(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
037


__ADS_3

Pagi menjelang. Ibadah sholat subuh baru saja selesai Anisa tunaikan. Wanita cantik yang kini menempati apartemen milik Louis itu nampak melepas mukena yang melekat di tubuhnya. Dilihatnya peralatan sholat itu beserta sajadah yang tergelar di lantai lalu meletakkannya di atas sebuah sofa single tak jauh dari tempatnya berada.


Anisa meraih ikat rambutnya. Ia lantas melongok menatap ke arah jam dinding. Jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah enam pagi. Cukup lama juga rupanya ia menjalankan serentetan ibadahnya pagi ini. Tak terasa, sinar oren mentari pagi perlahan mulai nampak dari ufuk timur.


Ceklek...


Anisa keluar dari kamar utama apartemen itu.


"Selamat pagi, Nona," sapa seorang wanita paruh baya itu ramah dengan sebuah kemoceng di tangannya.


Anisa tersenyum. Itu Bik Susi. Rupanya wanita yang memang sudah di beri akses bebas keluar masuk apartemen Louis itu sudah datang sejak pukul empat pagi ini.


"Pagi, Bik Susi. Bik Susi udah lama?" tanya Anisa.


Bik Susi tersenyum. "Sudah dari jam tiga tadi, Non," ucap Bik Susi.


Anisa mengangguk. "Bibik rajin sekali. Berangkat sendiri?" tanya Anisa.


"Diantar keponakan, Non. Sesuai perintah Tuan, mulai sekarang saya disuruh datang lebih awal setiap hari kesini. Dan saya juga harus memastikan semua kebutuhan Nona terpenuhi. Tapi maaf, untuk hari Jumat dan Minggu, saya tidak bisa berangkat pagi. Saya harus ke gereja. Saya baru bisa datang kemari setelah pulang dari ibadah," ucap Bik Susi.


Anisa tersenyum lembut. Lagi lagi ia terpesona dengan perhatian yang Louis berikan padanya. Sangat luar biasa.


"Iya, Bik. Saya ngerti. Terima kasih banyak, ya. Maaf, ngerepotin," ucap Anisa.


"Enggak kok, Non. Kan ini sudah tugas saya," ucap Bik Susi.


Anisa kembali tersenyum.


"Oh iya, Nona mau saya buatkan kopi?" tanya Bik Susi.


Anisa tersenyum lagi. "Saya nggak minum kopi, Bik. Saya minum susu. Susunya ada di lemari," ucap Anisa.


"Oh, kalau begitu saya buatkan ya, Non," ucap Bik Susi memberikan penawaran. Anisa mengangguk. Wanita itu lantas undur diri. Sedangkan Anisa memilih untuk duduk di sofa depan televisi itu sembari meraih ponsel yang tergeletak di atas meja rendah tepat di depan sofa itu. Dibukanya ponsel itu. Beberapa pesan masuk. Salah satunya dari Tami sang sahabat serta Louis.


Anisa menyentuh room chatnya dengan Tami. Sebuah pesan balasan dikirim wanita itu sejak semalam namun baru sempat ia buka sekarang. Memang semalam sepasang sahabat itu sempat saling berbalas pesan. Anisa menceritakan tentang dirinya yang diajak pindah ke apartemen oleh Louis. Namun belum selesai mereka berbalas pesan, Anisa sudah mengantuk. Alhasil ia pun meninggalkan ponselnya di ruang TV itu dan bergegas untuk tidur.


Anisa membalas beberapa pesan dari Tami. Setelah selesai, Anisa lantas menyentuh room chatnya dengan Louis. Sebuah pesan dikirim oleh pria itu beberapa jam yang lalu.

__ADS_1


"Salam sepertiga malam," bunyi pesan itu yang dikirim tepat pukul tiga pagi.


Anisa tersenyum. Ia kemudian membalas pesan itu.


"Maaf, telat. Selamat pagi. Udah bangun?" tulis Anisa.


Tak berselang lama, sebuah pesan masuk. Rupanya Louis langsung membalas pesan dari wanita itu tanpa menunda nunda waktu.


"Udah. Tapi hampir kesiangan hari ini," tulis Louis.


"Kenapa?" tanya Anisa pada pesan balasannya.


"Nggak ada yang bangunin," jawab Louis.


"Emang biasanya ada yang bangunin?" balas Anisa.


"Nggak ada😩"


Anisa terkekeh.


"Saya butuh alarm!" tulis Louis.


"Kan hp ada alarmnya 🙄" balas Anisa.


"Berisik!" balas Louis.


"Lah terus maunya gimana?" tanya Anisa.


Louis tak langsung membalas. Lalu...


"Kamu mau bantu jadi alarm nggak😆"


Anisa tersenyum geli.


"Apasih?" balasnya.


"Bangunin saya pas kamu bangun tengah malam," tulis Louis.

__ADS_1


"Buat apa?" tanya Anisa dengan sebuah senyuman yang mulai terbentuk dari bibirnya.


"Biar kita bisa sholat bareng. Berdoa bareng. Bermunajat barang. Dan dapat pahala bareng. Siapa tau kita bisa duduk bareng di surga nanti," tulis Louis.


Anisa memejamkan matanya dengan bibir membentuk lengkungan manis. Ia menutupi wajahnya dengan ponsel di tangannya sembari menjatuhkan tubuhnya ke sandaran sofa. Ah, kenapa jadi salah tingkah begini. Padahal ini hanya pesan. Hanya tulisan.


Anisa menggeliat malu malu. Ia kemudian kembali menuliskan pesan balasan untuk laki laki itu.


"Amin" tulisnya.


"Jadi, mau, ya?" tanya Louis.


Anisa tersipu malu lagi. Ia kembali menutupi wajahnya dengan ponsel itu sembari menggigit bibir bawahnya salah tingkah.


"Boleh..." jawabnya.


Anisa jatuh lagi. Kini ia menjatuhkan tubuhnya ke sisi sofa yang kosong. Membuatnya kini tidur meringkuk di kursi empuk itu.


"Oke! Ditunggu besok!" jawab Louis.


Anisa tak membalas lagi. Ia sudah terlanjur salah tingkah.


Sementara di dapur, Bik Susi nampak meletakkan kemoceng di tangannya itu di atas meja makan. Ia lantas membuka lemari yang berada di atas meja dapur dan meraih sebuah box susu dari dalam sana.


Degghh...


"Susu khusus ibu hamil?" gumamnya seorang diri. Wanita dengan kalung salib di leher itu nampak diam tak bergerak.


Wanita itu hamil? Anak Tuan Louis? Masa iya? Setahunya, Tuan nya itu adalah sosok yang baik hati dan cukup religius. Masa iya ia menghamili anak orang? Pikir Bik Susi.


Sayang sekali. Padahal cantik. Sepertinya juga kalem. Kok bisa, hamil di luar nikah? Pikir wanita itu.


Bik Susi menggelengkan kepalanya. Ia tak mau berfikiran yang tidak tidak. Toh, itu bukan urusannya.


Wanita itupun kemudian mulai kembali bekerja. Membuatkan satu gelas susu untuk ibu hamil yang kini tengah berada di ruang televisi apartemen mewah itu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2