Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Semoga Saja


__ADS_3

Azka menghela napas panjang. Lalu dia melangkah melewati tulang belulang itu. Dia tekadkan dirinya untuk mencari sesuatu yang mungkin masih bisa digunakan.


Aku gak boleh takut. Mereka semua sudah mati, tidak akan mungkin bisa menggangguku.


Dia arahkan senternya pada bagasi bus yang masih tertutup itu meski badan bus sudah penyok di sana sini.


Azka memasukkan ponselnya ke saku jaketnya lalu menarik pintu bagasi itu. Dia harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk membuka.


Akhirnya pintu bagasi itu terbuka. Sesuai dugaannya di dalam sana banyak barang dan masih aman tidak terkena air hujan ataupun sinar matahari.


Dia mengambil tas-tas besar itu berusaha mencari selimut atau jaket agar bisa menghangatkan tubuh mereka di malam yang semakin dingin itu.


Detak jantung Azka semakin berpacu, dia tak peduli dengan suara gemrisik dari dalam bus. Entah itu suara binatang atau suara hantu seperti kata Airin. Dia bongkar tas-tas itu. Dia menemukan selimut tipis, ada jaket juga dan satu kantong besar aneka coklat dengan kemasan yang masih bagus karena terbungkus bubble wrap.


Azka mengosongkan satu tas lalu dia isi dengan barang-barang yang dia butuhkan.


"Ada satu kardus Aqua botol juga."


Dia menyenter tanggal expayed yang tertera di kardus itu dan masih lama. Sebenarnya banyak makanan dan oleh-oleh tapi semuanya sudah tidak layak konsumsi. Dia buka kardus air mineral itu. Masih bagus dan tidak ada yang bocor. Dia masukkan ke dalam tas juga.


Setelah barang-barang yang dia ambil cukup, kemudian dia tutup tasnya lalu dia pakai dipunggungnya. Dia membalikkan badannya dan berjalan menjauh. Tapi tiba-tiba ada yang memegang kakinya. Telapak tangan yang tinggal tulang belulang itu seolah bergerak sendiri memegang kaki Azka dengan keras hingga dia terjatuh.


"Lepaskan! Aku hanya ambil barang sedikit! Kalian sudah tidak memerlukan ini semua."


Azka berusaha menarik kakinya tapi terasa sangat berat.


"Azka..." Airin melihat Azka yang ditahan makhluk-makhluk itu.


"Kalian tolong Azka, biarkan aku di sini." kata Revan.


Airin menganggukkan kepalanya lalu dia berlari menghampiri Azka.

__ADS_1


Sedangkan Melodi menghentikan langkahnya di tengah perjalanan. Dia tidak sanggup melihat tulang-tulang yang tertutup pakaian itu. Baru kali ini dia berada dalam kondisi mengerikan seperti itu. Dia melihat film horor saja takut bagaimana dia sanggup menyaksikan itu semua secara nyata.


Airin berusaha menarik Azka. Meskipun dia sendiri juga sangat ketakutan karena hantu-hantu itu kini semakin mendekatinya.


"Jangan ganggu kita! Kita hanya bermalam di sini. Kalau kita berhasil keluar dari sini, kalian juga bisa keluar dari sini. Kalian bisa dimakamkan dengan layak dan keluarga kalian akan bahagia bertemu dengan kalian meskipun hanya jasad kalian yang pulang." Suara Airin kian bergetar. Dia tidak sanggup lagi menarik Azka.


Beberapa saat kemudian mereka semua lenyap dari pandangan Airin. Azka juga terlepas dari cengkeramannya. Mereka pun berdua terjatuh di tanah.


"Airin, kamu gak papa." Azka segera membantu Airin berdiri lalu kembali ke tempatnya semula.


"Iya, gak papa. Mereka semua sudah pergi."


Melodi yang sedari tadi ketakutan kini memeluk Airin. "Ai, aku takut banget. Di sana banyak banget mayatnya."


"Udah gak papa. Kita harus bertahan di sini sampai besok pagi."


Azka membuka tas itu lalu mengeluarkan dua selimut dan satu kain spanduk. Dia gelar kain spanduk itu lalu melipat beberapa jaket untuk dibuat bantal. "Untuk sementara kita tidur di sini. Ini ada selimut juga. Sebentar lagi biar aku cari ranting agar api unggunnya gak padam."


Revan menatap botol itu.


"Gak papa. Ini gak expayed. Gak ada pilihan lain biar lo gak makin dehidrasi."


Revan akhirnya meminum air mineral itu.


Azka juga memberikan Airin dan Melodi minuman.


"Ini ada coklat juga. Masih layak konsumsi dan bagus karena masih terbungkus bubble wrap juga." Azka membuka bungkusan itu. Coklat yang terbungkus kecil-kecil itu lumayan banyak.


Melodi hanya terdiam menatap mereka bertiga minum lalu memakan coklat itu. Dia sama sekali tidak bernafsu setelah melihat mayat-mayat itu.


"Mel, ayo makan. Gak papa. Ini masih bagus, expayed juga masih lama." Azka sampai membukakan coklat itu untuk Melodi.

__ADS_1


Tapi Melodi justru menutup mulutnya. Dia merasa mual membayangkan darimana asal coklat itu.


"Ya sudah, kalau mau kamu ambil sendiri." Azka kini mengambil handuk kecil lalu membasahinya. "Ai, kamu kompres Revan. Biar aku cari ranting lagi buat api unggun."


Airin menganggukkan kepalanya.


"Azka, lo istirahat juga. Perjalanan lo besok masih panjang."


Azka hanya tersenyum miring sambil mengambil ranting-ranting pohon yang kering. Dia sudah terlatih hidup susah, jelas saja batin dan fisiknya sangat kuat.


Revan kini merebahkan dirinya. "Kamu tidur aja, Ai. Aku gak papa."


Airin mengelap tengkuk leher Revan lalu mengompres dahinya. "Moga besok kondisi kamu jauh lebih baik."


Revan menganggukkan kepalanya, ujung matanya kini menatap Azka yang tengah sibuk membesarkan api unggun. Azka memang sangat hebat, jauh di atas dirinya.


"Ai, kamu tidur saja. Biar aku yang jaga Revan dan kalian berdua." kata Azka yang mengambil alih tempat Airin agar Airin tidur bersama Melodi.


"Lo istirahat juga. Ngapain lo jaga gue."


"Ck, gue gampang. Gue udah biasa hidup susah." Azka membasahi kain kompres itu dengan air lagi lalu kembali mengompres dahi Revan.


Airin dan Melodi akhirnya tidur sambil berpelukan. Sedangkan Azka kini merebahkan dirinya dan menatap pekatnya langit malam itu.


Semoga saja besok kita menemukan jalan keluar..


💕💕💕


.


Like dan komen ya...

__ADS_1


__ADS_2