(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
021


__ADS_3

NB: Kalau ada typo kabarin author, ya. Untuk memperlancar penilaian 🙏


❤️❤️❤️❤️


Malam menjelang di sebuah tempat hiburan malam di kota itu.


Sebuah motor besar berhenti tepat di lahan parkir bangunan dua lantai itu. Langit nampak gelap, pertanda hujan sebentar lagi akan turun. Laki laki berparas tampan dengan wajah bersih dari bulu bulu halus itu nampak melepas helm yang menutupi kepalanya. Louis nampak merapikan rambutnya, lalu turun dari kendaraan roda dua tersebut, mendekati pintu masuk bangunan yang identik dengan alkohol yang nampak dijaga oleh dua orang pria berbadan tegap disana.


Ya, saat ini jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sesuai rencananya siang tadi, malam ini Louis datang ke bar milik Luke guna mencari keberadaan laki laki itu. Namun sayang, malam ini ia berangkat sendiri, lantaran Betrand yang biasanya selalu berada di sampingnya kini tengah pergi bersama tunangannya yang baru saja pulang dari luar negeri, Rhea namanya. Hal itupun membuat Louis mau tak mau harus pergi sendiri malam ini. Ia tak mau mengganggu momen bahagia Betrand dan kekasihnya.



Laki laki dengan jaket berwarna hitam yang membungkus tubuh tegapnya itu nampak berjalan mendekati pintu bar.


"Bos," ucap dua orang penjaga itu sembari membungkukkan tubuhnya seolah memberi hormat pada Louis. Laki laki itu nampak mengangkat satu sudut bibirnya. Pasti mereka mengira jika ia adalah Luke, pikir Louis.


Louis melenggang dengan bebas, masuk ke dalam bangunan yang identik dengan musik kerasnya itu.


Benar saja, baru saja ia menginjakkan kakinya ke dalam bangunan dua lantai tersebut, sebuah alunan musik yang memekakkan telinga terdengar menyambut kedatangannya. Bau alkohol, parfum, asap rokok, tarian erotis para pemabuk, menjadi hal yang lazim ditemui di tempat usaha milik saudara kembarnya itu.


Louis membuang nafas kasar. Ia tak nyaman berada di tempat ini. Louis bukanlah pria pemuja dunia malam seperti ini. Seumur hidupnya ia sangat jarang menyentuh alkohol. Ia juga bukan perokok, pecandu narkoba, penikmat jasa wanita malam, ataupun sejenisnya. Hidupnya sangat sehat. Hari harinya hanya ia habiskan dengan bekerja, berolah raga, dan berkumpul bersama keluarga, terutama kakeknya.


Louis berjalan dengan tenang mendekati meja bartender. Parasnya yang tampan yang mungkin juga dikira si pemilik bar bagi beberapa orang itu membuat tak sedikit wanita wanita nakal melirik sembari menggoda laki laki berusia dua puluh delapan tahun itu.


"Malam, Bos!" sapa seorang laki laki yang merupakan bartender di tempat itu. Louis tak menjawab. Ia hanya tersenyum. Sang bartender yang sepertinya juga tak menyadari jika pria di hadapannya itu adalah Louis pun lantas menyodorkan satu gelas sloki berisi minuman beralkohol di sana.


Louis menerimanya, namun ia hanya memainkan gelas itu tanpa meminumnya.


"Weeh, baru kelihatan, nih! Udah pulang, Bos? Udah puas honeymoon nya?" tanya si bartender lagi.


Louis hanya tersenyum. Dari sini Louis sudah bisa menyimpulkan bahwa rupanya Luke belum pulang kembali ke tanah air. Lalu kemana perginya pria itu? Pikir Louis.


Laki laki itu kemudian menetralkan ekspresinya. "Ada yang nyariin gue nggak selama gue pergi?" tanya Louis seolah ia adalah Luke.


"Ada, Bos! Banyak! Cewek semua. Yang terakhir kemarin, ada cewek satu nyariin Bos. Cantik banget!" ucap si bartender.


"Siapa?" tanya Louis.

__ADS_1


"Saya nggak nanya. Orangnya putih, badannya ramping, rambutnya coklat panjang," ucap bartender itu.


Louis tak menjawab. Ia nampak diam seolah berfikir. Wanita mana lagi itu? Apakah nantinya ia akan hamil juga dan akan ditinggalkan oleh Luke?


Ah, entahlah! Louis pusing dengan ulah saudaranya yang satu itu! Laki laki itu nampak menghela nafas kasar. Ia kemudian meletakkan gelas slokinya di atas meja dan menyodorkannya ke arah sang bartender. Membuat pria dengan tindik di telinga dan dagu itupun menoleh ke arah Louis


"Gue mau ke ruangan gue dulu!" ucap Louis kemudian.


Sang bartender diam sejenak. "Oh, oke!" jawabnya. Louis lantas bangkit dari posisi duduknya. Ia berjalan menaiki tangga bar itu, menuju lantai dua dimana beberapa ruang VVIP dan ruangan pribadi Luke berada di sana.


Ya, Louis memang sudah pernah beberapa kali datang ke tempat itu. Membuatnya sedikit banyak hafal tata letak ruangan ruangan dalam bangunan dua lantai milik saudara kembarnya itu. Louis menyusuri lorong di lantai dua, melewati beberapa pintu ruang VIP dan VVIP, lalu berhenti tepat di sebuah ruangan yang berada di bagian paling ujung lorong tersebut.


Ya, itu adalah ruangan pribadi milik Luke. Louis lantas menyentuh gagang pintu itu lalu membukanya.


Ceklek....


Pintu terbuka. Louis mengangkat satu sudut bibirnya. Pintu itu rupanya tak dikunci.


Laki laki itu kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut. Sebuah ruangan yang dipenuhi dengan berbagai ornamen ornamen bernuansa vulgar, mulai dari lukisan, patung, hingga foto foto tak senonoh lainnya.


Louis meraih sebuah laptop milik Luke lalu membukanya. Lagi lagi, tak ada kunci ataupun password. Membuat laki laki itupun dapat dengan mudah masuk dan mengotak atik benda canggih tersebut. Namun sepertinya sia sia, tak ada hal yang menarik dari dalam laptop itu. Hanya ada beberapa foto dan vidio yang berada di sana, yang kebanyakan adalah foto dan vidio Luke dengan sejumlah wanita yang berbeda.


Louis menggelengkan kepalanya samar lalu menutup benda canggih itu. Isi di dalamnya benar benar menjijikan.


Louis kemudian mengedarkan pandangannya lagi. Kini fokus matanya tertuju pada sebuah laci yang berada di meja kerja itu. Laki laki itu kemudian membukanya.


"Anj*r!!" umpat pria itu. "Jorok banget, bangs*t!"


Dilihatnya disana sebuah kain segitiga pembungkus sebuah benda bagian bawah milik seorang wanita nampak tergeletak mengenaskan disana, tepat di samping sebuah benda panjang yang bentuknya mirip dengan kepunyaan seorang laki laki.


"S**t!" umpat pria itu lagi.


Louis mengangkat benda benda itu menggunakan jari telunjuk dan jempolnya, lalu melemparkannya ke lantai dengan jijiknya. Ia kemudian terdiam. Dilihatnya disana beberapa lembar kertas nampak berserakan di dalam laci. Diraihnya satu lembar kertas itu.


Louis diam. Itu adalah tangkapan layar sebuah percakapan pesan WhatsApp.


"Aku kangen punya kamu, Sayang. Ketemuan, yuk"

__ADS_1


"Aku juga. Gimana kalau aku samperin ke apartemen kamu?"


"Boleh, berangkat besok, ya. Aku jemput di bandara,"


"Iya, Sayang. Tapi aman kan?"


"Aman, dong. Dia lagi sibuk sibuknya, jadi nggak mungkin terbang kesini buat nemuin aku,"


"Kamu nakal ya ternyata. Padahal beberapa bulan lagi kamu mau nikah!"


"Ya gimana, dong. Kamunya bikin candu."


"What the f**k?!!" ucap Louis terlihat shock. Apa apaan ini? Luke juga bermain api dengan calon istri orang?


Louis memejamkan matanya. Ia meremas kertas itu seolah ingin menyalurkan kekesalannya. Louis memukul meja itu dengan tangan yang meremas kertas tersebut. Tatapan matanya menajam. Ia nampak murka. Luke benar benar harus disembuhkan. Ia tak mau saudaranya itu tersesat semakin jauh.


Louis bangkit dari posisi duduknya sembari melempar kertas di tangannya. Ia berjalan keluar dari ruangan Luke sambil meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Betrand. Namun sepertinya laki laki itu sedang sibuk. Ia tak mengangkat panggilan telepon dari Louis.


Louis berdecak kesal. Laki laki itu kemudian mengirimkan pesan suara pada laki laki yang kini tengah bersama kekasihnya itu.


"Gue nggak mau tahu, sebisa mungkin lo cari keberadaan Luke, dan lu bobol semua data di hapenya. Gue tunggu kabar secepatnya!" ucap Louis dengan dada naik turun lantaran kesal. Ia benar benar tak habis pikir dengan ulah Luke yang kian hari kian menjadi jadi.


Laki laki itu berjalan menuruni tangga sembari menunduk memainkan ponselnya, mencoba menghubungi nomor ponsel milik adik kandungnya itu. Namun lagi lagi, tidak diangkat. Panggilan dan pesan Louis diabaikan oleh Luke.


Laki laki itu mengumpat lagi. Ia mengabaikan sapaan dari sang bartender serta penjaga pintu bar itu. Ia lantas menuju lahan parkir. Mendekati sebuah motor besar miliknya sambil memainkan ponselnya.


Nafasnya yang memburu perlahan mulai teratur. Dilihatnya disana sebuah pesan dari Anisa nampak masuk ke dalam ponselnya sejak dua jam lalu. Louis baru menyadarinya sekarang.


Dibukanya pesan itu.


"Maaf, tapi saya bener bener lagi pengen banget. Pengen sate kelinci. Boleh minta tolong beliin, nggak? Soalnya disini nggak ada yang jual. Maaf ngerepotin 🙏" tulisnya.


Louis menghela nafas panjang lalu tersenyum kemudian. Ia melongok ke arah arloji di tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, sedangkan pesan sudah dikirim sejak dua jam yang lalu.


"Udah dapet belum ya dia?" gumam Louis seorang diri. Laki laki itu lantas memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya, lalu mengenakan helmnya dan bergegas pergi dari tempat tersebut menggunakan motor besar kesayangannya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2