
Tok... Tok... Tok...
Pintu sebuah kamar kost diketuk dari luar dengan tidak sabar. Seorang laki laki tampan dengan wajah bengis nampak berdiri di depan salah satu pintu kost putri sepuluh pintu yang berada di kota itu. Di sekelilingnya, suasana terlihat sepi. Sebagian besar penghuni kost tak berada di tempat. Benar benar situasi yang mendukung untuk berbuat hal hal yang tidak baik.
Tok... Tok... Tok...
Pintu diketuk lagi dengan lebih kuat.
"Iya..." sahut seorang wanita dari dalam sana.
Ceklek...
Pintu terbuka selang beberapa detik kemudian. Seorang wanita berbadan ramping dan mungil dengan kulit sawo matang dan rambut sebahu yang terikat nampak muncul dari balik pintu kamar kost itu.
Degghh...
Wanita itu, Aya, sang pelayan di keluarga Davis nampak kaget setengah mati. Dilihatnya disana, Luke nampak berdiri di depan pintu kamar kosnya. Laki laki dengan tubuh tinggi tegap.bak binaragawan itu nampak memiringkan kepalanya, menatap tajam nan liar ke arah gadis muda yang mungkin masih berusia dua puluh tiga tahunan itu.
"*...*...*...tu...tu...tuan..." ucap Aya begitu gugup. Ia seolah sudah bisa menebak maksud kedatangan pria itu ke tempat kostnya.
Luke mengangkat dagunya. Aya meremas gagang pintu itu. Merasa terancam serta mencium gelagat tak baik dari pria dihadapannya, wanita itupun dengan segala kecepatan yang ia punya menggerakkan tangannya, berusaha menutup pintu itu agar Luke tidak bisa masuk ke dalam sana. Namun sayang, reflek laki-laki itu juga tak kalah cepat. Luke menahan pintu itu dengan kekuatan tangannya yang kekar. Aya makin ketakutan. Ia berusaha mendorong pintu itu namun tenaganya tak mampu mengimbangi tenaga Luke yang gagah.
Aya makin takut. Luke menyeringai. Dengan satu gerakan, laki laki itu mendorong pintu tersebut dengan kekuatannya yang besar. Tubuh Aya yang mungil pun tak mampu menahannya. Wanita itu terpental. Ia jatuh terduduk di lantai kost yang tak seberapa luas itu. Luke menampakkan senyuman iblisnya. Ia membanting pintu itu dengan kasarnya hingga tertutup rapat. Pria itu bahkan mengunci pintu tersebut dari dalam, mencabut kuncinya, dan memasukkannya ke dalam saku celananya.
Aya makin ketakutan. Ia dengan segera bangkit dari posisinya. Tubuhnya gemetar. Ia perlahan bergerak mundur, entah kemana saja, yang penting menjauh dari laki laki itu.
"Tu, tuan..." ucap Aya lagi seolah tak mampu berkata kata.
Luke menyeringai. Ia kemudian bergerak cepat mendekati Aya. Wanita itu menjerit sambil mencoba berlari, namun belum sempat ia mengayunkan kakinya, laki laki itu sudah menarik tubuh mungil itu dan melemparnya ke dinding. Ia kemudian mengungkung tubuh ramping itu, membuat Aya tak bisa bergerak kemana mana. Wanita itu mulai menangis. Luke terlihat sangat mengerikan. Ia seperti iblis yang buas dan lapar, seolah siap untuk memangsa Aya yang lemah saat itu juga.
Luke memiringkan kepalanya. Menatap paras gadis itu dengan lapar, buas, mungkin juga naffsu. Satu tangannya tergerak membelai wajah yang kini nampak pucat dan berkeringat itu.
"Jadi ini, perempuan cantik yang udah lancang ngambil laptop gue dari dalam kamar?" tanya Luke dengan suara pelan namun mengerikan.
Aya menangis. "Am..am..am..pun...Tuan..." ucapnya begitu takut.
Luke tersenyum mengerikan. "Maksud lo apa, Sayang? Hem...? Maksud lo apa ngambil laptop gue? Mau ngapain? Ada masalah apa lo ama gue, hemm?" tanyanya.
Aya tak mampu menjawab. Ia benar-benar lemas dan takut. Andai ia punya ilmu untuk menghilang, maka sudah pasti ia akan menggunakan ilmu itu kali ini.
"Lo yang ngambil laptop gue tanpa izin. Dan lo juga kan yang bikin postingan di tweeter gue? Maksud lo apa? Lo mau caper? Atau apa?" tanya Luke tanpa mengubah posisinya. Tangannya terus bergerak, bermain main di wajah manis yang kini nampak basah karena air mata itu. Aya memalingkan wajahnya dengan mata terpejam, seolah tak berani menatap Luke yang menakutkan.
