(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
071


__ADS_3

Di tempat terpisah. Di apartemen mewah itu.


Bik Susi nampak duduk di ruang tengah apartemen itu bersama Anisa. Keduanya tengah berbincang santai, membahas tentang Louis dari sudut pandang Bik Susi yang memang sudah cukup lama bekerja dengan laki laki itu.


"Kalau kata Bibik, Nona nggak salah kalau percaya semua ucapan Tuan. Tuan itu setahu Bibik orang baik banget. Selama Bibik kerja disini, Tuan itu nggak pernah macam macam, Non. Ya, walaupun Bibik kurang paham apa yang Tuan lakukan di luar sana, tapi yang namanya orang baik itu kan bisa kelihatan kan, Non, dari sikap dan tindak tanduknya setiap hari."


"Tuan itu sifatnya sebelas dua belas sama Nona. Baik, sopan, lembut, religius. Sama seperti Nona. Makanya Bibik juga kaget waktu Nona bilang Nona dihamili oleh Tuan. Rasanya mustahil, Non," ucap Bik Susi.


"Nona nggak usah khawatir. Nona sudah berada di samping orang yang tepat. Nona ngikut aja apa kata Tuan. Itu pasti yang terbaik untuk Nona."


"Bukankah dulu Nona yang bilang, Nona datang kemari untuk mencari keadilan sekaligus membersihkan nama Nona di mata nenek dan ibu tiri Nona? Tuan pasti akan melakukannya setelah anak ini lahir, Non," ucap Bik Susi sembari mengusap-usap perut wanita itu.


Anisa hanya tersenyum samar.


"Sekarang bagaimana kabarnya nenek dan ibu tiri Nona? Sehat?" tanya Bik Susi.


Anisa tersenyum. "Sehat, Bik. Alhamdulillah."


Bik Susi tersenyum. "Nanti kalau lahiran, pada kesini, nggak?" tanya Bik Susi.


"Rencananya iya, sama teman aku, Bik. Nanti aku kenalin ya, sama Bibik. Nenek pasti akan seneng dan berterima kasih banget, Bibik kan yang selama ini jagain aku," ucap Anisa.


Bik Susi nampak tersenyum.


"Andai Ayah masih hidup, ayah juga pasti akan berterima kasih sama Bibik," ucap Anisa.


Bik Susi diam sejenak. "Ayahnya Nona sudah bahagia di tempatnya yang sekarang," ucapnya kemudian.


Anisa tersenyum manis.


"Oh ya, aku mau kasih lihat foto Ayah. Kata orang orang sih, kurang mirip sama aku. Mungkin aku mirip sama Ibuk, Bik. Kalau menurut Bibik gimana?" tanya Anisa sembari mengeluarkan ponsel miliknya, membukanya, kemudian menuju galeri untuk mencari foto sang ayah yang masih tersimpan di sana.


"Coba mana fotonya?" tanya Bik Susi.


"Nih, bentar, ya..." ucap Anisa sembari menggerakkan tangannya menggeser layar ponsel itu, mencari keberadaan foto sang ayah yang tertumpuk oleh foto-foto lainnya kemudian...


"Nih dia, namanya Pak Herman, Bik. Mirip nggak sama aku?" tanya Anisa sembari menyodorkan ponsel yang menampilkan foto dirinya dengan sang ayah kala ia masih menggunakan seragam SMA itu.


Degghh...


Bik Susi diam tak bergerak. Ia mematung melihat foto seorang pria berkumis tipis dengan penampilan sederhana yang nampak tersenyum di samping Anisa remaja. Dadanya sesak. Matanya mengembun melihat foto pria yang masih sangat ia ingat hingga saat ini.


Bik Susi nampak syok. Membuat Anisa pun kini nampak menyipitkan matanya sembari memiringkan kepalanya melihat reaksi tak biasa dari wanita paruh baya itu.


"Bik?" tanya Anisa.

__ADS_1


Bik Susi tak menjawab.


"Bibik kenapa?" tanya Anisa lagi.


Bik Susi menoleh. Ia menatap sendu dengan mata mengembun ke arah Anisa yang nampak bingung.


"Bibik nggak apa apa?" tanya Anisa lembut sembari menyentuh pundak Bik Susi.


Wanita itu mengembun. Ia meraih punggung tangan wanita itu dengan sorot mata yang begitu sulit diartikan.


"Bik, kenapa?" tanya Anisa lagi.


Bik Susi membuka mulutnya, hendak mengucapkan sesuatu, namun tiba tiba...


Ting... Tong....


Bel apartemen berbunyi. Anisa menoleh ke arah pintu. Sedangkan Bik Susi yang tiba-tiba bereaksi aneh itu tak lepas menatap wajah cantik wanita yang tengah hamil tersebut.


