(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
073


__ADS_3

Sementara itu di dapur sebuah apartemen mewah yang pintunya sudah dikunci dari dalam. Laki laki dengan pakaian serba panjang itu nampak berjalan memasuki dapur itu. Ia mengangkat dagunya, berdiri di samping meja makan. Melipat kedua lengannya di depan dada sembari menyandarkan tubuhnya di pinggiran meja berbentuk persegi panjang itu.



Laki laki, Luke Edgar Davis, nampak menatap angkuh punggung ramping wanita yang kini tengah berdiri membelakanginya itu. Sorot matanya jelalatan. Mengamati penampilan wanita berperut buncit itu mulai dari kaki, betis, paha bagian bawah yang terekspos, pinggul, pinggang, hingga pundak wanita yang dulu pernah ia jamah secara paksa itu.


Luke menggerakkan lidahnya mengusap area bibir merahnya. Ingatannya melayang-layang mengingat kejadian beberapa bulan silam di sebuah cafe di kota kecil tempat tinggal Anisa. Dimana ia kala itu berhasil merampas mahkota wanita manis tersebut. Menjebol pertahanan wanita polos itu serta menyaksikan tetesan darah suci yang mengalir untuk pertama kalinya dari tubuh wanita muda tersebut.


Oohh... Luke masih ingat betul rasanya. Sensasi yang berbeda dari seorang wanita desa yang masih suci. Belum pernah dijamah manapun selain dirinya.


Luke menelan ludahnya. Louis juga pasti belum pernah mencicipi wanita ini. Ia jadi rindu. Ingin mengulang malam itu. Toh kini apartemen sedang sepi. Louis sedang bekerja. Pembantu itu juga sedang pergi ke apotek. Sekarang tinggal ada dirinya dan Anisa di dalam ruangan luas yang terkunci itu. Akan sangat nikmat rasanya jika ia bisa mengulang kembali adegan malam itu.


Luke berjalan mendekati Anisa yang masih berdiri membelakanginya. Wanita itu terlihat tengah sibuk mengaduk teh hangat dalam cangkir disana. Luke yang kini berdiri di belakang Anisa dalam posisi yang cukup dekat itu kembali menggerakkan lidahnya mengusap bibir merahnya.


Tangan kekar itu kemudian bergerak menyentuh pinggul wanita itu, membuat Anisa pun reflek menjerit kaget. Ia terjingkat dan berbalik badan.


"Louis!" ucap Anisa dengan dada naik turun karena terkejut.


Laki laki itu tersenyum.Ia kemudian menggunakan kedua tangan itu bertumpu pada meja dapur. Mengungkung tubuh Anisa. Wajahnya berhadapan langsung dengan wajah cantik wanita itu dalam posisi yang cukup dekat.


"Kamu cantik banget, Nis," ucap laki laki itu. "Makin cantik dengan perut kamu yang besar ini. Tubuh kamu juga terlihat lebih berisi."


Anisa nyengir. Louis terasa agak aneh hari ini. Sedangkan laki laki itu nampak memiringkan kepalanya. Fokus matanya tertuju pada bibir tipis yang dulu pernah ia mangsa tanpa ampun itu.


"Louis," ucap Anisa.


"Ya," jawab pria itu lembut, namun entah mengapa terasa asing dan aneh bagi Anisa.


"Kamu agak aneh hari ini," ucapnya.


Luke tersenyum. "Aku dingin, Nis," ucapnya pelan kemudian.


Anisa terdiam. Mungkin laki laki ini demam, makanya ia merasa dingin, pikir Anisa yang polos.


Wanita itu kemudian menggerakkan tangannya, menyentuh kening laki laki itu dengan lembut.


"Nggak panas," ucapnya. Luke menyeringai.


"Tunggu bentar lagi, ya. Bik Susi bentar lagi pulang," ucap wanita itu lagi.


Luke mengangkat satu sudut bibirnya. Tangan kekar itu tergerak meraih punggung tangan putih Anisa dan mengecupnya. Ia lantas membimbing tangan wanita itu untuk menyentuh pipinya.


