Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Kamu Pasti Bisa


__ADS_3

"Ai..." Beberapa saat kemudian terdengar suara panggilan dari Revan.


Airin membuka matanya, dia kini menatap kedua mata sayu Revan. Seketika dia tersenyum dalam tangisnya, "Akhirnya kamu sadar. Aku khawatir banget sama kamu."


Revan melihat sekelilingnya untuk memastikan keberadaannya sekarang. "Kita sudah di rumah sakit?"


Airin menganggukkan kepalanya. "Iya, kita semua sudah selamat."


"Syukurlah. Makasih kamu sudah menolongku."


Airin menggelengkan kepalanya. "Ini semua berkat kerjasama kita. Untunglah orang tua kita gak terlambat nemuin kita. Aku gak bisa bayangin kondisi kamu yang terus menurun. Aku gak mau kehilangan kamu." Airin membungkukkan badannya dan setengah memeluk Revan.


"Tapi aku siap pergi dari dunia ini, asal kamu selamat." Satu tangan Revan kini mengusap rambut Airin.


"Jangan bilang gitu. Aku gak mau." Airin mengangkat kepalanya dan menatap Revan. "Aku keluar dulu ya, biar kamu dicek sama Dokter."


"Tunggu sebentar lagi, aku masih mau lihat kamu." Kemudian mereka berdua saling menatap dan tersenyum. Rasa cinta di antara mereka terasa semakin kuat setelah melewati peristiwa mencekam itu.


Airin semakin mendekatkan wajahnya lalu mengecup singkat bibir Revan. "Cepat sembuh ya." Setelah itu dia berdiri dan meraih cairan infusnya.


Revan meraba sesaat bibirnya. Rasanya kurang lama, tapi dia hanya bisa menatap Airin yang keluar dari ruangannya.


"Revan, sudah sadar," kata Airin.


Seketika Alea dan Kevin berdiri.


"Syukurlah, makasih ya Airin." Kemudian Alea masuk ke dalam ruangan Revan, sedangkan Kevin kini memanggil Dokter agar segera memeriksa kondisi Revan.


"Sekarang kamu istirahat di ruangan kamu ya." Kemudian Alvin memapah putrinya dan membawanya kembali ke ruangan.


...***...


Airin, Melodi, dan Azka sudah diperbolehkan pulang keesokan harinya sedangkan Revan masih harus melakukan pemulihan selama beberapa hari di rumah sakit.


"Van, aku pulang dulu ya." Airin duduk di dekat brangkar Revan. Dia berpamitan pada Revan bersama Melodi dan Azka.


"Iya." tatapan mata Revan kini tertuju pada Azka. Memang baru kali ini dia bertemu dengan Azka saat berada di rumah sakit. "Azka, makasih lo udah selamatkan hidup gue. Kalau gak ada lo mungkin gue udah pergi karena racun ular itu."


Azka hanya tersenyum kecil. "Gue cuma lakuin apa yang gue bisa. Tapi nyatanya tetap racun itu tertinggal di tubuh lo."


"Racun itu tinggal sedikit tapi efeknya luar biasa di tubuh gue. Apalagi kalau gak lo bersihkan. Sekali lagi makasih ya."

__ADS_1


Azka hanya menganggukkan kepalanya. "Oke, moga lo cepat pulih. Kita pamit dulu. Papanya Melodi sudah menunggu."


"Iya, hati-hati."


Setelah Melodi dan Azka keluar, kini tinggal Airin yang berdua dengan Revan.


"Kalau WA kamu udah aktif vc ya," kata Revan. Dia kini duduk bersandar lalu meraih tangan Airin.


"Iya, cepat sembuh. Katanya mau nonton bioskop."


"Iya, aku kan ada janji sama kamu untuk nonton, minggu depan saja ya kalau aku udah sembuh."


"Nggak usah. Aku cuma bercanda. Kamu fokus pada kesembuhan kamu saja ya. Satu Minggu lagi kan kita sudah masuk sekolah."


"Iya, tapi karena kejadian ini tanggung jawab penerimaan murid dialihkan pada Steve. Ya, untunglah aku gak perlu sibuk wara-wiri ke sekolah." Revan menghela napas panjang, setidaknya dia bisa menikmati sisa liburannya dengan tenang.


Airin kini terdiam. Dia sudah merusak kegiatan sekolahnya. Camping yang seharusnya bisa dilalui dengan indah, tapi justru sebaliknya.


"Kenapa wajahnya sedih lagi?" Revan mengusap pipi Airin.


