Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Pemulihan


__ADS_3

Keesokan harinya orang tua Airin datang ke rumah sakit dan melihat kedua pengantin baru itu masih tertidur dengan nyenyak.


Alvin menyentuh bahu Revan agar dia berpindah di sofa karena posisinya terlihat sangat tidak nyaman.


Revan kini membuka matanya. Kemudian dia berdiri. Bukan berpindah tempat tapi dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh dirinya. Agar rasa kantuk segera hilang.


"Akhirnya Airin bisa melewati masa komanya, Mas. Sebelumnya aku sangat takut kehilangan Airin. Dia tidur sampai dua minggu. Untung ada Revan yang selalu ada di sisinya dan memberinya semangat." kata Rili yang kini duduk di samping brangkar Airin.


"Iya, Bun." Alvin mengusap lembut rambut Airin. "Tugas pagi merawat Airin mulai sekarang serahkan pada Revan."


"Memang Revan mau? Nanti mereka berdua malu."


"Bunda, mereka berdua sudah menikah. Biar terbiasa."


Rili akhirnya menganggukkan kepalanya. "Sebagai orang tua, aku sangat bahagia Airin mendapatkan lelaki seperti Revan."


"Iya. Semoga mereka selalu bahagia."


Beberapa saat kemudian Airin membuka matanya. "Bunda, Ayah." Airin sudah mulai bisa bicara meski masih sangat pelan.


"Pagi sayang. Gimana? Udah enakan?"


Airin menggelengkan kepalanya karena dia masih sulit menggerakkan seluruh badannya.


"Gak papa, kamu masih dalam masa pemulihan. Setelah ini kamu makan yang banyak agar tenaga kamu kembali pulih."


Airin mengangguk pelan.


"Semangat ya sayang, ada suami kamu yang akan selalu merawat kamu."


Beberapa saat kemudian Revan keluar dari kamar mandi dan sudah terlihat segar.


"Tuh Revan udah segar, kamu bersih-bersih sama Revan saja ya. Bunda sudah bawakan ganti buat kamu."


"Tapi..." Airin masih malu dengan Revan. "Sama Bunda saja."


"Biar saya tunggu diluar, Bun." kata Revan. Dia tahu Airin masih malu, begitu juga dengan Revan.


"Airin, Revan, kalian kan sudah menikah. Bukan tanggung jawab Bunda lagi." kata Alvin. "Kita tunggu diluar, nanti kalau ada apa-apa panggil saja. Biar setelah ini bisa sarapan dengan badan yang sudah segar." Alvin tersenyum kecil lalu mengajak istrinya keluar dari ruangan Airin.


Revan saling tatap dengan Airin sesaat. Dia mengerti, ini sudah menjadi tugasnya sebagai suami. Dia masuk ke kamar mandi dan mengisi baskom dengan air hangat lalu mengambil handuk kecil untuk menyeka Airin.

__ADS_1


Airin hanya menatap Revan. Meskipun sebenarnya dia malu, tapi dia tidak menolaknya.


Revan membasuh wajah Airin dengan lembut dan telaten. Kemudian dia membuka baju Airin dan menyekanya seluruh tubuh. Bukan hasrat yang dirasakan Revan tapi dia justru iba karena badan Airin sangat kurus setelah tidak makan apapun selama dua minggu. "Mau ke kamar mandi?"


Airin menggeleng pelan.


"Nanti kalau mau ke kamar mandi bilang ya." Kemudian Revan mengganti baju Airin. "Punggung kamu masih sakit? Gak bisa digerakkin sama sekali?" tanya Revan, dia mengangkat tubuh Airin pelan agar bisa memasang baju Airin.


"Iya masih sakit."


"Nanti bilang sama Dokter apa saja yang kamu rasakan agar dapat penanganan yang tepat." Setelah semua selesai, dia kini duduk di samping Airin. "Mau pakai bedak?"


Airin menggelengkan kepalanya lagi.


"Rambut kamu sekarang pendek, karena yang belakang juga dicukur saat operasi. Gak papa, nanti pasti tumbuh lagi."


