Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Meminjam Raga?


__ADS_3

"Pegang tangan saya ya, Kek." Airin memegang tangan Kakek Marko. Mungkin saja dengan begitu Kakek Marko bisa melihat Esmee yang berdiri di dekat makam itu.


Kakek Marko memejamkan matanya sesaat lalu membuka matanya, dia tersenyum melihat bayangan Ibunya.


"Ibu..." ucapnya lirih.


"Maafkan Ibu, tidak bisa merawat kamu selama ini. Kamu tumbuh menjadi seorang pria yang hebat. Ibu bangga sama kamu."


Kakek Marko hanya terdiam sambil menatap nanar bayangan itu.


"Ibu pamit ya. Salam buat semua keluarga kita." Esmee mengedarkan pandangannya menatap anak, cucu, dan cicitnya. "Semoga kalian semua selalu berbahagia."


Kakek Marko tersenyum dalam tangisnya. Hantu Noni Belanda itu kini telah menghilang kemudian Airin melepaskan pegangan tangannya.


"Terima kasih. Ini hadiah terindah dalam hidup Kakek" Kakek Marko mengusap pipi Airin sesaat. "Kamu sangat spesial. Semoga kamu benar-benar menjadi bagian dari keluarga Kakek."


"Amin, Kek."


Kemudian mereka berdoa bersama di dekat makam Esmee. Setelah selesai menabur bunga, Airin dan keluarga Revan berjalan kembali menuju mobil.


"Ai, ikut kita merayakan ulang tahun Kakek di rumah yah." ajak Alea sambil menggandeng tangan Airin saat berjalan di antara makam-makam itu.


"Hmm, tapi saya cuma izin sebentar sama Ayah."


"Nanti Om izinkan sama Ayah kamu. Kamu tenang saja, kalau perlu Ayah kamu biar sekalian datang ke rumah." kata Kevin.


Airin hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia kini saling pandang dengan Revan, dia tidak menyangka hubungannya bersama Revan bisa sampai sejauh ini.


...***...


Airin baru pulang dari rumah Revan saat hari sudah malam, dengan diantar Revan menggunakan mobil. Sepanjang perjalanan satu tangan Revan terus menggenggam tangan Airin.


"Keluarga kamu baik banget ya." kaya Airin sambil menatap Revan yang sedang mengemudi.


"Sama seperti keluarga kamu juga. Jadi gimana? Mau diresmikan secepatnya? Apa lulus sekolah saja, nanti sekalian aku bawa kamu ke luar negeri." canda Revan.


"Memang kamu sudah siap?"


Revan semakin tersenyum, "Ya belum, masih lama ya. Masih butuh setidaknya empat tahun kita bisa bersama. Aku juga gak mau kamu nantinya hidup susah bersamaku."

__ADS_1


"Aku juga belum siap. Kadang apa yang kita bayangkan indah belum tentu indah saat kita menjalaninya jadi kita harus menyiapkan segala sesuatunya."


"Iya. Kita nikmati dulu masa remaja kita." Revan menghentikan mobilnya di depan rumah Airin lalu dia melepas sit bealt dan mendekatkan dirinya. "Makasih untuk hari ini."


Airin menahan napasnya beberapa saat ketika wajah Revan semakin dekat. "Iya, sama-sama."


"Rasanya aku semakin cinta sama kamu." Revan semakin menghapus jarak di antara mereka. Dia cium bibir tipis yang sudah menjadi candu itu. Hanya sesaat karena terlihat Ayahnya Airin sudah keluar dari rumah. "Ada Ayah kamu," bisik Revan sambil melepas sit bealt Airin lalu dia keluar dari mobil yang diikuti Airin.


Mereka berdua berjalan mendekati Alvin yang berdiri di depan pintu. "Maaf Om. Sampai malam," kata Revan.


"Iya, tidak apa-apa sekali ini saja. Maaf tadi tidak bisa ikut ke rumah kamu karena sedang ada acara di kafe," kata Alvin karena dia juga diundang oleh Kevin di acara ulang tahun kakeknya Revan.


