(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
106


__ADS_3

Pagi menjelang...


Ooooeeeekkkk..... Oooeeekkk.....


Tangis bayi itu pecah di hari yang masih pagi ini. Laki laki gondrong yang kini tengah menggendong bayi tampan itu nampak kewalahan. Gerhana tak bisa didiamkan. Sedangkan Anisa masih mandi setelah selesai membersihkan rumah.


"Ah elah, diem napa sih lu, bocah? Lu minta ape?" tanya Elang.


Gerhana tak menjawab. Ia terus menangis. (Ya karena emang belum bisa jawab sih🤭😝)


"Mimik...mimik...! Gerhana mau kopi nggak? Ngono, Na?" tanya Anjas.


"Dia nggak doyan kopi, tolol!" sahut Elang yang terus panik.


"Dia nyari emaknya tuh. Panggilin deh!" tambah Bruno.


"Nisaaaa!!! Buruaaaaannnn!!!!" teriak Elang yang justru membuat Gerhana makin lantang mengeluarkan tangisannya. Laki laki itu makin panik. Dibawa ke tempat tongkrongan menemui kawan kawannya sama sekali tak membantu. Ia malah makin pusing dengan celotehan kawan kawannya yang tak jelas itu.


Elang kemudian bergegas untuk pulang, menyerahkan baby Gerhana yang terus menangis itu pada ibunya. Namun tiba-tiba...


Sebuah motor matic berhenti tepat di depan rumah sederhana itu. Dua orang wanita beda usia turun dari kendaraan roda dua tersebut. Ya, itu adalah nenek Ranti dan Tami. Mereka yang selama ini tinggal di rumah Salma, tante Tami selama berada di kota itu nampak datang ke rumah Anisa pagi ini. Suatu hal yang memang selalu keduanya lakukan tiap pagi selama berada di kota ini.


Nenek Ranti melepas helmnya, lalu mendekati bayi mungil yang terus menangis di gendongan Elang itu disusul Tami di belakangnya.


"Ya Ampun... Anak ganteng jam segini kenapa sudah nyanyi nyanyi?" tanya Nenek Ranti sambil mengambil alih baby Gerhana yang masih belum usai dengan tangisannya. Elang pun menyerahkan bayi tampan itu.


"Ibunya kemana, Nak?" tanya Nenek Ranti pada Elang.


"Lagi mandi, Nek," jawab Elang.


"Oalaah...! Kamu nangis nyari mamamu, ya? Udah, cup. Kita cari mama, yuk," ucap Nenek Ranti sambil menimang nimang bayi mungil itu agar berhenti menangis. Elang hanya tersenyum. Ia kemudian menoleh kearah wanita cantik berhijab yang berdiri di hadapannya sambil menenteng sebuah paper bag.

__ADS_1


Ya, itu Tami. Wanita itu terlihat tersenyum menatap baby Gerhana yang masih merengek di gendongan Nenek Ranti.


"Emm...dari...rumah?" tanya Elang kaku pada wanita itu. Tami menoleh, lalu tersenyum dan menunduk.


"Iya, Kak," ucap gadis manis itu. Elang mengangguk sambil menggaruk garuk kepala bagian belakangnya yang tak gatal.


"Oh ya, aku bawain kue buatan Tante aku. Kemarin Alhamdulillah dapat orderan lumayan banyak. Terus, ini ada sisa, jadi aku bawa aja. Buat Kakak, Budhe, sama Nisa. Nih..." ucap Tami sambil menyodorkan paper bag di tangannya itu pada Elang.


"Aduh, repot repot..." ucap Elang sambil menerima paper bag itu.


"Enggak kok, Kak. Nggak ngerepotin," ucap Tami.


"Makasih, ya," kata Elang kemudian.


"Sama sama, Kak," jawab Tami sambil tersenyum.


Elang diam diam melirik wanita berhijab pasmina itu.


Gadis itu mengangguk sambil tersenyum. Keduanya pun lantas masuk ke dalam rumah itu bersama sama.


...****************...


Sementara itu di tempat terpisah. Di sebuah rumah sakit besar di kota itu.


Louis nampak keluar dari kamar mandi ruangan itu dengan kondisi bertelanjang dada. Wajahnya terlihat segar. Bulir-bulir air mandi masih nampak di kulitnya. Pria tampan itu baru saja selesai membersihkan diri setelah semalam menemani sang kakek di rumah sakit itu.


Louis mendekati ranjang pasien. Dilihatnya disana seorang wanita paruh baya nampak duduk di samping ranjang sembari menyuapi makan Tuan James.


Ya, itu Nyonya Martha. Sepertinya wanita itu baru saja tiba di rumah sakit tersebut.


"Tante..." sapa Louis.

__ADS_1


Wanita itu menoleh kemudian tersenyum ke arah Louis.


"Nak," ucapnya.


"Tante udah lama?" tanya Louis sembari meraih satu buah kaos hitam miliknya yang tergeletak di ujung ranjang pasien kemudian mengenakannya.


"Belum, kok. Baru aja," jawab Nyonya Martha. "Kamu udah sarapan?"


"Belum, Tante," jawab Louis.


"Kamu sarapan dulu, Nak! Biar Tante yang gantian jagain Kakek. Kamu pasti juga capek beberapa hari ini di rumah sakit terus," ucap wanita itu.


Louis tersenyum. "Ya udah. Kalau gitu aku tinggal dulu ya, Tante. Aku juga mau jenguk Luke dulu," ucap Louis.


Martha tersenyum lalu mengangguk. "Iya, Nak," jawabnya.


Louis kemudian berlalu pergi meninggalkan kamar tersebut setelah berpamitan dengan sang kakek. Laki-laki itu berjalan dengan tenang menuju ruang ICU tempat dimana sang adik kini tengah dirawat. Kondisi Luke masih belum sepenuhnya pulih. Saudara kembar Louis itu Ini masih dalam perawatan intensif dari tim dokter. Luka-luka yang dialami termasuk luka dalam masih belum sepenuhnya membaik. Laki laki itu masih sering merasakan pusing, sesak nafas, dan sebagainya. Terlebih lagi jika ia tengah dalam kondisi emosi yang tak terkontrol. Membuat Louis maupun tim dokter harus ekstra sabar menghadapi pria yang sebenarnya sangat tampan itu.



Louis terus melangkahkan kakinya menuju ruang ICU. Namun belum juga ia sampai di ruangan itu, tiba-tiba Louis menghentikan langkah kakinya. Ponsel dalam saku celananya bergetar. Laki-laki itu kemudian merogoh saku celana tersebut dan mengeluarkan benda pipih miliknya. Dilihatnya di sana, sebuah panggilan telepon masuk dari nomor Bik Susi.


Laki-laki itu nampak mengernyitkan dahinya. Bik Susi kan sedang ada di apartemennya. Ada apa wanita itu menelponnya pagi-pagi begini? Pikir Louis


Louis menggerakkan tangannya mengusap tombol hijau di layar ponsel itu. Ia kemudian menempelkan benda pipih tersebut di telinga kanannya.


"Halo, Bik. Ada apa?" tanya Louis.


"Tuan....Tuan Betrand nggak ada di kamarnya!"


Degghh....

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2