"Aku nggak butuh obat, Sayang. Aku butuh kamu," ucap Luke.


Anisa diam. "Maksudnya?" tanyanya tak paham.

__ADS_1


Luke menggigit bibir bawahnya. Ia kembali membimbing tangan putih itu menyentuh dadanya kemudian menggerak-gerakkannya di sana seolah meraba tubuh penuh tonjolan otot itu.


"Aku kangen, Nis. Aku butuh kamu," ucap Luke sembari menggerakkan wajahnya mendekati wajah Anisa seolah hendak menciumnya. Wanita itu reflek memundurkan wajahnya sembari menggerakkan kedua lengannya menahan dada bidang laki-laki itu, seolah memintanya untuk tidak lebih mendekat lagi padanya.


"Louis, jangan!" ucapnya.


"Apa? Aku kangen, Sayang. Kamu nggak pengen apa, ngulang malam itu sama aku? Mumpung sekarang kita cuma berdua," ucap Luke lagi.


Anisa terdiam. Ia menatap penuh tanya ke arah laki laki itu. Fokus matanya tertuju pada netra tajam Luke. Seolah ia ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada laki-laki itu. Kenapa ia terlihat begitu aneh siang ini.


"Louis, kamu aneh!" ucap Anisa.


Luke terkekeh. Ia menggerakkan tangannya membelai pipi Anisa. Wanita itu berusaha mengelak, namun Luke mulai sedikit memaksa.


"Aku nggak aneh, Cantik. Aku cuma san** aja!" ucap laki laki itu sembari terkekeh. Anisa mematung. Senyuman itu. Tawa iblis itu. Mengingatkannya pada sosok biad*p yang sudah menghancurkan hidupnya. Ya, tawa Louis tak semenjijikkan itu. Tawa laki-laki itu berbeda dengan tawa laki-laki di hadapannya kini.


Anisa nampak menggelengkan kepalanya. Ini bukan Louis. Ini Luke! Iblis berwujud manusia yang sudah menghancurkan masa depannya dan membuangnya begitu saja.


"Kamu bukan Louis!" ucap wanita pelan dengan sorot mata nanar.


Luke terdiam. Ia kemudian mengubah mimik wajahnya yang semula tersenyum kini nampak kembali tertawa.


Prok...Prok...Prok...


"Seratus!" ucapnya.


Anisa mulai gemetar.


"Perempuan tolol yang pintar!" ucap Luke. Anisa yang ketakutan ini perlahan mulai meringsut, bergerak satu langkah demi satu langkah bergeser mengikuti posisi meja dapur itu.


"Gue emang bukan Louis pangeran lo itu, Sayang. Tapi gue Luke. Laki laki yang udah berhasil nyicipin tubuh lo!" ucap Luke sembari menggerakkan tangannya hendak menyentuh dada Anisa, namun wanita itu menepisnya sembari menjerit.


Luke nampak terkekeh.


"Pergi kamu!! Jangan ganggu saya lagi!!" ucap Anisa yang terus bergerak meringsut, namun laki laki itu terus mengikutinya.


"Hahahaha! Gue nggak ganggu lo. Gue cuma kangen sama lo!" ucap laki laki itu sembari kembali menggerakkan tangannya. Kini mencoba menyentuh dagu wanita hamil itu.


"Jangan sentuh saya atau saya akan teriak!!" bentak Anisa lantang yang justru dibalas dengan tawa terbahak-bahak dari Luke.


"Hahahaha!! TOLONG!! WOEE TOLONG! ADA YANG MAU DIPERKOS*! Hahahhah!"


Anisa menangis ketakutan. Adegan ini sama seperti yang dulu pernah ia alami di malam naas itu. Wanita yang sudah bergetar itu kemudian mencoba memberanikan diri. Ia berlari menjauh dari laki-laki itu. Ia mencoba menuju ruang tamu dan hendak mendekati pintu utama agar bisa segera keluar dari tempat terkutuk itu. Namun belum sempat Annisa sampai di ruang tamu, laki-laki itu sudah menarik lengan wanita tersebut dengan kasarnya. Membuat daster lengan pendek yang ia kenakan itu pun koyak akibat tarikan tangan Luke.


