Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Nge-Date


__ADS_3

"Ibu, Ayah ada di rumah?" tanya Azka setelah turun dari mobil Papanya Melodi di depan rumahnya.


"Ada," jawab Bu Isti pelan.


"Jadi Ayah benar-benar sudah tidak peduli sama aku, bahkan kalau aku mati pasti Ayah tidak akan pernah merasa kehilangan."


Bu Isti memeluk putranya dari samping. Dia sangat mengerti apa yang dirasakan Azka. Azka pasti juga ingin dijemput Ayahnya dan diperhatikan oleh Ayahnya.


"Bu, suatu saat nanti kalau aku punya uang, aku ingin tes DNA, biar Ayah tahu yang sebenarnya. Aku tidak mengharap kasih sayangnya lagi tapi aku hanya ingin Ibu tidak terus-terusan difitnah Ayah." Azka masuk ke dalam rumah lalu dia hanya melewati Ayahnya yang sedang duduk di ruang tengah. Tanpa berkata apapun dia masuk ke dalam kamarnya.


Bu Isti hanya berdiri mematung di depan kamar Azka yang tertutup. Sudut matanya kini menatap suaminya yang acuh padanya. Gugatan cerai sudah dia layangkan, tapi masih menunggu panggilan sidang yang tak tahu sampai kapan.


Sedangkan di dalam kamar, Azka kini duduk di tepi ranjangnya. Dia sangat merindukan kasih sayang seorang Ayah. Dulu waktu kecil masih ada Kakaknya yang selalu menghibur dan melindunginya. Sekarang ketika dia dewasa, dia mengerti semuanya, bahwa Ayahnya memang tidak pernah menyayanginya.


Dia susut ujung matanya yang mengembun untuk kesekian kalinya. Ketika melihat perhatian Ayahnya Revan yang sangat khawatir bahkan sampai mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan putranya, dia sangat iri. Jangankan Ayahnya ikut mencari tanya keadaannya pun tidak.


Dia kini merebahkan dirinya di atas ranjang. Punggungnya terasa sangat sakit, tapi tidak dia rasa. Dia selalu berusaha menjadi sosok yang kuat meski dirinya sendiri sangat rapuh.


...***...


"Ai, hari ini nonton yuk!" ajak Revan yang terhubung panggilan video dengan Airin. Setelah lima hari dirawat di rumah sakit, Revan diperbolehkan untuk pulang. Dia juga sudah merasa bosan setiap hari hanya di rumah saja.


"Memang kamu beneran udah sembuh?" tanya Airin.


"Udah. Besok hari terakhir kita libur sekolah. Jadi hari ini jalan ya."


"Aku tanya Ayah sama Bunda dulu ya."


"Biar aku saja yang minta izin. Kalau gak boleh ya kita ngobrol di rumah kamu aja. Sebentar lagi aku berangkat."


"Oke, kamu hati-hati ya."


Airin tersenyum kecil sambil mematikan panggilan Revan. Dia kini memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu mengambil dompetnya. Entah dia diizinkan atau tidak yang penting dia sudah siap dan berdandan tipis.


Beberapa saat kemudian, Bundanya mengetuk pintu kamar Airin. "Ai, ada Revan di bawah."


"Iya Bun." Airin membuka pintu dan keluar dari kamarnya. Dia kini turun bersama Bundanya.


Revan sudah duduk di atas sofa. Dia tersenyum lalu berdiri dan menghampiri Airin yang berdiri di dekat Bundanya. "Tante, saya mau minta izin untuk menonton bioskop sama Airin. Apa boleh?"

__ADS_1


"Mau nonton?"


Airin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil.


"Bunda izin ke Ayah kamu dulu ya. Takutnya nanti Ayah marah." Rili mengambil ponselnya lalu menghubungi suaminya. Setelah selesai berbicara, baru dia bisa memberi izin pada putrinya. "Iya boleh. Tapi jangan pulang sampai larut malam ya."


"Makasih Bunda." Airin kembali menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil kardigan dan juga tasnya. Dia berkaca sesaat memastikan rambutnya tidak berantakan lalu memakai lipbalm agar bibirnya tidak kering. Setelah itu dia kembali turun dan menghampiri Revan.


"Kita berangkat dulu ya, Bun."


"Hati-hati ya. Ingat, jangan pulang sampai malam." pesan Bundanya.


