(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
025


__ADS_3

"Hoaaaammm...!"


Laki laki itu berjalan memasuki pintu utama rumahnya sambil menguap. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Laki laki itu baru bisa pulang dari rumah kost Anisa setelah hujan reda dan memesan taksi online. Sedangkan motornya masih ia tinggal di rumah kost wanita cantik itu.


Louis benar benar mengantuk sekarang. Ia sangat lelah, tapi juga bahagia. Semalaman ia menghabiskan waktu berdua dengan Anisa meskipun berbatas dinding kamar kost. Tapi entah mengapa, hal demikian rasanya sudah sangat cukup untuk membuat seorang Louis bahagia.


Laki laki dengan jaket hitam terselampir di pundak itu nampak mengayunkan kakinya menapaki anak tangga, berniat menuju ke lantai dua tempat dimana kamar pribadinya berada. Namun tiba tiba,


"Louis." Suara itu berhasil membuat Louis menghentikan langkah kakinya. Pria yang sudah sangat mengantuk itu lantas berbalik badan. Dilihatnya di sana seorang wanita paruh baya berpenampilan glamor nampak berjalan dari ruang keluarga, mendekati dirinya dengan membawa sebuah kertas undangan berwarna merah muda di tangannya.


"Tante Martha?" ucap Louis.


Ya, itu adalah Martha, tante Louis dan Luke, ibu kandung dari Bertrand Lefando Lincoln.


"Kamu baru pulang?" tanya Martha.


"Iya, Tante," jawab Louis sambil tersenyum.


"Betrand mana?" tanya Martha mencari keberadaan putranya, membuat Louis pun nampak mengernyitkan dahinya.


"Betrand belum pulang?" tanya Louis.


"Belum. Tante pikir dia pergi sama kamu. Soalnya dari semalam chat Tante nggak dibalas. Tante telfon juga nggak diangkat," ucap Martha.


Louis diam. Sepertinya asisten sekaligus sepupunya itu tengah melepas rindu dengan kekasihnya. Membuat Betrand seolah lupa segalanya ketika sedang bersama Rhea.

__ADS_1


Ya, Betrand memang bisa dibilang cinta mati dengan gadis yang sudah dipacarinya sejak SMA itu. Mereka sudah berpacaran sejak lama. Jarak yang jauh lantaran Rhea memilih merintis karir sebagai desainer di luar negeri nyatanya tak membuat jalinan asmara di antara keduanya renggang. Keduanya justru kian terlihat hangat dan mesra. Betrand selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke negara tempat Rhea merintis karir tiap dua minggu sekali. Begitu juga Rhea yang selalu menyempatkan diri datang ke tanah air tiap kali ia memiliki waktu senggang. Dan ketika mereka bertemu dan saling melepas rindu, ya... begitulah mereka. Keduanya pasti akan lupa waktu dan lupa segalanya.


Louis yang tengah ngantuk berat itu lantas tersenyum ke arah Martha.


"Mungkin Betrand lagi sama Rhea, Tante," ucap laki laki itu.


Martha menghela nafas panjang. "Anak itu, kalau sudah sama Rhea pasti lupa segalanya!" gerutu wanita paruh baya itu.


Louis terkekeh. "Namanya juga jarang ketemu, Tante. Ya udahlah, paling bentar lagi juga pulang,".ucap Louis.


Martha menghela nafas panjang lagi. Ia kemudian menatap wajah Louis yang nampak lelah itu. Digerakkannya tangan itu menyentuh wajah sang keponakan dan menggerak gerakkannya ke kanan dan ke kiri seolah mengamati paras tampan dengan mata yang terlihat mengantuk itu.


"Terus kamu juga dari mana jam segini baru pulang? Ini muka kamu juga kelihatan lelah banget?! Kamu begadang? Ngapain? Nggak biasa biasanya kamu kayak gini!" ucap Martha yang seolah sudah hafal dengan karakter dan pola hidup sang keponakan. Louis memang selalu menerapkan pola hidup sehat. Jadwal kegiatannya teratur. Ia nyaris tak pernah tidur larut malam jika tidak ada hal yang mendesak.


