
Beberapa jam kemudian, di tempat yang berbeda.
Di sebuah kost putri tempat tinggal Anisa. Wanita hamil yang tengah menanti keadilan itu kini nampak keluar dari kamar kos tempat tinggalnya. Setelah mengunci pintu kusen itu dari luar, Anisa dengan sebuah dompet kecil di tangannya itu kini nampak berjalan menyusuri jalanan kecil yang menghubungkan tempat kosnya dengan jalan raya komplek perumahan tak terlalu mewah itu dengan langkah santai.
Entah mengapa siang ini tiba tiba ia ingin sekali makan apel. Padahal kemarin Louis sudah membelikan banyak buah buahan untuknya, namun ia merasa tak berselera. Buah buahan itu belum habis. Sebagian bahkan masih belum keluar dari plastiknya. Namun buah apel kesukaannya sudah tidak ada lagi. Membuatnya mau tak mau harus keluar rumah seorang diri untuk membeli buah favoritnya itu.
Siang ini mentari terasa begitu terik. Ditambah lagi saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Anisa yang ngidam ingin makan buah apel itu harus berjalan menuju pangkalan ojek di ujung jalan terlebih dahulu untuk mencari tumpangan yang akan membawanya menuju kios buah terdekat.
"Permisi, Pak," ucap Anisa.
Beberapa tukang ojek yang berada di tempat itu pun menoleh.
"Ya, Neng," ucap salah satu tukang ojek di sana.
"Bisa minta tolong anterin saya ke kios buah terdekat, Pak?" tanya Anisa.
"Oh, bisa! Bisa, Neng. Mari saya antar!" ucap salah seorang tukang ojek yang mungkin sudah berusia kurang lebih empat puluh tahunan itu.
Anisa tersenyum lalu mengangguk. Sang tukang ojek lantas buru buru menyerahkan sebuah helm usang untuk wanita cantik itu. Anisa pun hendak mengenakannya. Namun baru saja si tukang ojek hendak menaiki motor tuanya untuk mengantar Anisa menuju toko buah, tiba tiba...
Tin ... Tin ....
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan pangkalan ojek itu. Membuat Anisa dan beberapa tukang ojek di sana pun menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria tampan berpenampilan rapi nampak turun dari mobil itu. Dengan wajah datar ia berjalan mendekati Anisa yang kini terdiam dengan helm yang masih berada di tangannya.
Ya, itu Louis!
"Mau kemana kamu?" tanya Louis yang kini nampak berdiri di hadapan Anisa.
Anisa diam sejenak menatap penampilan rapi dan gagah dari Louis.
"Mau beli apel," ucap Anisa kemudian dengan jujur dan polosnya.
Louis mengangkat dagunya. "Apel? Bukannya kemarin saya sudah belikan banyak buah buat kamu?"
__ADS_1
Anisa menunduk. "Maaf, tapi apelnya udah habis," ucap wanita hamil itu.
Louis diam sejenak. Ia nampak menghela nafas panjang sembari menatap wanita di hadapannya itu dari atas sampai bawah. Lagi lagi, sangat sederhana.
"Bukannya saya udah pernah bilang sama kamu, kalau kamu butuh apa apa, bilang sama saya. Cukup hubungi nomor saya. Saya yang akan carikan buat kamu. Jadi kamu nggak perlu kelayapan begini! Ingat Anisa, ada bayi yang harus kamu jaga dalam perut kamu!" ucap Louis tegas.
Anisa hanya menunduk. "Maaf," ucap wanita hamil itu.
Louis diam sejenak. Lagi lagi ia menghela nafas panjang.
"Masuk! Saya antar kamu!" ucap Louis.
Anisa melirik sejenak ke arah Louis kemudian kembali menundukkan pandangannya.
"Ayo, masuk!" titah Louis lagi.
Wanita hamil itu kemudian mengangguk. Ia lantas masuk ke dalam mobil Louis setelah meminta maaf pada si tukang ojek lantaran tidak jadi menyewa jasanya.
Louis masuk ke dalam mobilnya. Mendudukkan tubuhnya di kursi kemudi kemudian mulai melajukan kendaraan roda empat berharga fantastis tersebut menyusuri jalan raya mencari kios buah terdekat di sana.