Anisa terpelanting hingga berbalik badan ke belakang. Luke mencengkeram lengan Anisa dengan kasarnya.

__ADS_1


"Mau kemana lo?!" tanya Luke dengan seringai tajam mengerikan. Anisa tak menjawab ia mencoba berontak namun tenaganya tak sebanding dengan tenaga Luke yang kuat. Laki-laki itu kemudian mengangkat tubuh Anisa. Membawanya masuk ke dalam kamar utama apartemen itu dengan paksa. Anisa menangis sejadi-jadinya sambil terus berontak. Tangannya bergerak memukuli punggung kokoh pria itu namun tak berefek apapun pada Luke. Laki-laki itu kemudian melempar tubuh ramping berperut buncit itu ke atas ranjang. Ia kemudian naik kesana, meraih kedua lengan Anisa dan menekannya. Ia duduk di kedua belah paha wanita itu, membuat Anisa pun tak bisa berkutik dibuatnya.


"Tolooong.......!!" ucap Anisa pilu.


"Diam!" bentak Luke.


"Luke, tolong jangan! Ampuuunn!!" ucap wanita itu mengiba dengan pilunya. Ia benar-benar ketakutan. Keringatnya bercucuran. Air matanya tumpah tak terbendung. Tubuhnya dingin. Ia benar-benar takut dengan laki-laki yang kini sudah berkuasa atas dirinya itu.


Luke mendekatkan wajahnya pada Anisa. Wanita itu memalingkan wajahnya. Seolah tak mau bertatap muka dengan pria yang belum lama keluar dari penjara itu.


"Ampun? Gua nggak ngapa-ngapain lo, Sayang. Gue cuma kangen sama lo."


Anisa tak menjawab. Ia hanya bisa menangis sambil terus berontak dengan sisa-sisa tenaganya.


"Jangan nangis, dong. Kan kita mau senang-senang,"


"Nggak mau!!" ucap Anisa takut.


"Kenapa? Lu tenang aja. Nggak ada Louis di sini. Dia nggak akan tahu tentang apa yang kita lakukan siang ini. Kita bisa senang-senang di belakang dia, cantik!" ucap pria itu sembari mencoba menyentuh pipi Anisa dengan sebelah tangannya yang menekan lengan Anisa.


Anisa tak menjawab. Ia benar benar ketakutan. dalam hatinya Ia hanya bisa berdoa semoga pertolongan bisa segera datang padanya.


"Lo siap, Nis?" tanya Luke lagi dengan pelan namun mengerikan. Anisa tak mampu menjawab lagi. Ia hanya menggelengkan kepalanya cepat sambil terus menangis.


Luke tertawa. Dengan cepat ia melepaskan lengan Anisa, lalu merobek paksa daster coklat wanita itu. Anisa menjerit, sekuat tenaga ia mencoba mempertahankan kainnya. Seolah tak mengizinkan kulit dada itu terlihat oleh mata liar Luke.


Anisa menangis sejadi-jadinya. Ia mempertahankan kehormatannya yang sudah terlanjur porak poranda itu dari pria yang sama untuk kedua kalinya. Dengan sekuat tenaganya, dalam kondisi hamil, perut besar, tenaga yang sudah tak seberapa, Anisa terus menangis meraung raung, berontak, mencoba untuk melepaskan diri sambil terus berteriak meminta pertolongan, entah pada siapa saja.


Sedangkan Luke makin liar. Ia menyentuh apa saja yang ia inginkan meskipun Anisa terus menghalanginya. Merasa kesal dengan ulah Anisa yang tak mau menurut padanya, laki-laki itu kemudian menampar pipi wanita itu beberapa kali dengan sekuat tenaganya. Membuat Anisa semakin menangis dibuatnya. Pertikaian di atas ranjang itu terus terjadi. Hingga....


.


.


.


Daaghh....


"ANISA!!!


....


Bersambung lagi....


Capek🥴🥴🥴

__ADS_1


__ADS_2