
Tok... Tok... Tok...
Pintu apartemen itu di ketuk dari luar. Anisa yang tengah berbincang dengan Bik Susi di ruang tamu itupun nampak menoleh ke arah sumber suara.
"Mungkin itu Louis, Bik," ucap Anisa.
"Biar Bibik saja yang buka, Non," ucap Bik Susi.
Anisa mengangguk. Wanita paruh baya yang masih berada di apartemen itu guna menemani sang nona itu lantas bangkit. Ia berjalan menuju pintu apartemen kemudian membukanya.
Ceklek..
Pintu apartemen pun terbuka.
"Tuan," ucap Bik Susi kala melihat seorang pria tampan dengan wajah yang terlihat lelah itu nampak berdiri di depan pintu kusen tersebut.
Louis tak menjawab. wajahnya terlihat sangat lelah sebuah casing di pundak dengan sebuah dasi yang hanya terkalung tanpa terikat di area lehernya. Laki laki itu tersenyum. Ia kemudian masuk ke dalam apartemen tersebut, mendekati Anisa yang nampak duduk diatas sofa panjang di sana sembari menatapnya.
Louis melempar jas ditangannya asal. Ia kemudian mendudukkan tubuhnya di samping Anisa dengan kepala tersandar di sandaran sofa.
Anisa terdiam. Kenapa lagi pria ini? Setiap pulang dari rumahnya sendiri Louis selalu saja memasang wajah murung.
Anisa meringsut. Tangannya tergerak menyentuh pipi sang lelaki yang kini nampak menatap sendu ke arahnya.
"Kamu kenapa lagi?" tanya Anisa.
Louis diam tak menjawab. Sorot matanya tak lepas dari wajah cantik itu. Berbagai perasaan dan pemikiran berkecamuk dalam hati dan otaknya kala mengingat tentang ucapan Luke yang berniat untuk menikahi Anisa. Luke berucap seolah-olah seperti ia bersungguh-sungguh ingin bertanggung jawab atas semua perbuatannya pada Anisa di masa lalu. Tapi sebagai seorang kakak yang sudah berkali-kali bertanggung jawab atas semua kesalahan adiknya, Louis begitu yakin bahwa sebenarnya Luke tidak bersungguh-sungguh ingin bertanggung jawab kepada wanita di hadapannya itu. Itu hanyalah salah satu cara dan strategi Luke untuk balas dendam karena Louis pernah menolak untuk membebaskan Luke dari dalam penjara. Bukan cinta atau rass bersalah yang mendasari niatan Luke itu.
Louis menghela nafas panjang. Kini ia benar-benar dibuat pusing. Katakanlah posisinya terancam saat ini. Luke sudah berada di luar penjara. Saudara kembarnya itu memang jauh lebih berhak atas Anisa, karena anak yang dikandung Anisa saat ini adalah anaknya, bukan anak Louis. Sedangkan status Anisa dan Louis sama sekali belum ada ikatan apapun. Mau menikahi juga tidak bisa. Haram hukumnya seorang laki laki menikahi wanita yang tengah berbadan dua. Itu yang ia tahu (Termasuk juga yang author tahu kalau di daerah author. Kalau ditempat lain nggak tahu. Maaf🙏). Maka tidak akan ada alasan apapun untuk Louis mempertahankan Anisa jika suatu saat Luke meminta wanita itu dan Anisa menerimanya. Ditambah lagi, hingga saat ini Anisa belum mengetahui tentang siapa Louis dan Luke sebenarnya. Mungkin wanita itu juga akan kecewa pada Louis jika suatu saat nanti ia tahu semuanya.