"Iya, tidak apa-apa. Saya permisi pulang dulu, Om." Revan mencium tangan Alvin lalu dia kembali masuk ke dalam mobilnya.


"Anak Ayah satu ini udah kumpul-kumpul aja sama keluarga Revan." Alvin merengkuh bahu putrinya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Airin meletakkan dua bungkus makanan oleh-oleh dari keluarga Revan di meja ruang tengah. "Keluarga Revan semua baik Ayah."


"Iya, mereka memang baik. Kenapa? Mau cepat menikah?" goda Alvin lalu dia duduk di samping istrinya yang sedang membuka makanan yang dibawa Airin.


"Ih, Ayah. Nanti aja soal itu, Airin masih mau kuliah." Airin membalikkan badannya lalu melangkahkan kakinya menaiki tangga.


"Udah Bun. Airin udah kenyang." Airin kini masuk ke dalam kamarnya. Dia meletakkan tas dan seragamnya pada tempatnya. Setelah itu dia melempar tubuhnya di atas ranjang. Seharian ini benar-benar terasa sangat melelahkan. Dia berkeliling dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat.


"Capek banget. Tidur dulu ah." Kemudian Airin memejamkan matanya dan tertidur dengan nyenyak.


...***...


"Hai, nama kamu Airin?" Ada seseorang yang tersenyum ramah padanya. Wajah itu sangat mirip sekali dengan Mamanya Revan. Dia masih terlihat muda seumuran Airin.


"Iya, kamu siapa?" Airin mengerjapkan matanya lalu menguceknya karena kedua matanya masih terasa lengket.


"Aku kakaknya Revan."


Seketika mata Airin terbuka sempurna. Dia duduk dan menatap sosok yang berdiri di hadapannya. "Kakak mau apa?" tanya Airin dengan terbata.


"Kamu bisa menari?" tanyanya.


Airin menggelengkan kepalanya. Menari adalah salah satu hal yang tidak dia sukai.

__ADS_1


"Kamu bisa menolongku?"


"Aku? Aku gak bisa janji." Ingin Airin berlari tapi mengapa badannya terasa sangat berat. Dia hanya bisa duduk di atas ranjangnya.


"Aku ingin menunjukkan bakat menariku di depan kedua orang tuaku."


Airin mengambil selimutnya dan menutupi setengah wajahnya. Dia memiliki firasat tidak enak kali ini.


"Aku ingin mengikuti sebuah kompetesi menari, tapi waktu itu tubuh aku sudah lemah. Aku tidak bisa melakukannya."


Airin hanya terdiam. Dia tidak berani menatap Rania.


"Bolehkah aku meminjam raga kamu untuk mewujudkan keinginanku."


Airin kini menutup dirinya dengan selimut. Dia semakin ketakutan. Meminjam raga? Yang benar saja.


Beberapa saat kemudian, Airin terbangun dari tidurnya. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamarnya.


Airin duduk dan menghela napas panjang. "Ternyata cuma mimpi."


Airin kini mengusap wajahnya lalu dia turun dari ranjang. Tiba-tiba dia mendengar suara kotak musik yang berada di kamar Rania. Angin dingin kini juga berhembus menerpa dirinya.


Airin yang akan pergi ke kamar mandi, seketika urung. Dia kembali naik ke atas ranjangnya dan menarik selimutnya. Lalu dia meraih ponselnya dan menghubungi Revan.


Beberapa saat kemudian, Revan mengangkat panggilan Airin. "Ada apa, Ai?" tanya Revan dengan suara beratnya karena mengantuk.


"Van, aku takut..."


.


💕💕💕


.


Yee, udah 100 episode aja. Gimana kesannya? 😂 Gak jelas atau belibet kah ceritanya? Ingin dipanjangin lagi atau ditamatin nih? Komen ya...


.


Author juga mau ucapkan,

__ADS_1


Selamat hari raya Idul Fitri. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin ya... 🙏🙏


__ADS_2