebagai seorang anak yang tak mengenal keluarga kandungnya sejak kecil, Anisa tak mau merusak hubungan baik keluarga yang terpandang itu. Ia tahu betul bagaimana rasanya hidup tanpa keluarga. Ia tahu betul bagaimana rasanya dikucilkan. Ia tak mau hal yang ia alami sejak kecil kini menimpa Louis. Seindah apapun gemerlap dunia di luar sana, bukankah keluarga harusnya menjadi tempat ternyaman untuk kita pulang?


Louis yang sepertinya sudah terlanjur nyaman dan tunduk pada wanita kampung itu akhirnya patuh juga. Ia mengikuti saran Anisa. Ia akan tetap berbakti pada keluarganya tanpa melepaskan cintanya pada wanita itu. Ia akan tetap bekerja untuk Davis Corp, dan pulang untuk Anisa. Ia akan menjadi sang pewaris yang bisa diandalkan untuk keluarga Davis sembari memperjuangkan wanita pilihannya. Keluarga besarnya tetaplah keluarga, namun Anisa kini adalah rumahnya. Ia memilih untuk tetap tinggal bersama wanita itu meskipun belum ada ikatan yang sah diantara mereka. Ia akan mampir ke rumah utama keluarganya sekedar untuk bertemu sang kakek saja.

__ADS_1


Sekitar sepuluh menit perjalanan, mobil mewah berharga fantastis itu sampai di sebuah bangunan tinggi milik keluarganya. Louis turun dari kendaraannya. Ia berjalan memasuki lobby perusahaan dengan langkah tegap dan yakin. Mengabaikan sapaan beberapa karyawan yang nampak membungkuk kala berpapasan dengan pria tampan berusia dua puluh sembilan tahun itu.


Louis berjalan menuju lift. Ia masuk ke dalam kotak raksasa yang akan membawanya menuju lantai atas di mana ruangannya berada.


Ting...


Pintu lift terbuka. Laki laki tampan itu keluar dari sana. Masih dengan langkah yang sama, ia berjalan mendekati ruangannya. Dari kejauhan, ia nampak menyempitkan matanya. Meja yang berada di samping pintu ruangannya, tempat di mana Betrand harusnya berada itu nampak kosong. Laki-laki itu tidak berada di sana.


Louis mengangkat lengannya, melongok ke arah jam tangan yang ia kenakan. Harusnya jam segini Betrand sudah berada di tempat itu. Tapi kenapa ini belum datang? Kemana pria itu.


"Selamat pagi, Tuan!" sapa Yusnia, sekertaris Louis kala melihat kedatangan sang Tuan.


Louis menghentikan langkahnya.


"Betrand belum datang?" tanya Louis.


Louis mengangkat dagunya lalu mengangguk.


"Kamu ke ruangan saya, ya. Saya mau lihat jadwal saya hari ini!" ucap Louis.


"Baik, Tuan!" jawab wanita berambut panjang itu.


Louis pun berlalu. Ia masuk ke dalam ruangan yang beberapa hari terakhir ia tinggalkan itu.


Tak ada yang berubah di sana. Masih sama seperti saat terakhir Louis meninggalkan ruangan itu.


Laki laki itu melepaskan satu kancing jasnya. Ia kemudian melonggarkan dasinya dan duduk di atas meja kerja tersebut. Louis kemudian meraih laptopnya dan mulai membukanya. Hingga tiba-tiba...


Ceklek...

__ADS_1


Pintu ruangannya terbuka tanpa diketuk. Seorang pria paruh baya dengan rambut yang sebagian sudah nampak memutih itu masuk ke dalam ruangan tersebut dan segera mendekati Louis yang baru saja hendak memulai pekerjaannya.


Louis menghela nafas panjang. Ya, itu Steve, ayah kandung Betrand.


"Louis," sapa Steve hangat. Laki-laki dewasa itu nampak mendekat ke arah sang keponakan sembari menyerahkan sebuah map hijau ke atas meja kerja pria tampan itu.


"Akhirnya kami balik kerja lagi. Om seneng lihat kamu kembali," ucap Steve.


Louis hanya tersenyum tanpa menjawab ucapan Steve. Ia kemudian menatap ke arah map hijau itu.


"Apa itu, Om?" tanya Louis.


"Oh, ini bahan buat meeting pagi ini. Satu jam dari sekarang. Betrand nggak ke kantor hari ini. Dia lagi sama Rhea. Mereka sedang ada urusan untuk persiapan acara pernikahan mereka. Tiba tiba Rhea minta pernikahannya dimajukan. Nggak tahu, mungkin udah nggak sabar. Jadi hari ini, Om yang akan dampingi kamu," ucap Steve.


Louis tersenyum sambil mengangguk.


"Oh, ya. Sama sekalian Om mau ngasih tahu kamu. Hari ini Om mau ngajak kamu pulang cepet. Om sama tante kamu mau bikin acara makan malam di rumah. Ya, cuma keluarga kita aja. Tapi Om mau semua anggota keluarga ngumpul. Ya... sekedar menyambut kepulangan adik kamu..."


.


.


.


Deeghh....


"Apa?!!"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2