
Seperti biasa, kalau Typo kabarin, ya🥰
❤️❤️
Siang menjelang di sebuah mall yang berada di pusat kota. Sepasang pria dan wanita itu nampak saling bergandengan tangan. Seharian mereka jalan jalan berkeliling kota. Cari makan, nonton film, belanja, dan banyak lagi. Louis benar benar menghabiskan waktunya hari ini hanya untuk bersenang senang dengan Anisa. Untuk sejenak ia benar benar bisa melepaskan penat di otak dan hatinya. Hanya dengan berkeliling kota, mencari makan makanan sederhana, duduk di lesehan sambil berbincang santai, rupanya sudah cukup untuk membuat keduanya bahagia.
Siang ini, saat jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Pria dengan kaos oblong dan celana pendek itu nampak masih betah menggandeng tangan wanita dengan sweater over size dan rok panjang itu. Penampilan Anisa yang begitu sederhana nyatanya juga tak membuat Louis malu menggandeng tangan wanita yang kini nampak menutupi perut yang mulai membuncit itu dengan pakaian serba besarnya.
"Kita kemana lagi?" tanya Louis yang baru saja keluar dari toko boneka bersama Anisa.
Wanita hamil dengan sebuah boneka Spongebob di tangan itu nampak mengedarkan pandangannya, seolah mencari cari sesuatu yang mungkin bisa menarik untuk dikunjungi.
"Em, kemana, ya?" tanya Anisa seolah berfikir.
"Mana, yaaaaa...." sahut Louis mengikuti ucapan Anisa. Wanita itu tertawa. Ia menepuk pundak Louis membuat laki laki itupun kemudian terkekeh karenanya.
"Em, es krim aja, yuk! Beli eskrim, terus kita makan di taman depan mall itu tadi. Kayaknya enak disitu buat ngobrol" ucap Anisa.
"Es krim lagi? Kita udah dua kali lo makan eskrim dari pagi tadi!" ucap Louis.
"Daripada makan orang, mending makan eskrim," ucap Anisa.
Louis terkekeh lagi. "Serah kamu, lah!" ucap Louis yang kemudian menggandeng tangan Anisa untuk mencari kedai eskrim di area mall itu.
Keduanya pun sampai di sebuah kedai es krim. Dua cup eskrim rasa vanila pun dipesan. Satu untuk Anisa, dan satu untuk Louis. Setelah selesai, wanita itu kemudian mengajak Louis keluar dari pusat perbelanjaan modern itu. Louis hanya menurut. Tangan mereka terus bergandengan. Laki laki itu bahkan sesekali nampak merangkul pundak Anisa sambil berbincang dan bercanda santai. Keduanya seolah tak pernah kehabisan bahan obrolan sejak tadi.
Tak lama, sepasang pria wanita yang tak memiliki ikatan itu sampai di sebuah taman kota yang letaknya persis di samping mall besar itu.
Anisa mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tiba tiba.
"Louis!" ucap Anisa sembari menyentuh tubuh laki laki itu menggunakan boneka Spongebob di tangannya.
"Pa?" tanya pria itu.
"Mau ngegambar disana!" ucap Anisa sembari menunjuk sekumpulan bocah SD hingga TK yang nampak asyik mewarnai gambar di atas papan Styrofoam di sana.
"Itu?" tanya Louis menunjuk ke arah yang sama. Anisa mengangguk yakin.
"Itu buat anak kecil!" ucap Louis.
__ADS_1
"Kata siapa? Nggak ada peraturannya, tauk!" ucap Anisa.
Louis terkekeh lagi. Ia lantas menggelengkan kepalanya melihat kepolosan wanita hamil di sampingnya.
"Ya udah, tapi kamu aja yang gambar, ya. Saya tunggu di kursi itu," ucap Louis sembari menunjuk sebuah kursi taman yang berada di samping deretan papan Styrofoam bergambar itu.
"Kamu nggak ikut gambar?" tanya Anisa.
"Kalau saya ikut gambar, nanti dikiranya saya bapaknya anak anak itu!" ucap Louis.
Anisa tergelak lagi. "Oke, oke!" jawab Anisa kemudian. Keduanya kemudian berjalan mendekati sekumpulan anak anak yang tengah asyik mewarnai gambar di atas papan Styrofoam itu.
Anisa menitipkan Spongebob di tangannya pada Louis. Wanita itu kemudian memposisikan tubuhnya di sebuah kursi plastik rendah disana, menghadap sebuah Styrofoam bergambar Naruto sambil sesekali menikmati eskrim miliknya.
Louis yang duduk tak jauh dari tempat Anisa itu nampak tersenyum mengamati pergerakan wanita hamil tersebut.
Bukan Anisa namanya kalau tidak melakukan hal hal di luar akal. Naruto ternistakan di tangan Anisa. Rambutnya di cat merah, bajunya merah muda, giginya kuning dengan warna hitam di gigi bagian tengahnya. Louis tak bisa berhenti tertawa melihat hasil karya Anisa dari kursi yang kini didudukinya. Entahlah, ada ada saja ulah wanita itu untuk mengocok perut Louis. Laki laki itu bahkan sampai mengeluarkan air matanya melihat gambar Anisa. Hingga tiba tiba...
"Kak Louis," suara itu berhasil membuat Louis yang tengah tertawa terpingkal-pingkal itu menoleh.
"Tasya?" ucap laki laki tersebut kala melihat sosok wanita muda berparas ayu yang merupakan penggemar beratnya itu nampak berdiri tepat di samping kursinya. Tasya nampak menampilkan senyuman termanisnya, seolah ia begitu bahagia bisa bertemu dengan Louis di tempat ini.
