
Ceklek...
Pintu apartemen terbuka. Louis dan Anisa masuk ke dalam hunian mewah yang merupakan salah satu aset pribadi milik Louis itu. Ya, laki laki itu memang cukup pandai dalam hal menyisihkan uang untuk tabungan jangka panjangnya. Beberapa aset pribadi atas nama dirinya sudah banyak ia miliki. Mulai dari rumah, apartemen hingga mobil pribadi. Sedangkan Anisa, wanita itu nampak mengedarkan pandangannya ke segala arah. Wanita kampung itu terlihat membuka mulutnya mengagumi hunian mewah milik pria itu.
Louis melepaskan tas ransel yang tergantung di salah satu pundaknya. Diletakkannya tas itu di atas sebuah sofa panjang ruang tamu itu. Ia kemudian melepas jas mahal serta dasinya, lalu membuka satu kancing paling atas kemeja yang ia kenakan sembari memanggil sang ART yang masih berada di tempat itu.
"Bik! Bik Susi!" ucap Louis memanggil ART nya.
"Iya, Tuan!" sahut seorang wanita dari dalam dapur apartemen itu. Tak lama, seorang wanita paruh baya bertubuh bongsor dengan seragam pelayan nampak mendekati Louis. Anisa menoleh. Wanita yang tak lebih tinggi darinya itu nampak tersenyum ke arahnya dan Louis. Anisa membalas senyuman itu. Fokus matanya sejenak tertuju pada sebuah kalung salib yang terkalung di leher wanita yang diketahui bernama Bik Susi itu.
"Saya, Tuan!" jawab wanita tersebut.
"Tolong bikinin minum buat saya sama Anisa, ya," ucap Louis. Bik Susi menoleh lagi ke arah Anisa. Wanita muda itu tersenyum.
Wanita paruh baya itu lantas mengangguk. "Baik, Tuan!" jawabnya dengan sopan. Wanita itu kemudian undur diri guna membuatkan minuman untuk sang Tuan dan wanita cantik itu.
Louis menoleh ke arah Anisa.
"Istirahat dulu, Nis. Saya mau mandi dulu," ucap Louis.
Anisa tersenyum. Ia lantas mengangguk. Louis melepaskan kemeja putihnya dihadapan Anisa. Membuat tubuh tegap atletis itu terpampang jelas.di hadapan wanita yang kini tengah berbadan dua itu. Louis kemudian melepaskan jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.
Degghh...
Anisa terdiam. Fokus matanya tertuju pada pergelangan tangan pria berkulit putih itu. Ia nampak menyipitkan matanya. Seingatnya, ia pernah melihat sebuah tato bergambar ular naga di salah satu pergelangan tangan Louis kala laki laki itu menjamahnya tanpa izin dulu. Kok sekarang nggak ada?
Anisa mendekati laki laki yang kini sudah bertelanjang dada itu.
"Louis," ucap Anisa.
Louis menoleh. "Ya?" jawab laki laki itu.
Anisa kembali mengarahkan pandangannya pada kedua pergelangan tangan Louis.
"Maaf, kayaknya dulu saya pernah lihat kamu punya tato di tangan," ucap Anisa. Ia kemudian menatap wajah Louis. "Kok nggak ada?" tambahnya.
Degghh...
Louis terdiam. Otaknya seketika bekerja dengan cepat mencari alasan yang logis untuk pertanyaan yang Anisa layangkan.
"Oh, itu. Em... saya hapus! Jelek! Lagian kalau sholat takut nggak sah," jawab Louis sambil tersenyum.
Anisa mengangkat dagunya. "Oh, oke," jawabnya.
__ADS_1
"Ya udah, saya mau mandi dulu. Kamu duduk aja dulu. Abis ini kita makan malam. Bik Susi udah nyiapin masak buat kita," ucap Louis.
Anisa mengangguk. Louis berlalu pergi sembari membuang nafasnya. Hampir saja Anisa curiga. Sedangkan Anisa kini nampak mendudukkan tubuhnya di sofa panjang itu. Tepat dimana jas serta dasi Louis tergeletak disana. Sedangkan ponsel dan jam tangan mahal milik pria itu nampak tergeletak di atas meja rendah disana.
"Permisi, Nona," ucap seorang wanita paruh baya yang tiba tiba datang dari dapur apartemen itu.
Anisa menoleh. ART bernama Bik Susi itu mendekati Anisa sembari membawa sebuah nampan berisi dua cangkir minuman hangat untuk Anisa dan Louis.
"Ini minuman Nona. Makanannya sudah saya siapkan di meja makan, Non," ucap wanita itu ramah sembari meletakkan dua cangkir itu di atas meja.
"Iya. Makasih, Buk," ucap wanita itu.
"Sama sama, Nona. Panggil saja saya Bik Susi," ucap wanita itu.
Anisa tersenyum. Ia lantas mengulurkan tangannya. "Saya Anisa," jawab wanita itu kemudian.
Bik Susi terdiam. Ia menunduk. "Aduh, tangan saya kotor, Nona," ucap wanita itu seolah tak berani menjabat tangan teman wanita sang Tuan.