Anisa sejak tadi hanya mengarahkan pandangannya menatap lurus keluar jendela tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sedangkan Louis, laki-laki itu nampak fokus dengan stir mobil miliknya. Sesekali ia melirik ke arah spion dalam kendaraan mewah itu, mencuri pandang ke arah Anisa yang berada di sampingnya. Wajah Anisa nampak sembab. Kedua matanya bengkak. Sepertinya wanita itu benar benar menangis semalaman.
Louis menghela nafas panjang. Seketika ia teringat rekaman pembicaraan melalui sambungan telepon antara Anisa dengan seorang wanita yang baru saja ia dengar tadi. Sebuah rekaman percakapan telepon yang berhasil Betrand dapatkan setelah menyadap ponsel Anisa serta meminta bantuan dari pihak provider nomor ponsel milik wanita itu.
Dalam rekaman perbincangan tersebut, Louis dapat mendengar dengan jelas tangisan pilu wanita di sampingnya itu. Anisa menangis tersedu-sedu menceritakan kisahnya selama di kota ini pada si wanita yang mungkin adalah sahabatnya itu.
Anisa menceritakan tentang kekecewaannya pada Louis yang seolah meragukan anak dalam kandungannya. Anisa merasa tersakiti. Ia seolah dianggap seperti wanita yang mengemis-ngemis pengakuan padahal jelas jelas Luke lah yang sudah merampas kehormatan wanita itu. Wanita itu juga berucap, andai ia punya uang, maka ia tak akan sudi berada di kota ini. Berusaha meyakinkan Louis bahwa anak dalam perutnya itu memanglah benar anak mereka.
Louis seolah tertampar. Ia merasa iba mendengar curahan hati nan pilu dari Anisa yang terlihat begitu polos dan sederhana. Ia jadi merasa bersalah. Sepertinya memang benar, wanita itu adalah wanita baik baik. Ia hanya korban. Ia adalah korban yang sesungguhnya dari perbuatan tak beradab yang Luke lakukan.
Setelah beberapa menit perjalanan, mobil mewah itu nampak menepi. Berhenti di depan sebuah kios tak terlalu luas yang menjajakan aneka buah-buahan segar nan menggoda.
Anisa turun dari kendaraan itu bersama Louis. Laki laki itu lantas mengajak Anisa mendekati lapak si pedagang buah yang merupakan seorang laki laki paruh baya itu.
__ADS_1
"Selamat siang! Cari apa, Nona, Tuan?" tanya sang penjual di sana.
"Saya cari apel, Pak. Tolong bungkusin satu kilo, ya," ucap Louis sambil tersenyum di akhir kalimatnya.
"Oh, baik, Tuan!" ucap si penjual buah. Laki laki
dengan rambut yang mulai memutih itupun lantas menimbang beberapa buah apel disana dan memasukkannya ke dalam kantong kresek berwarna putih.
"Silahkan, Tuan," ucap si penjual buah sembari menyerahkan kantong kresek berisi satu kilo buah apel tersebut yang kemudian dibayar dengan sejumlah uang oleh Louis.
Louis kemudian menoleh ke arah Anisa yang lagi lagi hanya diam. "Kamu mau sesuatu lagi? Mumpung kita lagi keluar," ucap Louis.
Anisa tersenyum samar lalu menggelengkan kepalanya.
Louis diam.
"Mau makan?" tanya Louis.
Anisa menggelengkan kepalanya lagi.
"Udah makan?" tanya Louis.
Anisa menggeleng lagi. Louis menghela nafas panjang.
"Bisa nggak, kalau ditanya itu dijawab. Jangan geleng geleng kepala mulu!" ucap Louis terdengar kesal.
"Maaf," ucap Anisa.
"Jawabnya juga selain maaf!" tambah Louis.
Anisa menunduk. Louis membuang nafas kasar.
"Kita cari makan dulu. Saya yakin kamu pasti belum makan!" ucap laki laki itu yang kemudian menyerahkan satu kresek apel di tangannya. Ia berjalan mengitari mobilnya lalu mendudukkan tubuhnya di kursi kemudi kendaraan roda empat itu di susul Anisa yang ikut mendudukan tubuhnya di samping Louis.
__ADS_1
...----------------...