(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
077


__ADS_3

Waktu terus berjalan, saat jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.


"Yuk, satu lagi," ucap laki laki itu sembari menyodorkan satu sendok nasi ke mulut Anisa.


"Louis, aku bisa makan sendiri," ucap Anisa mengelak. Laki laki itu sejak tadi memaksa untuk menyuapinya.


"Tapi aku mau nyuapin kamu," ucap Louis.


"Nggak usah. Aku makan sendiri aja. Kan kamu harus ke kantor. Belum ganti baju juga. Kan harus mampir apartemen dulu. Nanti kamu telat, loh," ucap Anisa.


"Nggak apa apa. Bos nya nggak akan marah. Aku karyawan teladan, kok!" ucap Louis.


"Kan kamu yang bos nya!" ucap Anisa sambil terkekeh.


"Tuh tau! Bos mana yang mau marahin aku. Udahlah, makan dulu!" ucap Louis lagi.


Anisa cekikikan. Ia kembali membuka mulutnya, membiarkan Louis memasukkan satu sendok nasi itu ke dalam sana. Sarapan pagi disuapi ayang terus berlanjut. Satu porsi jatah sarapan pagi dari rumah sakit ditambah buah serta beberapa vitamin pun kini nampak ludes. Louis tersenyum menatap wanita hamil yang tengah mengunyah sepotong apel itu.




"Ngapain?" tanya Anisa.


"Enggak," ucap laki laki itu sambil mengulum senyum.


Tangan kekar itu tergerak mengusap perut yang kian hari kian membesar itu.


"Perkiraan masih sebulan lagi, ya?" tanya Louis.


Anisa mengangguk sambil mengunyah apelnya.


"Kenapa emangnya?" tanyanya.


"Berarti aku harus secepatnya ngurus surat surat untuk pernikahan kita. Biar nanti semua udah siap pas baby kita lahir," ucap Louis.


Anisa tersenyum.


"Tapi kamu harus bilang dulu sama kakek kamu. Kamu harus izin sama keluarga kamu. Karena biar bagaimanapun, restu mereka akan berdampak untuk kebahagiaan keluarga kita nantinya," ucap Anisa.


Louis tersenyum manis. "Iya, Sayang. Aku akan melakukan sesuai perintah kamu," ucapnya.


Anisa terkekeh.


Pintu kamar rawat inap itu terbuka. Bik Susi masuk ke dalam ruangan itu.


"Bibik," ucap Anisa dengan senyuman manisnya.


"Sudah bangun?" tanya Bik Susi dengan senyuman bahagia. Anisa mengangguk sambil tersenyum. Wanita paruh baya itu mendekat, membelai wajah cantik itu dengan mata berbinar haru.


Louis tersenyum. "Kita nungguin Bibik dari tadi," ucapnya.


"Ditinggal aja kalau mau ke kantor, Tuan. Anisa biar sama saya. Elang juga ada di luar, kok," ucap Bik Susi.


Louis tersenyum. "Ya udah. Kalau gitu saya titip Anisa ya, Bik. Kalau ada apa langsung hubungin saya," ucap Louis.


"Iya, Tuan," jawab Bik Susi.


Louis kemudian berpamitan pada wanita pujaan hatinya itu. Laki laki yang kini hanya mengenakan celana pendek hitam dan kaos oblong putih itu kemudian berjalan menuju pintu kamar rawat inap tersebut dan membukanya.


Ceklek...

__ADS_1


Deeghh...


Louis terdiam. Tiga orang pria berpenampilan berandalan nampak berdiri di depan pintu kamar itu. Satu diantara mereka adalah Elang.


"Lang," ucap Louis.


Kakak kandung Anisa itu menoleh. Louis diam sejenak, menatap dua pria dengan ciri ciri fisik yang berbeda itu secara bergantian. Satu sepertinya masih remaja. Rambutnya cepak dengan kulit sawo matang. Telinga dan bibirnya bertindik, disertai kalung rantai menghiasi lehernya. Sedangkan yang satunya, laki laki itu terlihat lebih dewasa dari segi usia. Rambutnya agak gondrong tak rapi. Badannya tinggi, besar, kekar, bertato, dengan kulit berwarna agak legam. Penampilannya sangar. Pori pori wajahnya terlihat jelas. Matanya tak begitu terlihat jernih, cekung, namun tajam. Khas mata seorang pemabuk yang sering begadang atau berjudi. Sekilas, penampilan pria itu mirip seperti algojo di film film aksi.


"Ini......." ucap Louis menggantung.


"Oh, kenalin. Ini temen temen gua. Namanya Bruno sama Dito. Hari ini gue tugasin dia buat jaga Anisa selama nggak ada kita. Gue juga harus kerja soalnya," ucap Elang.


Louis diam. Memperhatikan penampilan dua pria asing itu lalu mengangguk samar.


"Lo tenang aja. Mereka bisa kita andalkan. Anisa bakal aman selama ada mereka. Temen gue banyak. Ntar kalau mereka mau pulang, bisa panggil yang lain buat jaga," ucap laki laki gondrong itu.


Louis mengangguk lagi. "O, Okey. Gue percaya," ucapnya kaku. Ia sedikit kaget melihat kemunculan dua makhluk itu di depan kamar inap Anisa. Teman teman Elang sepertinya memang beraneka ragam bentuknya.


"Ya udah. Kalau gitu gue duluan, ya. Lo mau bareng?" tanya Louis.


"Nggak usah. Gue bawa motor. Gue mau nemuin Anisa dulu. Budhe mau bicara ama dia katanya," ucap Elang.


Louis mengangguk. "Ya udah, kalau gitu gue duluan!" ucapnya kemudian sembari menepuk pundak Elang. Kedua pria itupun berpisah. Louis berlalu pergi dari tempat itu sedangkan Elang masuk ke dalam ruang rawat inap Anisa.


