
Seketika Airin melihat nakasnya. "Kenapa bisa ada di kamu? Tadi aku letakkan di atas nakas."
Terlihat Revan berjalan mendekati mejanya dan melihat kado itu. Dia beranikan diri untuk membukanya. Memang benar itu kado dari Putri tadi.
"Ai, apa sebenarnya Putri itu masih hidup?" tanya Revan karena dia merasa aneh dengan Putri.
Airin menggelengkan kepalanya. "Aku bisa menyentuhnya dan kamu juga bisa melihatnya."
"Lalu makhluk apa dia?"
Airin berpikir sejenak. Kemudian dia merebahkan dirinya sambil menarik selimut. "Besok kan hari Minggu, gimana kalau kita ke rumahnya. Kamu tahu rumahnya yang mana?"
"Aku gak tahu. Tadi dia turun di depan gang."
"Ya udah, gampang. Besok aku tanya sama Rima. Teman aku yang tinggal di jalan itu."
Revan menghela napas panjang lalu dia merebahkan dirinya di atas ranjang. Dia masih menatap wajah Airin lewat layar ponsel. "Iya, besok aku ke rumah kamu ya."
"Tapi, hmm, apa kamu mau jadi pacar pura-puranya Putri?"
Revan menggelengkan kepalanya. "Memang kamu rela?"
"Ya nggak sih. Tergantung alasan dia apa dulu."
Revan justru tersenyum menggoda Airin. "Kirain rela dibagi-bagi."
"Ih, ya nggak rela lah."
"Kenapa?"
Airin mengedipkan matanya berulang kali. Dia justru terjebak dengan pertanyaan Revan. "Karna aku cinta kamu." Airin langsung menutupi wajahnya dengan selimut karena malu.
"Sayang jauh, kalau deket udah aku makan."
"Mau main makan anak orang aja." Airin membuka selimutnya lagi dan tertawa menatap Revan.
Beberapa saat kemudian terdengar gedoran pintu dari luar kamarnya. "Ai, makan malam dulu."
"Iya, Ayah."
"Kamu belum makan?"
"Udah sih sore tadi. Makanya aku masih kenyang."
"Makan dulu gih."
Airin bangun lalu duduk di tepi ranjang. "Ya udah, nanti vc lagi ya. Daa.." Airin mematikan panggilan itu karena Ayahnya kembali menggedor pintunya.
Airin berjalan menuju pintu dan membukanya. "Iya, Ayah."
"Lagi vc sama Revan? Suara kedengaran loh."
"Ih, Ayah nguping ya." Airin bergelayut di lengan Ayahnya sambil menuruni anak tangga.
"Gak nguping, emang suara kamu yang keras. Ingat ya, kamu sudah kelas dua belas jangan sampai mengganggu pelajaran. Kalau kamu mau masuk kampus negeri belajar yang rajin, jangan pacaran terus."
"Iya, Ayah. Tapi Airin besok keluar sama Revan sebentar ya, mau ke rumah teman di jalan Mawar sini."
__ADS_1
"Baru juga Ayah nasehati sudah mau jalan sama Revan."
"Deket Ayah, cuma bentar kok. Ya, ya."
"Gak boleh lama."
"Iya Ayah."
Mereka kini sampai di ruang makan lalu Airin duduk di dekat Ayla.
...***...
Keesokan harinya, Revan datang ke rumah Airin untuk mencari tahu tentang Putri. Semalam Revan terus memikirkan kado pemberian Putri yang terus mengikutinya itu.
"Kita ke rumah Rima dulu ya. Kita cari tahu dimana rumah Putri." kata Airin sambil naik ke boncengan Revan.
"Oke."
Beberapa saat kemudian motor Revan sudah melaju menuju jalan mawar yang hanya berjarak sekitar 400 meter dari rumah Airin.
Revan kini memasuki jalan mawar itu dan berhenti di depan rumah Rima. Airin turun dari motor Revan dan menunggu Revan yang sedang melepas helm dan mengunci motornya.
"Airin!" panggil Rima dari dalam rumahnya saat melihat Airin.
Airin dan Revan kini berjalan mendekat.
"Udah lama kamu gak ke sini, padahal rumahnya deket. Masuk dulu sini." kata Rima mempersilakan mereka masuk.
"Iya, kamu juga gak pernah ke rumah."
