
Plaaaakkk... Plaaaakkk....
"Aaakkhh!!"
Anisa menjerit. Laki laki bertubuh kekar itu menampar kedua belah pipinya berkali kali dengan sekuat tenaga. Darah mengalir dari ujung bibir Anisa. Wanita itu makin lemah. Ia hanya menangis dan terus berontak sebisanya. Daster itu nampak sudah koyak di beberapa bagian. Anisa seolah sudah tak punya kekuatan lagi untuk melawan. Sedangkan Luke masih terus dikuasai nafsu. Ia seolah tak mau berhenti sebelum berhasil menjamah tubuh wanita yang kini telah hamil tua itu.
Aksi memaksa dan bertahan itu terus terjadi diantara keduanya. Hingga...
Daaghh....
Pintu kamar didobrak dengan paksa hingga terbuka. Dua orang pria berdiri di sana dengan wajah garang dan sorot mata tajam menatap ke arah pria yang kini nampak menindih wanita hamil itu.
Anisa dan Luke menoleh.
"Louis!!" panggil Anisa menangis. Lega, akhirnya laki laki itu datang.
Elang dan Louis tak menjawab. Elang yang berdiri di belakang Louis itu nampak murka.
"ANJ*NK!!!" bentak Elang. Tanpa basa basi laki-laki gondrong itu berlari mendekati ranjang di ikuti Louis di belakangnya.
Elang meraih kepala Luke. Menariknya agar menjauh dari Anisa kemudian melemparnya ke lantai hingga membentur tembok. Sedangkan Louis kini mendekati Anisa yang ketakutan. Ia memeluk erat wanita itu. Anisa menangis sejadi jadinya dalam pelukan pria itu. Ia takut. Sangat takut.
Sedangkan di bawah sana. Di lantai kamar luas itu. Elang bergerak begitu brutal. Ia menarik kerah baju Luke. Menghajarnya habis habisan tanpa ampun. Ia sama sekali tak memberi kesempatan untuk Luke membela diri.
"Anj*nk lu, setan! Lu nggak lihat dia lagi hamil, bangs*t!!! Biad*p! Binatang!!!" ucap laki laki itu sambil terus memberikan tinjuan di wajah Luke. Elang bergerak bak orang kesetanan. tangan dan kakinya bergerak menghajar Luke. Telinganya mendengar tangisan Anisa. Namun matanya seolah terbayang bayang sosok ibu yang harus meregang nyawa kala tengah hamil tua akibat sebuah insiden kecelakaan dua puluh tahun lalu.
Ya, ibunya. Wanita yang parasnya sekilas mirip dengan Anisa. Wanita yang dulu harus tewas kala melahirkan adiknya yang kini entah berada di mana. Andai ia tak datang tepat waktu siang ini, mungkin Anisa bisa bernasib sama dengan ibunya. Meregang nyawa dalam kondisi hamil tua. Mereka sama sama hamil besar. Sungguh, Elang murka dengan pria itu. Elang benci dengan laki laki dihadapannya itu.
__ADS_1
Elang terus bergerak brutal. Louis yang melihat adiknya sudah tak berdaya itu kemudian melepaskan pelukannya atas Anisa. Elang hilang kendali. Laki laki itu bahkan mulai mengangkat sebuah guci dan berniat untuk menghantamkannya ke kepala Luke.
Louis bangkit. Ia berlari mendekati Elang yang dikuasai Amarah.
"Lang, jangan!!" ucap Louis menghentikan pergerakan Elang.
"Minggir, bego'...! Dia udah kurang ajar ama Anisa!!" bentak Elang tak mau mengalah.
"Dia bisa mati!!" bentak Louis.
"Gue nggak peduli! Dia emang pantas mati!!" ucap Elang bergerak maju hendak menjatuhkan guci itu di atas kepala Luke yang sudah tak mampu bergerak lagi, namun Louis menghadangnya.
