
Tepat pukul sepuluh malam. Rintik hujan perlahan mulai membasahi bumi. Kilat sesekali menyambar nyambar. Hawa dingin kian terasa menusuk tulang di malam yang gelap ini. Sebuah motor besar nampak melaju pelan dengan mesin yang dimatikan melewati jalan sempit di samping rumah Salma.
Louis memarkirkan kendaraannya tepat di depan kamar kost Anisa. Laki laki tampan itu kemudian melepaskan helmnya. Louis terdiam sejenak. Laki-laki itu kemudian mendongak, menatap ke arah langit. Satu dua titik air nampak terjatuh mengenai wajah tampannya. Sepertinya hujan sebentar lagi akan turun. Ia tak boleh berlama lama di sini.
Louis lantas turun dari kendaraannya. Dengan satu buah kantong kresek berisi sate kelinci pesanan Anisa, pria itu kemudian berjalan mendekati pintu kamar kost Anisa yang nampak tertutup rapat. Lampu ruang tamu sempit di sana bahkan sudah mati.
Tok ... Tok ... Tok ....
Pintu kamar diketuk. Tak ada sahutan. Louis mengedarkan pandangannya ke segala arah. Pintu pintu kamar kost itu nampak sudah tertutup semua. Sepertinya para penghuni memang sudah tidur.
Tok ... Tok ... Tok ....
Pintu diketuk lagi.
Klek...
Lampu ruang tamu nampak menyala. Sepertinya Anisa bangun dari tidurnya.
Ceklek...
Pintu kost itu kemudian terbuka. Louis terdiam. Seorang wanita muda dengan paras cantik, polos tanpa make up nampak keluar dari ruangan itu dengan sebuah mukena yang masih menutupi tubuh rampingnya.
Louis terdiam. Begitu juga Anisa yang nampak sedikit kaget dengan kedatangan laki laki itu malam malam begini.
"Louis?" tanya Anisa. Louis terperanjat dari lamunannya. Tak bisa dipungkiri ia sedikit terpesona dengan kecantikan alami wanita muda dihadapannya. Terlebih lagi dengan balutan peralatan salat berwarna putih yang melekat di tubuhnya itu, seolah menjadi daya tarik tersendiri bagi wanita hamil yang sebentar lagi akan menginjak usia dua puluh tahun tersebut.
"Oh, em, ini, saya bawa sate kelinci buat kamu. Kamu tadi minta, kan?" tanya Louis.
Anisa diam sejenak.
"Kamu malam malam datang ke sini cuma demi nganterin ini buat saya?" tanya Anisa.
"Katanya tadi kamu pengen banget? Ya udah saya beliin. Tapi maaf, tadi pesan kamu ketumpuk ama pesan yang lain. Jadi saya nggak langsung baca," ucap Louis sembari menyerahkan kantong kresek berisi sate kelinci itu.
Anisa menerimanya dengan perasaan tak enak. Kenapa laki laki ini jadi begitu baik seperti ini? Tak seperti Luke yang dulu menjamahnya. Laki laki itu bahkan rela motoran malam malam hanya demi menuruti ngidamnya.
Ah, jadi nggak enak...!
Anisa menggerakkan tangannya mengusap usap perutnya yang masih rata.
"Lain kali, kalau pengen sesuatu jangan malem malem ya, Nak. Ibu nggak enak ngerepotin orang terus," batin Anisa seolah berucap pada sang calon buah hati.
__ADS_1
Louis yang melihat pergerakan tangan Anisa itu nampak tersenyum. Entah ada dorongan apa, tiba tiba saja laki laki itu menggerakkan tangannya menyentuh perut rata wanita bermukena itu. Membuat Anisa sedikit terkejut dibuatnya.
"Sehat sehat di kandungan mommy kamu, Sayang," ucap Louis. Anisa terdiam. Ia nampak mematung menatap wajah tampan Louis.
Laki laki yang kini nampak mengusap usap lembut perut berbalut mukena itu lantas tersadar atas pergerakan tangannya.
Dengan buru buru ia pun menarik lengan itu. "Oh, sorry! Saya nggak sengaja!" ucap Louis.
Anisa tersenyum, lalu mengangguk.
Suasana hening sejenak. Keduanya nampak kaku. Anisa kemudian mengedarkan pandangannya ke segala arah. Sebenarnya ini sudah terlalu malam untuk menerima tamu. Mengingat salah satu peraturan di tempat kost ini adalah dilarang menerima tamu di atas jam sembilan malam, terlebih lagi jika itu adalah laki laki. Ia takut jika nantinya akan menjadi bahan omongan.
Louis rupanya juga menyadari hal itu. Ia pun buru-buru berpamitan sebelum ada orang yang salah paham.