Airin mengangguk sambil tersenyum.
"Hebat banget bisa dapatin pacar sekeren ini."
"Ih, apaan sih. Aku ke sini mau tanya sesuatu sama kamu."
"Tanya apa?"
"Kamu kenal Putri gak?"
"Putri?" Rima berusaha mengingat yang namanya Putri di kampungnya. "Putri yang mana ya? Dia masih anak-anak, remaja, atau ibu-ibu. Masalahnya di sini ada beberapa yang namanya Putri."
"Dia SMA kelas sepuluh. Rambutnya panjang, kulitnya putih, cantik sih."
"Putri kelas sepuluh?" Rima berusaha mengingat lagi. "Oo, jangan-jangan Putri yang lagi sakit itu."
"Sakit?"
Rima menganggukkan kepalanya. "Rumahnya masih masuk terus, di gang buntu itu loh, deketnya toko. Denger-denger dia sakit parah. Katanya kemarin dia sempat pingsan di sekolah, lalu dibawa ke rumah sakit, dan sampai sekarang dia masih koma."
"Koma?" Airin dan Revan saling tatap.
"Terus yang kemarin nemuin aku tuh siapa?" tanya Airin.
"Ya mana aku tahu. Bukan Putri yang itu kali. Coba deh kamu pastiin. Jalan aja masuk gang lurus terus. Kalau gak salah nama ibunya Bu Rona." kata Rima.
"Ya udah, kalau gitu kita sekarang mau ke rumahnya saja. Makasih infonya. Kita titip motor dulu ya."
__ADS_1
"Iya."
Airin dan Revan keluar dari rumah Rima. Mereka berdua berjalan kaki memasuki gang yang lumayan sempit itu. Berjalan lurus terus sampai terlihat gang buntu.
"Sepertinya ini rumahnya," kata Airin.
Mereka berdua masuk ke teras rumahnya dan mengetuk pintu yang tertutup rapat itu. Sampai beberapa kali ketukan tak ada yang membuka pintu.
"Mungkin gak ada orang di rumah."
Mereka berdua membalikkan badannya tapi saat akan melangkah pergi, pintu itu terbuka. Ada seorang bapak-bapak yang sedang membawa tas akan keluar.
Revan dan Airin menghampiri bapak itu.
"Maaf Pak, ini rumahnya Putri?" tanya Airin.
"Kalian siapa?" tanya bapak itu.
"Kami teman satu sekolahnya Putri."
"Putri sakit, ada di rumah sakit." jawab bapak itu.
"Boleh kami bicara sebentar?" tanya Airin.
"Iya, silakan masuk dulu."
Mereka masuk ke dalam rumah yang sederhana itu. Kemudian Airin dan Revan duduk berdampingan.
"Sebenarnya kemarin saya bertemu dengan putri waktu sore."
"Putri masuk rumah sakit sejak siang hari. Dia pingsan di sekolah setelah jam istirahat dan sampai sekarang belum sadarkan diri."
"Apa boleh kami melihat foto Putri untuk memastikannya?" tanya Revan. Semua ini memang terasa janggal.
"Itu fotonya." Bapak itu menunjuk sebuah foto yang menggantung di tembok.
Ternyata benar, dia Putri yang menemui mereka kemarin. Airin dan Revan saling tatap sesaat, lalu mereka berlanjut mencari informasi tentang Putri. "Kalau boleh tahu Putri sakit apa?"
"Jantung. Sudah operasi tapi masih tetap tidak ada perubahan. Dokter sudah memvonis umurnya tidak akan lama lagi. Jadi siapa yang menemui kamu kemarin sore? Tidak mungkin putri anak saya kan?"
"Jadi sebenarnya..."
Belum sempat Airin menjelaskan, ada panggilan yang masuk di ponsel bapak itu. "Iya. Apa! Putri semakin drop! Iya, Ayah segera ke sana!" Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku Bapak itu segera berdiri. "Saya buru-buru ke rumah sakit."
"Boleh kami ikut?"
"Iya, silakan."
Mereka segera keluar dari rumah Putri. Airin dan Revan segera berjalan menuju motor mereka yang berada di depan rumah Rima.
"Van, jika Putri bisa sadar hari ini. Turuti permintaannya untuk jadi pacar kamu dalam sehari ya," pinta Airin yang membuat langkah Revan seketika berhenti.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1