"Makasih." kata Airin. Tatapan matanya masih saja tidak lepas dari Revan.


"Buat apa? Jangan bilang makasih."


"Harusnya sebagai istri, aku yang melayani kamu."


Revan tersenyum sambil menggenggam tangan Airin. "Sama saja, suami istri itu harus saling melengkapi."


Revan tersenyum dan semakin mengeratkan genggaman tangannya. "Karena aku cinta sama kamu. Aku gak peduli bagaimana kondisi kamu. Aku akan selalu menemani kamu berjuang." Kemudian Revan mencium kedua pipi Airin. "Setelah ini kamu makan, biar cepat ada tenaga. Aku akan selalu menemani kamu terapi. Aku yakin kamu bisa segera pulih." Kemudian Revan berdiri dan membuka pintu karena sepertinya ada suster yang akan masuk.


Benar saja, ada Dokter dan suster yang akan memeriksa Airin.


Kondisi Airin semakin stabil dan Dokter sudah memberi jadwal terapi Airin mulai besok. Semoga saja kondisi Airin cepat pulih dan Airin segera pulang dari rumah sakit.


...***...


Setelah dua minggu dirawat di rumah sakit dan melakukan terapi rutin, Airin akhirnya sudah bisa berjalan sendiri meski masih pelan. Dia tersenyum bahagia dengan keberhasilannya.


"Sayang, kamu berhasil."


Setelah berhasil meraih tubuh Revan, Airin memeluknya. "Aku berhasil. Akhirnya aku sudah bisa jalan sendiri."


"Barusan Dokter bilang, kamu sudah boleh pulang." Revan mengeratkan pelukan Airin dan mencium pipinya.


Airin semakin menatap Revan dengan mata berbinarnya. "Akhirnya aku bisa pulang."

__ADS_1


"Untuk sementara pulang ke rumah Bunda dulu ya. Selanjutnya terserah kamu mau tinggal dimana. Kalau mau di rumah sendiri, aku juga sudah ada rumah buat kita."


Airin terdiam beberapa saat. "Lihat nanti saja. Ayah sama Bunda kasihan sekarang tinggal berdua."


"Sama, Papa dan Mama juga. Tapi Papa dan Mama sekarang sering minjam cucunya jadi gak kesepian di rumah."


"Hmm, aku boleh panggil kamu Mas gak? Kayak panggilan Bunda ke Ayah."


Revan kini mencubit hidung mancung Airin karena merasa sangat gemas. "Ya boleh sayang. Kenapa? Justru aku seneng. Kamu panggil aku sayang malah seneng banget."


"Tapi masih belum terbiasa. Aku coba pelan-pelan ya."


"Oke."


Airin masih saja memeluk pinggang Revan. "Nanti setelah aku benar-benar pulih, gantian aku yang melayani Mas Revan."


Revan justru tertawa mendengar kalimat Airin. "Panggil apa?" Dia menangkup kedua pipi Airin dan semakin menatapnya.


"Jangan bilang gitu, ih."


"Iya, iya, habis aku gemes banget sama kamu. Ya, oke aku siap kamu layani."


"Tunggu-tunggu, layani apa dulu ini? Kok tatapannya kayak..."


Revan tersenyum penuh arti lalu dia mendekatkan wajahnya. Bibir itu belum pernah dia sentuh sejak mereka sah. Dadanya semakin berdebar. Baru saja menyentuh, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka.


"Airin, ayo kita pu..." Rili menghentikan kalimatnya saat melihat wajah putrinya sudah sangat dekat dengan Revan.


Mereka berdua saling menjauh dan salah tingkah.


"Maaf ya, Bunda gak ketuk pintu dulu. Kalian lanjut saja." Rili kembali menutup pintu itu


Sedangkan Revan kini menuntun Airin duduk lalu membuka pintu itu. Dia tidak mungkin melanjutkan ciumannya setalah ketahuan mertuanya. Ya, nanti saja masih bisa dilanjut.


💕💕💕


.


Like dan komen ya...


.

__ADS_1


Sepi di penghujung cerita.. 🙄


__ADS_2