"Lo kalau mau caper nggak perlu kayak gini, Sayang. Cukup ngangk*ng di depan gue, maka gue akan dengan senang hati make lo!" ucap Luke yang terdengar menakutkan di telinga Aya. Laki laki itu kemudian menarik tubuh Aya dan melemparnya ke atas kasur busa disana. Aya memekik. Luke dengan cepat melepas kaosnya. Aya berusaha lari, namun Luke lagi lagi berhasil menangkapnya dan kembali melemparnya. Aya menangis. Luke mulai menindih tubuh wanita itu. Aya mencoba berteriak. Luke kemudian membungkam mulut Aya dengan satu telapak tangannya yang besar. Ia mengikis jarak dengan wanita itu. Tubuh tegapya menindih hampir seluruh tubuh Aya, membuat wanita itupun kesulitan untuk bergerak.
__ADS_1
"Sssttt..." ucapnya dengan wajah yang begitu dekat.
Aya menangis. Air matanya luruh. "Ini yang lo mau, Sayang?" tanyanya.
Aya menggelengkan kepalanya cepat.
"Bilang dari awal. Gue turutin...." ucap Luke.
Aya menggelengkan kepalanya lagi. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri seolah ingin lepas dari bekapan tangan Luke. Ia ingin mengatakan sesuatu.
Luke melepaskan bekapannya. Ia kemudian mencengkeram dagu wanita itu dengan kasarnya.
"Saya cuma di suruh, Tuan. Ampun...Hiks..." ucap Aya kemudian
Luke mengubah sorot mata dan mimik wajahnya yang semula liar kini menjadi tegang. Sorot matanya menajam. Menatap ke arah Aya yang ketakutan di bawahnya.
"Disuruh?" tanyanya.
Aya mengangguk.
"Siapa?" tanya laki laki itu kemudian.
Aya masih sesenggukan. Ia kemudian menoleh ke arah pintu kamar mandi. Luke yang tak paham pun kemudian ikut menoleh ke sana. Lalu tiba tiba..
Ceklek....
Luke terkejut. Ia nampak melotot. Belum selesai pria itu dengan keterkejutannya, lalu...
Ceklek....
Pintu utama kamar kost yang tadi sempat ia kunci kini terbuka. Empat orang pria dengan topeng serupa masuk ke dalam sana. Total ada tujuh orang disana, semua nampak mengepung Luke yang bertelanjang dada. Menatap tajam ke arah pria itu seolah sudah bersiap untuk menghabisi kembaran Luke itu.
Luke menoleh ke arah Aya yang mulai reda tangisannya itu.
"Lu jebak gua?" tanyanya dingin.
"Maaf, Tuan," ucap wanita itu.
Luke murka.
"Anj*nk lu!!" ucap Luke sembari mengangkat tangannya hendak memukul wanita di bawahnya. Namun belum sempat tangan itu mendarat di pipi Aya, salah seorang pria disana dengan cepat melayangkan tendangan kaki ke tubuh Luke. Membuat pria itupun kini terguling bebas disana.
Aya yang berhasil lepas dari Luke pun segera berlari dari sana. Ia bersembunyi di pojokan ruangan. Sedangkan ketujuh pria yang merupakan Elang dan kawan kawannya itupun kini nampak mendekat, mengepung Luke yang hanya seorang diri.
Luke bangkit. Ia menatap benci ke arah para manusia bertopeng itu.
__ADS_1
"Siapa lu semua?!!" tanya Luke.
Tak ada yang menjawab. Satu pria yang tadi sempat menendang tubuh Luke hingga terguling itu kini berdiri paling depan. Pria dengan rambut yang terlihat gondrong itu, Elang, nampak menyeringai di balik topeng kain berwarna hitam yang ia kenakan.
Tanpa basa basi, tanpa berucap sepatah katapun, laki laki itu mengangkat tangannya, memberi isyarat kawan kawannya untuk menghajar pria yang kini terpojok itu.
Dan, terjadilah. Luke menjadi santapan empuk kawan kawan Elang. Enam orang pria itu menghajar Luke habis-habisan. Sedangkan ia memilih untuk mundur. Ia duduk di tepi ranjang dengan santainya sembari menikmati sebatang rokok di tangannya. Ia menatap ke arah sekumpulan rekannya yang kini main keroyokan memberi pelajaran untuk kembaran Louis itu.
Ya, semua berjalan sesuai rencana. Lagi lagi, ini adalah bagian dari serentetan skenario yang Elang susun. Ia sudah memperhitungkan semuanya kala ia meminta bantuan pada Aya. Tentang gerak apa yang harus Aya lakukan, tentang CCTV, dan ucapan demi ucapan yang harus wanita itu ucapkan. Elang rela memberikan semua gajinya minggu ini ditambah dengan uang hasil patungan dari kawan kawannya pada Aya agar wanita itu mau bekerja sama dengan mereka. Elang menjamin keselamatan Aya, serta pekerjaannya. Semua sudah Elang pikirkan matang matang demi rencananya.