"Siapa, ya?" tanya Anisa yang tak mendapatkan respon dari Bik Susi.


Wanita paruh baya itu menggerakkan tangannya hendak menyentuh pipi Anisa, namun Anisa yang tak menyadari pergerakan itu justru buru buru bangkit dari posisi duduknya.


"Bentar ya, Bik. Aku lihat dulu siapa yang datang," ucap Anisa sembari bangkit dan bergegas pergi dari tempat itu.


Bik Susi tak menjawab. Ia kini nampak meremas dadanya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia terlalu syok. Ia terlalu terkejut.


Sedangkan Anisa kini nampak berjalan mendekati pintu apartemen yang terkunci itu. Ia kemudian mengintip dari sebuah lubang pintu disana, memastikan siapa yang datang siang siang begini.



"Louis?" ucap Anisa. Wanita itu nampak menyipitkan matanya.


"Tumben jam segini pulang," ucap wanita itu sembari membuka kunci apartemen itu.


Ceklek...


Pintu terbuka. Pria dengan pakaian serba panjang itu nampak mengangkat dagunya melihat sosok wanita berperut buncit yang kini berdiri di hadapannya.


"Louis?" ucap Anisa.


Laki laki itu mengangkat satu sudut bibirnya.


"Hai," ucapnya.


Anisa diam. Ia mengamati penampilan laki-laki itu dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Kok jam segini pulang nggak bilang bilang?" tanya Anisa sedikit bingung. Laki laki itu tak menjawab. Anisa menggerakkan kepalanya menoleh ke arah kanan dan kiri seolah menjadi sosok lain yang mungkin ikut dengan laki laki tampan itu.


Pria itu mendekat. Anis menatap wajah tampan yang terlihat berbeda itu. Tangan ramping itu bergerak hendak menyentuh wajah tampan itu, tapi entah mengapa tiba tiba ia mengurungkannya, seolah ada sesuatu yang mencegahnya.


Laki laki itu melirik ke arah tangan ramping itu. Anisa kemudian menarik tangannya turun


"Kamu kenapa?" tanyanya. "Kok bajunya ganti? Ada masalah?"


Laki laki itu tersenyum samar.


"Aku sakit," ucapnya.


Anisa sedikit terkejut. "Kamu sakit?" tanyanya.


Laki laki itu mengangguk.


"Ya, udah. Masuk, yuk!" ucap Anisa tanpa pikir panjang sembari meraih lengan kekar pria itu dan membawanya masuk ke dalam apartemen tersebut.


Pintu di tutup. Laki laki itu mendudukkan tubuhnya di atas sebuah sofa di ruang tamu itu.


"Bik! Bik Susi bikinin minum, dong!" ucap Anisa memanggil sang Bibik.


Bik Susi yang masih sibuk dengan pemikirannya sendiri itu buru-buru bangkit sembari mengusap lelehan air matanya. Ia mendekati ruang tamu. Dilihatnya di sana seorang pria nampak duduk dengan tubuh tersandar di sandaran sofa. Ia tersenyum ke arah wanita itu. Bik Susi terdiam.


"Kamu aja yang bikin, Nis. Biar dia ke apotik buat beli obat. Saya butuh obat," ucap laki laki itu.


Anisa menoleh. Laki laki itu merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan secarik kertas serta beberapa lembar uang merah lalu menyerahkannya pada Bik Susi yang masih diam disana.


"Cepat beliin, ya. Saya udah nggak tahan!" ucap pria itu dengan gaya bicara yang sedikit berbeda.


Bik Susi yang masih setengah kalut dan syok itu nampak menatap Anisa dan pria itu secara bergantian.


Anisa kemudian mengangguk "Ya udah, beliin dulu, ya Bik."


"Apotik nya agak jauh...Nak," ucap Bik Susi pada Anisa dengan kata 'Nak' dibelakangnya.


"Naik taksi aja, Bik. Biar cepat," ucap wanita hamil itu.


Bik Susi kemudian mengangguk. Wanita itupun pamit undur diri.


Anisa menoleh ke arah pria itu. "Tunggu bentar, ya. Aku bikinin minum dulu," ucap Anisa.


Laki laki itu mengangguk tanpa berucap sepatah katapun. Anisa berbalik badan. Ia kemudian berjalan menuju dapur. Tanpa ia sadari, di belakangnya, laki-laki itu nampak menyeringai. Pria berbadan tegap atletis itu kemudian berjalan mendekati pintu utama apartemen yang baru saja dilewati Bik Susi kemudian menguncinya dari dalam.


...

__ADS_1


Bersambung lagi😁


Insyaallah lanjut malam🥰


__ADS_2