"Iya, acara camping sekolah kita gagal hanya gara-gara aku. Dengar-dengar semua kegiatan juga dihentikan setelah kita hilang dan mereka semua juga pulang setelah kita ditemukan dan semua itu terjadi gara-gara aku. Mereka semua gak menikmati keseruan saat camping." cerita Airin. Dia sangat menyesal dengan kejadian ini karena berakibat pada seluruh teman-temannya.


Airin menggelengkan kepalanya. "Ini semua tetap gara-gara aku. Coba saja aku gak punya indera keenam seperti ini, mungkin mereka semua gak muncul dan membawa aku masuk ke dalam hutan. Aku sudah membahayakan kamu, Melodi, dan Azka. Aku gak tahu kapan mata batin ini tertutup. Kadang aku sudah gak sanggup, karena pasti bukan hanya aku yang dalam bahaya. Siapa saja yang ada di dekat aku pasti juga akan ikut terseret dalam bahaya."


"Ai," Revan semakin menangkup kedua pipi Airin. Sudah kesekian kalinya Airin menyalahkan dirinya sendiri. "Ini bukan salah kamu. Ini juga bukan mau kamu. Aku sudah pernah bilang sama kamu, aku akan selalu menemani kamu dalam kondisi apapun. Meskipun aku juga tidak bisa melihat makhluk-makhluk itu tapi aku ingin selalu membantu kamu. Aku yakin, itu yang dirasakan Melodi dan Azka juga. Mereka sahabat kamu. Mereka tidak mungkin membiarkan kamu dalam bahaya."


Airin mengangguk pelan. "Terkadang aku berpikir, aku ingin menjauh dari kalian semua agar jika ada bahaya datang kalian gak ikut dalam bahaya itu."


"Jangan pernah ada pikiran kayak gitu, dari beberapa buku yang aku baca tentang hantu. Mereka penasaran karena ada masalah di dunia ini yang belum terselesaikan. Seperti kasus-kasus yang pernah kamu alami, contohnya Della dan Aditya, mereka ingin mengungkap siapa yang membunuhnya. Jadi sebenarnya kamu bukan hanya berhadapan dengan arwah penasaran tapi juga para psychopat itu."


"Apa aku bisa bertahan dengan semua ini? Bisa saja suatu saat nanti ada suatu hal yang lebih bahaya daripada kemarin."


"Bisa, aku yakin kamu bisa. Ada aku dan juga sahabat-sahabat kamu yang akan selalu bantu kamu." Revan menyusut air mata yang hampir terjatuh di pelupuk mata Airin. "Jangan sedih lagi ya."


Airin menganggukkan kepalanya. Mereka kini saling bertatap lekat dan tersenyum kecil. Beberapa saat kemudian wajah Revan semakin dekat.


"Ai, ayo kita pulang sekarang."


Seketika mereka saling menjauh saat ada Alvin yang masuk ke dalam ruangan itu.


"Ai, ayo kita pulang." Alvin berjalan mendekat seolah dia tidak tanggap dengan kedekatan putrinya dan Revan.

__ADS_1


Sedangkan pipi Airin terasa memerah. Dia berharap semoga Ayahnya tidak melihat kedekatan itu. "Iya, Ayah." Airin berdiri. "Aku pulang dulu ya."


"Revan, jangan ambil kesempatan dalam kondisi apapun," kata Alvin yang begitu menohok di hati Revan.


"I-iya Om, maaf."


Kemudian Alvin membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu. Airin masih sempat bermain mata dengan Revan sambil melambaikan tangannya.


"Airin..."


"Iya, Ayah." Airin kini bergelayut di tangan Ayahnya setelah keluar dari ruangan Revan.


"Bener kan Bun, Airin lama di dalam pasti ngapa-ngapain," lapor Alvin pada Rili yang menunggunya di depan ruangan.


"Bener Ai? Kamu ngapain?" Rili kini berjalan di samping putrinya.


Tangan Airin berpindah ke lengan Bundanya. "Gak ngapa-ngapain, Bun."


"Airin, kamu haru tahu batasan dengan Revan."


"Iya Bun, Airin cuma..." Airin menghentikan perkataannya.


Alvin mengusap rambut putrinya. "Ya sudah, lain kali jangan diulangi lagi."


Mereka kini sampai di tempat parkir dan masuk ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian mobil Alvin telah melaju meninggalkan rumah sakit.


.


💕💕💕


.


Like dan komen ya...


.


Mampir juga yuk di karya baru author..


.


__ADS_1


__ADS_2