Ya, lagi lagi, Elang belum puas. Ia sudah berhasil membuat Betrand yang pernah ikut serta merendahkan Anisa itu frustasi. Ia sudah berhasil merusak nama baik Rhea si biang kerok yang angkuh. Maka, kini adalah giliran Luke. Iblis berwujud manusia yang memiliki andil besar dalam merusak hidup Anisa. Menghamili, menelantarkan, tidak bertanggung jawab, bahkan berupaya memperk*sa Anisa untuk yang kedua kalinya.
Apakah dengan membuat Luke dan Rhea bertengkar itu sudah cukup untuk membalas luka yang selama ini Anisa tanggung sendiri? Oh, tidak! Tuhan menciptakan laki laki dengan otot dan tenaga kuat itu untuk adu jotos. Untuk menghadapi manusia manusia demikian, licik itu harus, tapi adu jotos jangan sampai ketinggalan. Laki laki itu wajib untuk diberi pelajaran sebelum mencapai akhir dari drama balas dendam yang Elang susun.
Ini adalah adegan terakhir sebelum *******. Setelah ini, maka puncak pembalasan dendam akan tiba, dan semua akan rata di tangan Elang dan kawan kawannya.
Bugghh....
Luke terpental jatuh ke lantai setelah mendapatkan beberapa bogem mentah dari para kawan kawan Elang. Laki laki itu tak berdaya. Ia tak memiliki cukup kekuatan untuk melawan tujuh orang pria yang postur tubuhnya tak jauh beda dengan dirinya itu.
Enam kawan Elang selesai dengan tugasnya. Elang yang sejak tadi masih diam, duduk di tepi kasur busa itu kini nampak membuang puntung rokok yang sejak tadi dinikmatinya. Ia bangkit, berjalan dengan tenang mendekati Luke yang sudah babak belur.
Laki laki itu tersenyum smirk di balik topengnya. Tangannya terangkat rendah, ia menggerakkan jari jari tangannya seolah meminta Luke untuk maju.
Luke menatap bengis pria tersebut. Dengan sisa sisa tenaga yang ia punya, Luke pun maju hendak menyerang Elang. Perkelahian pun kembali terjadi, kini antara Luke yang sudah mulai kehabisan tenaga, dengan Elang yang masih dalam performa primanya.
Bayang bayang tangisan Anisa, peleceh*n kedua yang dulu sempat Luke coba lakukan pada Anisa, perjuangan wanita itu melahirkan buah hatinya, cerita pilu perjuangan wanita itu mencari keadilan di ibu kota yang keras ini, semua seolah membakar dada Elang. Menjadi bahan bakar yang membuatnya makin bringas. Makin menggila. Makin memburu. Jika dituruti, mungkin Luke bisa saja mati hari ini di tangan pria itu.
Darah muncrat kemana mana. Luke babak belur di tangan Elang. Laki laki itu terlempar lagi. Kamar kost itu sudah sangat berantakan, bahkan melebihi kapal pecah.
Elang mengangkat dagunya menatap ke arah Luke yang tak bergerak. Namun ia tahu, laki laki itu belum mati. Kesadarannya masih ada. Ia pasti masih bisa melihat dan mendengar suara suara di sekitarnya meskipun sepertinya sudah tak mampu melakukan pergerakan.
Elang menoleh ke arah kawan kawannya yang berada di belakang, ia mengisyaratkan untuk menggotong dan mengikat tubuh itu.
Kawan kawan Elang pun mendekati Luke.
"Sepertinya dia pingsan, Bang!" ucap seorang kawan disana sambil memberi kode mata ke arah Elang.
Laki laki gondrong itu tersenyum smirk. Ia tahu, apa yang kawannya ucapkan itu tidak benar. Luke masih sadar. Ia masih bisa mendengar.
Elang kemudian merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah ponsel disana dan pura pura menelfon seseorang.
"Halo, Nona Rhea. Semua berjalan sesuai rencana. Dia sudah mati!" ucap Elang.
"Baik, Nona. Sesuai perintah anda!" tambahnya kemudian.
__ADS_1
Elang kembali memberikan kode nya. Memerintahkan pada kawan kawannya untuk membawa tubuh Luke masuk ke dalam mobil yang sudah ia siapkan di depan kos kosan Aya. Rekan rekan Elang pun menurut. Satu orang membuka pintu, sedangkan lima lainnya mengangkat tubuh pria itu. Namun saat hendak diangkat dan dibawa ke dalam mobil, laki laki itu berontak. Ia menghajar lagi kawan kawan Elang itu dengan sisa tenaganya. Luke kemudian kabur dengan bersusah payah. Berjalan menuju mobilnya dan kabur.
Elang dan kawan kawan hanya diam. Mereka tak berniat untuk mengejar Luke. Biarkan saja dia pergi. Setelah ini, puncak drama akan segera dimulai.