(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
086


__ADS_3

Betrand & Rhea




Mobil mewah dengan harga fantastis itu berhenti di bawah sebuah pohon yang cukup rindang di pinggir jalan sepi itu. Laki laki yang harusnya besok pagi menjadi seorang pengantin itu kemudian mematikan mesin mobilnya. Dadanya berdebar hebat. Berbagai perasaan berkecamuk di hatinya. Dilihatnya di depan sana. Di sebuah mini Cooper berwarna merah yang sangat ia kenal, seorang laki laki menggerakkan tubuhnya maju mundur. Ia sudah tak mengenakan pakaian bawahnya. Ia nampak memompa seorang wanita yang terlentang di atas jok belakang kendaraan mahal itu. Tak nampak siapa wanita itu. Hanya kaki yang mengangkang dan terangkat tinggilah yang terlihat disana.


Betrand memejamkan matanya. Sekuat tenaga ia mencoba untuk tetap berfikir positif. Laki laki di depan itu adalah Luke. Mobil di depan itu adalah mobil Rhea. Pesan yang baru saja ia dapat mengatakan Rhea berada di tempat itu bersama dengan pria selingkuhannya.


Jadi, apakah wanita yang kini tengah melakukan penyatuan dengan Luke itu adalah Rhea?


Rhea benar benar berselingkuh? Dengan Luke? Sepupunya sendiri? Benarkah? Setega itukah mereka?


Betrand menggenggam erat kemudinya. Ia menunduk. Lagi lagi, ia mencoba untuk tetap berfikir positif. Ia memilih untuk menunggu sepasang laki laki itu selesai dengan aktifitas terkutuk mereka.


"Aaakkhh....!!" Suara itu lolos dari bibir Luke. Sepertinya pria itu telah mencapai puncak kenikmatannya. Betrand menatap tajam lurus ke depan. Luke sepertinya belum menyadari keberadaan mobil Betrand disana. Saudara kembar Louis itu kemudian memasukkan kepalanya ke dalam mobil. Sepertinya ia tengah melakukan adegan terakhir sebelum menyudahi aktivitas terlarangnya.


Betrand makin berdebar. Perasaannya makin tak menentu. Terlebih kala tangan lentik itu nampak bergerak mengusap punggung dan merembet ke pan**t Luke, membuat Betrand entah mengapa makin panas melihat jari jari lentik dengan kuku kuku yang nampak indah itu.


Laki laki itu kembali memejamkan matanya. Lagi dan lagi, mencoba tetap dan tetap berfikir positif. Hingga...


Luke menyudahi aksinya. Ia yang kini tak mengenakan pakaian bawah itu nampak berjalan mundur, ia kemudian menuju ke depan mini Cooper untuk memunguti celananya. Dan....


.


.


.


.


Duuuaaarrrr.....


Bak tersambar petir di siang bolong. Wanita cantik dengan penampilan acak acakan itu nampak keluar dari mobil mahal itu. Rambutnya berantakan. Pakaiannya compang camping. Ia terlihat ngos-ngosan. Wanita itu nampak menggerakkan tangannya, mengusap bagian intinya yang basah dibarengi sebuah senyuman kenikmatan di bibirnya.


Betrand kembali, lagi, dan lagi memejamkan matanya. Ia memalingkan wajahnya. Sakiit...sakiiit sekali. Itulah wanita yang selalu ia agung-agungkan. Itulah wanita yang selalu ia sanjung. Ia junjung tinggi. Ia banggakan. Ia puja puja. Wanita sempurnanya. Wanita idamannya. Bidadarinya. Malaikatnya. Wanita berkelas dengan segudang kebaikan, keunggulan, kesempurnaan yang melekat di dirinya.


Lihatlah sekarang...!!


Wanita itu tersenyum. Bahkan tertawa. Ia bahagia dengan sebuah kepuasan yang ia dapat dari laki laki yang tak lain dan tak bukan adalah sepupu dari calon suaminya sendiri. Sepupu dari laki laki yang esok pagi akan meminangnya dan menjadikannya istri yang sah dimata hukum negara dan Tuhan.


Lihatlah...! Tak ada kesedihan di wajah Rhea. Yang ada justru senyuman nikmat seolah telah berhasil mencicipi indahnya surga.


Dada pria itu begitu sesak. Bahkan untuk bernafas pun seolah begitu sulit. Ia mencengkeram kemudinya. Ia terus memalingkan wajahnya. Tangisnya pecah, namun tak terdengar. Air mata juga tak mengalir. Mungkin itu terlalu sakit hingga air mata pun tak sanggup untuk menggambarkannya.


Apa kurangnya sebagai laki laki?


Kurang kaya? Kurang tampan? Kurang perhatian? Kurang pengertian? Kurang sayang? Kurang peduli? Atau apa?!!

__ADS_1


Bukankah ia sudah memperlakukan Rhea bak bidadari. Bak ratu. Bak tuan putri yang selalu ia jadikan sebagai prioritas utamanya?


Tapi kenapa sekarang wanita itu berbuat begini? Apa salahnya??


