
Siang menjelang, di apartemen mewah milik Louis. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
Tok... Tok... Tok...
Pintu apartemen diketuk. Anisa yang asyik dengan ponselnya di ruang tengah apartemen itupun lantas mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Mungkin itu Bik Susi.
Wanita hamil itu lantas meletakkan ponselnya. Ia berjalan mendekati pintu utama hunian mewah itu dan membukanya.
Ceklek...
Pintu terbuka.
"Selamat siang, Non!" sapa Bik Susi yang berdiri di balik pintu itu dengan ramah. Anisa dengan kemeja panjang bermotif kotak kotak dan celana pendek selutut itu nampak tersenyum.
"Siang, Bik!" jawab wanita hamil itu. Anisa lantas menggeser posisi tubuhnya, membiarkan Bik Susi masuk ke dalam apartemen mewah itu diikuti seorang pemuda berkalung salih, berambut gondrong, dan jambang tipis yang nampak membawa beberapa kantong belanjaan di tangannya.
Anisa tersenyum ke arah pria itu. Sedangkan laki laki itu hanya diam. Ia menatap penampilan Anisa dari atas sampai bawah lalu tersenyum samar nyaris tak terlihat.
"Budhe, ini ditaruh dimana? Aku udah kesiangan ini!" ucap laki laki itu, Elang, pada Bik Susi.
"Taruh di dapur aja, kayak biasanya!" jawab Bik Susi. Elang pun beranjak pergi. Ia yang memang sudah terbiasa antar jemput dan membawakan barang barang belanjaan budhenya itupun lantas berjalan menuju dapur apartemen itu dan mengatakan beberapa kantong kresek besar yang berada di tangannya itu di atas meja dapur.
"Itu siapa, Bik?" tanya Anisa.
Bik Susi tersenyum. "Oh, itu Elang, Non. Keponakan Bibik," ucap Bik Susi.
Anisa membulatkan bibirnya sambil mengangguk. Elang keluar dari dapur apartemen itu mendekati Bik Susi dan Anisa. Wanita itu tersenyum lagi. Elang terlihat cuek tanpa senyuman. Mungkin memang sifatnya begitu.
"Elang, kenalin, ini Nona Anisa. Non Anisa, ini Elang, keponakan Bibik," ucap Bik Susi.
Anisa kembali tersenyum manis. Ia mengulurkan tangannya. "Nisa," ucapnya.
Elang diam menatap telapak tangan wanita itu. Lagi lagi, majikan budhenya sangat baik. Kemarin Louis tanpa ragu mengajaknya berjabat tangan, sekarang wanita ini. Mana lumayan cantik, lagi. Batin Elang.
Laki laki itu tersenyum samar, lalu menjabat uluran tangan wanita itu. "Elang," jawabnya.
Elang melepaskan telapak tangan Anisa. Wanita itu kemudian menoleh ke arah Bik Susi.
"Aku berangkat dulu, Budhe. Udah kesiangan!" ucap Elang.
__ADS_1
Bik Susi mengangguk. "Iya! Hati hati di jalan, jangan ngebut. Pulang kuliah langsung pulang. Nggak usah minum yang aneh aneh. Jangan lupa nanti malam jemput Budhe!" ucap wanita paruh baya dengan sebagian rambut yang mulai memutih itu.
"Iya ,iya!" jawab Elang sembari mencium punggung tangan sang Budhe sebagai tanda hormat kepada yang lebih tua. Laki laki berpenampilan preman itu lantas berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
Anisa hanya tersenyum.
"Maaf, Non. Bibik kalau sama Elang memang suka cerewet begitu!" ucap Bik Susi.
"Nggak apa apa, Bik. Wajar kan orang tua begitu," ucap Anisa.
Bik Susi tersenyum lembut. "Bibik itu sayang banget sama Elang, Non. Dia keluarga Bibik satu satunya," ucap Bik Susi.
"Oh ya?" tanya Anisa.
"Iya, Non. Bapaknya Elang sama suaminya Bibik meninggal karena kecelakaan waktu Elang masih bayi. Sedangkan Ibunya menyusul beberapa tahun setelahnya. Sejak kecil, dia di rawat sama Bibik. Bibik ya kerjanya cuma serabutan begini. Sedangkan Elang, dari kecil udah terbiasa cari duit sendiri. Ngamen lah, jualan koran, asongan. Ya, itung itung bantu biayain sekolah sama kuliahnya sendiri. Sampai sekarang dia kuliah nyambi kerja di bengkel temannya. Walaupun agak bandel dan kadang bikin panas ubun ubun, tapi dia anak baik, Non. Baik banget. Cuma ya kadang gitu, bikin ngelus dada. Berantem lah, balapan lah, kadang pulang subuh baunya...eemmgghhh, rasanya pengen Bibik celupin ke kolam ikan itu anak! Mabok! Ngikutin temen temennya!" ucap Bik Susi.
Anisa hanya terkekeh.