Sungguh, laki-laki itu benar-benar dibuat pusing olehnya. Niat awalnya yang hanya ingin menolong Anisa dan memastikan bahwa wanita itu akan aman baik secara fisik maupun mentalnya hingga anak dalam kandungannya lahir. Tapi rupanya kini ia justru terjebak dalam situasi yang ia buat sendiri. Entah ia harus memulai menjelaskan semuanya pada Anisa. Tapi yang pasti, Anisa harus disembunyikan dulu. Ia takut jika Luke mengetahui keberadaan Anisa di apartemen ini.
Tapi harus kemana?
Anisa menatap sendu paras tampan itu. Wanita itu kemudian menoleh ke arah Bik Susi yang masih berdiri di samping sofa ruang tamu itu.
"Bik, tolong bikinin minum, ya," ucap Anisa.
Bik Susi mengangguk. "Baik, Non!" jawab wanita itu yang kemudian dengan segera berlalu meninggalkan tempat tersebut.
Anisa kembali fokus pada Louis. Laki laki itu kini nampak meraih punggung tangan Anisa. Tanpa mereka sadari, rupanya Bik Susi diam diam menguping pembicaraan dua sejoli itu dari balik tembok dapur apartemen tersebut.
"Nis," ucap Louis.
"Apa?" tanya Anisa lembut.
"Maaf, tapi mungkin secepatnya saya harus membawa kamu pindah dari tempat ini," ucap Louis.
__ADS_1
Anisa terdiam. Ia menatap mata sendu pria itu. Seolah ingin mencari jawaban atas semua pertanyaannya.
Pindah? Lagi? Kemana? Kenapa harus pindah? Ada masalah? Louis bangkrut? Atau ada masalah apa lagi dengan keluarga besar Louis? Apakah itu semua karena keberadaannya? Atau karena apa? Anisa bingung!
Begitu juga dengan Bik Susi yang menguping disana. Apa ini ada hubungannya dengan dua wanita yang datang dan membuat keonaran di apartemen ini beberapa hari lalu? Pikir Bik Susi.
"Nanti saya akan carikan tempat yang layak untuk kamu. Mungkin besok atau lusa, kita pindah, ya," ucap Louis.
Anisa tak langsung menjawab. Ia juga tak bereaksi. Hingga tiba tiba.
"Nggak!" ucap Anisa sembari menarik tangannya dari genggaman Louis, membuat laki-laki itu pun terkejut. Mimik wajah lembut dan sendu yang sejak tadi Louis tampilkan itu tiba-tiba berubah kala mendengar jawaban dan respon dari Anisa.
"Nis?" ucap Louis mempertanyakan jawaban Anisa.
”Aku nggak mau pindah!" ucap Anisa.
Louis diam.
"Kenapa?" ucap Louis penuh tanya. Kedua netra itu nampak saling beradu pandang dengan berbagai pertanyaan dalam diri mereka.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa tiba tiba kamu minta aku buat pindah?" tanya Anisa.
Louis diam sejenak.
"Nis," ucapnya kemudian sembari kembali meraih punggung tangan Anisa namun wanita itu mengelak.
"Aman dari siapa? Apa yang nggak bisa diceritain? Kamu yang bawa aku pergi dari kost an ke apartemen. Dan sekarang kamu juga yang mau mindahin aku. Sebenarnya ada apa?! Aku jadi ngerasa kaya bola yang bisa kamu oper sesuka hati kamu!" ucap Anisa jengah.
"Nggak gitu, Nis! Ini semua demi kebaikan kita!"
"Kebaikan yang mana? Dimana letak kebaikannya kalau aku sendiri aja nggak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang!" ucap Anisa. "Kamu bilang katanya kita hadapin sama sama, tapi apa yang kita hadapin aja aku nggak tahu!"
Louis menghela nafas panjang. "Saya sudah pernah bilang kan sama kamu. Biarkan ini menjadi tanggung jawab saya. Saya nggak mau kamu kepikiran. Kamu lagi hamil..."