"Dia adik gue!! Lu bisa dipenjara kalau lu bunuh dia!!" ucap Louis.
"Aaaaaaaaaakkkkkhhhhhhhh!!!"
Pyaarrr!!
"Lu adik gua!! Lu saudara gua! Lu bukan binatang, anj*nk! Kenapa lu nggak bisa sekali aja berubah! Dia hamil anak lu!!" bentak pria itu disela sela tangisnya.
"Aaaaaaaaaakkkkkhhhhhhhh!!!"
Bugghh....
Louis meninju wajah adiknya sendiri. Sesakit ini memiliki saudara seperti Luke. Mereka pernah tinggal di satu rahim yang sama. Mereka pernah hidup dari asupan makanan yang sama. Minum dari ASI yang sama. Tumbuh dalam belaian dan dekapan orang orang yang sama. Kenapa watak mereka begitu berbeda? Kenapa saudara itu tak bisa sedikit saja mencoba memperbaiki perangainya.
Louis lelah bertikai terus. Louis lelah dicurangi terus. Louis lelah menanggung kesalahan adiknya terus. Louis lelah. Sangat lelah. Ayolah, Luke! Stop! Tidak bisakah kau sedikit saja melihat saudaramu yang sudah pontang panting menutupi aibmu itu?
Bugghh....
Satu lagi pukulan Louis layangkan pada adiknya. Luke tak merespon. Louis menangis di samping adiknya. Ia memukuli dada dan pundak pria itu. Tenaganya habis. Bukan karena lelah berkelahi, namun lelah dengan mental dan pikirannya.
__ADS_1
Tangisan pria itu terdengar samar samar, berbaur dengan suara tangis Anisa yang sesenggukan.
Elang mundur. Biarkan kedua saudara itu menyelesaikan urusan mereka sendiri. Laki laki gondrong itu kemudian berbalik badan, menoleh ke arah Anisa yang kini nampak bersimpuh di atas lantai dalam kondisi menyedihkan. Bajunya compang camping. Rambutnya acak acakan. Ujung bibirnya mengeluarkan darah. Keringat dan air mata bercucuran. Ia sesenggukan. Sangat menyedihkan.
Elang mendekat. Ia berjongkok di samping Anisa. Wanita itu tak menoleh. Elang melepaskan kemeja kotak kotaknya. Lalu mengenakannya untuk menutupi tubuh Anisa yang sebagian terekspos karena dasternya yang tak utuh lagi.
"Lo aman sekarang. Ada gua," ucap Elang pelan. Tangan itu tanpa sadar tergerak mengusap lelehan air mata di pipi Anisa. Wanita itu makin menangis. Elang menggerakkan tangannya meraih tubuh wanita itu dan memeluknya. Seolah mencoba untuk memberikan ketenangan pada wanita hamil itu.
Tiba tiba...
Degghh...
Elang menunduk, menatap Anisa. Wanita itu tak bergerak. Ia pingsan.
"Nis, Nisa bangun, Nis!" ucap Elang sembari menggerak gerakkan pipi memar itu.
Anisa tak bereaksi.
"Nisa! Nis, bangun!!!" ucap Elang.
Tak ada sahutan.
"Louis! Louis, Nisa kenapa?!!" ucap laki laki itu mulai panik. Louis yang masih berada di samping Luke itupun menoleh.
"Nis, bangun!!!" ucap Elang begitu khawatir. Matanya bahkan nampak mengembun. Louis setengah merangkak. Ia mendekati sang kekasih yang tak sadarkan diri dalam pelukan Elang.
"Sayang, bangun! Nisa kamu kenapa?" ucap Louis sambil menepuk nepuk pipi Anisa.
Wanita itu sama sekali tak bergerak.
"Kita bawa ke rumah sakit!" ucap Louis. Elang mengangguk. Louis mengangkat tubuh ramping itu, lalu membawanya pergi meninggalkan tempat tersebut diikuti Elang dibelakangnya.
__ADS_1
...----------------...