Louis mengangguk. Ia kemudian celingukan, mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari sosok lain yang mungkin menemani Tasya di taman itu.
"Kamu ngapain disini?" tanya Louis.
Tasya kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi taman itu, tepat samping Louis.
"Aku sengaja datang ke taman ini, Kak. Baru pulang kuliah, terus mampir. Ya, daripada di rumah nggak ngapa-ngapain. Disini tempatnya enak," ucap Tasya sembari menampilkan senyuman manisnya.
"Oh," jawab Louis seadanya.
"Kakak sendiri kok tumben jam segini di luar kantor? Biasanya kerja terus," ucap Tasya.
Louis baru saja membuka mulutnya, hendak menjawab pertanyaan wanita berhijab itu. Tiba tiba,
"Louis." Suara itu berhasil membuat Louis dan Natasya menoleh. Dilihatnya disana Anisa sudah selesai dengan lukisannya. Ia berdiri sembari membawa Naruto bergigi kuning itu, menatap canggung ke arah Louis dan Natasya secara bergantian.
"Eh, udah selesai?" tanya Louis sambil tersenyum. Anisa mengangguk. Natasya mengernyitkan dahinya.
"Ini siapa, Kak?" tanya Tasya sembari mengamati penampilan Anisa yang sederhana itu dari atas sampai bawah.
Anisa menunduk. Louis diam sejenak. Lalu,
__ADS_1
"Oh, kenalin, ini Anisa, calon istri saya," ucap laki laki itu dengan percaya diri.
Degghh...
Anisa reflek mendongak. Louis mengakuinya sebagai calon istri di depan wanita ini? Apakah itu artinya laki laki itu sudah siap untuk memperkenalkannya pada keluarga besar pria itu? Anisa diam diam mengulum senyum. Tak bisa dipungkiri, ia cukup bahagia mendengar ucapan dari Louis itu.
Sedangkan Tasya, wanita itu kini nampak membuka mulutnya. Ia sangat terkejut. Bak tersambar petir di siang bolong, wanita itu diam mematung mendengar jawaban dari Louis. Laki laki itu sudah punya calon istri? Pikir Natasya.
Yang benar saja. Dari yang ia tahu, Louis tak pernah terdengar menjalin hubungan dengan wanita manapun selama ini. Tapi kenapa sekarang tiba tiba pria itu mengakui wanita di hadapannya ini sebagai calon istri?
Natasya nampak menggelengkan kepalanya. Ia kembali menatap ke arah Anisa yang kini nampak tersipu malu. Diamatinya lagi penampilan wanita itu dari atas sampai bawah. Penampilan yang sangat sederhana dan terkesan kampungan. Benarkah ini calon istri Louis? Sungguh, Tasya tak percaya dengan semua ini. Ia benar benar terkejut.
"Nis, kenalin, ini Tasya teman saya. Tasya, ini Anisa, calon istri saya," ucap laki laki itu.
Anisa menoleh ke arah wanita berhijab yang kini nampak mengembun itu. Ia ingat betul wanita itu. Itu adalah cucu konglomerat yang dulu pernah melangsungkan pesta ulang tahun mewah dengan memakai jasa ketering milik Salma. Anisa bahkan datang ke acara ulang tahun itu sebagai pekerja ketering. Ia juga sempat bertemu dengan Louis kala itu disana. Dan Louis justru memilih untuk mengajak Anisa pergi sebelum acara selesai. Ia tak menyangka, bahwa kini Louis berani mengatakan pada wanita itu bahwa ia adalah calon istrinya.
Anisa tersenyum, ia kemudian mengulurkan tangannya pada wanita berpenampilan muslimah itu.
"Saya Anisa," ucap wanita itu.
Tasya yang nampak mengembun pun menggerakkan tangannya menyambut uluran tangan tersebut.
"Tasya," jawabnya.
Jabatan tangan di antara kedua wanita itupun berakhir.
"Kamu udah selesai?" tanya Louis lagi pada Anisa.
"Udah!" jawab wanita hamil itu sambil mengangguk. Louis sedikit menggeser posisi tubuhnya.
"Sini, duduk!" ucap Louis sembari menepuk sisi kosong kursi taman itu. Ia meminta sang wanita untuk duduk di sampingnya. Tepat di tengah tengah antara Louis dan Natasya.
"Tasya, boleh geser dikit, Nisa mau duduk," ucap laki laki itu seolah begitu meratukan Anisa. Tasya makin sakit hati. Louis bahkan memintanya untuk minggir demi wanita itu.
Tasya pun menurut. Ia menggeser posisi duduknya. Anisa kemudian duduk di samping Louis, tepat di tengah tengah antara laki laki itu dengan Tasya.
"Coba lihat gambarnya!" ucap Louis. Tangan pria itu kini bahkan tergerak merangkul pundak Anisa, membuat Tasya makin sesak dibuatnya. Sepertinya laki laki itu sengaja melakukannya. Ia seolah ingin menjelaskan pada Tasya, sedekat apa hubungan dirinya dengan Anisa.
"Ini Naruto dari sekte mana?!" tanya Louis tergelak.
"Kebanyakan makan coklat dia!" jawab Anisa enteng membuat Louis makin. Tak bisa menyembunyikan tawanya.
Tasya menitikkan air matanya tanpa suara. Ia menatap nanar ke arah sepasang manusia yang kini nampak tertawa tawa membahas lukisan aneh di tangan wanita kampungan itu. Louis bahkan bisa tertawa lepas di samping wanita itu. Sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
...----------------...
__ADS_1