"Iya, aku emang kurang istirahat. Ini aku mau ke kamar, mau tidur dulu. Nanti kalau Betrand pulang, bilang aku nggak ke kantor ya, Tante. Aku capek banget, mau istirahat," ucap Louis lembut. Martha tersenyum sembari mengusap pipi sang keponakan yang begitu ia banggakan.


Louis tersenyum lagi. "Makasih ya, Tante. Kalau gitu aku masuk dulu," ucap Louis.


Martha mengangguk. Louis berbalik badan, hendak kembali menaiki tangga menuju lantai dua. Namun baru selangkah ia menapaki anak tangga itu, tiba tiba...


"Eh, Louis, tunggu!" ucap Martha lagi membuat Louis kembali menoleh.


"Ada apa, Tante?" tanya Louis.


Martha menaiki satu anak tangga, mendekati Louis.

__ADS_1


"Ini, ada undangan buat kamu!" ucap Martha sembari menyerahkan satu buah surat undangan ulang tahun berwarna merah muda yang sejak tadi berada di tangannya.


Louis membolak-balikkan undangan itu.


"Itu dari Natasya, cucunya Tuan Wijaya. Sabtu besok mereka akan mengadakan pesta ulang tahun untuk cucu tunggalnya itu. Kamu diundang kesana," ucap Martha.


Louis tersenyum ke arah Martha. "Aku usahakan untuk datang, Tante."


"Ya jangan cuma diusahakan, dong. Kamu harus datang. Natasya itu berharap banget loh kamu datang kesini, bahkan dia sendiri yang kemarin datang kesini buat nganterin undangan itu. Tapi sayangnya kamu nggak ada di rumah!" ucap Martha.


Louis tersenyum. "Iya, Insya Allah aku datang. Udah ya, Tante. Aku capek banget!" ucap Louis.


"Ya udah, kamu istirahat, gih!" ucap Martha kemudian sembari mengusap-usap pundak Louis.


Laki-laki itu lantas kembali berbalik badan. Ia bergegas pergi meninggalkan sang Tante dengan membawa secarik surat undangan di tangannya. Laki-laki itu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya. Dilemparkannya ringan surat undangan itu ke atas meja tanpa membacanya. Luke melempar jaketnya ke atas sebuah sofa single di sana. Ia lantas menjatuhkan tubuhnya yang lelah ke atas ranjang king size itu dalam posisi tubuh tengkurap dan kedua tangan terlentang. Louis memejamkan matanya. Seutas senyuman tiba tiba terbentuk dari bibirnya manakala hidung mancung itu berhasil menangkap sebuah aroma wangi parfum murah dari kaos hitamnya.


Ya, itu kaos miliknya yang sempat Anisa cuci beberapa hari lalu. Wangi parfum dari kaos itu sama persis dengan wangi parfum boneka serta selimut milik Anisa yang ia kenakan semalam. Wanginya menenangkan.


Louis lantas mengubah posisi tubuhnya menjadi terlentang. Dirogohnya saku celana jeans miliknya lalu mengeluarkan sebuah benda pipih dari dalam sana. Sebuah pesan dari Betrand yang dikirim kurang lebih lima belas menit yang lalu nampak masuk ke dalam ponsel tersebut.


"Sorry😁" tulisnya di sertai dengan sebuah foto seorang wanita cantik tertidur di atas dadanya yang tanpa busana. Background sebuah kamar hotel terlihat jelas disana.


"Cih!" Louis berdecih. Ia sudah menduga hal ini sebelumnya. Gaya pacaran Betrand dan Rhea memang cukup berani. Meskipun tak 'se brutal' Luke, namun tak jarang keduanya menghabiskan waktu bersama dengan berlibur dan menginap berdua.


Louis hanya menggelengkan kepalanya. Ia melempar asal ponsel itu. Ia kembali berguling di sana. Mengubah posisi tubuhnya menjadi tengkurap dan mulai memejamkan matanya guna mengganti istirahat malamnya yang tertunda.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2