Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Hidup Itu Rumit


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Azka masuk ke dalam kamar kakaknya yang sudah lama tidak ditempati. Dia mengambil kardus besar yang berada di atas lemari. Lalu meletakkannya di lantai dan membuka tutup kardus yang penuh debu itu.


Ada sebuah kotak berpita yang ada di dalamnya. Dia mengambilnya dan membuka kotak itu. Ada sebuah kalung titanium dan teddy bear kecil.


Fani, aku tahu waktu aku tak banyak buat kamu karena aku sibuk dengan duniaku. Tapi aku masih ingat hari ini aniversarry kita yang kedua. Kita hanya break, bukan putus. Setelah kita lulus, kita jalan ya. I love you...


"Aku gak tahu sekarang Kak Fani ada dimana? Semoga dia ada di rumahnya yang lama. Aku akan sampaikan barang ini untuk Kak Fani."


Azka memasukkan kembali kalung dan boneka itu ke dalam kotak lalu membawanya.


Dia masuk ke dalam kamarnya lalu mengambil baju ganti dan membasuh dirinya. Hanya sesaat, dia sudah keluar dari kamar mandi dan menyisir rambutnya.


"Azka, makan dulu nak." kata ibunya yang kini berdiri di ambang pintu.


"Iya, Bu." Kemudian Azka keluar dari kamar dan menuju ruang makan yang menjadi satu ruangan dengan dapur.


"Hari ini ada latihan?" tanya Bu Isti sambil mengambilkan Azka nasi di atas piringnya.


"Aku sedang mempersiapkan untuk mengikuti olimpiade matematika minggu depan."


Seketika Bu Isti duduk dan memegang lengan Azka. "Semoga kamu juara. Ibu yakin kamu bisa."


"Iya, Ibu doakan aku ya." Lalu Azka mulai menyantap makanannya karena perutnya sudah terasa sangat lapar.


Beberapa saat kemudian, Ayahnya pulang dan ikut makan bersama Azka. Ibunya menceritakan bahwa Azka akan mengikuti olimpiade Matematika namun bukannya senang, Ayahnya justru membuat semangat Azka menurun.


"Memang kamu bisa jadi juara? Selama ini hanya sibuk bermain basket dan gak pernah belajar."

__ADS_1


Azka hanya menghela napas panjang. Dia harus bisa bersabar, dia harus menunjukkan bahwa dia benar-benar bisa menjadi yang terbaik. Setelah menghabiskan makanannya dia berdiri dan masuk ke dalam kamarnya tanpa berkata apapun.


Beberapa saat kemudian, dia sudah memakai jaketnya dan keluar dari rumah setelah berpamitan pada ibunya.


Dia melihat alamat rumah Fani lagi. "Masih satu kecamatan. Tidak terlalu jauh." Azka mengendarai motornya dan beberapa saat kemudian motornya telah melaju menuju alamat yang dimaksud.


Hanya 15 menit, Azka menghentikan motornya di depan sebuah rumah sesuai alamat rumah Fani. Rumah itu nampak sepi, dia kini turun dan masuk ke dalam teras rumah Fani. Dia mengetuk pintu dan mengucap salam.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya ada yang membukakan pintu untuknya. Terlihat ibu-ibu yang sudah beruban. Mungkin saja itu ibunya Fani.


"Permisi, saya mau mencari Kak Fani, ada?"


Ibu itu menatapnya sinis. "Fani sudah tidak ada di sini. Kamu salah satu pelanggannya?"


"Bukan, saya..."


Azka kini berdiri di dekat sepeda motornya. Dia melihat ada seorang ibu-ibu yang berdiri di depan rumahnya yang menjual aneka es. Ya, mungkin saja ibu itu tahu tentang Fani.


Kemudian Azka berjalan menghampirinya dan bertanya pada tetangga Fani itu. "Pemisi Bu, saya mau tanya tentang Fani. Apa benar Fani sudah tidak tinggal di sini?"


Ibu-ibu itu mengamati Azka dari atas sampai bawah. "Kamu siapanya Fani?"


"Sebelumnya saya memang belum pernah bertemu Fani tapi saya ada keperluan."


"Kamu mirip sekali dengan pacar Fani yang meninggal sewaktu SMA," kata ibu itu.


Azka menganggukkan kepalanya. "Kebetulan saya adiknya."

__ADS_1


"Oo, pantas mirip sekali. Saya masih ingat betul karena Fani dan pacarnya sering beli es di sini. Kasihan Fani." kata Ibu itu sambil duduk di depan tokonya. "Sini, kamu juga duduk dulu."


Azka akhirnya duduk di sebelah ibu itu. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan Fani.


"Setelah pacarnya meninggal Fani sangat sedih. Dia seperti tidak ada semangat hidup lagi. Ibunya marah, karena dia gagal mendapatkan beasiswa ke kampus. Lalu dia memutuskan untuk bekerja diluar kota, ternyata dia dijebak dan dijual di sana. Dia ditolong polisi lalu dibawa pulang."


Azka hanya terdiam mendengarkan cerita tragis itu.


"Tapi lagi-lagi ibunya tidak mau menerimanya karena malu lalu dia diusir dari rumah. Mungkin karena dia putus asa dan tidak ada arah tujuan lagi, sekarang dia bekerja sebagai LC di salah satu tempat karaoke dan klub malam."


"LC?" Azka menautkan alisnya dan berpikir. Ternyata banyak yang terdampak dari kepergian Kakaknya. "Di klub mana?"


"Saya juga kurang tahu. Anak saya yang tahu, tapi anak saya sedang karantina pendidikan jadi tidak bisa dihubungi. Minggu depan saja kamu ke sini lagi."


Azka menganggukkan kepalanya lalu berdiri. "Kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih informasinya."


"Iya, sama-sama."


Azka kembali mengendarai sepeda motornya. Ternyata hidup itu memang rumit, lebih rumit dari apa yang dia bayangkan.


.


💕💕💕


.


Like dan komen ya..

__ADS_1


__ADS_2