Betrand masih tak bersuara. Telapak tangannya mengepal. Meninju kemudi itu berkali kali dengan kesalnya. Ia menghempaskan tubuhnya ke sandaran joknya. Sesakit itu. Se perih itu. Bahkan mungkin lebih perih dari yang orang lain bayangkan. Ia menyaksikan bidadarinya bermain gila dengan sepupunya sendiri tepat di depan matanya.


ANJ*NK!!


Laki laki itu menoleh ke depan. Menatap wanita compang camping itu nampak berdiri dengan sedikit sempoyongan sambil membenarkan tali spaghetti dress hitamnya yang turun. Wanita itu berjalan beberapa langkah dari mobil itu, hendak memunguti pakaiannya yang tercecer disana. Lalu..


.


.


.


Byaaar.....


Lampu mobil itu menyala dengan terangnya. Betrand menyalakan lampu mobil itu, membuat Rhea dan Luke yang masih dalam kondisi setengah telanj*ng itupun terkejut dan menoleh ke arah mobil tersebut.


Betrand turun dengan wajah penuh kekecewaan dan sakit hati. Ia berjalan dengan langkah tegap meskipun hatinya sangat sangat hancur. Didekatinya wanita yang sangat amat ia sayangi itu. Wanita yang sudah mengisi hati dan hari harinya semenjak keduanya masih duduk di bangku SMA.


Rhea terkejut. Sangat terkejut. Ia mundur satu langkah. Ia menutup mulutnya yang terbuka menggunakan satu telapak tangannya. Laki laki itu kini berdiri tepat di hadapannya. Menatap penampilannya yang compang camping dan tak karuan.


Betrand semakin sesak. Semakin sakit. Semakin tercabik cabik. Laki laki itu tak bisa lagi mengungkapkan bagaimana perasaannya saat ini. Ia menatap nanar wanita di hadapannya itu tanpa suara.


"Baby..." ucap Rhea lirih dan nampak syok. Ia menunduk. Wanita itu nampak meremas dress di bagian dadanya. Ia bingung. Ia benar benar tak tahu harus berbuat apa. Ia tertangkap basah oleh calon suaminya. Ia sudah tak mampu untuk berkelit lagi.


Betrand tak menjawab. Kedua tangannya tergerak menyentuh pipi wanita itu yang nampak merah dan lembab. Ia kemudian mengusap pipi tersebut lalu menyingkapkan rambut panjang wanita itu. Terlihat jelas disana, sebuah tanda merah bekas gigitan Luke terbentuk di ceruk leher wanita itu. Merah. Dan sangat jelas!


Betrand tertawa getir. Ia menarik tangannya. Ia mundur satu langkah.


"Sayang, kamu dengerin aku dulu. Aku...ini...ini nggak seperti yang kamu pikir. Ini...kamu tahu Luke, kan? Dia...dia...." ucap Rhea tak teratur.


"Apa kurangku?" tanya Betrand kemudian. Suaranya pelan. Bergetar. Menahan kecewa, sedih, sakit hati, kesal, marah, semua bercampur jadi satu.


Rhea menggelengkan kepalanya cepat. Ia benar benar takut Betrand marah dan meninggalkannya. Sungguh, meskipun ia tengah bermain api dengan Luke, tapi satu satunya laki laki yang ada di hatinya hanyalah Betrand. Tak ada yang lain.


"Nggak ada! Nggak ada kurangnya!! Kamu dengerin aku dulu!!" ucap Rhea menangis.


Betrand menggelengkan kepalanya.


"Bertahun-tahun kita menjalin hubungan ini. Aku sudah sangat percaya sama kamu, Rhea. Aku selalu berusaha untuk yakin bahwa kamu adalah wanita yang tepat. Wanita terbaik yang pernah aku kenal. Aku menutup hati untuk semua wanita yang mendekatiku. Aku mengabaikan semuanya demi kamu. Aku percaya sepenuhnya sama kamu. Aku memuja kamu setinggi langit. Aku mengagungkan nama kamu di depan semua orang. Di depan keluarga ku. Aku yakin, kamu adalah wanita terbaik yang Tuhan kirimkan untuk aku."


"Sesayang itu aku sama kamu," ucap Betrand perih. Rhea menangis


"Tapi sekarang, apa yang kamu lakukan di belakang aku, Rhea?"


"Enggak! Aku dijebak!!"

__ADS_1


"PEREMPUAN YANG DIJEBAK ITU AKAN MENANGIS KETIKA DILECEHKAN OLEH BAJING*N SEPERTI DIA! BUKAN TERTAWA PUAS SEPERTI JAL*NG LIAR YANG BERHASIL MENAKLUKKAN MANGSANYA!!!" bentak pria itu sekuat tenaganya tepat di depan wajah Rhea. Ia berucap sambil menunjuk ke arah Luke, namun matanya tak lepas menatap muak ke arah wajah Rhea. Matanya merah dan melotot, urat lehernya terlihat jelas, dadanya bergemuruh. Ia marah! Benar benar marah.


