
Sampainya di rumah sakit, Airin dan Ayahnya segera menghampiri Revan dan Papanya yang sedang duduk di depan ruang operasi.
"Van, apa yang terjadi sama Azka? Dia di operasi?" tanya Airin dengan panik. Sebelumnya Revan memang sempat memberikan kabar pada Ayahnya bahwa Azka harus segera di operasi.
Revan menganggukkan kepalanya. "Patah tulangnya sangat parah, dia harus segera di operasi."
Airin semakin menangis memikirkan kondisi Azka saat ini. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang dirasakan Azka.
"Kamu sudah menghubungi orang tuanya?" tanya Alvin.
"Sudah, Om."
Alvin kini duduk dan memeluk putrinya yang menangis terisak. "Ai, jangan nangis. Kita berdo'a semoga operasinya berjalan lancar."
Airin menganggukkan kepalanya dan menenggelamkan wajahnya di dada Ayahnya.
Revan hanya menatap Airin. Jika dia ada di posisi Azka, dia pasti akan melakukan hal yang sama.
Beberapa saat kemudian, Dokter yang menangani Azka keluar. "Apa keluarga pasien sudah datang?"
Mereka semua berdiri dan mendekati Dokter itu.
"Belum Dok, tapi kita semua keluarga pasien. Tolong lakukan yang terbaik untuk Azka," kata Alvin.
"Iya, kami sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik. Tapi karena patah tulangnya sangat parah, masa penyembuhannya akan lama dan ada kemungkinan yang terjadi. Pasien tidak akan bisa berjalan dengan sempurna lagi seperti sedia kala karena patahannya sangat dekat dengan lutut."
Mendengar hal itu, seketika Airin melemas, lalu bagaimana Azka bisa bermain basket lagi.
"Ai," Alvin menahan tubuh putrinya agar tidak terjatuh.
"Apa itu sudah pasti, Dok?" tanya Revan. "Karena Azka seorang atlet basket."
"Kita lihat hasilnya nanti setelah enam bulan masa penyembuhan. Jika memang ada efek, kita bisa atur terapi. Tapi tetap, semua memakan waktu yang cukup lama." Kemudian Dokter itu kembali masuk ke dalam ruang operasi.
"Ayah, Azka itu kapten basket. Gimana kalau dia gak bisa main basket lagi, dan itu semua gara-gara aku. Kenapa Azka gak biarin aku aja yang tertabrak."
Alvin semakin memeluk tubuh putrinya yang bergetar. Dia sangat mengerti bagaimana perasaan putrinya. "Ayah akan bantu Azka sampai sembuh. Berapapun biayanya, Ayah akan menanggungnya. Kamu jangan sedih. Ayah juga berhutang budi sama Azka karena telah menyelamatkanmu."
Revan duduk sambil mengusap wajahnya. Dia juga tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Azka jika tahu dia tidak akan bisa bermain basket dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.
__ADS_1
"Van, kita pulang aja." ajak Kevin.
"Sebentar, Pa." Ingin rasanya dia menenangkan Airin, tapi itu tidak mungkin karena ada Ayahnya yang terus memeluk Airin.
Beberapa saat kemudian, Ibunya Azka datang seorang diri sambil menangis. "Bagaimana kondisi Azka?"
"Azka sedang di operasi."
Seketika Bu Isti duduk dengan lemas. "Azka, kamu anak yang kuat. Kamu pasti bisa melewati ini."
Airin melepas pelukan Ayahnya dan menghampiri Bu Isti. "Tante, maafkan saya. Karena menolong saya, Azka jadi seperti ini." Airin memegang tangan Bu Isti dengan tangis yang semakin terisak.
Bu Isti menggelengkan kepalanya. "Apa yang dilakukan Azka sudah benar. Kamu jangan sedih."
"Tapi..." Airin tak bisa berkata-kata lagi. Kemungkinan terburuk bisa saja terjadi pada Azka.
"Gak papa. Azka pasti tidak akan menyesal telah menolong kamu."
Airin memeluk Bu Isti, dan masih menangis sesenggukan.
Setelah operasi selesai, Azka sudah dipindahkan ke ruang rawat. Tapi dia masih belum sadarkan diri. Airin kini melihat kondisi Azka sebelum dia pulang ke rumah.