"Justru kalau kayak gini malah bikin aku kepikiran!!" ucap Anisa memotong ucapan Louis. Ia mulai kesal dengan sikap laki laki itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa sampai aku harus pindah? Keluarga kamu nggak suka sama aku? Keluarga kamu nentang aku? Kamu di usir? Kamu bangkrut? Atau apa?!! Ngomong!!!"
"Yang kamu oper kesana kemari itu aku. Yang kamu ajakin pergi kesana kemari itu aku, tapi kamu nggak pernah kasih tahu aku apapun! Aku capeeeeekkk!!!" ucap Anisa mulai histeris yang kemudian menangis di akhir kalimatnya.
Louis diam. Ia makin bingung, sesak, dan pusing. Wanitanya menangis sesenggukan di hadapannya. Padahal bukan ini yang inginkan. Ia sudah berjanji tidak akan membuat Anisa menangis, tapi kenapa sekarang wanita berperut buncit itu justru meraung raung di hadapannya.
Louis menggerakkan tangannya hendak menyentuh pundak Anisa.
"Nis...."
"Nggak mauk!" ucap wanita itu ngegas.
__ADS_1
"Dengerin dulu....."
"Capeeekkk!!!!" bentak ibu hamil itu.
"Iya, tapi jangan nangis gitu, dong. Kamu mau dengerin penjelasan saya, nggak?" tanya Louis mencoba menenangkan sang pujaan hati.
Wanita itu masih sesenggukan. Louis mengerakkan tangannya lagi mencoba meraih tubuh itu dan memeluknya.
"Sini, sini..."
"Nggak mauk!! Huhuhu....."
"Jangan nangis. Malu didenger Bibik. Sini peluk dulu!" ucap Louis sembari mencoba menarik tubuh Anisa dan memeluknya, namun lagi lagi wanita itu mengelak.
"Iya, maaf. Jangan ngambek, dong. Saya udah pusing banget ini, Nis. Kamu nggak kasihan apa sama saya?" ucap Louis.
Anisa sesenggukan. Louis meringsut. Diraihnya tubuh ramping itu lalu memeluknya hangat. Satu tangan kekarnya mengusap usap lembut pucuk kepala Anisa, sedangkan tangan lainnya mengusap usap punggung tangan wanita itu. Suasana hening sejenak. Louis terus menggerakkan tangannya hingga tangisan wanita itu perlahan mulai mereda.
Setelah cukup lama, Anisa kemudian mendongak. Louis menunduk. Wajah keduanya bertemu dalam posisi yang cukup dekat.
"Cerita!" ucap Anisa menagih janji Louis.
Louis diam sejenak. Ia menghela nafas panjang.
"Tapi janji jangan marah, ya." ucap pria itu.
"Janji juga, apapun yang terjadi, kamu harus yakin bahwa saat ini, dan sampai kapanpun, saya sayang sama kamu. Saya cinta sama kamu. Saya mau kamu. Dan saya nggak pernah peduli dengan masa lalu kamu. Saya menjaga kamu sampai seperti ini, semua adalah karena saya mau kamu, dan saya, serta anak dalam kandungan kamu ini, menjadi kita. Menjadi satu keluarga yang bahagia nantinya," ucap Louis.
Laki laki itu membelai wajah Anisa yang terdongak kearahnya.
"Jangan marah. Jangan musuhin saya. Jangan tinggalin saya. Karena semua yang saya lakukan selama ini, semua untuk kamu. Untuk bisa bersama kamu, dan memiliki kamu," tambah Louis dengan suara yang mendadak terdengar bergetar.
Anisa tak bergerak. Kedua netra itu saling terkunci. Anisa seolah berusaha mencari tahu, apa maksud perkataan Louis itu.
"Ada apa?" tanya Anisa lirih.
Louis diam. Ia memejamkan matanya sejenak sembari menarik nafas panjang tanpa melepaskan pelukannya atas Anisa.
"Ini tentang Luke dan Louis........."
Deeghh...
.
.
.
__ADS_1
Bersambung dulu🤭😁