
Seperti biasa, kabarin kalau ada typo nya🥰
❤️❤️❤️
Deeghh...
Louis terkejut. Ia membuka matanya lebar mendengar ucapan sang paman.
"Apa?" tanya Louis kaget.
Steve menghela nafas panjang lalu tersenyum simpul.
"Maaf, Louis. Bukannya Om nggak menghargai pendapat kamu. Tapi ini demi kebaikan bersama. Demi keluarga kita. Om nggak mau kalau sampai Luke terlalu lama mendekam di penjara dan media mengetahui akan hal itu. Itu pasti akan menjadi huru hara di mana mana. Selama ini kan nggak banyak orang yang tahu kalau kamu itu punya saudara kembar. Kalau sampai semua orang tahu tentang Luke, itu akan sangat berbahaya. Apalagi kalau sampai mereka tahu tentang perangai Luke yang buruk, itu akan bisa mencoreng nama baik keluarga kita, Louis!" ucap Steve.
Louis menggelengkan kepalanya seolah tak habis pikir dengan jalan yang Steve tempuh. Bukankah Louis sudah mengatakan bahwa ia ingin Luke tetap berada di penjara agar ia bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya? Tapi kenapa sekarang justru pamannya itu membebaskan Luke tanpa sepengetahuannya? Louis sama sekali tidak diberitahu tentang hal ini. Rencana pembebasannya Luke memang hanya beredar di sekitaran telinga Betrand, Steve, Martha, dan Rhea. Louis sama sekali tidak dilibatkan dalam hal ini. Padahal ia adalah saudara kandung Luke.
Sungguh, Louis kecewa. Ia seperti tak dianggap oleh keluarganya sendiri.
"Om minta maaf, Louis. Om nggak bermaksud......"
"Om nggak menghargai saya!!" ucap Louis tegas dengan suara meninggi memotong ucapan sang paman.
"Bukan Om nggak menghargai kamu, Nak. Om hanya ingin menyelamatkan keluarga ini! Kamu terlalu sibuk dengan perempuan itu. Kamu lupa kalau kamu itu masih punya keluarga besar yang perlu kamu junjung tinggi namanya..."
"Tapi tidak dengan membebaskan Luke tanpa persetujuan dari aku, Om! Aku saudaranya! Dia adik aku! Aku jauh lebih berhak untuk mengurusnya daripada Om, Tante Martha, ataupun Betrand!!" ucap Louis marah.
"Louis, Om sudah bilang, Om nggak bermaksud untuk tidak menghargai pendapat kamu. Tapi sekali lagi Om tekankan sama kamu, Om melakukan ini semua demi keluarga kita. Om yakin kamu pasti mengerti maksud Om, Nak," ucap Steve mencoba meredam amarah Louis.
Laki laki tampan itu nampak kesal. Ia menggelengkan kepalanya samar. Laki laki itu kemudian menggerakkan sebelah kakinya menendang meja dengan kesal, membuat Steve sedikit terjingkat dibuatnya. Mimik wajahnya penuh kekecewaan. Sorot matanya menatap lurus kedepan tanpa menoleh ke arah sang paman.
"Saat ini Luke sudah berada di rumah. Dia terlihat lebih baik sekarang. Sejak kemarin dia lebih banyak di kamar. Mungkin dia sedang merenungi perbuatannya," ucap Steve.
__ADS_1
Louis tak menjawab.
"Louis, Om ingin nanti kita bicara bersama sama sebagai satu keluarga. Kamu pulang, ya. Kita rangkul adik kamu sama sama. Siapa tahu dengan begitu dia bisa sedikit berubah ke arah yang lebih baik," ucap Steve.
Louis sama sekali tak bergeming. Mimik wajahnya masih terlihat berang. Sedangkan Steve kini nampak bangkit dari posisi duduknya.
"Om keluar dulu. Satu jam lagi kita bertemu di ruang meeting," ucap laki laki dewasa itu lagi yang tak dijawab sama sekali oleh Louis.
Steve berlalu pergi. Meninggalkan Louis yang kini nampak memasang wajah tegang. Louis terlihat begitu tidak tenang. Berbagai pemikiran kini berkecamuk dalam dirinya. Selain merasa tak di hargai oleh keluarganya sendiri, kebebasan Luke juga adalah ancaman bagi dirinya dan juga Anisa.
Ia masih ingat betul dengan sumpah serapah yang adik kandungnya itu katakan saat ia menjenguk saudara kembarnya itu. Luke mengancam akan menghancurkan kebahagian Louis dan Anisa jika suatu saat ia bebas.
Kini, pria itu benar benar bebas. Laki laki itu pasti sudah menyiapkan seribu satu rencana untuk melancarkan balas dendamnya. Ini tak bisa dibiarkan. Anisa dan calon buah hatinya dalam bahaya. Bisa saja setelah ini Luke akan mencari dan bersikeras untuk menikahi Anisa.
Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan. Anisa miliknya. Dan selamanya akan seperti itu. Ia tak akan pernah memberikan berlian berharganya itu pada siapapun. Termasuk Luke.
...****************...
"Ohh, s**t...!"
Laki laki itu memejamkan matanya. Ia mendongak. Sesekali menggigit bibir bawahnya sembari mencengkeram pinggang wanita yang kini nampak bergerak erotis di atas tubuhnya.
"Sshh...aaaahh...!" Suara itu lolos lagi dari bibir Betrand. Rhea bergerak begitu bin*l di atas sana. Memberikan kenikmatan yang selalu Betrand dapatkan tiap kali berduaan dengan wanita calon istrinya itu.
Laki laki itu menggerakkan tangannya. Merem*s dua buah benda kenyal yang kini seolah menari nari di hadapannya. Sorot matanya menatap nakal ke arah wanita diatasnya yang kini terlihat begitu sensual itu.
Sedangkan wanita itu kini sudah terlihat berkeringat. Ia menyentuh dada berbulu halus itu sembari mengusap usapnya. Bibir bawahnya digigit. Senyumannya nakal. Gerakannya erot*s. Nafsu dan kenikmatan seolah menguasai sepasang manusia yang belum memiliki ikatan yang resmi itu.
Cukup lama mereka saling memberikan kenikmatan di dalam sebuah mobil yang terparkir di salah satu basement pusat perbelanjaan di kota itu.
Betrand kemudian menarik tubuh wanita itu dan memeluknya erat. Laki laki itu mengerang. Sepertinya pria berjambang tak begitu lebat itu baru saja mencapai puncak kenikmatannya. Semburan cairan kental berwarna putih menghujam liang sempit itu. Sebagian bahkan menetes. Jatuh ke karpet mobil yang sejak tadi tak henti bergoyang jika dilihat dari luar tersebut.
__ADS_1
Kedua pria wanita tanpa ikatan itu nampak lemas. Rhea jatuh dalam pelukan Betrand. Laki-laki itu mendekap erat sang kekasih sembari menetralkan deru nafasnya ini masih memburu. Senyuman kepuasan terbentuk dari bibir keduanya. Betrand menangkup wajah sang kekasih, kemudian melumaat bibir tipis dengan lipstik yang sudah mulai luntur itu dengan rakusnya sebagai ritual akhir dari kegiatan panas yang seharusnya belum mereka lakukan.
Betrand menyudahi aksinya. Keduanya lantas melepaskan penyatuan mereka. Rhea meraih sebuah satu pack tisu basah disana guna membersihkan bagian bawah tubuhnya. Hal yang sama pun Betrand lakukan.
Laki laki itu kemudian menggerakkan tangannya, mengecup singkat kening sang kekasih sembari mengucap terima kasih. Betrand yang sejak tadi melakukan aksinya jadi jok belakang mobil miliknya itu kemudian beralih menuju kursi kemudi. Ia mengenakan kembali pakaiannya yang terlepas di sana. Sedangkan Rhea yang masih tak berbusana itu nampak meraih ponselnya yang tergeletak mengenaskan di jok belakang mobil itu.
Rhea membuka benda canggih tersebut.
Deeghh...
Rhea terdiam. Mimik wajahnya menegang. Sebuah pesan masuk dari nomor ponsel yang sangat ia kenal.
"Luke"
Jantung Rhea berdebar dengan lebih cepat. Ia diam diam melirik ke arah Betrand yang kini nampak mengenakan kemejanya di kursi kemudi mobil itu. Wanita itu kemudian membuka pesan tersebut.
"Anj*nk!" batin Rhea.
Sebuah foto tak senonoh masuk ke dalam ponsel Rhea. Sebuah foto yang menampilkan gambar seorang pria yang memegang benda pusaka miliknya yang tengah dalam mode terlihat jelas disana.
"Kamu nggak kangen, sayang?" bunyi sebuah pesan yang menyertai gambar itu.
Rhea panik. Dengan cepat ia menghapus pesan itu lalu memblokir nomor ponsel Luke.
Wanita itu kalut. Sepertinya Luke sudah bebas. Ia yang semula belum mengetahui tentang bebasnya Luke itu kini terlihat begitu syok. Ia tahu jika Betrand dan Steve memang tengah berusaha membebaskan Luke, tapi ia tidak menyangka jika laki-laki itu akan bebas dalam waktu secepat ini.
Gawat jika Luke benar benar bebas. Laki laki itu benar benar akan menjadi ancaman yang serius untuk Rhea. Terlebih lagi jika sampai Luke tahu, bahwa Rhea lah yang menjebloskan Luke ke penjara. Bisa mati perempuan itu di tangan Luke!
Gawat! Bagaimana ini?!
__ADS_1
...----------------...