"Eh, maaf, Non. Bibik malah jadi curhat. Non Anisa mau makan apa siang ini? Tadi Bibik udah belanja lengkap," ucap Bik Susi.
"Terserah, Bik. Apa aja yang penting enak," ucap Anisa.
Bik Susi tersenyum. "Ya sudah, kalau gitu Bibik masakin dulu ya, Non," ucap Bik Susi.
Ceklek...
Tok... Tok... Tok...
Pintu utama apartemen itu diketuk lagi dari luar. Anisa diam sejenak. Siapa lagi yang datang? Pikirnya.
Anisa lantas berjalan menuju pintu utama hunian mewah itu, meraih handle pintu tersebut lalu membukanya.
Ceklek...
Pintu terbuka.
"Louis?" ucap Anisa kala melihat sesosok pria tampan yang sangat ia kenal itu sudah berdiri di depan pintu apartemen tersebut sembari membawa sebuah boneka berwarna merah muda disana. Penampilannya rapi seperti biasanya. Namun wajahnya terlihat lelah. Senyumannya juga tak sumringah biasanya.
"Hai," ucap Louis.
__ADS_1
"Kamu kok siang siang di sini?" tanya Anisa.
Laki laki itu tak menjawab. Ia hanya tersenyum sembari menyerahkan sebuah boneka berwarna merah muda di tangannya itu pada Anisa. Wanita itupun menerimanya. Louis masuk ke dalam apartemen miliknya lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang ruang tamu itu.
Anisa menutup pintu apartemen itu. Ia lantas mendudukkan tubuhnya di samping Louis yang kini nampak melepaskan jasnya dan melonggarkan dasinya tersebut. Ditatapnya lembut pria tampan yang terlihat tidak baik baik saja itu.
"Ada apa?" tanya Anisa.
Louis menoleh ke arah Anisa. Ia tak menjawab. Ia hanya tersenyum lembut sembari menggelengkan kepalanya.
"Tadi pagi kamu bilang katanya hari ini sibuk. Kok jam segini udah sampai sini?" tanya Anisa.
"Jangan tanya tanya dulu ya, Nis. Saya butuh ketenangan," ucap laki laki itu.
Anisa menunduk. "Maaf," jawabnya.
Louis tak menjawab. Perdebatannya dengan Betrand pagi ini berhasil merusak mood seorang Louis Edgar Davis. Betrand bahkan tak berada di kantor saat ini. Entah kemana perginya pria itu. Hal itupun berhasil membuat semangat kerja Louis menurun. Alhasil ia pun memilih untuk pergi meninggalkan kantor dan pergi menemui Anisa. Barang kali di samping wanita itu ia bisa sedikit lebih tenang.
"Nis," ucap Louis.
Anisa mengangkat kepalanya. "Ya," jawabnya.
"Saya capek, Nis," ucapnya.
Anisa diam. Menunggu Louis selesai dengan ucapannya.
"Saya boleh nggak, pegang perut kamu lagi?" tanya laki laki itu kemudian.
Anisa diam sejenak. Menatap iba pria yang terlihat sangat lelah itu. Sepertinya tekanan pekerjaan menjadi faktor utama yang membuat Louis terlihat berbeda siang ini.
Anisa tersenyum. Ia lantas mengangguk. "Boleh," jawabnya.
Louis tersenyum lagi. "Makasih."
Anisa lantas meletakkan boneka di tangannya itu di atas sebuah sofa single disana. Ia kemudian mulai menegakkan posisi duduknya. Louis meletakkan kepalanya di pangkuan Anisa dengan posisi wajah menatap ke arah perut wanita itu. Louis meringsut. Membenamkan wajah tampan itu di perut Anisa sembari menghirup aroma tubuh yang khas dari wanita hamil tersebut. Tangan kekar itu bahkan tergerak memeluk pinggang Anisa.
Wanita itu nampak menegang. Jantungnya berdetak lebih cepat. Posisi keduanya terasa cukup intim bagi Anisa. Wanita itu menatap paras tampan dalam pangkuannya. Louis nampak memejamkan matanya. Ia terlihat sangat lelah. Namun wajahnya yang tampan terlihat cukup tenang. Tak berselang lama, dengkuran halus terdengar dari mulut pria itu. Louis tertidur di pangkuan Anisa. Seutas senyuman samar samar terbentuk dari bibir wanita hamil tersebut. Satu tangan rampingnya terangkat. Dibelainya rambut itu. Diusap usapnya pipi pria dengan jambang yang tak terlihat itu dengan begitu lembut. Kedamaian ia rasakan kala itu. Sama halnya dengan kenyamanan yang Louis rasakan hingga membuatnya mampu terlelap dengan cepat di pangkuan wanita cantik itu.
Anisa memiringkan kepalanya menikmati pemandangan indah di pangkuannya.
"Sehatkan selalu calon ayah dari anakku ini, Tuhan," batin Anisa berucap.
__ADS_1