
Anak buah Kevin sudah menyebar memasuki hutan untuk mencari Revan dan teman-temannya yang dibantu oleh tim SAR. Dia dan Alvin juga ikut dalam pencarian itu. Kevin membawa sebuah alat pendeteksi lokasi Revan yang menunjukkan jika Revan telah mengirim signal SOS ke satelit.
"Mereka ada di tengah hutan. Masih jauh dari sini," kata Kevin.
Alvin menghela napas panjang. Dia sangat khawatir dengan kondisi putrinya sekarang karena malam kian larut. "Bagaimana bisa mereka ada di tengah hutan. Di sini banyak ular dan binatang buas lainnya." Pikiran Alvin semakin tidak tenang. Apa benar kata Rili jika Airin tersesat karena diganggu makhluk tak kasat mata.
Harusnya aku gak memberi izin Airin mengikuti camping seperti ini. Di hutan seperti ini jelas banyak penampakan dan makhluk-makhluk lainnya. Semoga mereka semua selamat.
"Pak Alvin!!" panggil Papanya Melodi yang berhasil menyusul Alvin. "Kata tim SAR Pak Alvin menemukan titik hilangnya mereka semua."
"Kevin yang sudah menemukan."
Kemudian mereka bertiga berjalan menuju titik lokasi yang dimaksud.
"Titiknya di sini." kata Kevin. Dia melihat sekitar tempat itu. Banyak pohon-pohon besar dan sama sekali tidak ada jejak dari mereka.
"Melodi kenapa bisa sampai sini?" Aksara menghela napas panjang. Putri semata wayangnya itu sudah dia wanti-wanti agar tidak masuk ke dalam hutan karena inilah yang dia takutkan.
"Kita cari lagi." Alvin menepuk bahu Aksara. "Sudah banyak tim yang mencari mereka. Semoga mereka cepat ketemu."
Aksara menganggukkan kepalanya. Selain mencari putrinya, dia juga harus memastikan keadaan Azka karena kedua orang tuanya tidak bisa ikut menyusul ke tempat itu.
"Revan! Kamu dimana! Revan!"
"Airin!"
"Melo! Azka!"
Suara panggilan mereka menggema di tengah hutan memecah kesunyian malam.
...***...
Semakin malam tubuh Revan semakin terasa panas. Dia semakin melemas dan bersandar di badan Azka. Sedangkan Melodi dan Airin akhirnya tertidur karena merasa lelah.
"Revan, lo harus bertahan!" Azka semakin khawatir dengan keadaan Revan. Meskipun sudah dia hisap ternyata racun itu tetap menyebar ke seluruh tubuh Revan.
"Besok kamu bawa Airin keluar dari sini," kata Revan dengan suara lemahnya.
"Kamu juga harus ikut."
"Kalau aku gak bisa bertahan, kamu harus jaga dia."
__ADS_1
Azka terdiam dan menatap langit malam yang hitam pekat itu. Kemudian dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Dia melihat sebuah bus terbalik yang berjarak sekitar 15 meter dari tempatnya.
Aku baru sadar kalau ada bus di tempat ini. Jangan-jangan itu bus yang hilang dua bulan yang lalu itu.
Azka akan berdiri tapi dia tidak tega meninggalkan Revan.
Tiba-tiba Airin terbangun dan berteriak. Dia terbatuk cukup keras sambil menarik napas dalam.
"Kenapa?" tanya mereka bertiga.
"Seperti ada yang mencekikku." Airin meraba lehernya lalu dia berdiri. Saat dia meluruskan pandangannya ternyata begitu banyak makhluk-makhluk itu mengintainya. Sosok mereka terlihat jelas dibawah sinar bulan purnama. Sekuat tenaga dia tidak berteriak. Tapi ketiga anak kecil itu kini mendekat.
"Kak, bawa kita keluar dari sini. Kak, bawa kita keluar dari sini."
Anak perempuan itu menarik tangan Airin hingga dia ikut terseret beberapa langkah lalu dia terjatuh karena tersandung sesuatu.
"Aduh!" Airin menahan tubuhnya dengan tangan tapi tanpa sengaja dia memegang sesuatu. "Rambut!" Rambut itu tersangkut di sela-sela jarinya hingga membuat tengkorak itu terangkat dari tanah.