"Menjijikkan!" ucap Betrand.


Rhea menangis tak terbendung. Sedangkan Luke yang baru selesai mengenakan celananya itu nampak santai menyaksikan pertengkaran sepasang calon pengantin itu.


"Puluhan tahun kita bersama! Harapan dan angan-angan besar sudah aku rencanakan bersama kamu. Aku sangat mencintai kamu. Aku sangat percaya sama kamu. Kamu tahu itu."


"Kamu memutuskan untuk merintis karir kamu di luar negeri, aku izinkan. Semua hanya bermodalkan rasa percaya dan keyakinan aku bahwa kamu adalah perempuan terbaik yang Tuhan kirimkan untukku," tambah Betrand dengan mata berair.


"Apa kurangku, Rhea? APA?!!!" bentak Betrand di akhir kalimatnya.


Rhea tak mampu menjawab lagi. Ia sudah tertangkap basah.


"Besok adalah hari pernikahan kita. Tinggal hitungan jam, Rhea! HITUNGAN JAM..!!! DAN SEKARANG KAMU MELAKUKAN PERBUATAN MENJIJIKKAN INI DENGAN SEPUPUKU SENDIRI! AKU MELIHAT SEMUANYA DI DEPAN MATAKU!!!! ANJ*NK KALIAN BERDUA!!!!!" bentak Rhea lagi sambil menendangkan kakinya ke udara. Rhea makin tersedu sedu.


Wanita itu sesenggukan. "Dengerin dulu...." ucapnya.


"APA LAGI??!! AKU SUDAH PERNAH MELIHAT TANDA ITU DI LEHER KAMU. AKU MENCOBA TETAP BERFIKIR POSITIF. AKU TETAP MENCOBA PERCAYA SAMA PEREMPUAN YANG AKU CINTAI SETENGAH MATI. TAPI SEKARANG????!!!" ucap Betrand menggebu gebu.


"BUSUK!!!!" umpat Betrand tepat di depan wajah Rhea.


Betrand mundur satu langkah. "Apa ini akhir dari hubungan yang ku perjuangkan bertahun tahun? Apa perempuan seperti ini yang ki perjuangkan selama bertahun tahun? Apa aku harus tetap menikahimu setelah semua yang kulihat malam ini?" tanyanya dengan suara yang lebih pelan.


Rhea mendongak.


"Apa maksud kamu?! Kita akan menikah! Itu mimpi kita, kan? Kamu udah janji akan nikahin aku!! Aku hamil!!!"


"TAPI LAKI LAKI YANG MENYENTUHMU BUKAN HANYA AKU!! DAN DIA...! BEDEB*H ITU! DIA SEPUPUKU! DIA KELUARGAKU! SERUMAH DENGANKU! SEBEGITU BESARKAH BIR*HI KALIAN SAMPAI KALIAN BUTA DENGAN SEMUA ITU?! KALIAN LUPA ADA AKU DIANTARA KALIAN!! BANGS*T!!!"


Rhea menutup wajahnya. Ia kacau.


Betrand lemah. Ia hancur sehancur hancurnya.


"Jahat kalian! Biad*p kalian!" ucapnya dengan suara memelan.


"Sayang, maaf!" ucap Rhea menangis. "Aku minta maaf, hiks!"


Betrand mundur. Langkahnya gontai. Ia menatap nanar wanita compang camping itu. Harapannya hancur. Angan angannya lebur. Semua sirna dan musnah dalam sekejap mata.


Rhea maju selangkah, hendak mendekati sang kekasih, namun Betrand mengangkat tangannya, seolah meminta Rhea untuk berhenti.


"Sayang..." ucap Rhea.


"Cukup. Semua sudah selesai. Aku benci perselingkuhan!" ucap laki laki itu yang kemudian berbalik badan. Ia berjalan dengan penuh amarah mendekati mobilnya yang terparkir dengan lampu yang masih menyala. Wanita itu menangis. Ia berlari mengejar kekasihnya itu. Ia meraih lengan Betrand. Ia memohon. Meminta ampun. Meminta maaf sambil terus menangis. Namun laki laki itu tak menjawab. Seolah hanya raganya yang berada disana namun tidak dengan sukmanya. Laki laki itu seolah hilang arah. Ia lupa siapa wanita yang kini memohon padanya.


Betrand masuk ke dalam mobil itu tanpa memperdulikan Rhea yang terus menangis sambil menggedor-gedor pintu samping kemudi itu. Betrand menyalakan mesin mobilnya. Ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, tak peduli dengan Rhea yang berusaha berlari mengejar sang kekasih.


Hancur sudah. Selesai semua. Wanita itu menangis kehilangan kekasihnya setelah mendapatkan kenikmatan sesaat dari selingkuhannya. Kini ia tinggal menunggu pagi. Apakah pernikahan yang tinggal menunggu jam itu akan terlaksana atau tidak. Sedangkan Betrand kini pergi tanpa arah. Ia marah. Ia kecewa dengan calon pengantin wanitanya. Entahlah, kita tunggu saja.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2