"Em, ini udah malam. Saya tadi kesini cuma mau nganterin itu. Kamu makan dulu, ya. Saya mau pulang. Nggak enak sama penghuni yang lain," ucap Louis.
Anisa terdiam, lalu mengangguk sambil tersenyum simpul.
"Sekali lagi makasih. Maaf, udah ngerepotin malam malam," ucap Anisa.
Louis tersenyum. "Nggak masalah," jawabnya.
Anisa mengangguk sambil tersenyum manis.
"Assalamualaikum,"
"Wa Alaikum Salam,"
Louis pun lantas berjalan mendekati motor besarnya. Sedangkan Anisa masih berdiri di depan pintu kamar kostnya seolah ingin melepas kepulangan Louis. Laki laki yang kini sudah berdiri di samping motor besarnya itu kemudian meraih sebuah helm hitam miliknya dan berniat untuk menggunakannya. Namun tiba tiba...
"S**t!" umpat Louis. Laki laki itu batal mengenakan helmnya. Ia lantas berjongkok, menyentuh roda bagian depan motornya yang nampak kempes.
Louis berdecak kesal. Bagaimana caranya ia pulang jika ban depannya kempes begini. Ditambah lagi imi sudah terlalu malam untuk mencari bengkel ataupun tukang tambal ban.
Anisa yang melihat kegusaran Louis pun mendekati pria tersebut.
"Kenapa?" tanya Anisa.
"Ban nya kempes!" ucap Louis tanpa menoleh. Ia nampak menekan nekan benda bulat di hadapannya itu.
"Kok bisa?" tanya Anisa ikut khawatir. Bagaimana tidak, ini sudah sangat malam, hampir pukul setengah sebelas malam. Sedangkan Louis masih berada di tempat kostnya. Ia tidak mau tetangga kostnya berfikiran yang tidak tidak tentangnya dan Louis.
__ADS_1
Louis tak menjawab ucapan Anisa. Laki laki itu bangkit lalu meraih ponselnya, mencoba menghubungi Betrand untuk minta dijemput. Namun sepertinya laki laki itu terlalu sibuk dengan pacarnya. Sejak tadi ia tak menggubris panggilan dan pesan dari Louis.
Louis berdecak kesal. Anisa diam. Ia juga tak tahu harus berbuat apa. Hingga tiba tiba...
Gleeerr...
Breeeesss.....
Air hujan yang sejak tadi sudah siap untuk tumpah itu tiba tiba saja turun dengan derasnya. Mengguyur bumi beserta dengan sepasang anak manusia yang berdiri di halaman rumah kost putri itu.
Louis reflek meraih lengan Anisa. Mengajak wanita itu untuk berteduh ke teras rumah kost berlantai dua itu.
Anisa makin bingung. Begitu juga dengan Louis. Hujan turun begitu deras. Sedangkan hari semakin larut. Tak ada yang bisa mereka mintai bantuan. Lalu mereka harus bagaimana sekarang?
Anisa nampak gusar. Louis menoleh ke arah wanita itu.
"Udah, nggak apa apa. Kamu masuk aja. Saya tunggu di luar," ucap Louis.
Anisa menatap nanar pria itu.
"Tapi......" ucapan wanita itu terpotong.
"Nggak apa apa. Kamu masuk aja. Ini udah malam, kalau kita berduaan disini, takutnya kalau ada yang lihat malah pada berfikiran yang enggak enggak. Lebih baik sekarang kamu masuk, kunci pintunya. Saya akan tunggu disini sampai hujannya reda," ucap Louis. Anisa nampak iba. Sungguh, ia benar benar merasa tak enak.
"Maaf ya, ngerepotin terus," ucap Anisa.
Louis terkekeh. Tanpa sadar ia menggerakkan tangannya mengusap lembut pucuk kepala berbalut mukena putih itu.
"Nggak apa apa, Nisa. Anggap aja ini bagian dari tanggung jawab saya!" ucap Louis.
Anisa tak menjawab.
"Dah, masuk! Udah malam. Biar saya tunggu disini. Nanti kalau hujannya udah reda, biar saya pulang," ucap Louis seolah ingin menenangkan hati Anisa.
"Tapi kan ban motor kamu kempes?" tanya Anisa.
Louis tersenyum. "Gampang! Itu urusan saya! Dah, kamu tidur! Jangan lupa kunci pintunya!" ucap Louis.
Anisa menghela nafas panjang. Dengan berat hati ia pun masuk ke dalam kamar kostnya. Meninggalkan Louis yang kini mulai mendudukkan tubuhnya di kursi panjang yang berada di teras rumah kost tempat tinggal Anisa itu.
...----------------...
__ADS_1