"Kakak, itu kepalaku."
"Aaaa!!!" Seketika Airin melepas tengkorak itu dari tangannya. Dia kembali berlari mendekati Melodi yang juga sangat terkejut melihat tengkorak itu.
"Ai, itu apa?" Melodi kini memeluk Airin karena dia juga sangat ketakutan.
"Ai, di sana ada bus terbalik." tunjuk Azka.
Seketika pandangan mereka semua tertuju pada arah tunjuk Azka.
Airin melebarkan matanya. Mengapa dia baru menyadari keberadaan bus itu. Di sekitar bus terbalik itu banyak makhluk-makhluk mengerikan. Ada yang menangis dan berteriak histeris.
"Dua bulan yang lalu aku pernah baca berita ada bus yang menghilang dan membawa 55 penumpang."
Airin semakin mengeratkan pelukannya pada Melodi. "Itu berarti di sini ada 55 mayat?"
"Iya, kemungkinan seperti itu. Ditambah sopir dan kernet bus. Melo, Airin, kalian jaga Revan di sini. Biar aku lihat ke sana."
"Azka jangan. Di sana banyak hantunya," kaya Airin.
"Airin, aku gak bisa melihat mereka. Aku hanya ingin tahu bagaimana kondisi bus itu. Mungkin saja masih ada barang yang bisa kita gunakan sebelum kita kembali mencari jalan besok pagi," kata Azka.
Airin dan Melodi kembali duduk di dekat Revan. Airin kini merengkuh Revan yang sepertinya semakin melemah.
__ADS_1
"Mel, aku pinjam ponsel kamu."
Kemudian Melodi memberikan ponselnya pada Azka.
"Azka hati-hati." kata Airin. Dia tidak berani menatap ke arah bus itu. Bus itu terlalu menakutkan baginya. Dia kini menyandarkan kepala Revan dibahunya. "Van, kamu harus bisa bertahan."
"Kalau aku gak bisa bertahan kamu harus tetap melanjutkan mencari jalan keluar bersama Azka."
"Jangan bilang seperti itu." Airin kembali menangis. Dia sendiri bisa merasakan tubuh Revan yang sangat panas dan sudah tidak berdaya.
Melodi kini juga ikut menangis di samping Airin. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kelanjutan hidup mereka esok hari.
"Aku gak yakin bisa bertahan sampai besok pagi. Badan aku udah gak ada tenaga dan kaki aku rasanya sangat sakit."
"Revan aku yakin kamu bisa."
"Kalau terjadi apa-apa sama aku. Tinggalkan aku, agar aku tidak membebani kalian semua."
"Revan jangan bilang seperti itu." Airin semakin mendekap tubuh Revan. "Kamu pasti bisa!"
"Iya, aku akan berusaha kuat. Terima kasih sudah mencintai aku."
Airin kini menempelkan pipinya di pipi Revan. "Kamu harus kuat. Kamu harus bisa bertahan. Masih banyak mimpi yang harus kita raih. Apa kamu gak mau menikah sama aku nanti?"
Revan tersenyum dengan bibirnya yang telah mengering. "Itu impian terbesar aku."
"Makanya kamu harus bisa bertahan ya. Kita pasti bisa keluar dari hutan ini sama-sama."
Revan hanya mengangguk pelan.
Azka sebenarnya ragu untuk melangkah, di bawah bus itu terlihat beberapa tulang belulang sudah tercecer dan berserakan. Lalu dia menyorot ke atas jurang. Sepertinya beberapa kilometer dari tempat itu memang jalan raya. Bus ini tidak terlihat dari atas karena ada banyak pohon besar yang menutupi dan kedalaman jurang yang sangat curam.
Azka semakin mendekat. Dia menyorot bus itu dengan senter dari ponselnya. Terlihat bagian depan bus itu telah terbakar.
Azka menghela napas panjang. Lalu dia melangkah melewati tulang-tulang itu. Dia tekadkan dirinya untuk mencari sesuatu yang mungkin masih bisa digunakan.
Aku gak boleh takut...
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya...