(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
006


__ADS_3

Lima belas menit berselang, mobil hitam sederhana itu sampai di depan sebuah rumah dua lantai yang tak terlalu besar dengan pagar besi setinggi dada orang dewasa.


Almeer memarkirkan kendaraannya di halaman rumah yang tak terlalu luas itu. Pria ramah yang sepanjang perjalanan tak henti mengajak Anisa berbincang namun hanya dijawab satu dua kata oleh Anisa itu lantas melepas sit belt-nya. Ya, Anisa memang gadis pendiam yang tak banyak bicara.


"Turun, yuk. Masuk dulu. Kita ketemu sama kakakku dulu," ucap Almeer.


Anisa hanya mengangguk. Ia pun turun dari kendaraan roda empat tersebut, kemudian mengikuti langkah Almeer masuk ke dalam rumah yang tak terlalu luas namun bisa dibilang cukup bagus itu.


"Assalamualaikum," ucap Almeer mengucap salam sembari masuk ke dalam bangunan berlantai dua itu.


"Wa Alaikum Salam," jawab seorang wanita dalam kursi roda yang nampak mendekati kedua manusia yang baru datang itu.


"Kak," ucap Almeer. Ia mendekati wanita paruh baya itu lalu meraih punggung tangannya kemudian menciumnya sebagai tanda hormat. Itu adalah Salma. Kakak kandung Almeer, tantenya Tami. Adik dari ibunda Tami. Pemilik kos kosan yang akan menjadi tempat tinggal sementara Anisa nantinya.


Anisa yang berada di samping Almeer pun melakukan hal yang sama. Ia meraih punggung tangan wanita dalam kursi roda itu kemudian menciumnya.


"Ini temannya Tami?" tanya Salma. Anisa dan Almeer tersenyum.


"Iya, kak. Namanya Anisa," ucap Almeer.


Salma tersenyum menatap kearah Anisa. Sorot matanya terlihat teduh. Tami sudah menceritakan semua tentang Anisa pada Almeer dan Salma. Termasuk asal usul Anisa yang merupakan anak hasil perselingkuhan. Wanita yang dinyatakan lumpuh permanen akibat sebuah kecelakaan beberapa tahun lalu itu seolah merasa iba mendengar kisah hidup seorang Anisa.


"Duduk, Nak. Kamu pasti lelah," ucap Salma pada Anisa. Wanita muda itu mengangguk, ia lantas mendudukkan tubuhnya di sebuah sofa panjang disana. Sedangkan Almeer kini nampak membantu sang kakak untuk berpindah kursi roda menuju salah satu sofa disana, tepat di samping Anisa.


Almeer lantas ikut duduk di samping sang kakak.


"Perkenalkan, saya Salma. Saya tantenya Tami. Ibunya Tami itu kakak saya. Saya anak nomor dua, sedangkan ini, Almeer, dia adik saya. Anak yang paling kecil," ucap Salma menjelaskan.


Anisa tersenyum sambil mengangguk.


"Saya Nisa temannya Tami, Tante," ucap Anisa sopan.


Salma tersenyum lembut.


"Tami sudah cerita banyak soal kamu. Saya ikut prihatin atas semua yang menimpa kamu, Nis. Yang sabar ya, Nak. Semoga kamu bisa secepatnya bertemu dengan laki laki itu," ucap wanita paruh baya yang mungkin usianya sebaya dengan Ratna itu.

__ADS_1


Anisa tersenyum. Ia hanya mengangguk. Jujur, ia sedikit malu. Sudah hamil di luar nikah, sekarang ngerepotin orang, lagi. Pikir Anisa.


Salma mengulum senyuman lembut. Ia kemudian menoleh ke arah Almeer yang duduk di sampingnya.


"Al, tolong panggilin bibik, dong. Suruh bikin minum buat Nisa. Dia lagi ada di belakang tadi bersihin kolam. Kalau kakak panggil dari sini pasti juga nggak denger," ucap wanita lumpuh itu.


"Nggak usah repot repot, Tante," ucap Anisa.


"Nggak apa apa. Cuma air, kok. Kamu pasti capek habis perjalanan jauh," ucap Salma.


Anisa hanya menunduk, sedangkan Almeer kini nampak bangkit menuju dapur untuk mencari pembantu rumah tangga disana.


"Maaf ya, Tante. Mungkin untuk beberapa waktu kedepan saya akan sering merepotkan Tante." Gadis itu nampak menunduk sambil memeluk boneka beruang yang sejak tadi dipangkunya itu.


Salma tersenyum. "Saya justru seneng kalau bisa bantu kamu. Kisah kamu mengingatkan saya tentang masa lalu saya. Saya justru akan sangat bahagia kalau bisa bantu kamu, Nis." Salma mengusap pundak Anisa. Anisa hanya diam mencerna ucapan wanita lumpuh itu.


"Saya itu disini cuma tinggal bertiga sama Almeer dan anak saya. Dia masih SMP. Selain kost, saya juga buka usaha ketering kecil-kecilan. Kalau kamu mau, kamu bisa bantu bantu nanti kalau saya punya orderan. Saya juga akan kasih upah yang layak buat kamu. Itung itung bisa buat tambahan pegangan kamu selama disini," ucap Salma.


"Ya Allah, Tante baik banget. Padahal kita baru kenal," ucap Anisa.


Tak ... Tak ... Tak ....


Suara langkah kaki terdengar mendekat. Almeer datang dari dapur dengan sebuah nampan berisi tiga cangkir teh.


"Bibiknya nggak ada. Jadi aku buatin aja. Maaf ya, Nis, kalau tehnya kemanisan atau kurang manis," ucap pria itu sembari meletakkan tiga cangkir teh itu di atas meja. Anisa yang memang pendiam dan tak banyak bicara itu hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Makasih, Om. Eh, maksudnya, Kak," ucap Anisa. Almeer mengulum senyum lucu. Sedangkan Salma hanya menggelengkan kepalanya.


"Diminum dulu. Sekalian makan, ya. Kamu pasti lapar, kan?" tanya Salma menawari makan. Anisa pun buru-buru menolaknya. Salma terlalu baik untuk Anisa si pendatang baru.


"Nggak usah, Tante. Saya udah makan tadi di jalan," ucap Anisa sedikit berbohong.


"Beneran?" tanya Salma.


"Beneran, Tante." Anisa bohong lagi.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu. Tante kirain kamu belum makan," ucap Salma.


"Udah kok, Tante," jawab Nisa.


"Ya udah, kalau gitu kamu minum dulu. Kos kosannya ada di belakang. Nanti biar diantar sama Almeer," ucap Salma.


Anisa menganggukkan kepalanya. Ia kemudian meraih salah satu cangkir di sana kemudian menyesap minumannya. Obrolan santai pun terus berlanjut antara ketiga manusia beda generasi itu.


Setelah kurang lebih lima belas menit berbincang, kini Almeer mengajak Anisa menuju kos kosan milik Salma. Tempat dimana wanita hamil itu akan tinggal sementara di sana. Letaknya persis di belakang rumah utama milik Salma. Sebuah bangunan dua lantai dengan sepuluh pintu berjajar disana. Sebagian pintu sudah ada penghuninya yang kebanyakan adalah mahasiswi dan karyawan pabrik atau perusahaan yang merantau dari daerah. Anisa diletakkan di pintu paling ujung di lantai bawah. Satu dari dua kamar yang masih kosong disana.


Ceklek...


Pintu kos-an terbuka.


"Silahkan," ucap Almeer sambil tersenyum. Anisa masuk ke dalam bangunan itu. Sebuah ruangan petak berukuran 4x8 meter. Terdiri dari satu ruang tamu, satu kamar tidur, dapur kecil serta kamar mandi.


"Untuk sementara kamu bisa tinggal disini. Maaf, sempit," ucap Almeer.


Anisa menoleh lalu tersenyum. "Ini udah lebih dari cukup kok, Kak."


"Kalau ada apa apa, kamu ke depan aja, cari bibik atau Kak Salma. Peraturan di kost ini ada di papan itu. Kamu baca, ya. Nggak rumit, kok. Paling cuma tentang penerima tamu dan jadwal pulang malemnya aja," ujar Almeer sembari menunjuk ke sebuah papan pengumuman yang tergantung di salah satu sudut dinding kost-an itu.


Anisa tersenyum. "Iya, Kak."


"Ya udah, kalau gitu saya mau balik. Harus istirahat, besok harus kerja soalnya," ucap Almeer yang merupakan seorang pegawai di salah satu bank swasta di kota itu.


Anisa mengangguk.


"Ya udah, kamu istirahat, ya. Assalamualaikum," ucap Almeer.


"Wa Alaikum Salam," jawab Anisa.


Pria itu kemudian berlalu pergi dari tempat tersebut. Anisa menghela nafas panjang. Ia mengedarkan pandangannya, melihat ke kanan dan kiri. Cukup sepi.Pintu pintu lain sebagian nampak tertutup. Wanita itu kemudian masuk ke dalam kamar kost nya sendiri dan menutup pintunya.


Anisa menghela nafas panjang menatap setiap sudut ruangan itu. Babak baru hidupnya akan segera dimulai. Untuk hari ini ia akan istirahat dulu, memulihkan tenaganya setelah perjalanan jauh dari desanya. Besok ia akan mulai mencari keberadaan Luke. ia akan mendatangi perusahaan laki-laki itu untuk meminta pertanggungjawaban dari ayah si bayi yang kini dikandungnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2