"Iya, Bun." Setelah berpamitan, mereka keluar dari halaman rumah. Airin menghentikan langkahnya saat melihat sebuah mobil terparkir di depan gerbang. "Kamu bawa mobil?"


Revan menganggukkan kepalanya. "Aku disuruh Papa bawa mobil, takutnya kaki aku masih sakit padahal udah gak papa. Kamu tenang aja, aku udah punya SIM." Revan kini membukakan pintu untuk Airin.


Setelah mereka masuk ke dalam mobil, mobil Revan segera melaju.


Beberapa kali Airin tersenyum menatap Revan. Akhirnya setelah sekian lama dia bisa berkencan dengan Revan.


"Kenapa senyum-senyum. Aku jadi gerogi." kata Revan sambil sesekali melirik Airin.


"Emang gak boleh senyum?"


"Pintar gombal banget sih sekarang. Es kutubnya udah mencair."


"Iya, kamu yang sudah memberi kehangatan makanya mencair." Tangan kiri Revan kini meraih tangan Airin dan menggenggamnya. "Gak terasa kita sudah kelas dua belas."


"Iya, rencana kamu mau kuliah dimana?"


Revan terdiam beberapa saat. "Aku masih belum tahu."


"Kalau aku mau ikut seleksi di kampus negeri."


"Kamu pasti lolos."


"Iya, semoga saja karena Kak Ayla gak lolos, jadi sekarang Kak Ayla masuk di fakultas boga."


"Bagus dong, ada yang meneruskan usaha Ayah kamu."

__ADS_1


"Iya."


Beberapa saat kemudian, Revan membelokkan mobilnya ke tempat parkir sebuah mall yang cukup mewah. Setelah berhenti, mereka keluar dari mobil dan bergandengan tangan berjalan masuk ke dalam mall. Mereka kini naik ke lantai tiga lalu masuk ke dalam bioskop.


"Mau lihat film apa?" tanya Airin sambil melihat jadwal pemutaran film.


"Aku udah beli tiketnya. Film barat sih karena kamu gak mungkin mau nonton film horor kan."


Airin tersenyum kecil. "Iya, aku udah bosan dengan hal yang berbau horor."


"Tepat 15 menit lagi film dimulai. Beli pop corn sama minum dulu yuk." Revan mengantri sebentar di tempat pembelian pop corn. Setelah mendapatkan pop corn dan minuman dingin, mereka berjalan masuk ke dalam theatre nomor dua. Setelah duduk di kursi sesuai nomor mereka, beberapa saat kemudian film pun diputar.


Akhirnya Airin bisa merasakan menonton bioskop bersama pacar. Bukannya menikmati film, tapi dia menikmati genggaman tangan Revan yang terasa hangat di tangannya. Terasa sangat indah dan ingin terulang lagi.


Tak terasa film pun berakhir, mereka kini keluar dari bioskop.


"Ai, kita jalan-jalan di mall sebentar terus makan ya." kata Revan. Tangannya masih saja setia menggenggam tangan Airin.


Tanpa sengaja, ada seseorang yang menyenggol bahu Airin karena di pintu keluar bioskop lumayan berdesakan.


"Sorry," ucapnya sambil menoleh Airin.


"Nita, kamu sama siapa ke sini?" Airin tak menyangka seseorang yang menyenggolnya barusan adalah Nita, teman satu sekolahnya. Mereka saling kenal meski beda kelas.


"Sama..." belum Nita menjawabnya tangannya sudah ditarik oleh seorang lelaki.


"Nit, ayo." Pria itu menarik tangan Nita.


Revan mengernyitkan dahinya setelah melihat sekilas wajah pria itu. "Bukankah itu Pak Diki?"


"Pak Diki siapa?"


"Guru Biologi di sekolah kita. Memang baru satu tahun ini mengajar. Nanti kelas dua belas kita juga diajar sama Pak Diki."


"Mereka berdua dekat?" tanya Airin sambil berjalan menuju eskalator.


"Entahlah, bukan urusan kita. Yang jadi urusan aku cuma kamu." Revan sedikit mencubit pipi Airin.


"Ih, Revan." Pipi Airin bersemu merah. Revan selalu saja berhasil menggodanya.

__ADS_1


.


💕💕💕


__ADS_2