...***...
Keesokan harinya, meski mata Airin terlihat sipit karena menangis semalaman, dia masih tetap masuk sekolah. Dia kini duduk di bangkunya dengan lemas.
"Ai, gimana keadaan Azka sekarang?" tanya Melodi sambil menghampiri Airin yang duduk di bangkunya.
"Aku belum tahu. Nanti sepulang sekolah aku akan ke sana."
"Aku dan Siska ikut ya." kata Melodi.
Airin menganggukkan kepalanya. Dia masih bersedih jika mengingat kondisi Azka sekarang.
"Udah jangan sedih. Azka kuat, dia pasti baik-baik saja."
"Masalahnya..." Airin kembali meneteskan air matanya. "Dokter bilang kaki Azka tidak bisa kembali sempurna seperti semula. Lalu bagaimana Azka bermain basket kalau seperti itu. Kamu tahu kan, bagi Azka basket adalah hidupnya."
Melodi menggeser tempat duduk lalu memeluk Airin. "Iya, aku ngerti."
__ADS_1
"Harusnya Azka gak usah nolongin aku. Kalau seperti ini aku merasa bersalah banget, Mel. Hidup Azka akan hancur hanya gara-gara aku."
"Sssttt, jangan bilang seperti itu. Justru Azka pasti akan sangat sedih jika dia tidak menolong kamu. Jangan menyalahkan diri sendiri. Lebih baik sekarang kita bantu Azka untuk melewati masa-masa sulit dia."
Airin mengangguk pelan, lalu menghapus air matanya. "Iya, kamu benar."
Beberapa saat kemudian, Revan datang dan duduk di bangkunya. "Ai," panggilnya agar Airin menolehnya.
Airin memutar tubuhnya dan menatap Revan.
Melihat sepasang kekasih yang sepertinya ingin membicarakan sesuatu yang serius, Melodi beranjak pergi. Akhirnya Revan berpindah duduk di samping Airin.
"Ai, tiga hari lagi aku akan berangkat ke Jakarta untuk mengikuti olimpiade itu. Harusnya Azka juga ikut tapi karena kondisi Azka, terpaksa Azka mundur."
Airin menundukkan pandangannya. Dadanya benar-benar terasa sesak memikirkan Azka. Padahal Azka sudah sangat semangat akan mengikuti olimpiade itu, dia juga sudah meminjam uang di kafe dan mempersiapkan semuanya tetapi semua gagal hanya karena dirinya.
"Ai, jangan nyalahin diri kamu terus." Revan menggenggam satu tangan Airin. "Jika aku yang ada di posisi Azka, aku pasti juga akan melakukan hal yang sama. Begitu juga sebaliknya, jika kamu di posisi Azka, kamu pasti juga akan melakukan hal yang sama. Semua orang pasti akan melakukan apa saja untuk seseorang yang dia sayangi."
Satu tangan Airin menyusut air mata yang hampir terjatuh.
"Ai, aku hanya bisa bantu Azka secara materi. Aku juga sudah bilang ke kepala sekolah, untuk memberi beasiswa lebih pada Azka selama satu tahun ini. Untuk selanjutnya, kamu yang bisa support Azka. Aku yakin, kamu bisa mengembalikan semangat Azka. Jangan takut aku cemburu atau salah paham, karena aku gak se-egois itu."
Airin tersenyum dalam tangisnya sambil menatap Revan.
"Aku hutang dua nyawa pada Azka. Azka sudah menolong aku saat aku digigit ular dan Azka sudah menolong kamu semalam. Azka juga yang sudah memberi tahu keberadaan kamu. Tanpa Azka, aku gak tahu bagaimana nasib kamu sekarang."
Revan menghapus air mata Airin yang masih saja mengalir di pipinya. "Jangan bersedih lagi." Dia kini menatap kedua mata Airin yang sembab. "Aku sayang kamu." Setelah itu Revan berdiri dan kembali duduk di bangkunya.
Ya, untuk sementara biarkanlah Azka memiliki Airin.
💕💕💕
.
Tenang ya.. cerita mereka masih panjang. 🤠masih ada sesi kuliah juga nanti. 😌
Tunggu saja nanti jodoh Airin siapa... 😂
.
__ADS_1
Like dan komen...