Anisa tersenyum. "Sama aja, Bik," ucap wanita itu ramah.
Bik Susi ragu ragu menyambut uluran tangan wanita itu. Keduanya pun lantas berjabat tangan meskipun Bik Susi agak enak hati.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Non. Saya mau siap siap pulang. Soalnya saya tadi ditugaskan untuk menjaga apartemen ini sampai Tuan Louis datang. Besok pagi saya akan kesini lagi," ucap Bik Susi.
Anisa hanya mengangguk. Wanita itu lantas undur diri. Ia berjalan menuju dapur apartemen itu dan mulai menghubungi keponakannya untuk menjemputnya.
Ceklek...
Bik Susi mendekat.
"Tuan," ucap wanita itu.
Louis dan Anisa menoleh.
"Tugas Bibik sudah selesai. Bibik pamit pulang dulu, Tuan," ucap wanita itu.
Louis tersenyum. "Oh, iya. Jangan lupa besok datang kesini lagi ya, Bik. Betrand udah ngomong kan sama Bibik tentang jadwal kerja Bibik?" tanya Louis.
Bik Susi mengangguk. "Sudah, Tuan," ucapnya.
Louis tersenyum.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan," ucap Bik Susi.
__ADS_1
"Mau saya antar ke bawah?" tanya Louis.
"Nggak usah, Tuan. Keponakan saya sudah menunggu di luar," ucap Bik Susi.
Louis hanya mengangguk. Bik Susi pun berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Seperginya Bik Susi. Louis menoleh ke arah Anisa yang duduk di sampingnya.
"Selama kamu disini, Bik Susi akan datang kesini tiap pagi dan pulang tiap malam seperti ini. Dia akan jadi teman kamu disini. Jadi kalau kamu butuh apa apa, kamu bisa minta tolong beliau," ucap Louis.
Anisa mengangguk sambil tersenyum. "Kamu kayaknya udah deket banget ya sama Bik Susi. Sampai mau nganterin dia turun segala," ucap Anisa.
Louis terkekeh. "Sejak pertama saya beli apartemen ini, saya selalu menggunakan jasa dia buat bersih bersih. Jadi ya lumayan deket. Bik Susi itu paling takut kalau naik lift sendiri. Takut lift nya rusak dan dia kejebak di dalamnya, katanya. Makanya kalau setiap pulang dia selalu minta antar sampai bawah. Kalau nggak, dia dijemput sama keponakannya di depan pintu apartemen ini," ucap Louis.
Anisa terkekeh. "Lucu, ya..." ucap wanita itu.
Louis tersenyum mendengar tawa wanita hamil itu. "Ya gitu lah! Tapi dia baik banget loh. Walaupun beda keyakinan sama kita, tapi toleransinya tinggi. Itu yang bikin saya betah mempekerjakan dia. Dia juga bertanggung jawab dan disiplin. Jujur, dan nggak neko neko," ucap laki laki itu.
Anisa mengangguk.
"Ya udah, kita makan dulu, yuk. Bik Susi udah nyiapin makanan buat kita," ucap laki laki itu.
Anisa mengangguk lagi. Keduanya pun bangkit.
"Tapi abis ini saya pulang, ya.." lanjut Louis.
"Iya..." jawab Anisa. Keduanya lantas berjalan beriringan menuju meja makan untuk melakukan santap malam mereka.
****************
Sementara itu di tempat terpisah. Di salah satu belahan lain planet bumi.
"Ssshh....Oh, Sh**..!" Laki laki itu nampak memejamkan matanya. Lengan kekar dengan gambar ular naga di pergelangan tangannya itu nampak mencengkeram salah satu kepala milik seorang wanita nyaris tanpa busana di bawah sana. Laki laki itu mengeluarkan suara suara indahnya. Ia menekan kepala wanita itu, seolah memintanya untuk melahap habis benda tegak menantang yang kini nampak berlumur cairan bening berbusa yang keluar dari mulut wanita itu.
Laki laki itu, Luke Edgar Davis, nampak mengangkat kepalanya merasakan nikmat. Ia lantas menatap lapar wanita yang kini tersenyum nakal ke arahnya. Luke meminta sang wanita mendekat. Wanita itu menurut. Wajah keduanya mulai berdekatan. Tanpa jarak. Luke memberi kecupan kecupan lembut pada benda berlapis gincu merah itu.
Ting...
Ponsel Luke yang berada di atas nakas berbunyi, tanda ada pesan yang masuk ke dalam benda canggih itu. Laki laki itu menghentikan aktivitasnya sejenak. Diraihnya ponsel di atas nakas itu sembari terus menahan nikmat yang diberikan oleh dua wanita miliknya malam ini.
"Baby, I'm home..." bunyi pesan dari sebuah nomor berfoto profil sepasang kekasih itu.
__ADS_1
Luke mengangkat satu sudut bibirnya. Ia melempar benda itu asal ke atas ranjang. Ia lantas kembali menggerakkan tangannya merengkuh pinggang wanitanya, dan melanjutkan aktifitas panas mereka.
...----------------...