...****************...


Beberapa menit kemudian, di tempat terpisah. Setelah menempuh perjalanan dari rumah sakit ke apartemen, kemudian berganti baju. Louis kini sudah sampai di kediaman megah keluarga Davis.


Laki laki itu memarkirkan kendaraannya di halaman luas rumah itu. Berdampingan dengan sebuah mini Cooper berwarna merah milik seseorang yang sangat ia kenal, Rhea.


Louis menghela nafas panjang. Rupanya wanita itu sedang berada di rumah ini. Ah, malas sekali bertemu dengan wanita itu, pikir Louis.


"Louis!" Sapa seorang wanita dewasa disana. Louis pun menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh ke arah wanita itu, Martha.


"Tante," ucap Louis.


Martha mendekat. "Kamu pulang? Luke mana?" tanya wanita itu.


Louis diam. "Dia belum pulang?" tanyanya kemudian.


"Dari kemarin dia nggak pulang. Tante pikir dia sama kamu buat ketemu, siapa, perempuan yang... itu.....?" ucap Martha seolah ingin menyebut nama Anisa tapi lupa siapa namanya.


Louis tersenyum sinis, lalu menggelengkan kepalanya.


"Mungkin dia lagi cari jal*ng di luar sana!" ucap Louis ketus membuat Martha terdiam. Sepertinya ada masalah lagi antara kedua saudara itu.


"Ya udah, aku mau ke atas dulu, Tante. Mau nemuin kakek," ucap Louis.


"Nggak makan dulu? Ada Rhea juga di meja makan," ucap Martha.


Louis tersenyum simpul, lalu menggelengkan kepalanya. "Aku udah kenyang, Tante," ucapnya.


Louis kemudian berbalik badan dan bergegas pergi menuju lantai dua tempat di mana kamar sang kakek berada.


Ceklek...


Pintu kamar pak tua yang tengah berada di atas kursi roda itu terbuka.


"Tuan muda," ucap seorang pelayan wanita yang bertugas merawat Tuan James itu kala melihat kedatangan Louis.


Louis tersenyum. "Kakek udah makan?" tanyanya.

__ADS_1


"Sudah, Tuan," ucap pelayan itu.


"Udah minum obat?"


"Sudah juga, Tuan,"


Louis mengangguk. "Bik, tolong tinggalkan kami sebentar. Saya mau ngobrol berdua sama kakek," ucap Louis.


Sang pelayan mengangguk. "Baik, Tuan," jawabnya. Wanita dengan seragam pelayan itu kemudian bergegas pergi meninggalkan sepasang kakek dan cucunya itu.


Louis mendekati Tuan James. Ia duduk di samping kursi roda sang kakek, berjongkok di sana, lalu menyentuh lembut punggung tangan pria renta dengan kacamata bening bertengger di membingkai netranya itu.


"Selamat pagi, Kek," ucap Louis lembut. Laki laki tua itu menoleh. Ia nampak tersenyum hangat. Sebelah tangannya yang bebas nampak membelai wajah tampan berkulit putih itu.


"Louis," ucapnya.


"Gimana tidurnya semalam? Nyenyak?" tanya pria tampan itu.


Tuan James tersenyum. "Selalu itu yang kau tanyakan tiap pagi pada Kakekmu ini."


"Aku cuma ingin memastikan kalau Kakek cukup istirahat. Nggak banyak pikiran. Dan nggak sedih. Itu sudah sangat cukup buat aku, Kek," jawab Louis.


"Memiliki cucu yang perhatian dan sebaik kamu itu juga sudah sangat cukup membuat Kakek bahagia," ucap Tuan James.


Louis hanya tersenyum.


"Nak, boleh Kakek tanya sesuatu padamu?" tanya pria itu.


"Tanya apa, Kek?" ucap Louis.


"Kau sudah sangat dewasa. Usiamu sudah sangat matang. Apa kai tidak berfikir untuk mencari pendamping?" tanya Tuan James.


Louis diam.


"Sepupumu tinggal hitungan minggu lagi akan segera menikah. Apa kamu tidak ingin menyusul sepertinya?" tanya Tuan James.


Louis tersenyum. "Kakek ingin aku menikah?" tanyanya kemudian.


"Tentu. Asal kau sudah memiliki sosok yang tepat untukmu," ucap Tuan James.


Louis meremas lembut punggung tangan keriput itu.


"Memangnya menurut Kakek, perempuan seperti apa yang tepat untukku?" tanya pria itu.


"Tentu saja yang bisa membuatmu bahagia. Yang bisa mengimbangi langkahmu, menemanimu berjalan, membantumu bangkit saat kau terpuruk, dan membersamaimu dalam kondisi apapun. Kau adalah pemimpinnya, dan dia pendampingmu. Carilah wanita yang bersedia kau bimbing. Yang bersedia kau tuntun bukan kau tuntut. Yang selalu menjadi yang pertama mengusap air mata dan keringatmu, membasuh lukamu, dan menggenggam tanganmu," ucap sang Kakek.


"Yang jelas latar belakangnya? Silsilah keluarganya?" tanya Louis.


Tuan James terkekeh. "Yang penting ayah dan ibunya masih manusia," jawabnya.


Louis tertawa ringan. Ia menatap lembut ke arah sang kakek.


"Ada, Kek. Dia anak manusia seutuhnya," ucap Louis.


"Oh ya? Siapa? Kenapa tidak dikenalkan pada Kakek mu ini?"


Louis tersenyum.


"Dia belum siap, Kek. Biar Betrand selesai dengan pernikahannya dulu. Aku belakangan aja,” ucap Louis. Tuan James hanya terkekeh sembari mengusap usap punggung sang cucu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2